Rani, Dimas, dan aku tiba di gedung mewah itu. Suasananya ramai dan meriah, jauh lebih megah daripada yang pernah kubayangkan. Tamu undangan sudah banyak yang hadir, dan mereka tampak seperti orang-orang penting. Lia terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantinnya, dan Rendi terlihat gagah di sampingnya dengan stelan jas miliknya. Orang tua Lia dan orang tua Rendi terlihat bahagia disisi mereka berdua. Untungnya kami tidak terlalu terlambat.
Kami langsung menghampiri Lia dan Rendi. Rani dan aku memeluk Lia erat-erat, mengucapkan selamat. Air mata bahagia mengalir di pipiku dan pipi Rani, mengingat persahabatan kami yang begitu erat. Rasanya haru sekali melihat sahabatku akhirnya menikah. Aku memberikan kado pernikahan kepada Lia setelah Rani barusan selesai memberikannya, sebuah kotak kecil yang kubungkus dengan pita cantik.
"Lia, mungkin tidak seberapa, tapi semoga kamu suka ya," kataku, dengan mata yang masih sembab.
"Syifa... terima kasih ya," ucap Lia, suaranya bergetar. "Semoga kamu cepat menyusul. Aku sudah nggak sabar menunggu pernikahanmu!"
Rendy menambahkan, "Iya, Syifa. Semoga kamu segera menikah dengan pacarmu yang sekarang. Dimas sudah cerita banyak tentangmu."
Saat aku melihat kearah Dimas, dia tersenyum kearahku sambil mengacungkan jempolnya. Hubunganku dengan Dimas dan Rendi memang seperti sahabat juga, sebab Lia dan Rani yang menghubungkan kami. Jadi aku tak terlalu canggung pada mereka berdua.
Aku tersenyum, mengusap air mata yang masih membasahi pipiku. "Doakan saja," kataku, suaraku sedikit serak. "Doakan aku segera menyusul kalian."
Setelah itu, kami bertiga bergabung dengan tamu-tamu lainnya. Aku, Rani, dan Dimas bergabung dengan beberapa teman kerja Lia yang kukenal. Kami berbincang ringan, menceritakan berbagai hal, dan berbagi cerita tentang persahabatan kami dengan Lia. Dan memang beberapa teman Lia tahu hubungan persahabatan kami, jadi mereka yang baru tahu sedikit terkejut juga. Suasana hangat dan penuh kebahagiaan menyelimuti kami setelahnya.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah firasat aneh muncul dalam hatiku. Ada yang janggal. Dari sudut pandangku, aku melihat seorang pria tinggi berdiri di dekat meja hidangan. Ia mengenakan jas mewah, tetapi membelakangi kerumunan. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun postur tubuhnya, aura yang dipancarkannya... sangat familiar. Rasanya seperti déjà vu, tapi aku tak bisa memastikannya.
Aku mencoba mengabaikannya, fokus pada percakapan dengan teman-teman Lia. Namun, pandanganku terus tertuju pada sosok misterius itu. Ia tampak begitu tenang di tengah keramaian, sesekali berbincang dengan beberapa tamu. Ada sesuatu yang sangat mirip dengan Raven dalam dirinya. Cara dia memegang gelas minumannya, cara dia mengambil posisi yang tidak terlalu ramai, bahkan cara rambutnya sedikit berantakan... semuanya begitu mengingatkanku pada Raven.
Tak lama kemudian, Lia dan Rendy mulai berbaur dengan para tamu. Aku melihat Rendi kemudian menghampiri dan berbincang akrab dengan pria misterius itu. Mereka tertawa bersama, bahkan terlihat saling berbisik. Keakraban mereka bukan seperti sekadar teman biasa. Ada kedekatan yang lebih dari itu, sesuatu yang membuatku semakin penasaran. Aku menggigit bibirku, mencoba untuk tetap tenang. Jangan sampai salah sangka. Mungkin hanya kebetulan. Tapi, firasatku mengatakan lain. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku merasa ada hubungan antara pria itu dan Rendi. Aku harus memastikannya. Tetapi, aku ragu untuk menghampirinya. Bagaimana jika aku salah? Bagaimana jika itu bukan Raven? Rasa penasaran dan ketakutan bercampur aduk dalam hatiku. Aku memutuskan untuk mengamati pria itu dari kejauhan, menunggu kesempatan yang tepat untuk memastikan identitasnya. Pernikahan Lia dan Rendi terasa kurang meriah karena rasa penasaran dan kegelisahan ini.
