Chapter 8 of 53

Bab 8

Terlalu jauh bersama muridku1,020 words~6 min read

Aku segera bangkit, meninggalkan Lia dan Rani yang masih asyik berbincang. Langkahku menuju kamarku terasa ringan, seolah beban di pundakku sedikit berkurang. Meja belajar yang tertata rapi menyambutku. Buku-buku agama tersusun dengan rapi, menciptakan suasana tenang dan damai. Aku tersenyum kecil, suasana ini selalu membantuku fokus.

Aku membuka laptopku. Layar yang menyala menerangi wajahku. Jari-jariku mulai menari di atas keyboard, mengetikkan kata demi kata untuk materi pelajaran besok. Topiknya bukanlah hal yang asing bagiku, tetapi aku selalu memastikan semuanya sudah tepat sebelum mengajarkannya kepada murid-muridku. Aku ingin memastikan mereka mendapatkan ilmu yang benar dan bermanfaat.

Aku membaca kembali catatan-catatan lama, mencari referensi tambahan di internet. Aku memastikan setiap poin penting tercakup, bahasanya mudah dipahami, dan contoh-contohnya relevan. Aku tak ingin mereka merasa bosan atau kesulitan memahami materi yang kuajarkan. Aku ingin mereka merasa senang dan bersemangat dalam belajar.

Waktu berlalu begitu cepat. Aku larut dalam pekerjaanku. Aku begitu menikmati prosesnya, merangkai kata demi kata, membentuk kalimat demi kalimat, hingga akhirnya materi pelajaran untuk besok selesai. Aku menyimpan laptopku, merasakan kepuasan yang mendalam. Aku telah menyelesaikan tugasku dengan baik.

Aku mengganti pakaianku dengan piyama yang nyaman. Kulitku terasa lelah, tetapi hatiku merasa tenang. Aku meraih handphoneku, memulai ritual sebelum tidur. Aku membuka TokTik, mencari video-video pendek yang selalu memanjakan mataku. FYP-ku dipenuhi dengan video-video sholawat dari berbagai majelis. Suara merdu para qori dan qoriah mengalun, menenangkan jiwaku.

Video demi video ku tonton. Senyumku mengembang saat melihat video-video yang lucu dan inspiratif. Hatiku merasa damai dan tenang. Aku merasa bersyukur atas semua hal baik yang telah terjadi hari ini.

Setelah merasa puas melihat video-video reels tersebut, aku hendak menghapus riwayat penelusuranku. Namun, mataku tak sengaja melihat ikon riwayat di Google Chrome. Seketika, ingatan akan pertemuan dengan Raven siang tadi menyeruak. Kejadian-kejadian yang seharusnya tak kulihat, yang seharusnya tak kuingat, muncul kembali di layar pikiranku. Bayangan wajahnya, bau getah itu, semuanya begitu nyata. Aku seakan enggan untuk membuka riwayat browser tersebut, ingin segera menghapusnya dan melupakan semuanya. Namun, entah mengapa, jariku malah bergerak sendiri, menginginkan untuk melihat apa yang sebenarnya dilihat oleh Raven. Aku mengkliknya.

Layar ponselku langsung menampilkan laman web yang Raven tonton siang tadi. Video tersebut terhenti pada posisi pause, gambarnya buram, namun bayangan samar dua sosok seorang laki-laki dan perempuan berpelukan erat terlihat di balik layar yang buram. Perasaanku aneh. Bukan hanya karena gambarnya yang samar-samar, tetapi juga karena firasat buruk yang tiba-tiba muncul. Ini bukan sekadar video biasa. Ada sesuatu yang gelap dan mengerikan tersembunyi di baliknya.

Jantungku berdebar kencang. Aku ingin tahu apa yang membuat Raven begitu tertarik dengan video itu, apa yang membuatnya remaja zaman sekarang terobsesi dengan 5*ks. Rasa ingin tahu itu, dicampur dengan rasa takut dan jijik, menggerakkan jariku. Aku menekan tombol play. Sebuah napas berat kurasakan, menahan rasa mual yang semakin kuat. Aku harus tahu. Aku harus melihatnya. Meskipun aku tahu, apa yang akan kulihat mungkin akan membuatku menyesal seumur hidup.

*

Pagi itu, aku sudah berada di sekolah, berdiri di depan kelas 12. Semua sudah siap. Materi pelajaran yang telah kususun rapi tersimpan di laptopku, menunggu untuk dibagikan kepada murid-muridku. Namun, sesuatu terasa berbeda. Pikiran yang semalam masih tenang, kini terasa kacau. Kata-kata yang seharusnya terurai dengan lancar, kini seperti terhambat, berantakan.

