Aku menatap Raven yang sedang berdiri di tengah ruang tengah. Ia tampak sedikit gugup, menatap kami berdua dengan senyum yang sedikit canggung. "Kak Syffa, Kak Rani⦠aku pergi dulu. Hari sudah malam."
Aku mengangguk, "Iya, Raven. Hati-hati di jalan." Mataku menatap wajahnya dengan senyum lembut, merasakan sedikit kehilangan di dalam hati.
Raven berbalik dan menatap Rani. "Kak Rani, terima kasih sudah memperbolehkanku bertamu di sini. Aku sudah merasa lega setelah mengatakan perasaanku pada kak Syffa."
"Sama-sama, Raven. Kapan-kapan datang lagi ya." Rani menjawab dengan senyum hangat. "Jangan lupa kabar-kabar pada Syffa."
Raven mengangguk, "Pasti, Kak Rani. Aku juga merindukan kalian berdua."
Aku melangkah dekat ke Raven. "Kalau kamu pulang selarut ini, pasti tak ada transportasi umum, aku antarkan ya?"
Raven tersenyum. "Terima kasih, Kak Syifa. Tapi tidak usah. Aku sebelumnya datang menggunakan mobil kakakku."
"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan." Aku mengatakan itu sambil menatap mobil Raven yang terparkir di halaman kontrakan.
Rani mendekati aku dan berbisik ke telingaku. "Syifa, ini perasaanku saja atau kamu juga? Aku merasa familiar dengan mobil itu."
Aku mengangguk. "Aku juga merasa familiar dengan mobil itu. Tapi, aku tak ingat di mana aku pernah melihatnya."
Kami sama-sama terdiam sejenak, mencoba mengingat di mana kami pernah melihat mobil itu.
"Oh, ya sudah. Tidak apa-apa." Rani mengucapkan itu sambil menatap mobil itu, mobil sport berwarna silver bermerk Toyota klasik itu.
"Iya, mungkin hanya kebetulan." Aku menjawab sambil menarik napas panjang. "Kapan-kapan aku akan tanya pada Raven tentang mobil itu."
Raven yang sudah menyalakan mesin mobilnya berbalik dan menyapa kami lagi. "Kak Syifa, Kak Rani⦠aku pergi dulu. Aku akan merindukan kalian, jaga kesehatan ya, kak Syffa."
"Hati-hati di jalan, Raven. Aku juga akan merindukanmu." Aku menjawab sambil tersenyum.
Mobil Raven perlahan melaju menjauh, meninggalkan aku dan Rani yang masih terdiam di teras. Rani menghela napas panjang, menatap mobil Raven yang sudah menghilang di tikungan jalan.
"Aku masih tak percaya, Syifa. Jadi ternyata kamu memiliki hubungan dengan Raven. Selama ini aku selalu menggoda kamu dengan nama Raven. Aku tak pernah menyangka bahwa kamu memiliki hubungan yang serius dengannya."
Aku tersenyum sedikit. "Aku tahu, Ran. Aku minta maaf karena menyembunyikannya dari kalian selama ini."
"Tapi, kenapa kamu menyembunyikannya dariku? Aku kan sahabatmu. Kenapa kamu tak menceritakan semuanya padaku?" Rani menanya dengan nada sedikit kesal. "Tapi dari ekspresi dan responmu saat ku goda, sebenarnya aku sudah sedikit curiga kalau kamu beneran suka pada Raven."
"Aku malu, Ran. Aku malu pada diriku sendiri jika mengatakan kedekatanku dengannya pada kalian. Aku pernah berkata pada kalian kalau aku tak berniat pacaran, tapi... aku malah melakukannya dengan Raven," Aku menjawab dengan jujur.
Rani menggeleng kepala. "Aku tak akan menentang kebahagiaanmu, Syifa. Aku hanya terkejut. Aku tahu, Raven adalah orang yang baik setelah berbicara padanya tadi. Aku percaya padanya."
Aku menganggukkan kepala, "Aku mengerti, Ran. Aku juga percaya padanya."
"Sekarang ceritakan padaku. Bagaimana hubungan kamu dengan Raven awalnya bisa dekat?" Rani menanya dengan sedikit penasaran.
Aku tersenyum. "Ceritanya panjang, Ran. Mungkin aku akan menceritakannya nanti."
