Setelah itu, dari ujung Ubi Raven itu memuntah-muntahkan getah putih pekat yang cukup banyak.
"Raven!!!" pekikku. Aku terkejut dan segera kutarik kakiku.
Kebetulan, Ubi Raven diarahkan ke atas saat itu. Karena hal itu, terjadilah sebagian besar muntahan getahnya jatuh dan meleleh ke arah ubinya dan tubuhnya. Inilah pertama kalinya aku melihat apa itu 'Getah menyucur' dan pertama kalinya aku melihat bagaimana laki-laki mengalami 0r9an1sm3.
Tangannya masih mengurut ubinya, dan aku bisa melihat sebagian besar getahnya meleleh dari ujung ke sebagian ubinya. Seperti lahar gunung berapi yang mengeluarkan lavanya. Aku mengigit bibir bawahmu karena mendapati bau yang pernah kucium di ruangan ini saat bersama pak Bashor kala itu.
Napas Raven perlahan kembali normal setelah tadi tampak menggebu-gebu, dia kemudian bersandar pada dinding, wajahnya sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Sa... saya... saya minta maaf, ustadzah..." ucapnya. "Saya benar-benar tak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi akibat kecanduan saya..."
Aku kemudian segera membetulkan dudukku setelah memastikan tidak ada getah lengket yang meluncur ke arahku.
"Yasudah, tidak apa-apa..." ucapku. "Kamu... benar sudah lega, kan?" Raven mengangguk.
"Terimakasih, ustadzah..." katanya. Aku mencoba mengukir senyum walau yang terlihat hanya mataku, lalu segera kuambil kotak tisu di hadapanku dan ku taruh ke dekat Raven.
"Sekarang, karena kamu sudah membuat kotor... kamu harus segera membersihkannya juga," kataku. "Kita bicarakan bagaimana mengatasi ini... bisa?"
Raven kemudian tersenyum untuk pertama kalianya, "Baik, ustadzah," jawabnya.
Aku terkejut, padahal, kalau sedang tersenyum begini, wajah dia tampan juga. Batinku.
Raven segera mengambil beberapa tisu, ia segera mengelap ubinya sampai benar-benar bersih. Beberapa yang menetes di badannya juga ia bersihkan, setelah dia rasa bersih. Ia lanjut membersihkan bercak yang terdapat di beberapa bagian kursi, meja, dan sebagian besar lantai.
Aku mengamatinya dengan seksama, ada perasaan yang aneh dalam diriku, terutama dalam perutku. Seolah-olah ada kupu-kupu yang tengah berterbangan. Rasa itu, membuatku tak fokus memikirkan solusi yang tepat untuk dibicarakan dengan Raven.
Sayangnya, belum selesai Raven membersihkannya, bell istirahat berbunyi. Bertanda waktu istirahat telah usai.
Aku dan Raven sama-sama saling pandang terkejut, "Kamu selesaikan dulu ya, nanti kalau sudah kamu langsung masuk saja, kita bicarakan solusinya di pertemuan selanjutnya," ucapku. "Kalau bisa, kamu kurangin ya, membaca dan menonton hal-hal seperti itu?" lanjutku.
Raven tampak tersenyum, "Baik, ustadzah. Saya akan berusaha," ucapnya.
"Kalau begitu, ustadzah tinggal ke kantor dulu," ucapku, segera pergi meninggalkan ruangan konseling. Entah mengapa, badanku masih sedikit bergetar saat berjalan keluar ruangan itu.
Setiap langkah terasa berat, seakan-akan kakiku terikat beban. Bayangan wajah Raven masih begitu jelas, Wajah N4fsunya, dan yang lain. Detail kejadian di ruang konseling seperti film yang terus diputar ulang dalam kepalaku. Aku mencoba mengatur napas, menenangkan debar jantung yang tak karuan, tapi sensasi aneh itu tetap membayangi, campuran rasa bersalah dan sesuatu yang tak bisa kudefinisikan, sesuatu yang membuatku tidak nyaman namun sekaligus⦠ter... ntahlah, aku tak tahu. Rasanya seperti ada dua aku yang berseteru dalam diriku, satu dipenuhi penyesalan, yang lain dipenuhi rasa yang tak ku mengerti.
