"Raven... bantu ustadzah juga... ah..." d3s4hku.
Raven langsung merangkulkan salah satu tangannya ke belakang tubuhku, memainkan buah persikku yang satunya, sementara tangan satunya lagi mulai m3ng3lu5-3lu5 pahaku yang halus dan putih itu, sebelum kemudian merambat menuju lapisan kue serabi milikku yang mulai basah akibat menahan air adonannya.
"Ahhhhhh..." d3s4hku ketika tangannya benar-benar sampai pada kue serabi milikku. Tubuhku kembali m3l3nt1n9 dan tangan kananku memeluk kepalanya erat-erat, mengusap-usap rambutnya tak beraturan.
"Ustadzah... kue milik ustadzah ini... ustadzah beri nama... siapa? Mphhh..." tanyanya. Aku yang tak fokus hanya menjawab asal, bahkan juga tanganku mulai berhenti memanjakan Ragnir akibat merasakan rasa nikmat itu.
"Elsa... ah... ustadzah suka dengan Elsa, sebab dia cantik seperti milik ustadzah... ah...." jawabku tak karuan.
Raven semakin ganas dan semangat memanjakan Elsa. Dia bahkan sesekali mencubit-cubit ujung Elsa dengan gemas, yang membuatku semakin menjadi-jadi, napasku tak karuan.
"Emhh... jangan begitu... Raven...." protes ku, "Elsa nanti malah cepat menangis..." jelasku penuh dengan 3r4n9an manja.
"Andai saja Elsa tak tertutup... celana pendek ini... pasti akan saya manjakan lebih baik lagi, ustadzah... heemmhh..." ucapnya. Aku jelas tak mungkin melakukannya, aku masih mengerti batasan ku sendiri.
Tanganku sepenuhnya terlepas dari Ragnir, merasakan nikmatnya permainan Raven pada Elsa, tanganku keduanya memeluk kepala Raven, membenamkannya pada buah persikku, tubuhku m3l3nt1ng tak karuan. Raven semakin cepat m3ng93s3k jarinya pada Elsa.
"Aahhh... Ravennnn.... ustadzah... ahhhhh..."
Raven seakan mengerti dengan maksudku yang akan mencapainya, dia mempercepat gerakannya, membiarkanku m3l3ntin9 tak karuan diatas kursi, membuat kursi yang kami duduki mengeluarkan bunyi decitan mengikuti gerakan tubuhku yang semakin menjadi-jadi.
"Ahhhh... Ravennn... ustadzah, ustadzah dapat..... Ahhhhh...."
Tubuhku m3ng3j4ng beberapa kali, Raven menghentikan belaiannya kepada Elsa, membiarkan Elsa memuntahkan cairan esnya sebanyak mungkin. Lalu dia mengangkat wajahnya dari buah persikku, melihatku dengan senyum puas di wajahnya yang memerah.
"Tenangkan dulu, ustadzah. Saya sabar menunggu," katanya.
Aku tersenyum kearahnya, aku beberapa saat terdiam dengan napas yang berat, berusaha kuatur dengan susah payah. Aku merasa terlalu cepat dapat, mungkin juga karena sudah lebih dari sebulan aku tidak memanjakan Elsa.
Meski begitu, Raven tetap m3ng3lu5-3lu5 sebagian tubuhku, dan aku membiarkannya. Tangannya mulai aktif mengelus p4h4ku, perutku, bahkan buah persikku, sementara tangan satunya mulai dari punggungku, p4nt4tku, dan lenganku. Aku biarkan saja, lagian dia tak menyentuh bagian 53n51t1fku, jadi aku masih bisa menenangkan diri.
Beberapa saat kemudian, aku mulai merasa tenang, "Sekarang giliran Raven," kataku pelan.
Raven tersenyum, ia kemudian menyandarkan dirinya di kursi, sementara aku mulai naik ke pangkuannya, memposisikan diriku sama seperti kala itu.
