Seminggu telah berlalu. Pagi itu, Kamis pagi yang cerah, aku bangun dengan hati yang berdebar-debar, namun diiringi sedikit kekhawatiran. Hari ini aku akan bertemu Shinta di ruang konseling, dan aku sangat ingin mendengar perkembangan hubungannya dengan Rian dan Alya. Seminggu yang lalu, Shinta tampak begitu tenang dan bahagia, namun aku tetap ingin mendengar langsung ceritanya. Aku berharap semuanya berjalan baik.
Ditambah, enam bulan lagi, Lia akan menikah, dan pikiran tentang kesibukannya yang akan semakin padat masih terngiang di benakku. Aku membayangkan kesibukan Lia dalam beberapa bulan ke depan, dan aku merasa sedikit sedih karena dia akan semakin sibuk, serta sedikit khawatir karena dia akan semakin jarang bisa berkumpul bersama kami.
Aku bergegas mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Di perjalanan, aku masih memikirkan Shinta, Rian, dan Alya. Aku berharap pertemuan hari ini akan membawa kabar baik, namun juga sedikit takut mendengar kabar yang kurang menyenangkan. Aku berharap Rian telah menjelaskan kesalahpahaman dengan baik kepada Shinta.
Sesampainya di sekolah, aku langsung menuju ruang guru. Aku perlu mengecek beberapa berkas administrasi sebelum memulai kegiatan mengajar. Suasana ruang guru masih sepi, hanya beberapa guru yang sudah datang lebih awal. Aku menyelesaikan tugasku dengan cepat, sambil sesekali melirik jam dinding. Waktu istirahat masih beberapa menit lagi. Aku merasa sedikit tegang, mengingat pertemuan dengan Shinta nanti.
Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku berjalan menuju kantin. Aku merasa lapar dan ingin minum kopi. Kebetulan Bu Siti absen hari ini. Di kantin, aku bertemu dengan beberapa murid dan guru. Aku menyapa mereka sambil menikmati kopi dan roti yang ku beli. Aku juga berbincang sebentar dengan Ustadzah Ani, guru Bahasa Indonesia, tentang persiapan ujian akhir semester. Percakapan ringan itu sedikit membantu menenangkan kegugupanku.
Waktu istirahat tiba. Aku segera menuju ruang konseling. Ruang konseling terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya, menambah kegugupanku. Saat aku melihat Shinta, aku merasakan campuran antara lega dan khawatir. Sebuah senyum merekah di wajahnya, namun ada sedikit getaran dalam suaranya yang membuatku sedikit was-was.
"Ustadzah!" sapa Shinta dengan riang, namun ada sedikit getaran dalam suaranya.
"Shinta," jawabku, berusaha untuk tetap tenang, "Bagaimana kabarmu? Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Rian? Aku sedikit khawatir setelah mendengar kabar yang kurang mengenakkan minggu lalu."
Shinta tersenyum lebar, namun air matanya tiba-tiba menetes. "Alhamdulillah, Ustadzah. Rian menerimaku," ujarnya, suaranya terbata-bata. Ia menyeka air matanya dan melanjutkan, "Ternyata, Alya⦠Alya suka dengan kakak kelas kita, Arman. Dia sering curhat sama Rian tentang Arman, dan Rian jadi salah paham. Dia mengira Alya juga suka padanya." Shinta terisak pelan. Aku merasakan sesak di dadaku. Melihat Shinta seperti ini, aku merasa lega karena semuanya telah terselesaikan dengan baik, namun juga sedikit bersalah karena telah ikut campur dalam masalah percintaan mereka.
Aku mendengarkan cerita Shinta dengan seksama, memperhatikan setiap detail ekspresi wajahnya. Aku merasakan betapa lega dan bahagianya dia setelah semuanya terselesaikan. Aku juga merasakan sedikit kecemasan karena Alya ternyata menyukai orang lain.
Aku memeluk Shinta, merasakan kegembiraan yang sama dengannya. Aku sangat bersyukur bahwa semuanya berjalan baik. Aku mendengarkan cerita Shinta, tentang bagaimana Rian mengungkapkan perasaannya, tentang bagaimana mereka berdua saling memahami dan mendukung. Aku memberikan beberapa nasehat dan doa agar hubungan mereka selalu langgeng, meski hatiku sedikit berdebar mengingat ajaran agama yang melarang pacaran. Aku berusaha untuk tidak menunjukkan keraguan itu kepada Shinta, karena aku ingin dia merasa nyaman dan didukung. Namun, di dalam hatiku, aku berdoa agar Shinta dan Rian selalu menjaga diri dan tetap dalam koridor agama. Aku juga mengingatkan Shinta untuk tetap menjaga komunikasi yang baik dengan Rian dan selalu saling menghargai.
Setelah pertemuan dengan Shinta, aku merasa lebih tenang. Beban di pikiranku terasa sedikit berkurang. Aku bersyukur bisa membantu Shinta melewati masa sulitnya. Aku juga merasa lebih siap menghadapi tantangan-tantangan yang akan datang, termasuk persiapan pernikahan Lia yang akan semakin padat, dan pertemuan dengan Raven besok. Aku masih memikirkan Raven, tetapi aku memutuskan untuk fokus pada tugasku sebagai guru konseling terlebih dahulu. Aku percaya, semua akan baik pada waktunya. Aku harus tetap fokus pada tanggung jawabku, dan memberikan yang terbaik untuk murid-muridku dan sahabat-sahabatku.