Udara terasa begitu dingin, membekukan rasa bersalah yang mengakar dalam hati. Langkah kakiku bergema di lorong sunyi sekolah, setiap langkah seakan-akan menggemakan kesalahanku. Aku berusaha mengabaikan sensasi aneh itu, mencoba fokus pada langkah berikutnya, tapi bayangan wajah Raven terus muncul, mengusik ketenanganku. Aku ingin menghilang, ingin waktu berhenti, tapi aku harus terus melangkah, menuju kantor.
Di kelas 12, aku berdiri di depan papan tulis, mencoba mengajar. Tapi pikiranku melayang. Tanganku gemetar saat menulis, suaraku terdengar parau. Aku sesekali melirik ke arah Raven, lalu buru-buru mengalihkan pandanganku. Aku menghindari kontak mata, takut teringat kejadian di ruang konseling. Suasana terasa begitu berat, aku merasa sesak. Aku gagal menjadi guru yang baik, aku gagal menjadi konselor yang baik. Rasa bersalah itu mencengkeramku. Aku takut, takut kejadian itu terulang. Namun, aku juga ingin membantu Raven keluar dari kecanduan itu.
Dari sudut pandangku, Raven terlihat lebih tenang dari biasanya. Dia tidak lagi melirik ke arahku dengan tatapan yang mengusik seperti sebelum-sebelumya, fokus pada pelajaran. Aku menyadari, kemungkinan dia pun merasa bersalah. Kita berdua terjebak dalam kesalahan ini, dan aku tak tahu bagaimana cara keluar. Aku hanya bisa berharap, semua ini akan segera berakhir.
*
Matahari sudah mulai condong ke barat, menumpahkan warna jingga ke langit sore. Aku berjalan menuju mobilku, berusaha mengabaikan sensasi aneh yang masih terasa. Pertemuan dengan Raven tadi masih menghantuiku, menghantui pikiranku.
Namun, tiba-tiba, aku melihat sosok Shinta di ujung koridor. Ia berjalan dengan langkah ringan, wajahnya tampak ceria. Entah kenapa, kehadiran Shinta seolah membuyarkan bayangan gelap yang menyelimutiku.
"Shinta!" panggilku. Shinta berbalik, senyumnya merekah seperti bunga yang baru mekar.
"Ustazah," jawabnya, mendekatiku.
"Kenapa kamu tidak datang ke ruang konseling hari ini? Aku ingin mendengar perkembanganmu dengan Rian." tanyaku, mencoba untuk terlihat profesional.
Shinta tertawa kecil. "Ustazah lupa ya? Untuk konseling, kita tidak boleh terlalu sering. Seminggu hanya dibatasi satu kali pertemuan. Nanti aku ceritakan perkembangannya di pertemuan minggu depan, Ustazah."
"Benarkah?" tanyaku yang memang tidak tahu. Shinta mengangguk.
"Katanya sih, itu untuk meringankan kerja guru konseling, ustadzah."
Aku tersenyum sedikit lega mendengarnya. Sepertinya, Shinta sudah menemukan jalan keluar dari dilema cintanya. Aku berharap ia duterima Rian dengan lapang dada.
"Baiklah, aku akan menunggunya minggu depan. Semoga semuanya berjalan baik." kataku, mencoba untuk menunjukkan optimisme.
Shinta mengangguk, kemudian berpamitan untuk pulang. Aku menontonnya pergi, mencoba untuk membaca bahasa tubuhnya. Sepertinya, ia benar-benar bahagia. Entahlah, aku mulai merasakan kegembiraan yang sama.
Aku berharap semangat yang sama akan menyertaiku selama menjalankan tugas baruku sebagai guru konseling. Aku berharap bisa membantu siswa-siswi lain yang mungkin mengalami kesulitan yang sama seperti Shinta.
Aku melangkah menuju mobilku, memasuki kursi kemudi. Langit sudah mengelap, menandakan hari sudah menjelang senja. Aku menyalakan mesin mobil, kemudian meninggalkan kawasan sekolah.
