Bel istirahat tiba. Sudah dua minggu aku menjadi guru konseling, tapi, tak ada siswa ataupun siswi yang mengajakku berkonsultasi. Jujur, aku merasa sangat lega akan hal itu, selama dua minggu ini juga aku telah banyak belajar soal psikologi untuk berjaga-jaga jika nanti ada siswa atau siswi yang berkonsultasi denganku.
Kini, aku sedang mengecek beberapa administrasi di ruang guru ketika ustadzah Hilmi, kepala sekolah, menghampiriku. Wajahnya sedikit serius.
"Ustazah Syiffa, ada siswi yang ingin konsultasi. Pak Bashor sedang sibuk di ruang konseling sebelah, dan dia beberapa minggu yang lalu bilang anda juga sekarang seorang guru konseling. Jadi saya minta tolong Ustazah untuk menanganinya," katanya. "Ruang konseling kita ada dua, di sebelah kiri dan kanan. Pak Bashor sudah ada di ruang kiri."
Aku mengangguk, sedikit gugup. Jujur, Ini baru pertama kalinya aku menangani konseling siswa. Sebuah rasa penasaran mulai muncul. Siapakah siswi ini? Apa masalahnya? Aku membayangkan berbagai kemungkinan, dari masalah akademik hingga masalah pribadi yang lebih rumit. Kecemasan bercampur dengan rasa ingin tahu yang kuat.
Aku berjalan menuju ruang konseling di sebelah kanan. Aku ingat, ruangan itu cukup nyaman meskipun ada bau aneh selain bau pewangi ruangan. Dengan satu meja panjang dan dua kursi panjang, ada juga sebuah bangku kecil di dekat meja, mungkin untuk guru. Degup jantungku sedikit meningkat saat mendekati pintu.
Seorang siswi duduk di salah satu kursi. Dia terlihat murung, sangat berbeda dari biasanya. Bayangan-bayangan di kepalaku mulai sirna saat aku mengenali sosoknya; Shinta, siswi kelas 12 yang selalu ceria dan aktif di kegiatan sekolah. Melihatnya seperti ini, aku merasa terkejut dan sedikit khawatir. Rasa penasaranku tadi berganti dengan kekhawatiran.
Perlahan, aku menutup pintu dan menguncinya, mulai dari sini, semua rahasia hanya ada di dalam ruangan itu, tak ada yang boleh keluar dari epat dinding itu. Setidaknya, itulah yang ku pelajari di internet.
"Shinta? Ada apa, Sayang?" tanyaku lembut, berusaha menciptakan suasana yang nyaman saat duduk di bangku kecil. Shinta masih tertunduk, jari-jarinya sibuk mengutak-atik ujung rok seragamnya.
Setelah beberapa saat hening, Shinta akhirnya angkat bicara, suaranya terbata-bata, "Ustazah⦠saya⦠saya bingung."
"Ceritakan semuanya, Shinta. Jangan ragu," ujarku, mencoba memberikan semangat.
Shinta menarik napas dalam-dalam. "Begini, Ustazah⦠saya suka sama Rian. Tapi, Rian juga suka sama⦠Alya. Sahabat saya sendiri."
Aku mendengarkan dengan saksama. Cinta segitiga. Aku sendiri belum pernah mengalaminya, jadi aku hanya bisa memberikan saran berdasarkan pemahamanku tentang agama dan etika.
"Shinta, perasaan itu memang sulit dikontrol, ya. Tapi, yang terpenting adalah bagaimana kamu menyikapinya. Pertama, jujurlah pada dirimu sendiri. Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Apakah kamu ingin mempertahankan persahabatanmu dengan Alya, atau kamu ingin mengejar perasaanmu kepada Rian?"
Shinta menggeleng pelan. "Saya bingung, Ustazah. Saya sayang sama Rian, tapi saya juga nggak mau kehilangan Alya."
Aku terdiam, mencoba berpikir sejenak. "Cobalah untuk bicara jujur kepada Alya dan Rian. Bercerita tentang perasaanmu, sejujurnya. Meskipun mungkin akan menyakitkan, tapi kejujuran akan membuat semuanya lebih jelas. Setelah itu, serahkan semuanya kepada Allah. Allah pasti akan memberikan jalan terbaik untukmu."
Shinta terdiam, merenungkan kata-kataku. Aku sendiri tidak yakin apakah saran ini efektif atau tidak. Aku tidak punya pengalaman dalam hal percintaan, apalagi cinta segitiga yang rumit seperti ini. Aku hanya berharap saran yang kuberi berdasarkan nilai-nilai agama dapat membantunya.
"Lalu⦠bagaimana kalau mereka berdua memilih Alya, Ustazah?" tanya Shinta lirih.
"Jika itu terjadi, terima dengan lapang dada. Allah SWT sudah punya rencana terbaik untukmu. Kehilangan seseorang memang menyakitkan, tapi percayalah, Allah akan mengganti dengan yang lebih baik. Fokuslah pada hal-hal positif dalam hidupmu, seperti belajar, beribadah, dan bersilaturahmi dengan teman-temanmu yang lain."
Shinta mengangguk perlahan. "Terima kasih, Ustazah. Saran Ustazah membuat saya sedikit lebih tenang."
