Tok⦠tok⦠tok⦠Suara ketukan di pintu membuatku tersentak. Aku membuka mata, merasakan kepala yang masih berat. Aku tak tahu kapan aku tertidur, saat kulihat jendela kamarku, hari sudah sore.
"Syffa? Kamu sudah makan? Bagaimana keadaanmu?" tanyanya dari luar kamarku.
Aku menyuruhnya membuka pintu karena memang tidak terkunci. Rani hanya menjulurkan kepalanya, melihatku dari ambang pintu. Wajahnya tampak khawatir. Aku masih terbaring di tempat tidur, selimut masih menutupi tubuhku.
"Aku sudah makan, Ran. Dan⦠aku sudah sedikit lebih baik," kataku, meski hatiku berkata lain. Rasa sesak masih memenuhi dadaku, bayangan Raven dan Layla masih saja menghantuiku.
Rani mengangguk, namun matanya masih menatapku dengan penuh perhatian. "Obat yang ku belikan kemarin di habiskan ya," katanya, "Kalau begitu, aku pamit ke kamar dulu, syukurlah kalau sudah mendingan."
"Nanti kalau kamu ingin ngobrol, masuk saja ke sini. Pintunya tidak kukunci," kataku, mencoba untuk tersenyum.
"Iya, nanti aku akan mampir," jawab Rani, lalu menutup pintu kamarku dan masuk ke kamarnya yang terletak tepat di depan kamarku.
Setelah Rani masuk ke kamarnya, aku kembali memejamkan mata. Aku masih merasa sesak, masih merasa bersalah atas perlakuanku kepada Raven. Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus meminta maaf padanya. Aku harus menjelaskan semuanya. Tapi, aku masih takut.
Aku masih merasa sesak, masih merasa bersalah atas perlakuanku kepada Raven. Aku tahu, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus meminta maaf padanya. Aku harus menjelaskan semuanya. Tapi, aku masih takut. Takut menghadapi kemungkinan terburuk, takut mendengar penjelasannya yang mungkin akan semakin melukai hatiku. Ketakutan itu seperti akar yang mencengkeram erat-erat, membuatku terpaku di tempat tidur. Bayangan wajah Raven yang kecewa terus berputar di kepalaku. Dan di balik semua itu, tersimpan pertanyaan besar yang terus menggerogotiku: mengapa Rafend tidak jujur tentang hubungannya dengan Layla?
Apakah dia memang sengaja menyembunyikannya? Atau mungkin dia sendiri tidak tahu harus bagaimana mengatakannya? Pikiran itu membuatku semakin frustasi. Aku telah begitu percaya padanya, begitu yakin bahwa dia adalah orang yang baik. Tapi, kenyataannya⦠kenyataannya jauh lebih pahit dari yang ku bayangkan.
Aku menggigit bibirku, menahan air mata yang mengancam untuk tumpah. Aku merasa telah dipermainkan. Aku merasa telah dimanfaatkan. Perasaanku yang tulus, kemampuanku untuk membantu, semuanya seolah hanya menjadi alat untuk mencapai tujuannya. Dan yang paling menyakitkan, aku bahkan tidak tahu apa sebenarnya tujuannya.
Aku meraih gelas berisi air di nakas dan meminum sisa obat penenang yang diberikan Rani. Mungkin dengan ini, aku bisa sedikit lebih tenang, sedikit lebih mampu menghadapi kenyataan yang harus kuhadapi. Aku harus berhenti bersembunyi di balik ketakutan. Aku harus menyelesaikan masalah ini, baik masalahku dengan Raven, maupun kekecewaanku pada Rafend. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana aku bisa menghadapi semuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, membuatku semakin gelisah.
Aku menarik selimut lebih tinggi, mencoba untuk menemukan sedikit ketenangan di tengah badai yang menerjang hatiku. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengalihkan perhatianku. Aku meraih ponselku, mencari hiburan yang bisa sedikit meringankan beban pikiranku.
