Air mata masih mengalir deras membasahi pipiku. Bantal sudah basah kuyup, dan rasanya seluruh tubuhku lemas tak berdaya. Aku tak tahu sudah berapa lama aku mengurung diri di kamar ini, hanya kegelapan dan isak tangisku yang menjadi teman. Bayangan Raven dan Layla masih saja berputar-putar di kepalaku, seperti film yang diputar ulang terus menerus tanpa henti.
Tok⦠tok⦠tokâ¦
Suara ketukan di pintu membuatku tersentak. Aku menyeka air mata dengan kasar, lalu berteriak, "Siapa?"
"Syffa? Aku Rani. Kamu kenapa, kok dari tadi nggak keluar-keluar? Aku sudah pulang, lho."
Suara Rani terdengar khawatir. Karena sibuk menangis, aku sampai tak menyadari jika Rani sudah pulang. Aku menghela napas panjang, lalu mencoba mengatur suaraku agar terdengar tenang.
"Aku⦠aku nggak papa, Ran. Cuma agak pusing sedikit, mungkin kecapekan."
"Kecapekan? Kamu kayaknya nggak cuma kecapekan, Syffa. Wajahmu kemarin saja pucat banget. Aku boleh masuk, nggak?"
Aku ragu sejenak. Aku tak ingin Rani melihat betapa rapuhnya aku saat ini. Tapi, aku juga tak tega untuk terus membuatnya khawatir.
"Iya⦠masuk aja."
Pintu terbuka perlahan, mengungkapkan sosok Rani yang tampak cemas. Ia membawa nampan berisi segelas air putih dan beberapa potong buah.
"Nih, minum dulu. Kamu harus banyak minum air putih kalau lagi pusing."
Aku menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Rani duduk di tepi tempat tidur, matanya menatapku dengan penuh perhatian.
"Kamu kenapa, Syffa? Ceritakan padaku. Jangan bohong."
Aku menggigit bibirku, menahan air mata yang kembali mengancam untuk tumpah. Aku tak tahu harus bagaimana menceritakan semuanya pada Rani. Rasa malu, rasa bersalah, dan rasa sakit hati bercampur aduk dalam dadaku.
"Aku⦠aku cuma lagi nggak enak badan aja, Ran. Jangan khawatir."
Rani menatapku dalam-dalam, seolah ingin membaca isi hatiku. Ia tahu aku sedang berbohong. Tapi, ia memilih untuk tidak mendesakku lagi.
"Kalau gitu, istirahat aja dulu, ya. Nanti kalau sudah baikan, kita ngobrol lagi."
Ia meletakkan nampan di nakas, lalu memelukku sebentar. Pelukannya hangat dan menenangkan. Aku memejamkan mata, merasakan sedikit ketenangan di tengah badai yang menerjang hatiku.
"Terima kasih, Ran."
"Sama-sama, Syifa. Aku selalu ada untukmu."
Setelah Rani pergi, aku kembali terduduk lemas di tempat tidur. Air mata kembali mengalir, mencurahkan semua beban yang selama ini kurasakan. Aku merasa begitu lemah, begitu rapuh. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya. Aku hanya bisa berharap, semua ini akan segera berakhir.
Ponselku berdering. Layar menampilkan nama Raven. Lagi. Sudah dua hari ini dia terus-menerus menelepon, tapi aku abaikan saja. Aku tahu apa yang akan dia katakan, dan aku belum siap untuk mendengarnya. Aku belum siap untuk menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini.
Aku menatap ponsel itu sejenak, kemudian meletakkannya kembali di atas nakas. Aku menutup mataku, mencoba menghalau bayangan Raven dan Layla yang terus menghantuiku. Tapi, kenangan lain justru muncul, menyerbu pikiranku dengan deras.