"Sama-sama, Shinta. Jangan ragu untuk kembali menemuiku jika kamu masih merasa bingung. Kita bisa mendiskusikannya lagi."
"Aku akan mencoba untuk jujur kepada mereka nanti saat pulang, ustadzah. Di pertemuan selanjutnya, kita bertemu lagi untuk membicarakan perkembangannya," jawab Shinta.
"Ustadzah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Shinta."
Setelah itu, Shinta berpamitan padaku. Aku melihat Shinta pergi dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Aku sendiri masih merasa ragu apakah saran yang kuberi sudah cukup efektif. Aku berharap Shinta dapat menemukan jalan keluar dari dilema cintanya. Aku berdoa agar Allah selalu membimbingnya.
Akhirnya tantangan pertamaku berjalan dengan cukup lancar. Tapi, aku tak boleh merasa senang dulu sebelum perkembangan besok dari Shinta. Aku juga sepertinya harus mencari orang yang tepat, yang mengerti soal percintaan.
Setelah selesai, aku segera mengemasi buku-buku yang ku gunakan untuk mencatat poin-poin penting tentang permasalahan Shinta, aku segera bergegas kembali ke kantor. Ku lihat, di ruangan samping pak Bashor masih belum selesai, karena pintunya masih tertutup.
*
Malam harinya, di kontrakan kecil mereka yang hangat, Aku menceritakan pengalamannya kepada Lia dan Rani. Wajahku masih tampak sedikit tegang, meski lega karena Shinta tampak lebih tenang setelah curhat.
"Jadi, Shinta cerita kalau dia suka sama Rian, tapi Rian juga suka sama Alya, sahabatnya sendiri," kataku, tanganku sibuk mengaduk-aduk teh.
Lia, seperti biasa, langsung memberikan pendapatnya. "Duh, ribut banget ya. Tapi, setidaknya Shinta udah berani jujur sama perasaannya. Baguslah. Besok, kalau Alya yang dipilih, ya udah⦠selamat buat Alya. Shinta harus bisa menerima dan tetap bersahabat sama Alya."
Rani, dengan ekspresi lebih serius, mengeleng. "Gak segampang itu, Lia. Shinta kan pasti sedih. Dia perlu dukungan, bukan cuma ucapan selamat yang basa-basi. Kalau aku jadi Syffa, aku bakal bilang gini ke Alya jika memungkinkan, 'Alya, aku tahu kamu dan Rian saling suka. Aku senang untuk kalian berdua. Tapi, aku juga mau kamu ingat kalau Shinta itu sahabatmu, dan dia lagi sedih. Tolong, bersikaplah pengertian sama dia.'"
Lia menyela, "Terlalu berlebihan, Ran, nggak perlu sampai segitunya. Ucapan selamat aja udah cukup. Lagian, urusan hati itu rumit. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk bersikap sesuai keinginan kita."
"Tapi, kita juga nggak bisa cuek aja, Li," bantah Rani. "Shinta butuh dukungan. Kita harus menunjukkan kalau kita ada untuknya, apapun yang terjadi."
Aku mendengarkan pertukaran pendapat antara kedua sahabatku dengan seksama. Aku merasa keduanya memiliki poin yang benar.
"Aku setuju dengan kalian berdua," kata ku akhirnya. "Kita perlu bersikap bijak. Kalau Shinta yang dipilih Rian, aku harus tetap mendukungnya, namun juga mengingatkannya. Aku akan mengucapkan selamat kepada Shinta, tapi juga akan memastikan Shinta merasa didukung dan didengarkan. Aku akan bilang ke Shinta, 'Shinta, aku senang kamu dan Rian bersama. Tapi, tolong perhatikan perasaan Alya juga. Dia sahabatmu, dan dia butuh dukunganmu sekarang. Jangan membuat persahabatan kalian hancur karena masalah cinta,' seperti itu."
"Terus, kalau Rian menolak Shinta?" tanya Lia.
"Kalau Rian menolak Shinta, aku akan berusaha menenangkan Shinta. Aku akan bilang, 'Shinta, aku tahu ini menyakitkan. Tapi, ingat, Allah SWT sudah punya rencana terbaik untukmu. Jangan menyerah, ya. Tetap semangat belajar dan beribadah. Kita selalu ada untukmu.'" aku menambahkan, "Dan aku juga akan memastikan Shinta tidak mengurung diri dan tetap bergaul dengan teman-temannya. Kalau perlu, aku akan menemui Alya dan menyuruhnya untuk tidak menjauhi Shinta."
Rani mengangguk setuju. "Bagus, Syffa. Kamu sudah menemukan keseimbangan yang tepat. Dukungan dan pengertian itu penting, tapi kita juga harus realistis dan nggak bisa memaksakan kehendak." Lia mengangguk.
Aku merasa lega. Aku juga merasa lebih siap menghadapi apapun yang terjadi besok. Aku telah belajar banyak dari pengalamannya hari ini, dan juga dari masukan kedua sahabatku. Aku yakin, dengan dukungan dari Lia dan Rani, Aku bisa menghadapi semua tantangan ke depannya.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!