Ku buka aplikasi streaming film kesukaanku. Mungkin dengan menonton film komedi ringan, aku bisa melupakan sejenak semua masalah yang sedang kupikirkan. Aku memilih film komedi romantis favoritku, mengharapkan tawa dan cerita ringan yang ada di dalamnya bisa sedikit menenangkan hatiku yang sedang gundah gulana. Aku berharap, dengan fokus pada alur cerita dan humor di film itu, aku bisa sedikit melupakan rasa sesak dan kekecewaan yang masih menghantui pikiranku. Aku berharap, sedikit demi sedikit, beban di dadaku bisa berkurang, dan aku bisa menemukan sedikit kedamaian di tengah badai yang sedang menerjang hatiku.
-
Setelah melaksanakan sholat Isya, aku kembali melanjutkan menonton film. Alhamdulillah, film komedi romantis itu berhasil sedikit mengalihkan perhatianku dari masalah yang sedang kupikirkan. Tawa-tawa ringan dari para pemainnya, dan alur cerita yang ringan, membantu menenangkan hatiku yang masih dipenuhi oleh rasa sesak dan kekecewaan. Aku tenggelam dalam dunia khayalan film tersebut, lupa sejenak akan beban yang selama ini membebani pikiranku. Waktu berlalu begitu cepat. Ketika aku melihat jam di ponsel, ternyata sudah pukul 19.15. Aku merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih lega. Meskipun masalahku belum terselesaikan, aku merasa sedikit lebih mampu untuk menghadapinya. Aku merasa sedikit lebih kuat. Aku merasa sedikit lebih siap.
Ceklik!Â
Aku terkejut saat pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Rani masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak panik.
"Syffa! Ada remaja tampan yang mencari mu!" katanya, "Aku tadi sedang nonton film di bawah, lalu dia datang mencarimu, aku menyuruhnya menunggu di ruang tengah sekarang,"
Aku langsung terduduk dari tempat tidur, jantungku berdebar kencang. Aku tahu siapa yang datang. Raven. Sebab barusan juga dia menelfon dan mengirim ku pesan, namun tak kubaca, aku fokuskan untuk menonton film. Pikiran itu membuatku panik. Aku bingung harus berbuat apa.
"Ran, kenapa kamu mengizinkannya masuk?" tanyaku, suaraku bergetar.
"Ya ampun, Syffa! Masa aku harus mengusir tamu? Lagian dia juga sopan, dan sepertinya ada urusan yang penting," Rani menjawab dengan sedikit kesal.
Aku menghela napas, mencoba untuk menenangkan diri. Rasa ingin tahu dan sedikit rasa takut bercampur aduk dalam dadaku. Aku harus bertemu dengannya. Aku harus tahu apa yang ingin dia bicarakan.
Dengan sedikit grogi dan jantung yang masih berdebar kencang, aku bergegas merapikan diri. Saking buru-burunya, aku bahkan lupa untuk memakai jilbab, membiarkan rambut panjangku tak tertutup apapun. Aku merapikan pakaianku, mencoba untuk terlihat tenang, meski sebenarnya aku sangat gugup.
Aku dan Rani segera bergegas turun dari kamar, menuju ruang tengah. Di sana, aku melihat Raven duduk di sofa. Ia mengenakan pakaian santai, tetapi rapi dan bersih. Tatapannya tampak cemas, tapi saat melihatku, ia tersenyum sedikit, meski kecemasan masih terlihat jelas di matanya.
Raven bangkit dari duduknya saat aku mendekat. Aku berdiri di hadapannya, mencoba untuk terlihat tenang, meski jantungku masih berdebar kencang. Aku menatapnya dengan sedikit ketus.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanyaku. "Darimana kamu tahu rumah ini? Bukannya aku tak pernah memberitahukan tempat tinggal ku?"
Raven terlihat sedikit gugup. Ia menggaruk tengkuknya, lalu berkata dengan suara yang sedikit pelan, "Kak Syifa⦠saya minta maaf. Saya tadi meminjam motor Aldo dan mengikuti mobil ustadzah," jelasnya. "Tujuan saya kesini, Saya⦠saya ingin meminta penjelasan. Kepenjela nggak membalas pesan dan teleponku beberapa ha ini?"
Aku terkejut, aku tak sadar jika tadi aku diikuti Raven, jadi dia se effort itu ingin bicara padaku? Bahkan dia sekarang memanggilku dengan sebutan kak, jujur saja aku sangat senang dengan panggilan itu, tapi aku menahannya, masih ada yang harus dia jelaskan padaku.
