Chapter 6 of 53

Bab 6 !

Terlalu jauh bersama muridku1,680 words~9 min read

Raven berhenti berbicara, dia mengalihkan pandangannya dariku. Aku sedikit mengerti maksudnya.

"Raven... ini pertama kalinya kamu datang kesini setelah ustadzah Hani lama cuti, kan?" tanyaku, mencoba menebaknya.

Raven mengangguk perlahan tanpa menoleh padaku, dia sedikit menunduk.

"Ada apa, Raven? Ada masalah apa yang membuat kamu datang kesini?" tanyaku padanya, lembut. Berharap dia segera mengatakan permasalahannya.

Jujur, kini aku tidak merasa takut lagi, tapi merasa kasihan dengannya. Sepertinya dia memiliki tekanan batin yang sangat berat, semuanya terlihat dari raut wajahnya dan sorot matanya. Meskipun aku tak ahli dalam bidang ini, di minggu terakhir ini aku sudah belajar banyak hal dari internet.

Raven menghirup napas dalam-dalam, dan aku tahu dari ekspresi wajahnya, bahwa dia sedang berpikir-pikir  apakah dia perlu memberitahukan padaku atau tidak tentang masalahnya itu.

"Jangan khawatir, Raven. Apa yang kamu katakan, saya jamin tidak akan keluar dari empat dinding ini..." ucapku, mencoba menenangkannya, dan mencoba se profesional mungkin.

Raven kemudian mengangkat wajahnya segera setelah aku selesai berkata. Matanya melihat wajahku yang tertutup cadar, pipiku terasa sedikit hangat menerima pandangannya. Mungkin jika aku tidak memakai cadar, dia bisa melihat dengan jelas jika pipiku memerah.

"Ehmm ustadzah... saya ada masalah... dan... saya merasa tak bisa memberi tahu orang lain mengenai masalah ini..." ucapnya kemudian. "Bahkan... ustadzah Hani dulu... juga tak bisa kupercaya... jadi... aku menggunakan alasan lain untuk menceritakan masalahku padanya..." perkataan Raven lembut, namun cukup untuk telingaku yang ada di bawah jilbab panjang ini menangkapnya.

"Baiklah... tak perlu ditutupi lagi sama seperti ustadzah Hani. Ceritakan kepada saya..." kataku, menunduk sedikit, dan menyiapkan peralatan tulis ku, tanda aku mendengarnya.

"Ustadzah... saya... sangat ketagihan dengan... ehm.... cerita D3w4sa... atau... p*rN0... dan juga... c0l1..." kata Raven perlahan, dan perkataan yang terakhir itu di kecilkan dari kata yang lainnya. Membuat mataku terangkat sedikit ketika mendengarnya.

"Ce... cerita p*rN0 dan... C0l1?... maksud kamu... 0N4n1?" tanyaku, pernah mendengar kata itu dulu, dan aku tau maksudnya apa. Hanya saja, selama 24 tahun aku hidup, belum pernah aku mendengar langsung kata itu dari depanku seperti ini.

Raven mengangguk, wajahnya memerah karena malu.

Aku menarik napas dalam-dalam, wajahku tambah memerah, tidak menyangka kasus seperti ini akan menimpaku. Didalam kepalaku aku sibuk mencari kata yang harus ku ucapkan. Mengingat, aku tak sampai tahap ini ketika belajar ilmu psikologi kemarin.

"Bagaimana kamu bisa... melakukan atau memulai... hal tersebut?” tanyaku, mengingat materi waktu itu yang harus mengetahui akar masalahnya terlebih dahulu.

Raven kembali melihat ke bawah.

"Saya... saya menemukan cerita M35uM itu ketika saya mendownload aplikasi novel di internet... ketika... saya memasukkan kriteria umur saya di atas d3lapan b3l4s tahun..." ucapnya sedikit gemetar, aku membulatkan mataku mendengarnya. "Waktu itu... umur saya masih 3nam b3las tahun, ustadzah..."

"Kenapa...? Kenapa kamu menaikkan umurmu?" tanyaku ingin tahu.

"Karena saya ingin membaca buku action yang harus berumur d3l4pan b3las tahun dulu baru bisa membacanya... ustadzah. Saya tidak mengira kalau yang keluar di beranda akan banyak cerita M35uM seperti itu..." jawabnya.

"Dan kamu membacanya?"

"Saya... awalnya penasaran... sampai akhirnya saya k3c4nduan dan mulai mencari video-video P0rN0 di internet..." ucapnya gugup.

Aku mencoba memahaminya. Kelihatannya dia tidak berbohong, itu terlihat dari bola matanya yang mencoba mengingat sesuatu.

"Kamu ingin terlepas dari k3c4Nduan... itu, kan?" tanyaku. Raven mengangguk.

"Baiklah... bisa kamu beritahu ustadzah, seberapa sering kamu melihat vid30 M35uM dan... seberapa kerap kamu c0L... 0n4N1?" tanyaku, mencoba mengalihkan kata C0L1, karena perkataan itu bagiku terlalu T4Bu untuk diucapkan oleh ustadzah sepertiku.

