Chapter 34 of 53

Bab 34

Terlalu jauh bersama muridku1,029 words~6 min read

Mentari pagi menyinari halaman MA Al-Azizi. Udara sejuk, namun hatiku masih terasa berat, dipenuhi kekosongan yang ditinggalkan kepergian Lia. Aku harus tegar. Hari ini aku hanya punya tugas administrasi di ruang guru, jauh dari hiruk pikuk kelas.

Hubungan Raven dan aku di sekolah? Rahasia yang terjaga ketat. Kami seperti guru dan murid biasa, menjaga jarak, meminimalisir interaksi akrab. Itu janji kami, untuk melindungi diri dan nama baik masing-masing.

Jam istirahat tiba. Biasanya aku mengobrol dengan para ustadzah lain di ruang guru, tapi hari ini, aku butuh ketenangan. Aku memilih berjalan-jalan, mencari sedikit kedamaian. Langkahku membawa aku melewati kelas Raven. Aku hanya lewat, tapi mataku selalu mencari sosoknya. Melihatnya membaca buku, tenang di bangku belakang, atau sendirian di taman… itu sudah cukup. Sekilas pandang saja sudah cukup untuk menenangkan hatiku yang masih berduka. Itu rahasia kecil kami, kenyamanan di tengah kesibukan dan tuntutan profesi.

Lalu, dunia seakan berhenti. Rasanya ada karung padi yang menghantam dadaku. Di kelas Raven, aku melihatnya… bersama seorang siswi. Seorang perempuan duduk di sebelahnya, berbincang akrab, tawa mereka terdengar samar. Aku mencoba berpura-pura tak melihat, tapi kakiku seolah terpaku. Aku duduk di bangku depan kelas, pura-pura membaca buku, namun mataku tak lepas dari mereka. Detak jantungku berdebar kencang, keringat dingin membasahi telapak tanganku. Keheningan ruang guru tadi kini berganti dengan gemuruh di telingaku. Aku seolah tak peduli dengan lalu lalang siswa-siswi yang kesana kemari lewat didepanku, pandanganku tertuju pada Raven.

Siswi itu… Layla, siswi kelas 11. Aku tahu Raven sedikit risih dengan Layla, tapi… Layla menyuapkan makanan ke mulut Raven. Raven menerimanya, meski terlihat canggung. Dadaku sesak, napasku memburu. Apakah ini cemburu? Atau hanya ketidaknyamanan? Bukankah kami sudah sepakat menjaga jarak di sekolah? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Aku merasa bodoh, terjebak dalam perasaan yang tak ku mengerti. Aku hanya bisa duduk di sana, mengamati mereka dari kejauhan, merasakan campuran cemburu, kebingungan, dan kecewa yang begitu dalam.

Bayangan Lia kembali muncul, menambah beban di dadaku. Aku merasa begitu rapuh. Layla… apakah dia lebih istimewa dariku? Apakah Raven lebih mudah dekat dengannya? Pikiran itu menyiksaku. Aku tak sanggup lagi melihat mereka. Dengan langkah gontai, aku pergi meninggalkan kelas itu, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di udara, meninggalkan perasaan sesak yang tak mampu kuungkapkan.

*

Sore hari. Rumah terasa sunyi, hanya ada aku dan aroma masakan Rani yang sedap. Rani sudah pulang dan memasak, tapi aku masih terpaku di ruang tengah, pikiran melayang-layang. Bayangan Layla menyuapkan makanan kepada Raven masih jelas terpatri di pikiranku. Rasanya seperti film yang diputar ulang terus menerus. Bahkan pesan Raven yang menanyakan kabarku setelah pulang sekolah tadi, aku abaikan. Aku hanya membacanya, tanpa membalas. Aku merasa dikhianati. Padahal kemarin malam dia baru saja menenangkan kesedihanku, tapi hari ini, dialah yang menambah kesedihan didalam hatiku.

Aku merasa bodoh. Kenapa aku harus melihatnya? Kenapa aku harus mengorek luka yang sebenarnya sudah mulai mengering? Kepergian Lia masih terasa, dan sekarang ini. Aku merasa seperti dihantam badai. Aku telah berusaha menjaga jarak dengan Raven di sekolah, menjaga rahasia kita, tapi… apakah semua itu sia-sia? Apakah semua pengorbanan itu tidak berarti apa-apa baginya? Apakah dia tak puas dengan bantuan ku selama ini?

Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku merasa begitu kecil, begitu rapuh. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku ingin marah, ingin menangis, ingin menghilang. Tapi yang paling kuat adalah rasa sakit yang menusuk-nusuk hatiku. Rasa sakit karena merasa dikhianati, rasa sakit karena merasa tidak berarti, rasa sakit karena merasa kehilangan. Aku hanya bisa duduk di sini, menatap kosong ke depan, menunggu rasa sakit ini mereda, menunggu pagi datang, menunggu hari esok yang entah akan seperti apa.

Aroma masakan Rani memenuhi ruangan, menarikku dari lamunan. Ia meletakkan makanan di meja makan, lalu melihatku. Ekspresiku, yang masih dipenuhi kesedihan, tampaknya tak luput dari pandangannya.

"Ada apa, Syffa? Wajahmu pucat sekali," tanya Rani, suaranya lembut.

Aku buru-buru mengusap air mata yang menggenang di pelupuk mataku. "Tidak apa-apa, Rani," kataku, suaraku sedikit gemetar. Aku berusaha agar suaraku terdengar tenang, tapi aku tahu, Rani pasti curiga. Ia mengenal aku terlalu baik.

Rani tampak ragu, matanya masih menatapku penuh tanya. "Kamu yakin? Ada masalah? Masalah keluarga?"

Aku menggeleng cepat. "Tidak, tidak ada apa-apa, Rani. Benar-benar tidak ada apa-apa," ujarku, mencoba mengukir senyum di wajahku. Senyum yang terasa dipaksakan, tapi setidaknya bisa sedikit menenangkan Rani.

Aku segera bergabung dengannya di meja makan, menarik kursi dan duduk. Untuk mengalihkan pembicaraan, dan juga rasa penasaranku sendiri, aku bertanya, "Ngomong-ngomong, kuliahmu bagaimana? Sudah dekat yudisium?"

Rani tersenyum. "Iya, sudah hampir selesai. Skripsi sudah, tinggal nunggu konfirmasi saja. Selesai itu, langsung lulus deh!" Ia tampak gembira, dan ceritanya sedikit membuatku merasa lebih tenang. Melihat kegembiraannya, aku ikut tersenyum lega. Setidaknya, ada satu hal baik yang terjadi hari ini.

Setelah makan, kami mengobrol dan bercanda, seperti biasanya. Rani memilih film kesukaan kami, dan kami menontonnya bersama. Tapi, aku tahu, Rani menyadari kalau aku tak sepenuhnya menikmati suasana. Ia menahan diri untuk tidak mendesakku lagi, memberiku ruang untuk sendiri. Ia hanya sesekali melirikku, menunjukkan perhatiannya tanpa bertanya lebih jauh.

Saat akan tidur, aku sudah berganti pakaian dan bersiap untuk beristirahat. Aku menatap layar ponselku. Dua panggilan tak terjawab dan enam pesan belum dibaca dari Raven. Namanya saja sudah membuat dadaku sesak. Aku tak peduli. Sakit hatiku masih terlalu dalam. Aku mematikan data dan wifi ponselku, lalu meletakkannya di atas nakas. Dengan susah payah, aku memejamkan mata, berharap bisa terlelap. Tapi bayangan Raven dan Layla masih saja berputar di kepalaku, menghalangi kedatangan tidur yang nyenyak.

*

Di keesokan harinya, di Jam istirahat. Saat aku keluar dari ruangan kelas 10, mataku taksengaja kembali melihat. Di kejauhan… aku melihatnya. Raven. Ia berjalan di depan Layla, yang baru saja keluar dari kelas 12. Layla tampak riang, sesekali menyalip dan menoleh, ke arah Raven. Dadaku sesak. Rasanya ingin sekali menangis, melampiaskan semua rasa sakit ini. Tapi aku tahan. Aku tahan sekuat tenaga. Aku segera berbalik arah, menuju ruang guru.

Aku bergumam, "Dasar buaya," Aku muak dengan semua ini. Raven bahkan tak mencariku hari ini untuk memberikan penjelasan. Ia lebih memilih berjalan bersama Layla. Aku sudah muak. Aku ingin menghindar, tak ingin menghubunginya lagi. Aku ingin melupakan semuanya, melupakan Raven, melupakan semua yang telah kita lalui bersama, melupakan semua rasa sakit ini. Aku hanya ingin tenang. Aku hanya ingin damai. Aku hanya ingin… menghilang.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!