Kenangan tentang Raven yang selalu ada untukku. Saat aku sedang sedih karena kepergian Lia, dialah yang selalu ada untuk menenangkan hatiku. Kenangan tentang kami yang saling membantu, saling berbagi cerita di ruang konseling, dan di dalam mobil saat aku mengantarnya pulang. Kenangan tentang tawa dan canda kami di taman kota, saat kami berbagi cerita dan saling menguatkan. Kenangan tentang petualangan kecil kami di tempat rekreasi, saat kami melupakan sejenak beban hidup yang kami tanggung.
Senyum Raven terlintas di pikiranku. Senyum yang selalu mampu menenangkan hatiku yang tengah berduka. Suaranya yang lembut dan menenangkan ketika tidak gugup, selalu mampu membawaku keluar dari keterpurukan. Sentuhan tangannya yang hangat, selalu mampu memberikan rasa aman dan nyaman.
Semua kenangan itu begitu indah, begitu berharga. Tapi, kenangan itu juga menyakitkan. Karena sekarang, semua itu terasa begitu jauh, begitu tak mungkin untuk kembali. Layla⦠bayangan Layla kembali muncul, menghancurkan semua keindahan kenangan itu.
Aku menggigit bibirku, menahan air mata yang kembali mengancam untuk tumpah. Aku merasa begitu bodoh, begitu naif. Aku telah terjebak dalam perasaan yang tak ku mengerti, dan sekarang, aku harus membayar mahal atas kebodohanku itu.
Aku memejamkan mata, mencoba untuk mengingat semua hal baik yang pernah terjadi antara aku dan Raven. Aku mencoba untuk mengingat semua kebaikan dan ketulusan yang pernah dia berikan padaku. Aku mencoba untuk mengingat semua hal yang membuatku jatuh cinta padanya.
Tapi, semua itu tak cukup untuk menghapus bayangan Layla yang terus menghantuiku. Aku merasa begitu rapuh, begitu kecil. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi semuanya. Aku hanya bisa berharap, semua ini akan segera berakhir.
Aku lebih memilih untuk berwudhu dan langsung melaksanakan sholat sunah, mencoba untuk menghilangkan beban-beban di hatiku. Setelah berganti pakaian dan bersiap untuk tidur, aku ingat besok adalah hari Jumat, hari di mana aku akan bertemu dengan Raven di ruang konseling. Aku akan memberikan kasus Ravrn kepada Pak Basor. Aku akan mencoba melupakannya.
*
Udara pagi di MA Al-Azizi terasa lebih dingin dari biasanya. Hatiku juga terasa begitu dingin, dipenuhi oleh kegelisahan yang tak tertahankan. Aku berjalan cepat menuju ruang guru, mencoba untuk menghindari tatapan siapa pun. Aku tak ingin bertemu dengan siapa pun, terutama Raven.
"Ustadzah!"
Suara Raven membuatku tersentak. Aku mempercepat langkahku, tapi dia sudah berhasil menyusulku.
"Ustadzah, tunggu!"
Aku mengabaikannya, terus berjalan tanpa menoleh. Aku tak ingin terlibat dalam percakapan yang akan semakin memperburuk suasana hatiku.
"Ustadzah, tolong⦠kita bicara sebentar."
Raven meraih tanganku. Aku berusaha melepaskan diri, tapi genggamannya cukup kuat.
"Lepaskan!" kataku, suaraku terdengar dingin dan ketus.
"Ustadzah⦠saya mohon⦠kenapa ustadzah tidak membalas pesan saya?" tanyanya, mukanya tampak polos seperti meminta penjelasan dariku.
Aku memalingkan pandanganku, "Tak tahu," jawabku singkat.
"Saya ada salah... sama ustadzah?" tanyanya. "Lalu jadwal konseling kita hari ini... ustadzah masih akan membantu saya, kan?"
Aku menatapnya sejenak, kemudian menarik tanganku dengan kasar. "Kasusnya sudah kuberikan kepada Pak Bashor," kataku, lalu berlalu meninggalkannya tanpa penjelasan lebih lanjut.
