Chapter 40 of 53

Bab 40

Terlalu jauh bersama muridku1,116 words~6 min read

Pagi ini, SMA Al Aziz kembali ramai. Beberapa hari lalu, ujian akhir semester telah selesai, menandai berakhirnya periode ujian yang menegangkan bagi para siswa. Udara di sekolah terasa lebih ringan, walaupun masih ada beberapa pekerjaan administrasi yang harus diselesaikan. Hari ini, seharusnya kelas 12 menikmati liburan mereka. Mereka telah menyelesaikan ujian dan berhak untuk beristirahat sebelum memasuki babak baru dalam hidup mereka. Namun, hari ini mereka dipanggil kembali ke sekolah. Bukan untuk belajar atau ujian, tetapi untuk mendiskusikan rencana perjalanan mereka ke Bali.

Perjalanan ke Bali ini bukanlah perjalanan biasa. Ini adalah acara tahunan yang diadakan sebagai perpisahan untuk kelas 12, sebuah tradisi yang selalu dinantikan oleh para siswa dan guru. Tahun ini, tidak hanya kelas 12 yang akan ikut, tetapi juga siswa kelas 10 dan 11. Sekolah ingin memberikan pengalaman yang berkesan bagi seluruh siswa, sebuah kenangan indah sebelum mereka melanjutkan perjalanan hidup masing-masing. Ruang guru ramai oleh para guru yang telah hadir lebih awal untuk mempersiapkan acara tersebut. Suasana penuh semangat dan antusiasme menyelimuti sekolah, menciptakan suasana yang meriah meskipun ini adalah hari libur bagi kelas 12.

Di tengah kesibukan itu, aku, menyimpan rahasia kecil dengan Raven, merasa sedikit gelisah. Hari ini, aku telah membuat janji untuk bertemu dengan Raven, diruang konseling.

Udara di ruang rapat terasa lebih panas dari biasanya. Bukan hanya karena banyaknya orang yang berkumpul, tapi juga karena detak jantungku yang berdebar-debar. Rapat persiapan perjalanan ke Bali untuk perpisahan kelas 12 sedang berlangsung. Semua guru tampak bersemangat, membahas rencana itinerary, anggaran, dan berbagai hal teknis lainnya. Aku berusaha untuk fokus, tapi pikiranku melayang ke Raven. Hari ini, seharusnya dia libur, tapi aku telah berjanji untuk bertemu dengannya. Rasa gelisah mencampur aduk dengan rasa senang.

Suara ustadzah Hilmi, kepala sekolah, membuatku tersentak kembali ke kenyataan. Ia sedang menjelaskan tentang pentingnya acara ini bagi siswa dan sekolah. Aku mengangguk, mencoba untuk terlihat fokus, padahal pikiranku masih tertuju pada Raven. Aku melirik jam tangan, menunggu waktu yang tepat untuk bertemu dengannya tanpa diketahui orang lain.

Rapat berlangsung cukup lama. Berbagai pendapat dan usulan muncul, membuat diskusi menjadi cukup alot. Aku sesekali memberikan masukan, tapi lebih banyak mendengarkan. Aku terus-menerus melirik jam tangan, menunggu momen yang tepat. Akhirnya, rapat selesai. Aku berpura-pura sibuk dengan berkas-berkas di mejaku, memberi kesempatan kepada Raven untuk pergi tanpa menimbulkan kecurigaan.

Setelah ruang rapat mulai lengang, Raven mendekat. Ia tersenyum, sebuah senyum yang selalu membuatku meleleh. "Aku harus cepat," bisiknya, "Nanti ketahuan." Aku mengangguk, menahan keinginanku untuk memeluknya lebih lama. Kita sepakat untuk bertemu di tempat yang telah kita sepakati sebelumnya, sebuah tempat yang tenang dan tersembunyi yang ada di sekolah ini.

Setelah beberapa saat saling berpelukan, aku berkata, "Aku harus ke ruang guru sebentar, menaruh beberapa barang. Nanti aku menyusul. Kamu duluan saja ke ruang konseling." Raven mengangguk, matanya masih menatapku. Ada keraguan, sedih, dan cinta yang terpancar dari matanya. Kita telah sepakat untuk bertemu di ruang konseling. Dia kemudian berbalik dan pergi.

Aku berjalan menuju ruang guru, tapi langkahku terasa berat. Sekolah ramai dengan siswa-siswi, terutama siswa kelas 12. Melihat mereka, bayangan masa lalu muncul kembali. Aku teringat saat pertama kali mengajar kelas 12, merasakan ketegangan pertamaku sebagai seorang guru, meskipun semua baik, tapi ada beberapa yang nakal, dan bandel. Namun, di balik kenakalan itu, tersimpan kebaikan dan kecerdasan. Aku teringat bagaimana aku perlahan-lahan membangun ikatan dengan mereka, bagaimana aku menjadi lebih dari sekedar guru, tapi juga teman dan wali kelas mereka. Pikiran tentang perpisahan yang akan segera tiba membuat hatiku terasa sesak.

