Chapter 38 of 53

Bab 38

Terlalu jauh bersama muridku1,321 words~7 min read

Tiga bulan telah berlalu semenjak Raven mengungkapkan perasaannya padaku, hubungan kami semakin membaik, meskipun beberapa kali kami memiliki masalah satu sama lain, ya... masalah sepele, tapi kami selalu bisa mengatasinya dengan pemikiran dewasa kami satu sama lain. Serta kami juga sering melakukannya, saling membantu menyelesaikan masalah kecanduan kami masing-masing. Beruntung aku sampai detik ini masih bisa mengontrol diri untuk tidak terlalu jauh, masih sama seperti sebelum-sebelumya.

Hanya saja, sebulan yang lalu kami tak melakukannya sama sekali, sebab bertepatan dengan hari Ramadhan, jadi kami sepakat untuk tidak melakukannya. Kami takut jika dosa kami akan bertambah dua kali lipat. Bahkan selesai hari raya pun kami tak melakukannya, kami disibukkan dengan urusan kami masing-masing. Jadi hubungan kami ya seperti pasangan pada umumnya untuk saat ini.

Kenangan indah bersama Raven masih terasa hangat, mengingatkanku betapa beruntungnya aku. Namun, hari ini aku harus fokus membantu Rani mempersiapkan diri untuk pernikahan Lia.

"Syifa, gimana menurutmu gaun ini? Terlalu mencolok, ya?" Suara Rani sedikit cemas, menggema di kontrakan kami yang sederhana. Aku mendekati dia, menatap bayangannya di cermin. Gaun biru muda berenda itu justru sangat cantik di tubuhnya. "Enggak kok, Ran. Cantik banget! Warnanya pas banget sama kulitmu. Kamu bakalan jadi pusat perhatian nanti." Aku merapikan sedikit renda di lengannya, mencoba menenangkannya. "Lagipula, pernikahan Lia kan santai, enggak perlu terlalu formal."

Rani masih tampak ragu, jarinya sibuk merapikan rambutnya. "Tapi aku takut kehabisan waktu, Syifa! Aku udah lama banget milih gaun ini. Gimana kalau aku ganti aja?" Kecemasannya terlihat jelas.

Aku tertawa kecil. "Santai aja, Ran. Kita akan ke pernikahan Lia dan Rendy, bukan lomba lari. Lagian, Dimas udah nunggu di ruang tengah, kan?" Aku berusaha meredakan kekhawatirannya.

Dia mengangguk, tapi raut cemasnya masih terlihat. Aku mengelus lengannya, mencoba menenangkannya. "Tenang aja, semua akan baik-baik saja. Kita pasti sampai tepat waktu."

"Kamu sangat cantik dengan gaunmu itu, Syffa, Raven memang sangat perhatian sekali padamu." katanya.

"Itu karena aku menerima pendapatnya, aku suka jika dia suka, mungkin nanti coba kamu tanya pendapat Dimas, siapa tahu kamu lebih percaya diri." Saranku padanya, semoga saja dia mengerti maksudku.

Beberapa hari lalu, aku dan Raven sedang memilih kado untuk Lia di sebuah toko perhiasan di mall yang ada di kota kami. Aku benar-benar bingung. Bahkan tak ada bedanya dengan Rani saat ini.

Namun Raven tersenyum, menunjuk sebuah kalung liontin berbentuk bunga matahari kecil yang terbuat dari emas putih. Katanya, bunga matahari itu selalu menghadap matahari, melambangkan kesetiaan dan kebahagiaan yang selalu mengarah pada Tuhan. Selain itu, emas putih melambangkan kemurnian cinta yang mendalam, jadi sangat pas dengan mereka.

Aku langsung terpukau. Kalung itu memang sangat cantik dan elegan, sesuai dengan kepribadian Lia. Apalagi yang memilihkan juga Raven, tak perlu di pertanyakan lagi soal filosofinya. Raven memang memiliki pandangan dan wawasan yang luas tentang soal-soal seperti ini, makannya aku langsung setuju padanya.

Setelah dari toko perhiasan, Raven mengajakku ke sebuah butik di dalam mall besar itu. Di antara deretan toko-toko mewah, butik kecil ini tampak menonjol dengan desainnya yang minimalis namun elegan. Di dalam, terbentang gaun-gaun cantik yang tertata rapi. Tanpa sepatah kata pun, ia mengeluarkan sebuah gaun dan sebuah kotak kecil dari sebuah kotak beludru hitam. Gaun itu... sungguh menakjubkan.

Terbuat dari bahan sifon sutra berwarna hijau toska muda, gaun itu jatuh dengan anggun membingkai tubuh. Potongan A-line yang sederhana namun elegan, menutupi lutut dengan sempurna. Lengan panjangnya dihiasi dengan detail renda sutra yang halus dan lembut, menambah kesan anggun dan feminin. Bagian lehernya berbentuk V yang tidak terlalu rendah, tetapi tetap memperlihatkan sedikit tulang selangka.

Yang paling menarik perhatian adalah detail bordir benang emas yang menghiasi bagian dada dan lengan. Motifnya berupa bunga-bunga kecil yang sederhana namun anggun, memberikan sentuhan mewah tanpa berlebihan. Bordir ini tidak terlalu ramai, tetapi justru menambah kesan elegan dan sophisticated.

Dari kotak kecil yang lain, Raven mengeluarkan sebuah jilbab. Terbuat dari bahan chiffon warna senada dengan gaun, jilbab ini memiliki tekstur yang lembut dan jatuh dengan anggun. Desainnya sederhana, tanpa banyak detail, tetapi tetap terlihat elegan. Warna hijau toska muda yang lembut dan menenangkan, memberikan kesan damai dan tenang. Jilbab ini melengkapi gaun dengan sempurna, menciptakan penampilan yang anggun dan Islami.