Raven kembali menunduk, dan aku merasa sesekali matanya melihatku seperti pertama kali kita bertemu dikelas. Kini aku lebih sadar, ternyata tatapan Raven seperti sedang menj4m4h seluruh tubuhku.

"Bi... biasanya... saya melihat video P0rN0 setiap... pagi, sebelum... berangkat sekolah," tuturnya perlahan. "Dan... untuk ceritanya... saya... membacanya saat malam hari... ketika saya ingin tidur dan... tidak ada kegiatan lagi..." aku mengangguk faham.

"Apa yang terjadi jika kamu tidak... 0N4n1?" tanyaku, masih sedikit kesulitan menyebutkan kata itu.

"Saya... saya tidak tahu, ustadzah. Yang saya rasakan... saya tidak tahan... dan kadang-kadang... saya terpaksa 0n4N1 untuk... mengurangi h0Rn1 saya..." jelasnya. "Sebab... kalau saya semakin H0rN1... saya semakin tidak fokus..."

"Tidak fokus?" selaku.

"Iya, seperti sekarang, ustadzah..." katanya.

Mataku membulat terkejut mendengarnya. Tak tahu aku harus mengatakan apa untuk menjawabnya.

Hingga kemudian, Raven tampak membuka mulutnya. "Ustadzah... saya... saya mau menuntaskan h0rN1 saya di depan Ustadzah... boleh?"

Aku tersentak mendengar pertanyaan itu, dan aku tak belajar terlebih dahulu apa yang harus kulakukan dalam posisi seperti ini. Aku terdiam, kemudian berpikir sejenak.

Raven tidak melakukan apa-apa kepadaku, dia hanya mau... ehm... melegakan dirinya...? batinku.

"Boleh, ustadzah...? Kalau tidak... Ubi saya sakit..." jelasnya. Aku tidak tahu apakah dia jujur atau bohong agar bisa meminta simpati dariku. Wajahku yang sebelumnya sudah kembali normal, kini kian memerah kembali. Rasa bersalah, takut, dan malu melanda diriku.

Akan tetapi, jauh didalam lubuk hatiku, setan juga berbisik padaku. Aku... juga ingin tahu, seperti apa 0N4n1 itu.

"Ehm... saya... ba, baiklah..." jawabku. Aku memegang buku catatanku kedepan wajahku sedikit lebih erat. Suasana menjadi berdebar dan tegang di dalam hatiku.

Perlahan, Raven mulai berdiri, membuka ikat p1n994ngnya, lalu c3l4na D4l4M ungu tuanya diturunkan. Aku mencoba untuk tidak melihat ke bagian itu, namun mataku seolah tak mau diajak bekerja sama, dan kembali melihat kearah Raven.

Bagian K3m4lu4N Raven tertutup dengan serangan putihnya yang lumayan panjang itu, tangannya perlahan menarik  C3l4N4 dalamnya kebawah hingga ke b3t15, setelah itu dia menarik seragamnya ke atas, dan kemudian, memamerkan kegiatan 0n4N1nya kepadaku.

Napasku sedikit berhenti, seolah oksigen sulit sekali ku hirup, dan mataku sedikit membulat. Jujur, ini baru pertama kalinya aku melihat apa itu b4t4n9 Z4k4r. Benar, aku tidak pernah melihat video P0rN0, adapun ad3gan di film-film yang sering aku tonton dengan Lia dan Rani, sering aku skip atau kadang tak mau melihatnya. Hanya mereka berdua yang melihat. Yang pernah ku lihat pun hanya sebatas gambar animasi di dalam buku pelajaran biologi dulu.

Tak pernah aku sangka bahwa Ubi itu bisa k3ras seperti itu, mengangguk ke atas, dan aku tidak pernah tahu kalau Ubi itu berakar, seolah-olah memiliki otot kuat seperti itu. Wajahku menjadi p4nas, perlahan, jari Raven mengenggam ubinya yang sudah K3r45, lalu diurut ke atas dan kebawah, membuat napasnya semakin b3rat.

Perlahan matanya mulai naik dari lantai ke arahku, aku mengalihkan pandanganku karena malu. Lalu, pandanganku mengarah ke sebuah cermin besar di atas rak buku di sebelah kiriku yang mengarah kepadaku, melihat sosok diriku yang memakai hijab panjang berwarna hitam polos, mengenakan gamis coklat muda, serta terlihat juga handsock ku yang terlihat di pergelangan tanganku, dan cadarku yang berwarna hitam.

Biasanya cermin itu digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, ada langkah-langkah yang perlu aku pelajari untuk menggunakan teknik cermin itu.

Namun, masalah saat ini aku juga tak tahu pasti apa yang harus aku lakukan, dari cermin aku dapat melihat Raven sedang menatapku, dan bukan hanya sekedar diriku, malah lebih spesifik lagi. Dia sedang melihat bagian buah persik yang ada di atas p3rutku, aku juga segera melihat bagian buah persik ku di cermin, sudah kupastikan persik ku tidak m3n0nj0l seperti guru-guru yang ada di sekolah ini atau sekolah lain. Itu karena hijab lebarku ini menutupinya. Tapi, apakah ada yang salah?