Aku mulai m3nggoyangkan Ragnir beberapa saat sebelum ku arahkan kepada Elsa. Aku hanya mencoba memberi kode kepada Ragnir untuk lebih semagat dan bersiap.
Benar saja, Ragnir yang gagah dan panas itu b3rd3nyut merespon tindakanku. Aku segera menurunkan duduk ku, m3nindih Ragnir di bawah sana menggunakan Elsa. Raven mulai m3ng3ran9 saat aku benar-benar menindih tubuh Ragnir.
Dengan berbalut kain, aku masih bisa merasakan kelembutan kulit Ragnir di depan Elsa, perlahan, aku mulai melingkarkan kedua tanganku ke leher Raven, dan mulai menggerakkan p1n99ulku kedepan dan belakang.
"Ahhh... Ustadzah..." d3s4h Raven, kedua tangannya langsung menyambar punggungku, m3rab4nya dengan g4nas dari atas ke bawah sampai ke b0k0n9ku.
"Raven benar-benar tidak tahan... ingin, memasukkan Ragnir ke dalam Elsa ya?" godaku manja.
"Iya... ustadzah... ah..."
Mata kami saling bertemu, napas kami saling berhembus. Aku sebisa mungkin menahan gerakan tubuhku agar tidak buru-buru, aku masih ingin menikmati olahraga ini lebih lama lagi dengan Raven.
Suara Ramai Siswa-siswi lain di luar ruangan konseling ini samar-samar terdengar. Ruangan kedap suara serta tak adanya jendela di ruangan konseling ini membuat olahraga kami berdua bisa berjalan lancar seperti biasa.
Kemudian, aku dapat melihat Raven mulai melirik buah persikku yang ikut bergoyang akibat gerakan senamku. "Raven... kamu suka buah persik ustadzah?"
"I, iya... ustadzah... emhh..." jawabnya. Sebab tanganya sudah mulai mer3maz-r3maz buah persikku yang bulat menggoda itu.
"Ahhhh... main yang puas ya? Buah persik ustadzah juga sangat suka ketika tangan Raven... memainkan ujungnya... emhhhh..." kataku penuh n4f5u.
Jari Raven mulai m3m1lin put1n9ku, memainkannya layaknya kelereng yang ia putar-putar menggunakan dua jarinya. Membuatku sesekali terhentak, dan tanpa sengaja menghentakkan Elsaku pada Ragnir.
Karena aku tak mengenakan apapun dibalik b4ju dan c3l4na pendek ini, aku seolah bisa merasakan, dan membayangkan jika Ragnir mulai masuk dan mulai m3nj4mah Elsaku.
Aku menggigit bibir bawahku, karena kegemasan Raven pada buah persikku, n4f5uku kembali menghampiri. Aku yang awalnya memaju mundurkan gerakan senamku, kini mulai menghentakkannya pada Ragnir.
Wajahku memerah, dapat kulihat Raven tersenyum puas melihatku menggigit bibir bawahnya akibat gemas dengan permainannya. Terus aku menghentakkannya, sampai pada akhirnya, dapat kurasakan Ragnir mulai beberapa kali berdenyut.
"Ahhh... Raven... Ragnir mau muntah? Ahhh..." tanyaku, tubuhku terangkat dan turun tak karuan, gerakanku semakin cepat. Tangan Raven sudah mulai m3ngg3r4yangi punggungku, dan berhenti di atas c3lana pendekku.
Aku mengerti dengan apa yang akan ia lakukan, "Raven, jangan, ustadzah nanti marah," kataku padanya sedikit kesal. Namun meskipun begitu, aku tetap terus menggerakkan tubuhku seperti instruktur senam.
Raven tersenyum, "Maaf ustadzah... saya... ahhh... sudah merasa tidak, tahan.... Ahhhh..." katanya, syukurlah dia melepaskan tangannya dari sana, dan mulai merangkul punggungku.
"Aaahhh Raven!!!" pekikku, mataku membulat melihatnya. dia memelukku erat-erat, buah persikku dimasukkan kedalam mulutnya, memainkan ujung buah persikku menggunakan lidahnya sebelum menyantapnya, membuatku semakin kacau, badanku bergerak tak karuan.
