Mentari pagi baru saja mengintip dari balik jendela kamarku, menumpahkan sinar keemasan yang lembut di wajahku. Udara masih sejuk, bercampur dengan embun pagi. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara segar pagi yang membuatku sedikit bersemangat. Hari ini, aku akan bertemu Shinta lagi. Aku penasaran, bagaimana perkembangannya setelah konsultasi kemarin. Apakah ia akan mendapatkan kabar baik dari Rian?
Aku segera mengambil handuk, tadi sebenarnya aku sudah bangun, melaksanakan shalat subuh. Namun, setelah shalat, aku ketiduran dengan masih memakai mukena di tubuhku.
Setelah mandi, segera aku memasak mie instan untuk sarapan. Di ruang tengah, Rani sudah siap dan bersiap menyantap sarapannya. Aku segera menyusulnya untuk sarapan segera setelah aku selesai memasak mie.
"Apakah nanti akan di terima, Fa?" tanya Rani, membuka obrolan.
"Aku juga tidak tahu," jawabku seolah tak merasa tertarik. Padahal aku juga sangat menantikannya.
"Nanti, jangan lupa untuk menceritakannya pada kami juga ya, Fa?" sahut Lia yang baru saja terbangun, dan sepertinya akan pergi mandi.
"Kalian tenang saja, aku akan menceritakannya kok," ucapku.
Pagi ini aku memakai baju lengan panjang berwarna coklat muda, dengan hijab panjang juga yang menutupi bagian depan tubuhku seperti biasanya.
Setelah siap semua, Rani tampak sudah pergi ke kampus menggunakan motor maticnya, sedangkan Lia masih di rumah karena jadwal dia hari ini masuk shift 2. Sementara aku melajukan mobilku menuju MA Al-Aziz, sekolah tempat aku mengajar. Sepanjang jalan, aku memikirkan Shinta. Wajahnya yang pucat dan mata yang berkaca-kaca masih terbayang jelas di pikiranku. Aku merasa sedikit khawatir tentangnya, tapi aku juga merasakan sedikit kegembiraan karena ia telah memberanikan diri untuk jujur tentang perasaannya.
Entah mengapa, aku yang tak pernah melakukan soal percintaan, malah ikut merasakan ketertarikan seperti ini. Semoga aku tak mendapatkan dosa jika aku mendukungnya, sebab aku mendukung karena pekerjaanku.
Sesampainya di sekolah, aku memarkirkan mobil di tempat yang sudah biasa ku gunakan untuk parkir. Pintu gerbang sekolah sudah terbuka, menyambutku dengan suara gemerisik daun-daun kering yang tertiup angin pagi. Di halaman sekolah, aku melihat beberapa siswa sedang berlarian, saling mengejar dan bercanda. Suasana pagi di sekolah ini selalu terasa hidup dan penuh dengan semangat muda.
Aku melangkah masuk ke dalam sekolah, menyapa beberapa siswa yang aku kenal. Beberapa siswa menyapaku dengan ramah, menunjukkan rasa hormat dan kasih sayang. Aku merasa senang, perlahan-lahan aku mulai merasa nyaman berada di sekolah ini.
Aku menuju ruang guru, menemukan Bu Siti sudah berada disana dan sedang membersihkan ruangan. Aroma harum lantai yang di pell memenuhi ruangan.
"Selamat pagi, Bu Siti," sapaku.
"Selamat pagi, Ustazah Syffa. Sudah siap mengajar?" tanya Bu Siti, sambil menghentikan aktivitasnya sejenak.
Aku tersenyum. "Siap, Bu. Karena hari ini, saya ada janji temu dengan siswi konseling saya." jawabku, mencoba untuk meredakan rasa gembiraku.
Bu Siti tersenyum, mencoba untuk mengerti maksudku, sambil melanjutkan Aktivitasnya. "Alhamdulillah jika ustadzah Syffa sudah ada murid yang berkonsultasi di konseling setelah beberapa minggu." jawabnya, ia seakan mengerti jika apa yang terjadi di konseling tak boleh di bicarakan diluar ruangan, ia pun menawarkan minum padaku. "Ustadzah mau saya buatkan minuman apa?"
"Apa saja bu, teh juga tidak masalah," jawabku.
Bu Siti mengangguk, ia kemudian berlalu menuju dapur di ruang guru dan membuatkan teh untukku. Setelah selesai, dia segera memberikannya padaku. Aku menerimanya dengan senang hati, tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Ustadzah, apa anda merasa nyaman menjadi guru Konseling?" tanyanya.
"Saya hanya mencoba beradaptasi, dan sedang mencoba hal baru diluar kemampuan saya saja, Bu." jawabku.
Bu Siti tampak melanjutkan aktivitasnya kembali. "Ustadzah, padahal, guru-guru yang lain disini itu menolak itu loh, mereka merasa terlalu merepotkan kalau harus menjadi guru Konseling." ucapnya. "Dulu, pak Bashor juga menolaknya, hingga akhirnya, karena tak ada yang mau mengisi, diapun mengalah dan mengisi posisi itu. Ustadzah Hilmi juga, tak jauh berbeda dengan pak Bashor."