"Ehm... Raven lihat apa itu?" tanyaku. Raven tersentak sedikit, namun tangannya masih terus mengayun ubinya yang k3ra5.

"ma... maafkan saya, ustadzah. Saya... saya lihat buah persik ustadzah..." jawabnya dengan jujur.

Aku memutar kembali badanku kearahnya dengan tiba-tiba, dan dia tampak sedikit terkejut.

"Memangnya keliatan?" tanyaku, Raven menggeleng, memberiku rasa lega.

"Tak terlihat, tapi... ehm... kadang kalau ustadzah bergerak... jilbab lebar ustadzah ikut bergerak juga... ikut tertarik, ehm... dia jadi k3tat... saat itu... terlihat sedikit..." terangnya.

Mungkin inilah penyebab laki-laki disuruh menundukkan pandangannya. Karena sebaik apapun wanita menutup auratnya, ada waktu dimana tidak dapat dikendalikan dan mata laki-laki sudah sewajarnya auto fokus menangkap hal seperti itu. Aku mengigit bibir bawahku perlahan karena reflek.

Aku merasa pandangan Raven kini turun ke p4h4ku, kali ini aku lihat jelas dari sudut matanya. Kain gamis yang aku kenakan ini agak licin, jadi ketika aku duduk, kain itu juga otomatis jatuh mengikuti gravitasi. Memeluk p4h4ku, memamerkan bentuknya, dan karena warnanya itu, ia memancarkan cahaya, memberikan kesan bulat dan lekuk p4h4ku itu. Perlahan, kutarik gamis ku, mencoba untuk melonggarkannya.

"Maaf ustadzah ehm.... ahh... biasanya kalau saya melakukan ayunan seperti ini... saya... menonton V1d30 m35uM... umph..."

Aku mengerutkan kening, "Jadi, kalau... videonya tidak ada?" tanyaku.

"Kalau tidak ada... lamalah saya mengeluarkan getah Ubi saya, ustadzah..." jawabnya.

Maksudnya, kalau dia melihat video P0rn0, dia akan selesai dengan cepat? Dan kejadian ini akan segera berakhir? Dan aku bisa memberikan kasus ini kepada pak Bashor?

Aku yang berpikir seperti itu perlahan segera mengambil ponselku diatas meja. Kubuka kuncinya dan segera kuserahkan kepada Raven.

"Ini... lihatlah menggunakan ponsel ustadzah... supaya kita bisa membicarakan solusinya segera," jawabku sambil bergetar.

Wajah Raven berubah menjadi merah setelah menerima ponsel punyaku. Lalu, kulihat dia sedang mengetik sesuatu menggunakan ponsel itu. Tak lama kemudian, terdengar suara-suara d3s4han dari ponselku itu. Dan aku juga merasa, ayunan tangan Raven ke ubinya semakin cepat dari tempo sebelumnya. Napasnya juga tampak semakin cepat.

Tanpa sadar wajahkupun merasakan rasa panas dan perhatianku semakin lama semakin tertuju pada Ubi Raven yang padat dan K3r45 itu. Tangannya menggenggam dan mengayun  Ubi itu dengan erat, dari dasar batang Ubi, ke ujung ubinya. Baru kali ini aku melihat di ujung Ubinya mengeluarkan cairan seperti getah, tapi berwarna bening seperti air minum. Apa itu? pikirku.

"Uhmmm... ustadzah Syffa..." Raven m3nger4ng memanggil namaku. Menyadarkanku dari pandanganku yang tertuju pada Ubinya. Aku lihat, dia sudah berhenti melihat kearah ponselku.

"Maaf ustadzah... saya tak bisa... melihat video tutorial kalau ada ustadzah... aahh... maafkan saya... ustadzah..." 3r4ng Raven perlahan. Meletakkan ponselku diatas meja. Sebagaian pikiranku menyuruhku untuk pergi, karena sebagian diriku bisa dijangkau olehnya jika aku tak pergi dari sana. Akan tetapi, disisi lain aku juga penasaran, lagian juga udah terlanjur sampai sini, yang terpenting, aku tak bertindak lebih jauh.

Aku seolah merasa dit3rk4m oleh Raven. Namun, hanya matanya saja yang men3rkam tubuhku. Matanya l1ar menatap wajahku, buah persik ku, lenganku, pah4ku, dan setiap inci bad4nku. Wajahku memerah dilihat laki-laki yang sudah sangat bern4f§u.

Aku merasa sangat malu. Cepatlah selesai!!! Pikirku.

Setelah itu, Raven m3n93rang agak keras.

"Aahh... ustadzah... ustadzaaaaahhhh!!!!" Raven men93ran9 memanggilku berkali-kali, kini semakin cepat, dan setelah itu, tiba-tiba ujung Ubinya memuntahkan cairan kental berwarna putih pekat yang cukup banyak, sepertinya itu kah yang disebut getah Ubi?

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!