Aku berharap perjalanan baruku ini akan penuh dengan tantangan yang mengasyikkan dan pengalaman yang berharga. Aku merasa bahwa jalan ini yang telah kupilih ini adalah jalan yang benar, yang dapat mengantarkanku pada kebahagiaan dan kepuasan.
*
Malam harinya, di kontrakan kecil mereka yang hangat, aku menceritakan pengalamannya kepada Lia dan Rani. Wajahku masih tampak sedikit tegang, meski lega karena Shinta tampak lebih tenang setelah curhat.
"Jadi, bagaimana perkembangan Shinta dan Rian?" tanya Lia, matanya berbinar-binar dengan rasa penasaran.
Aku menggeleng pelan. "Aku juga belum tahu jawabannya, Li. Shinta bilang, untuk konseling, kita tidak boleh terlalu sering. Seminggu hanya dibatasi satu kali pertemuan. Kita akan bertemu lagi minggu depan, dan dia akan menceritakan perkembangannya saat itu."
Rani tampak sedikit kecewa. "Wah, jadi kita harus menunggu seminggu lagi untuk tahu hasilnya?"
"Iya, Ran," jawabku, mencoba untuk tetap tenang. "Tapi, setidaknya Shinta tampak lebih tenang. Dia bilang dia akan menceritakan perkembangannya minggu depan."
"Semoga Rian memilih Shinta, ya," ucap Lia, menambahkan sedikit doa.
"Amin," kataku. "Aku juga berharap begitu. Aku rasa Rian akan memilih Shinta, setelah dilihat bagaimana sikapnya tadi, sepertinya hatinya tengah berbunga."
"Tapi, tetap saja menakutkan," ujar Rani, memasukkan sederet nasi ke dalam mulutnya. "Bagaimana kalau Rian memilih Alya? Aku khawatir Shinta akan terpuruk lagi."
"Aku yakin Shinta akan kuat," jawabku, mencoba untuk menenangkan Rani. "Dia gadis yang kuat dan beriman. Aku yakin dia bisa melewati semua tantangan di depan."
"Ya, mudah-mudahan begitu," kata Rani, mengangguk perlahan.
"Apa ada siswa lain yang menemuimu hari ini?" tanya Lia, mencoba mengalihkan perhatian.
Aku terdiam sejenak, rasa bersalah, takut, dan sebagainya kembali datang kepada diriku, "Tidak... tidak ada. Mungkin mereka tidak tahu kalau aku sekarang adalah guru Konseling juga, hehe..." jawabku dengan nada yang kubuat setenang mungkin.
Pertemuanku dengan Raven, tak boleh ku ceritakan kepada mereka meskipun mereka adalah sahabatku sendiri. Aku akan mencari sendiri solusi untuk masalah Raven ini. Jika aku menceritakannya, aku sama saja menyebarkan aibnya, dan tentunya... aibku juga. Batinku.
"Kenapa kamu tak coba mengumumkan?" tanya Lia dengan kebingungan.
"Sudah," jawabku, menghela napas dalam. "Ustadzah siti sudah menempelkan pengumuman di papan pengumuman sekolah."
Rani tampak memahami. "Mungkin nanti akan banyak yang baca, " ujarnya, mengangguk perlahan. "Nanti jika sudah ada yang datang lagi, cerita kepada kami lagi ya Fa, Kami sangat suka dengan permasalahan orang, hehe..."
Aku hanya tersenyum pada mereka, tak berani berjanji. Jika yang datang memiliki masalah serius seperti Raven, tak mungkin aku menceritakannya, itu sama saja aku mengingkari janjiku pada mereka.
"Bagaimana kalau kita nonton film? Ada drakor baru loh... tentang detektif!" ajak Lia.
"Benarkah?" sahut Rani dengan antusias. "Ayok kita tonton!"
Aku terdiam sejenak, jujur saja, kejadian dengan Raven tadi siang membuatku semakin bingung. "Maaf, aku harus mempelajari materi untuk mengajar besok, kalau aku malam ini tidak ikut nonton bagaimana?" tanyaku. Kali ini aku benar-benar jujur seperti biasanya.
"Baiklah, semangat, ustadzah!" ucap Rani dengan semangat. Sementara Lia mengangguk sambil tersenyum, ia sangat memahamiku yang kini sudah disibukkan menjadi ustadzah.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!