Aku menatap Raven, mencoba untuk tetap tenang meskipun jantungku masih berdebar. "Menurutmu⦠bagaimana? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanyaku, suaraku terdengar sedikit lebih tegas daripada sebelumnya.
Raven terlihat berpikir keras, menatapku dengan tatapan yang penuh keraguan. Ia menggaruk kepalanya, tampak sedang merenungkan sesuatu. "Saya⦠saya tidak tahu. Apakah saya melakukan kesalahan? Apakah saya melakukan sesuatu yang membuat kak Syffa tersinggung?" Ia tampak bingung, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Aku kemudian duduk di sofa, Rani juga ikut duduk di sebelahku, ekspresinya tampak rumit, dia masih mencerna apa yang ia lihat saat ini. Raven juga ikut duduk di depanku. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan, "Laylaâ¦"
Begitu aku menyebut nama Layla, ekspresi Raven berubah. Ia mengangguk mengerti. "Oh⦠masalah Laylaâ¦" Ia menghela napas panjang, tampak sedang mengumpulkan keberanian. "Begini, Kak Syifa⦠sebenarnyaâ¦" Ia berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan yang serius dan sedikit menyesal. "Layla memang sempat⦠mendekati saya sejak seminggu belakangan ini,"
"Jadi, tak hanya dua hari kemarin?" selaku, dengan suara terkejut.
"Tidak, sekitar enam hari yang lalu dia mendekati saya," jawabnya tenang. "Dia⦠dia menyatakan perasaannya pada saya. Tapi saya sudah menolaknya dengan tegas. Saya tidak pernah memiliki perasaan apa pun padanya. Say tidak pernah bermaksud untuk menyakiti kak Syffa."
"Lalu, kenapa dua hari kemarin kamu menerima suapannya?" tanyaku.
Raven tersenyum. "Itu karena saya terpaksa sebelum kemarin saat pulang sekolah saya memintanya untuk tidak mengganggu saya lagi."
Raven menjelaskan dengan jujur, suaranya terdengar tulus dan penuh penyesalan. Ia tampak benar-benar ingin menjelaskan semuanya dengan detail. "Saya tahu, kesalahpahaman ini terjadi karena saya tidak cukup jelas. Saya minta maaf, sebab saya sebelumnya tak berfikir kak Syffa memiliki perasaan terhadap saya. Saya seharusnya lebih terbuka kepada kak Syffa dari awal. Saya sungguh menyesal telah membuat kak Syffa khawatir dan merasa terluka." Ia menatapku dalam-dalam, menunggu reaksiku. "Aku⦠aku sangat menyukaimu, Kak Syifa. Hanya kamu."
Deg!!!Â
Jantungku serasa berhenti. Ketika Raven mengatakan, "Aku⦠aku sangat menyukaimu, Kak Syifa. Hanya kamu," air mataku tumpah. Tangisku pecah, air mata mengalir deras membasahi pipiku. Aku menangis tersedu-sedu, tangis bahagia bercampur haru. Rani, di sampingku, terkejut luar biasa. Mulutnya menganga lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menatapku dan Raven bergantian, wajahnya mencerminkan keterkejutan dan kebingungan.
Di tengah isak tangisku, Rani akhirnya menemukan suaranya. "Sejak kapan kalian dekat?! Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku, Syffa?!" tanyanya, suaranya sedikit tinggi karena terkejut.
Aku masih terisak, tak mampu berkata apa pun. Emosi yang bercampur aduk membuatku kehilangan kata-kata. Raven, melihatku tak mampu berkata-kata, perlahan bangkit dan duduk di sampingku. Ia mengelus punggungku dengan lembut, mencoba menenangkanku.
"Kami dekat sudah cukup lama, Kak Rani," kata Raven, suaranya lembut dan penuh kasih sayang.
Rani semakin terkejut. "Hah? Kenapa kamu tahu namaku?!" tanyanya, matanya membulat sempurna karena tak percaya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Raven ternyata sudah mengenal dan bahkan mengetahui namanya. Situasi ini benar-benar di luar dugaannya.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!