Matahari mulai condong ke barat, menumpahkan warna jingga ke langit sore. Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa waktu lalu, namun aku masih berada di kantor bersama Ustadzah Hilmi. Hari ini, Ustadzah Hilmi terlihat sangat sibuk. Ia sedang menyelesaikan beberapa laporan administrasi dan berkas-berkas penting untuk pengajuan dana ke yayasan. Aku menawarkan bantuan, membantunya menata dan mengurutkan berkas-berkas tersebut. Ustadzah Hilmi tersenyum dan menerima tawaran bantuanku.
"Terima kasih, Ustadzah Syifa," kata Ustadzah Hilmi sambil tersenyum. "Kamu memang guru yang rajin dan bertanggung jawab."
Kami bekerja sama dengan efisien. Ustadzah Hilmi menjelaskan tugas-tugasnya dengan sabar, dan aku mengerjakannya dengan tekun. Meskipun sedikit lelah, aku merasa senang bisa membantu Ustadzah Hilmi. Aku juga belajar banyak hal dari Ustadzah Hilmi, tentang bagaimana mengelola administrasi sekolah dengan baik dan teliti.
Sambil bekerja, kami berbincang ringan. Ustadzah Hilmi bercerita tentang pengalamannya sebagai guru, tantangan-tantangan yang dihadapinya, dan kebahagiaan yang dirasakannya saat melihat murid-muridnya berhasil. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, terkadang menyela dengan pertanyaan atau komentar. Percakapan kami terasa hangat dan akrab, seperti ibu dan anak perempuan.
Beberapa saat kemudian, Ustadzah Ani, guru Bahasa Indonesia, yang tampaknya juga sibuk karena belum pulang, datang ke kantor. Ia ingin meminta bantuan Ustadzah Hilmi untuk memeriksa beberapa soal ujian yang telah ia buat. Ustadzah Hilmi menyambutnya dengan ramah, dan mereka berdua mulai berdiskusi tentang soal-soal ujian tersebut. Aku melanjutkan pekerjaanku, sesekali mendengarkan percakapan mereka.
Setelah semua berkas selesai diurus, Ustadzah Siti dan Ustadzah Ani pamit pulang. Aku membereskan meja dan ruangan, kemudian bergegas pulang. Aku merasa lelah, namun hatiku merasa tenang dan puas. Aku telah menghabiskan hariku dengan bermanfaat, membantu orang lain, dan belajar hal-hal baru. Aku juga merasa lebih siap menghadapi pertemuan dengan Raven besok. Semoga semuanya berjalan lancar. Aku berharap pertemuan besok akan berjalan dengan baik, dan aku bisa membantu Raven mengatasi masalahnya. Sengaja aku tak memberikan kasus ini kenapa pak Bashor, karena aku merasa kasihan jika aib Raven akan diketahui oleh Guru lain. Apalai, Raven datang padaku sendiri, yang artinya, dia percaya padaku untuk membantunya.
*
Malam telah tiba. Setelah menyelesaikan persiapan materi untuk pelajaran besok, aku turun ke ruang tengah. Lia dan Rani sudah duduk di sofa, berbincang ringan sambil menikmati segelas teh hangat. Aku bergabung dengan mereka, dan menceritakan perkembangan hubungan Shinta dan Rian. Aku menggambarkan bagaimana Shinta menangis haru menceritakan bagaimana kesalahpahaman dengan Alya telah terselesaikan, dan bagaimana Rian telah menunjukkan komitmennya.
Lia dan Rani mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka berdua tampak lega mendengar kabar baik tersebut. Suasana di ruang tengah terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Kami bertiga saling berbagi cerita dan tawa, menikmati kebersamaan yang terasa begitu nyaman.
Setelah beberapa saat, Lia bertanya, "Berarti Shinta sudah tidak akan datang ke konseling lagi, ya?"
Aku mengangguk. "Kemungkinan iya. Hubungan mereka sudah baik-baik saja sekarang. Namun, aku juga bilang kepadanya kalau dia ingin ke konseling lagi, aku akan selalu menunggunya. Aku selalu siap menemuinya jika dia membutuhkan bantuan atau hanya sekedar ingin berbagi cerita."
"Berarti sudah tidak ada murid lagi yang dikonseling, dong?" tanya Lia.
Aku tersenyum, mencoba menutupi sesuatu. "Enggak⦠enggak ada lagi⦠ya, tunggu nanti mungkin ada murid lagi." Aku sengaja tidak menceritakan tentang Raven, klien konselingku yang lain. Aku masih ragu untuk menceritakannya kepada Lia dan Rani.
Rani hanya mengangguk, tidak curiga dengan jawabanku yang sedikit terburu-buru. Kami bertiga kemudian beralih ke kegiatan lain, membuka leptopku dan masuk kedalam aplikasi Netfilx yang ada di laptopku, mencari film komedi ringan untuk ditonton bersama. Tawa kami memenuhi ruang tengah hingga larut malam. Setelah film selesai, kami bertiga segera beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Kelelahan setelah seharian beraktivitas membuat kami langsung tertidur pulas.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!