Hentakan tub*hku semakin kencang dan cepat kepada Ragnir, "Rrraaaavveennn... aaahhhh... usstadzaahh... ahhhh..." kataku tak karuan.
Raven tak bergeming, ia semakin bersemangat, memainkan ujung buah persikku semakin menjadi di dalam mulutnya yang basah dan hangat.
Aku yang tak bisa menahannya pun langsung merangkulnya, menjambak rambutnya beberapa kali, merasakan sensasi s3d4p dan geli secara bersamaan. P1n99ulku semakin cepat bergerak kedepan dan belakang, memanjakan Ragnir yang mulai berontak di bawah sana bersama Elsa.
"Ahhhh... ustadzah... saya tidak tahan lagi.... Aaahhhh..." 3r4n9nya melihat kearahku. Aku juga demikian, merasakan kekuatan es milik Elsa yang akan mulai mencair keluar lagi setelah beberapa saat yang lalu baru saja keluar.
Aku seolah tak bisa berpikir jernih, saat Raven mengangkat wajahnya melihatku itu, aku tanpa pikir panjang langsung menyambar b1b1rnya, bahkan Raven sampai terbelalak tak menyangka akan tindakanku itu.
Aku beberapa saat kemudian memejamkan mata, l1dah kami berdua perlahan saling berbalas di dalam sana, air l1ur kami juga menyatu, memberikan 941r4h lebih untuk kami berdua.
"Emmmhhh.... eemmmmhhh... eeemmhhh..." d3s4hku tak karuan, aku seolah tak mau melepaskan pergulatan l1dah kami, aku sudah mulai merasa akan dapat sebentar lagi. Raven juga demikian, dia sangat erat memeluk t*b*hku, bahkan tanganya yang satu m3r3m4s-r3m4s b0k0n9ku dengan ganas.
"Eemmmmhhhhhhhh!!!!" aku men3g4ng seperti tersetrum beberapa kali kembali ketika Elsa merasakan adanya lahar hangat yang mengenainya. Aku semakin gemas dengan gerakan l1dah kami, pahaku m3ngg4p1t dengan gemas Ragnir yang memuntahkan getah madu itu, membasahi semua bagian bawahku, termasuk Elsa juga.
Bahkan Elsa juga demikian, dia memuntahkan cairan esnya yang mulai mencair ke tubuh Ragnir, aku langsung melepaskan p4ngut4nku kepada Raven. Aku seakan kesetanan, m3nj1lat dan menciumnya dengan brutal. Mulai dari pipi, hidung, mulut serta lehernya, orang yang istimewa dalam hidupku ini.
"Ahhhh... ustadzahhhh.... emhhhhh.... ahhhhh..." d3s4hnya. Tangannya juga tak berhenti m3n99er4y4ngi tubuhku, tak ada bagian yang tak ia s3nt_uh.
Sejenak kemudian, kami terdiam di atas kursi, aku terdiam memeluknya cukup lama, hanya napas berat kami yang saling beradu. Keheningan menyelimuti kami, hanya diiringi oleh detak jantung yang berdebar kencang dan napas berat yang saling bercampur.
Dengan napas yang tersengal-sengal, Raven memanggilku, "Ustadzah," suaranya sedikit bergetar, menahan beban perasaan yang begitu berat.
"Hem?" tanyaku, seperti kehabisan tenaga, seolah aku telah berlari beberapa kilometer tanpa henti, padahal hanya berolahraga saja. Tubuhku terasa lemas, seakan seluruh energi telah terkuras habis.
"Terimakasih, ini adalah saat-saat terakhir terbaik untuk kita, sebab..." ucapannya tertahan, seakan ada sesuatu yang sulit untuk diucapkan. Ia ragu-ragu, menahan air mata yang mengancam untuk tumpah.