Aku dan Rani beberapa saat kemudian memutuskan untuk mengambil makanan. Saat hendak menuju meja hidangan, pandanganku kembali mencari sosok pria misterius itu. Namun, ia sudah tidak ada di sana. Aku mencari ke sana ke mari, tetapi tidak menemukannya. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi. Ke mana dia pergi? Baru beberapa saat yang lalu dia masih berada di sana.
Aku dan Rani mengambil beberapa makanan, kemudian kembali bergabung dengan Dimas. Lia dan Rendi sudah bergabung dengan teman-teman kerjanya. Aku ingin bertanya kepada Rendi tentang pria misterius itu, tapi sepertinya tidak ada waktu yang tepat. Rendi terlihat sibuk berbincang dengan teman-temannya.
Aku mencoba bertanya kepada Lia. "Lia, tadi aku melihat seorang pria di dekat meja hidangan. Dia tinggi, rambutnya sedikit berantakan... kamu kenal? Siapa namanya?"
Lia mengerutkan kening, berpikir sejenak. "Hendra," jawabnya singkat. "Saudara iparku. Dia memang hadir di sini, tapi sekarang aku tidak tahu di mana dia berada. Dia pendiam, jarang bergaul dengan orang banyak. Biasanya dia mencari tempat yang sepi."
Lia menoleh ke sana ke mari, tampak sedang mencari keberadaan Hendra. "Tadi dia ada di sini, cuma sekarang... aku tidak tahu ke mana dia pergi," jelas Lia.
Aku terdiam. Hendra... nama itu familiar. Aku ingat Lia pernah menyebut nama itu sebelumnya. Jadi, pria misterius itu adalah Hendra, saudara Rendi? Aku mulai berpikir. Postur tubuhnya memang mirip dengan Raven, bahkan kepribadiannya juga terlihat pendiam seperti yang diceritakan Lia. Mungkin hanya kebetulan. Banyak orang yang memiliki kemiripan fisik kan? Pikirku.
Tapi, masih ada yang mengganjal di dalam hatiku. Kenapa rambut Hendra mirip sekali dengan Raven? Kenapa aku merasa begitu familiar dengan pria itu? Ada rasa tidak nyaman yang masih tertinggal. Aku belum yakin. Aku masih merasa ada sesuatu yang disembunyikan. Pernikahan Lia dan Rendy, yang seharusnya menjadi hari bahagia, berubah menjadi hari yang dipenuhi rasa penasaran dan kegelisahan bagiku.
"Memangnya kenapa dengan Hendra?" tanya Lia, kebingungan melihat ekspresiku.
Aku menghela napas, mencoba untuk merangkai kata-kata. "Enggak, aku hanya merasa dia mirip seseorang yang ingin kukenalkan padamu," kataku, sedikit ragu.
Lia mengerutkan kening. "Dia mirip Raven? apa itu maksudmu?"
"Iya, mirip sekali," jawabku. "Dari rambutnya, postur tubuhnya... bahkan cara dia memegang gelas tadi juga mirip Raven."
Lia terdiam sejenak. "Ah, kamu mungkin salah kira," katanya, mencoba meyakinkanku. "Banyak orang yang memiliki kemiripan fisik. Lagipula, Raven kan sibuk katamu kemarin. Kalaupun Hendra adalah Raven, dia pasti menghampirimu saat melihatmu di atas tadi." jelasnya masuk akal.
Rani, yang sedari tadi mendengarkan percakapan kami, menambahkan, "Iya, Syffa. Jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin hanya kebetulan. Lagipula, kamu sudah bilang kalau Raven sibuk."
Aku mengangguk pelan. "Iya, kemungkinan besar bukan dia. Aku mungkin terlalu memikirkannya. Maaf ya, Lia. Aku tidak bisa membawanya ke sini."
"Aku mengerti kok," sahut Lia. "Tidak apa-apa. Mungkin lain kali kamu bisa mengenalkanku dengan Raven."