Kebohongan itu terasa pahit di lidahku. Aku belum memberikan kasus Raven kepada Pak Basor. Aku masih ragu, masih takut untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan kuterima. Aku masih belum siap untuk menghadapi konsekuensi dari semua keputusanku. Aku hanya ingin menghindar, menghindari semua yang akan membuatku semakin terluka. Aku memilih untuk berbohong, karena itu adalah cara termudah untuk menghindari semua masalah yang sedang kurasakan. Aku tahu ini salah, tapi aku tak mampu untuk melakukan hal yang benar. Aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan.
Sepanjang hari itu, aku menghindari Raven seperti menghindari wabah. Aku bersembunyi di ruang guru, mengerjakan tugas administrasi yang sebenarnya sudah selesai. Aku pura-pura sibuk saat beberapa guru menyapaku, menghindari kontak mata dengan siapa pun yang mungkin akan mencurigai kegelisahanku. Istirahat pun kulakukan sendirian, di sudut taman yang terpencil, menatap langit yang mendung seolah mencerminkan suasana hatiku.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas keluar dari kantor dan buru-buru menghampiri mobilku, berharap bisa menghindari Raven. Tapi, seperti sebuah takdir yang tak bisa dihindari, aku melihatnya berdiri di dekat mobil buntutku, menunggu seseorang, dan sepertinya itu aku. Aku hendak berbalik ke kantor, berharap dia tidak menyadari keberadaanku. Tapi, terlambat.
"Ustadzah!"
Suara Raven membuat langkahku terhenti. Aku menoleh, menatapnya dengan tatapan dingin.
"Ada apa lagi?" tanyaku, suaraku terdengar ketus.
Raven tampak ragu-ragu. "Saya⦠saya tak mengerti," katanya, suaranya terdengar pelan. "Saya tadi sudah menemui pak Bashor, tapi dia berkata bahwa ustadzah tak memberikan kasus saya kepada beliau."
Aku terkejut, aku tak menyangka jika Raven akan melakukannya, kupikir dia tidak akan datang kepada pak Bashor, sebab dia memiliki masalah yang sensitif. Aku mencoba untuk mengontrol diriku untuk tak terlihat terkejut.
"Ustadzah... jika memang benar saya berbuat salah, saya minta maaf, tolong beritahu saya, saya salah apa?" tanyanya. Hatiku terasa sakit lagi, jelas-jelas dia yang membuat kesalahan, tapi dia sendiri tidak tahu.
Aku memalingkan wajah, mencoba untuk menahan air mata yang mengancam untuk tumpah. "Tidak ada," kataku, suaraku bergetar. "Aku akan segera pulang."
Aku berlalu meninggalkannya, masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya dan melajukan mobilku, meninggalkan Raven yang berdiri di sana dengan tatapan kosong. Aku melaju cepat menuju kontrakan, mencoba untuk melupakan semua kejadian yang baru saja terjadi.
Di kamar, aku merebahkan tubuh di tempat tidur. Perasaan menyesal mulai menggerogoti hatiku. Aku telah bersikap sangat kejam kepada Raven. Aku telah mengabaikannya, berbohong kepadanya, dan menyakitinya. Aku tahu, aku seharusnya tidak bersikap seperti itu. Aku seharusnya memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Aku seharusnya tidak langsung menyimpulkan bahwa dia hanya memanfaatkan aku.
Tapi, mau bagaimana lagi? Raven juga tidak mencarinya untuk memberi petunjuk, malah dia datang kepadanya hanya menanyakan jadwal konselingnya. Berarti benar-benar Raven itu sebenarnya hanya tertarik dengan bantuanku saja, dengan kebaikan hatiku saja, tidak mau memberikan penjelasan lebih lanjut tentang hubungannya dengan Layla. Pikiran itu membuat hatiku semakin sesak. Aku merasa begitu bodoh, begitu naif. Aku telah salah menilai orang. Aku telah salah mempercayai orang. Dan sekarang, aku harus menanggung akibat dari semua kesalahanku itu. Aku hanya bisa berharap, semua ini akan segera berakhir.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!