Perlahan-lahan, aku sampai di ruang guru, menyapa beberapa guru dan ustadzah disana sebentar, lalu meletakkan tas dan barang-barangku. Aku langsung menuju ruang konseling tanpa mengambil catatan konseling, sebab hari ini seharusnya adalah jam kos. Aku membuka pintu dan menguncinya. Raven sudah duduk di kursinya, tersenyum melihat kedatanganku. Senyumnya menenangkan, menghilangkan semua rasa gelisahku.

Aku duduk di dekatnya setelah melepaskan cadarku, Raven langsung menurunkan celananya sampai ke lutut, mendongakkan ubinya yang selalu kurindukan itu. Tanpa pikir panjang, segera kuraih ubinya, dan ku ur_ut keatas dan kebawah.

"Kamu sudah lama banget ya, kangen tangan ustadzah?" tanyaku kepada ubi madu milik Raven. Sebenarnya akulah yang kangen padanya, sebab sebulan lebih ini tak melakukannya bersama Raven, karena halangan bulan Ramadhan.

"Ahh... ustadzah, Ragnir memang sangat kangen dengan ustadzah... lihat, dia sangat kegirangan... ah...." jawab Raven, aku tersenyum saat mendengar ubinya di panggil Ragnir.

"Emhh.. kenapa kamu panggil Ragnir?" tanyaku, napasku sudah mulai terasa berat.

"Sebab, Ragnir adalah palu milik... Loki, karakter yang ada di anime one... ah... palununya kuat, ustadzah..." katanya. Aku mengangguk, nama itu sangat cocok untuk ubinya.

Namun, aku merasa lebih b3r941r4h lagi, sebab saat ini Raven memanggilku "Ustadzah", biasanya dia akan memanggilku kak Syffa. " Kenapa... kenapa kamu panggil ustadzah, Raven? Aku... merasa malu kalau kamu panggil begitu..."

"Saya... suka dengan panggilan itu, itu... menambah n4f5u saya... ah..." jawabnya. Aku menggigit bibir bawahku, tanganku semakin bersemangat degan kegiatan pada Ragnir, yang membuat Raven kesedapan.

Beberapa saat kemudian, aku bangkit, aku melepaskan kancing jubahku sepenuhnya, memamerkan kaos tshirt berlengan pendek ku, dan celana pendek se paha yang ku kenakan, hal itu membuat Raven kesulitan menelan air liurnya.

"Raven suka?" tanyaku manja, dan langsung di balas anggukannya. Kemudian, aku sengaja menyingkap jilbab panjangku ke belakang, memamerkan tshirt v pada lubang leher tshirt itu, yang membuat sebagian buah persikku terlihat olehnya.

Raven tampak kegirangan, dia tak henti-hentinya mengamati tubuhku dari atas sampai bawah, melihat kulit tanganku yang tampak putih bersih, kakiku yang lentik dan putih juga. Namun, yang membuatnya sangat terkejut kemudian bukan itu, aku sengaja mengeluarkan kedua buah persikku dihadapannya, ekspresi yang sama seperti waktu itu ketika aku sengaja mengeluarkannya untuk menumpahkan getah madunya ke buah persikku.

Dapat kulihat, wajahnya sangat memerah yang sebelumnya tampak putih bersih. "Us....tadzah...." ia masih tak percaya.

Aku tersenyum, lalu duduk di sampingnya, aku sengaja berbisik menggodanya sambil tanganku kembali memegang Ragnir. "Kamu boleh pegang sesukamu," bisikku sedikit m3nd3s4h, sengaja menggodanya.

"Te... terimakasih, ustadzah..." katanya. Lalu dengan tangan bergetar, ia mulai memegang buah persikku sepenuhnya, gemas rasanya melihat ekspresinya.

"Emh... Raven," panggilku. Tangannya hanya diam, seolah membiarkan tubuhku sendiri yang bergerak memanjakan Ragnir yang membuat buah persikku ikut bergoyang karena tempo gerakan tubuhku.

Ia menoleh kearahku, wajah kita sangat dekat, napas kami juga terasa hangat satu sama lain. "Ada apa, ustadzah?" jawabnya dengan sedikit m3nd354h.

"Emhh... kemarin, ah... saat pernikahan kakakmu, kamu... tak pergi kemana-mana kan?" tanyaku, sebab aku kemarin lupa ingin menanyakannya pada Raven.

"Nggak ustadzah... Aku... aku tidak kemana-mana, ah... aku tidak pernah bertemu wanita lain selain ustadzah..." jawabnya. Aku tahu dia salah mengira maksudku, tapi aku tak mau menjelaskan lebih lanjut soal kemarin. Karena meski aku merasa dia bukan Raven, sebab Raven tak mungkin kenal juga dengan Rendi.

Aku menggigit bibir bawahku, tubuhku sedikit m3l3nt1n9 akibat jari-jari Raven memainkan ujung buah persikku yang berwarna pink merona dan m3ny3mbul k3ras itu.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!