"Sebab apa?" tanyaku, masih di posisi yang sama, memeluknya erat, tak ingin melepaskannya sedetik pun. Aku merasakan getaran di tubuhnya, getaran yang menunjukkan betapa beratnya beban yang sedang ia pikul.
Raven menarik napas dalam kemudian, wajahnya mendongak ke atas, melihat langit-langit ruangan konseling yang putih itu. Seolah mencari kekuatan dari atas, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar yang sulit ini. "Saya setelah ini akan kuliah di Jogja, mungkin akan jarang ketemu dengan ustadzah lagi," katanya, suaranya pelan, hampir tak terdengar.
Aku terkejut mendengarnya, memang, aku tahu jika Raven akan melanjutkan pend1d1kannya, tapi tak kusangka dia akan pergi ke daerah tetangga yang jauh itu, menurutku. Jarak Jogja terasa begitu jauh, menciptakan jurang pemisah yang begitu dalam di antara kami.
Aku memegang wajahnya dari kedua sisi pipinya, jemariku menyentuh kulitnya yang lembut. "Kalau ustadzah kangen, bagaimana?" tanyaku, air mataku sudah mulai terasa akan menggenang, mengancam untuk membanjiri pipiku. "Lagian kenapa nggak kuliah disini saja sih? Kan banyak juga universitas disini," suaraku bergetar, menunjukkan betapa beratnya perpisahan ini bagiku.
Raven tersenyum, dapat kulihat, ekspresinya juga merasa berat untuk melakukannya. Senyum yang dipaksakan, menunjukkan betapa sulitnya ia menyampaikan hal ini. "Saya sudah berkata demikian juga kepada ayah saya, ustadzah. Mama saya juga mendukung saya, tapi kembali lagi. Di keluarga kami, ayahlah yang memegang keputusan, jadi saya tak bisa membantahnya." katanya. Matanya juga mulai memerah, air matanya juga dapat kulihat mulai keluar, mengalir perlahan di pipinya yang lembut.
Aku kembali memeluknya, memeluknya dengan erat, tangisku pecah meski tanpa suara. Air mataku mulai mengalir membasahi pipi, beberapa kali aku mulai sesenggukan. Tubuhku bergetar hebat, dipenuhi oleh kesedihan yang begitu mendalam. Aku merasa tak mau jika harus berjauhan dengan Raven setelah apa yang telah kita lalui bersama. Kenangan indah yang telah kita ukir bersama, kini terasa begitu pahit ketika harus dipisahkan oleh jarak.
Rasa puas setelah senam yang seharusnya menenangkan, langsung berubah 360° menjadi kesedihan. Sejak awal aku juga sudah merasa tidak enak ketika memikirkan akan berpisah dengan s1swa-s1sw1 k3las 12. Namun kenyataan saat ini, sungguh membuatku sedih. Bukannya aku ingin menghalangi pend1d1kan Raven, hanya saja aku tak menyangka jika dia akan menempuh pend1d1kannya jauh dariku. Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
Raven juga demikian, dia mulai sesenggukan tanpa ada suara, tangannya mulai mengelus kepalaku dengan pelan dari balik jilbab. Sentuhannya lembut, menenangkanku di tengah badai kesedihan yang melanda. "Ustadzah tenang saja, saya berjanji akan selalu mengisi hati saya hanya untuk ustadzah." katanya, suaranya lirih, mencoba memberikan sedikit ketenangan di tengah badai kesedihan ini.
Aku terdiam, masih tak dapat merelakan jika harus berpisah darinya, meskipun tak ada kata putus diantara kami, tapi entah mengapa, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, terasa ada kekhawatiran yang begitu besar. Kata-kata Raven barusan seolah mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak berpaling dariku, dan aku tak ingin jika nantinya Raven akan menjalin hubungan dengan wanita lain.
Kehidupan kampus, aku sudah lebih dulu mengenalnya darinya. Banyak sekali wanita yang lebih cantik dariku, aku takutnya dia akan berpaling dan meninggalkanku. Ketakutan itu menghantuiku, menciptakan bayangan gelap di masa depan kami.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!