Aku memasuki kelas. Suasana kelas yang biasanya mampu membangkitkan semangatku, kini terasa mencekam. Pandanganku tak sengaja bertemu dengan tatapan Raven. Sebuah senyum tulus terukir di bibirnya, senyum yang hangat dan menenangkan. Hanya sedetik, tetapi cukup untuk membuat seluruh susunan materi pelajaran yang telah kusiapkan lenyap dari ingatanku. Kejadian semalam, video-video yang seharusnya tak pernah kutonton, menyeruak kembali. Bayangan-bayangan itu memenuhi pikiranku, menghalangi setiap kata yang ingin kuucapkan. Rasanya, aku ingin kabur dari kelas ini, menghindari tatapan Raven yang seolah-olah mampu membaca isi pikiranku, dan senyumnya yang tulus dan menenangkan itu, aku tidak tahu apa tujuannya, tapi aku merasa aneh dalam diriku sendiri.

Sore itu, setelah melewati perjuangan berat mengajar kelas 12, aku akhirnya sampai di kontrakan kami. Rasa lelah menyelimuti tubuhku, namun beban di pikiranku terasa lebih berat. Lia dan Rani sudah menunggu di ruang tamu. Wajah mereka tampak ceria, berbeda sekali dengan suasana hatiku yang masih kacau.

Kami memesan makanan lewat aplikasi online karena Rani dan Lia juga sama-sama baru pulang, dan mulai bercerita tentang kegiatan masing-masing. Lia bercerita tentang persiapan pernikahannya yang akan segera diselenggarakan beberapa bulan lagi, Rani bercerita tentang proyek barunya di kantor. Aku berusaha untuk ikut bersemangat, menanggapi cerita mereka, tetapi pikiran-pikiran tentang Raven terus menghantuiku.

Aku mencoba menceritakan tentang kekacauan saat mengajar tadi, tentang tatapan Raven. "Tadi itu aneh banget, tatapannya yang sebelumnya saat aku pertama kali mengajar disana sangat misterius ," kataku, "tapi tadi... beda. Dia tersenyum tulus kepadaku. Rasanya... hangat." Aku berhenti sejenak, merasa canggung menceritakan hal ini. Lia dan Rani mendengarkan dengan saksama.

"Kenapa dia aneh gitu ya?" tanya Lia.

Rani tampak antusias, "Atau mungkin... dia suka kepadamu, Fa?" ucapnya.

"Apa?!" kataku terkejut. "Itu tidak mungkin, Rani. Dia saja tak pernah melihat wajahku, bagaimana dia bisa suka padaku? Lagian, dia itu muridku, tak mungkin aku bisa memiliki hubungan dengan muridku sendiri."

Rani mengangguk, "Masuk akal sih..."

"Tapi, bisa saja Fa. Banyak kok seorang guru menikahi muridnya," ujar Lia.

Aku merasa bingung, sebenarnya ada rahasia lain yang tak bisa ku jelaskan kepada mereka.

"Dia tampan nggak?" tanya Rani.

"I... iya, dia tam.. tampan," jawabku. Jujur saja, Raven memang tampan, mungkin jika kedua sahabatku ini melihatnya langsung, mereka akan setuju denganku. "Tapi tetap saja, aneh aja menurutku."

"Cie... mukamu memerah tuh..." ledek Rani. Ia bisa melihat wajahku memerah karena memang saat di rumah aku selalu melepaskan cadarku.

Lia tersenyum, "Ku tunggu perkembangannya, sepertinya sahabat kita ini jatuh cinta pada pandangan pertama, Rani." mereka berdua selanjutnya mengerjai ku dengan nama Raven sebagai bahannya. Padahal menurutku memang aneh saja jika seorang guru memiliki hubungan dengan muridnya.

Syukurlah mereka menanggapi ceritaku dengan penuh perhatian, mencoba memahami apa yang kurasakan. Kami menghabiskan sisa sore itu dengan bercanda dan kemudian menonton film, sebuah upaya untuk mengalihkan pikiranku. Namun, di balik tawa dan canda, aku masih bisa merasakan bayang-bayang kejadian itu. Rahasia tentang video itu tetap kusembunyikan dalam hatiku, tak ingin mereka berdua mengetahuinya. Besok adalah hari libur, dan aku berharap, di hari libur ini, aku bisa sedikit lebih tenang.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!