Aku tersenyum. Memang, ini adalah tugas yang sulit. Namun, setelah mencobanya kemarin, entah mengapa aku merasa sangat tertarik dan penasaran dengan posisi ini. "Tak apa bu, saya menerimanya dengan senang hati kok," jawabku.
Setelahnya, kami mengobrol tentang banyak hal, hingga satu persatu guru lain mulai berdatangan.
Saat bell masuk pagi sudah berbunyi, aku menghabiskan teh ku dengan cepat, kemudian segera menuju kelas sepuluh. Jam pertama, aku mengajar Pendidikan Agama. Aku mencoba untuk bersikap tenang dan profesional, menjelaskan materi dengan jelas dan menarik. Aku berharap, bisa membuat siswa-siswi tertarik dengan pelajaran yang ku ajarkan.
Jam pertama berakhir dengan cepat. Bel istirahat berbunyi, menandakan berakhirnya jam pelajaran pertama. Aku menghela napas, merasa lega karena semuanya berjalan lancar.
Aku sedang merapikan beberapa lembar tugas ketika Bu Siti menghampiriku. Napasnya tampak terengah-engah, mata kirinya berkedip-kedip kearahku untuk memberi kode, ia tampak seperti habis berlari.
Aku yang mengerti maksud bu Siti segera menghampirinya. Kemungkinan bu Siti takut jika memanggilku terlalu keras akan menggangu gru-guru yang lain.
"Ustazah Syffa, ada siswa yang ingin konsultasi. Dia sebelumnya adalah siswa Ustadzah Hani, namun karena ustadzah Hani cuti melahirkan, jadi sekarang ustadzah lah yang bertanggung jawab," katanya. "Pak Bashor juga sedang absen karena sakit, dia sudah menunggu di sana."
"Baik, bu." jawabku, sedikit tidak sabar. Aku segera mengambil dan membawa buku catatan ku untuk siswi ku yang sedang konsultasi, dan beranjak dari tempat dudukku. Aku sangat penasaran dengan perkembangan Shinta.
"Ustadzah hati-hati, dia itu terkenal pendiam dan misterius. Jika ustadzah ada masalah, ustadzah bisa panggil saya, oke?" ucap Bu Siti.
Aku mengangguk paham. "Ya, baiklah Bu Siti. Saya langsung ke sana," jawabku yang sudah tidak sabar, dan segera pergi dari ruang guru.
Bu Siti tidak tahu jika Shinta sebelumnya tampak murung karena masalah cinta segi tiganya, wajar jika dia memeringatkanku. Namun, rasa penasaran dan sedikit ketegangan memenuhi dadaku. Apakah Shinta akan memberi kabar baik? Apakah Rian memilihnya? Atau ...? Aku berusaha untuk tetap optimis dan positif. Aku melangkah cepat menuju ruang konseling, mencoba untuk mengusir rasa penasaran yang menggerogoti pikiranku.
"Assalamualaikum," ucapku, tanpa melihat siapa yang ada di dalam. Aku mengunci pintu, kemudian berbalik.
Dan seketika, aku terdiam. Raven, siswa yang sebelumnya sering menatapku dengan tatapan misterius saat aku mengajar di kelas 12, kini duduk di bangku panjang di samping tembok. Dia sekilas melihatku namun segera mengalihkan pandangannya.
Cukup lama aku terdiam, aku memikirkan kembali perkataan Bu Fatimah sebelumnya, ternyata yang dia maksud bukanlah Shinta, melainkan Raven.
Jujur, aku merasa sedikit gerogi, takut, dan penasaran yang bercampur menjadi satu. Pertama, Raven memang pendiam, aku penasaran kenapa dia sangat pendiam. Kedua, tatapannya yang aneh padaku, membuatku takut dan merasakan perasaan yang aneh dalam diriku.
Terlepas dari wajahnya yang cukup tampan, namun sifatnya yang pendiam tampak kontras dengan wajahnya. Padahal, kalau dia bisa humble, dia akan menjadi pria populer di antara siswi-siswi di sekolah ini.
Cukup lama aku terpaku, Raven juga tak mengucapkan apapun saat aku masuk.
Sabarlah, tenangkan dirimu, Syffa, batinku. Hingga aku memutuskan untuk menghampirinya, bagaimanapun juga, ini adalah tugasku.
"Raven?" ucapku lembut saat aku duduk di kursi khusus untuk guru.
Perlahan, Raven memandang ku, tatapannya tampak aneh beberapa saat, lalu kembali berpaling. Ia tampak takut saat melihatku.
"Ada masalah apa, Raven? Kenapa kamu takut-takut begitu?" tanyaku, mencoba seramah mungkin.
"Ustadzah, saya... saya..." ucapnya tampak ragu-ragu.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!