"Oke. Tapi janji ya, kamu harus menceritakan semuanya padaku." Rani menjawab dengan tegas.
"Janji." Aku menjawab dengan senyum lembut.
Kami terdiam sejenak, saling menatap satu sama lain. Rani melangkah dekat dan memelukku dengan erat. "Aku bahagia untukmu, Syffa. Semoga kamu bahagia bersama Raven."
Aku membalas pelukan Rani, "Terima kasih, Ran. Aku juga sangat bahagia."
Rani melepaskan pelukanku, matanya menatapku dengan penuh perhatian. âAku pergi ke kamarku dulu, ya, Syifa. Kau istirahat saja.â
Aku mengangguk, âIya, Ran. Terima kasih.â
Rani masuk ke dalam rumah dan berjalan ke atas menuju kamarnya yang berada tepat di seberang kamarku. Aku masih terpaku di teras, menatap jalan yang sudah kosong. Jantungku masih berdebar kencang, seperti ada burung yang terbang dengan liar di dalam dada.
âAstagfirullahâ¦â Aku bergumam, mencoba menenangkan diri. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Raven⦠aku dan Ravenâ¦
Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam rumah, setelah menguncinya, aku berjalan menuju kamarku dengan perasaan gembira yang tak bisa ku gambarkan. Aku masuk ke kamarku, menutup pintu dengan lembut. Aku menjatuhkan diri ke atas kasur, mencoba menenangkan debaran jantungku.
Aku masih terbayang wajah Raven saat ia menyatakan perasaannya padaku. Aku masih bisa merasakan kehangatan tangannya dan kehangatan kata-katanya.
Aku tertawa sedikit, merasa bahagia dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku dan Raven⦠bagaimana bisa ini terjadi?
Aku tahu, hubungan kami akan mengalami banyak tantangan di masa depan. Tapi, aku yakin kita bisa melewatinya bersama. Aku yakin kita bisa membangun hubungan yang kuat dan langgeng. Dengan adanya status hubungan diantara kami berdua, kedepannya kalau ada yang membuatku curiga seperti Layla, aku tidak sungkan lagi untuk bertanya pada Raven.
Aku menutup mata dan mencoba menenangkan diri. Aku harus bersiap untuk menjalani hubungan baru ini. Aku harus bersiap untuk menjalani petualangan baru bersama Raven.
Nyatanya, tadi kami berdua juga menutupi hubungan kami saat pertemuan konseling, aku dan Raven berkata kepada Rani kalau hubungan kami awalnya karena Raven adalah salah satu murid konselingku yang memiliki masalah keluarga saja. Namun syukurlah Rani tak bertanya lebih lanjut, jadi mungkin aku nanti akan menceritakan padanya tentang hubungan kami, tapi bukan yang itu...
Aku tersenyum lebar. Aku sangat bahagia. Beberapa saat kemudian, ponselku berbunyi, pesan dari Raven mengatakan jika dirinya baru saja sampai dirumah. Aku terkejut, jarak kontrakaknku dengan komplek perumahannya saja berjarak 8km, kalau di tempuh secepat itu... Aku langsung menelfonnya.
Kalau bukan ngebut, terus apa? Aku memarahinya, dan dia meminta maaf padaku, aku tak tahu, tapi karena kekhawatiranku ini, dia tersenyum di balik panggilan video itu, dia berterimakasih padaku sebab aku mengkhawatirkan dirinya. Selanjutnya kami mengobrol santai seperti biasa, dia juga memuji rambut panjangku yang lurus, yang mana aku ingat tadi tak sempat memakai jilbab, dan membiarkannya begitu saja melihat rambutku. Aku tak merasa bersalah, aku malah merasakan adanya perasaan bangga tersendiri di dalam dadaku.
Telfon video kami berakhir saat hari sudah memasuki larut malam, aku sengaja mengakhirinya sebab besok Raven masih masuk sekolah, sementara aku sendiri libur.
Aku merenungkan kembali takdir yang kujalani saat ini, aku berterimakasih kepada Tuhan karena aku masih diberi kesempatan merasakan momen-momen bahagia seperti ini. Hingga tak sadar, aku sudah tertidur, dan larut dalam mimpi-mimpi indah bersama Raven.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!