Kami melanjutkan percakapan, beralih ke topik lain. Namun, rasa penasaran dan kegelisahan masih menghantuiku. Meskipun aku mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa itu bukan Raven, tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Kemiripan Hendra dan Raven terlalu kuat untuk diabaikan begitu saja. Aku harus mencari tahu sendiri kebenarannya.
*
Di perjalanan pulang, aku, Rani, dan Dimas masih membicarakan resepsi pernikahan Lia. Kami berbagi cerita tentang momen-momen bahagia yang kami saksikan, terutama ekspresi bahagia Lia saat mengucapkan janji suci. Suasana mobil dipenuhi dengan tawa dan cerita-cerita ringan. Sampai di kontrakan, Dimas pamit pulang.
"Aku pulang dulu, ya," kata Dimas. "Capek juga seharian ini."
"Iya, hati-hati di jalan," sahut Rani.
"Sampai jumpa lain waktu," kataku.
Setelah Dimas pergi, aku dan Rani berjalan masuk dan duduk di ruang tengah kontrakan. Kami duduk di sofa, menikmati secangkir teh hangat. Pikiran kami masih tertuju pada pernikahan Lia.
"Aku masih penasaran dengan pria itu," kataku, mengatakan hal yang masih membebani pikiranku. Sebab sampai pulang ini pun aku masih belum berhasil mengetahui wajah Hendra itu.
Rani mengerutkan kening. "Andai saja aku melihat apa yang kamu lihat, mungkin aku juga bisa mengonfirmasi apakah itu Raven atau bukan, tapi yang jelas dia Hendra, Syffa,"
"Iya, benar," jawabku. "Aku juga tahu Ran, mungkin hanya perasaanku saja."
"Kamu terlalu kangen mungkin..." ucap Rani, mulai sedikit menggoda, dan memang benar, memang karena aku kangen padanyalah yang membuatku merasa seperti itu.
"Kayaknya Ran, hem..." jawabku sambil menyandarkan punggung ke sofa. "Tapi, aku masih merasa tak enak juga sebab tak bisa menghadiri acara kakaknya,"
"Kenapa kamu tak menyiapkan hadiah saja untuk kakaknya? Meskipun pernikahannya sudah lewat," usul Rani.
"Sudah, aku sudah memiliki rencana seperti itu sebelumnya, tapi Raven menolak keras, sebab katanya tak usah repot-repot, aku disuruh fokus saja pada sahabatku. Dia tak ingin merepotkan ku, dan dialah yang membeli hadiah dariku untuk kakaknya."
"Raven seromantis itu ya? Aku iri padamu, Syffa." jawab Rani, ikut merebahkan dirinya di sofa. "Raven itu jujur, dia tampan, bahkan menurutku lebih tampan dari Dimas, bahkan di usianya yang semuda itu, pikirannya sudah seperti Dimas. Tapi jangan salah paham ya Fa. Dimas tetap dihatiku, aku hanya kagum saja dengan didikan orang tuanya."
Aku tersenyum, "Aku juga, aku merasa bersyukur bisa memilikinya, terlepas dari jarak usia kami, saat kami bersama, dia cenderung lebih dewasa dariku." jawabku, merasa bangga dengan Raven.
Selanjutnya, percakapan kami beralih ke kenangan masa lalu. Kami mengenang saat-saat ketika kami masih tinggal bersama, ketika kami bertiga masih berbagi satu atap. Rasanya masih seperti mimpi bahwa Lia akan lebih dulu meninggalkan rumah kita ini. Kami masih tidak menyangka.
"Rasanya masih seperti kemarin kita masih bersama-sama," ucap Rani, suaranya sedikit bergetar.
"Iya," kataku, mengangguk setuju. "Waktu berlalu begitu cepat."
Kami saling berpandangan, mata kami berkaca-kaca. Kami menyelipkan doa agar keluarga Lia dan Rendy selalu langgeng. Semoga mereka selalu bahagia. Semoga pernikahan mereka menjadi awal dari kebahagiaan yang abadi. Meskipun perasaan penasaran tentang Hendra masih menghantuiku, aku mencoba untuk tetap fokus pada kebahagiaan sahabatku.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!