Gaun dan jilbab ini tidak hanya cantik, tetapi juga sangat Islami. Panjangnya yang pas dan desainnya yang sederhana namun elegan, menunjukkan rasa hormat dan kesopanan. Keduanya sempurna untuk menghadiri acara pernikahan Lia dan Rendy. Aku sangat menyukainya. Ini lebih dari sekadar gaun dan jilbab; ini adalah hadiah yang penuh makna dari Raven.

Rendi dan Rani sendiri kemarin juga sudah berbelanja bersama untuk membeli kado untuk Lia, namun untuk gaun, Rani membelinya sendiri, sebab Rendi sudah sibuk bekerja setelah kelulusannya dari kuliah beberapa bulan yang lalu. Hal itulah yang membuatnya tak bisa mengantarkan Rani untuk membeli gaun.

Pikiran ku kembali ke hari ini. "Raven nggak bisa ikut hari ini, Ran," kataku, suaraku sedikit lesu. "Kakaknya nikah hari ini juga." Rasa bersalah mulai muncul. Memang, di bulan ini, setelah selesai hari raya seperti ini, selalu banyak yang menikah, sebab orang-orang percaya hari-hari seperti ini adalah hari yang baik untuk melakukan pernikahan.

Rani mengangguk mengerti. "Oh, iya ya… Sayang banget. Padahal beberapa kali ke rumah Lia, kita udah janji kamu bakal bawa Raven buat dikenalkan padanya saat nikah."

Aku menghela napas. "Iya, aku juga sedikit menyesal. Aku udah janji sama Lia, dan aku juga merasa bersalah karena nggak bisa hadir di pernikahan kakaknya Rafen." Aku menggigit bibir bawahku. Janji untuk memperkenalkan Raven pada Lia harus tertunda. Aku juga merasa bersalah karena tidak bisa hadir di pernikahan keluarga Raven. Bagaimana pun, itu keluarga calon suamiku, "Jika Tuhan mengabulkan," pikirku. Tapi mau bagaimana lagi? Hari ini, kebahagiaan Lia dan Rendi harus menjadi prioritas.

Setelah memastikan Rani benar-benar siap, meskipun masih sedikit ragu, aku mengajaknya segera turun. "Ayok, Ran! Nggak perlu mikir panjang lagi. Kita minta pendapat Dimas aja. Mungkin dia bisa menenangkanmu," kataku sambil tersenyum menyemangati Rani. Aku tahu betapa cemasnya dia, sama seperti aku beberapa hari lalu saat memilih kado untuk Lia bersama Raven.

Kami berdua turun ke ruang tengah, di mana Dimas sudah menunggu dengan sabar. Melihat Rani, Dimas langsung tersenyum. "Wow, Ran! Kamu cantik banget! Gaunnya pas sekali," puji Dimas tulus. Rani tersipu malu mendengar pujian itu. Aku tertawa kecil melihat reaksi Rani yang lucu. "Kan udah kubilang, kamu cantik kok!" ujarku. Rasanya lega melihat beban di pundak Rani sedikit berkurang.

Setelah beberapa saat berbincang ringan, kami pun bersiap untuk berangkat ke pernikahan Lia dan Rendy yang diadakan di sebuah gedung mewah.

Mobil Dimas melaju mulus membelah hiruk pikuk kota. Di depan, Rani dan Dimas asyik berbincang, suara tawa mereka sesekali terdengar. Aku mengamati mereka dari kaca spion, sepasang kekasih yang tampak begitu serasi. "Rencananya, kita akan menikah sembilan bulan lagi, Syifa," bisik Dimas, suaranya terdengar jelas meskipun terhalang oleh kursi depan. Rani mengangguk, "Iya, dan kita juga ingin mengadakan resepsi sederhana, tapi tetap elegan, seperti pernikahan Lia dan Rendy ini," sahutnya, suaranya bersemangat.

"Wah, selamat ya, Ran, Mas Dimas!" ujarku, ikut bersemangat. "Aku nggak sabar menunggu hari bahagianya tiba. Semoga lancar sampai hari H." Aku membayangkan betapa bahagianya mereka berdua. Aku sendiri juga tak sabar menunggu hari di mana aku dan Raven akan bersama selamanya, meskipun aku sendiri tahu apakah nantinya aku akan hidup bersama dengan Raven atau tidak. Sebab masa depan Raven juga masih panjang, tak terasa sebulan lagi akan berpisah dengan dirinya di sekolahan itBe.

Beberapa saat kemudian setelah melakukan obrolan ringan dengan mereka, kami sudah hampir sampai di tujuan.

Melihat gedung megah itu dari kejauhan, aku membayangkan betapa bahagianya Lia dan Rendi. Pernikahannya hanya resepsi singkat selama tiga jam, tetapi kemewahan gedung tersebut menunjukkan kelas Rendi sebagai calon suami Lia yang berasal dari keluarga kaya raya. Tidak ada acara adat Jawa seperti hajatan pada umumnya, hanya resepsi elegan yang hanya berlangsung selama tiga jam. Mobil Dimas yang nyaman membawa kami menuju lokasi pernikahan. Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya mengamati Rani dan Dimas, terpikir betapa beruntungnya mereka. Senyum Rani yang merekah karena pujian Dimas, mengingatkanku pada kebahagiaanku bersama Raven. Meskipun hari ini Raven tak bisa ikut, aku bersyukur memiliki sahabat sebaik Rani dan Dimas.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!