Aku mempercepat gerakan tubuhku bak atlet yoga. M3n99353kk4n serabiku ke batang ubi madu Raven ke depan dan belakang, sesekali memutarkan gerakannya, hal itu memberikan nikmat lebih untuk kami berdua.
"Ahhh... ustadzah.... emphhh... enak sekali... ustadzah..."
Aku mengangguk setuju sambil mempercepat dayunganku, membuat kursi yang kami berdua duduki sesekali berdecit perlahan mengikuti irama dayunganku.
Bagian bawah badanku yang hanya berlapiskan celana yoga tipis seolah tidak bisa melindungiku dari j4m4h4n sentuhan b1r4h1 Raven, mu_r1dku sendiri.
Dapat kurasakan ubinya yang keras sekaligus lembut teksturnya itu menekan dalam ke celah serabiku, dan juga ujung ubinya setiap kali aku bergerak kedepan dan belakang. Dapat kupastikan, kalau saja aku tak memakai celana yoga tipis ini, ubinya pasti sudah menyumbat kue serabi ku.
"Aaahhhh.... Raaavvveeennnn.... Raaaavvveeeennnn...."
Aku tidak sadar kalau aku mulai mengh3nt4kkan tubuhku ke 4tas dan b4w4h tubuh Raven. Raven juga semakin menggila, aku membiarkannya semaunya, tangannya mengusap pun99un9ku, mer3m4s p4nt4tku, mer3m4s buah persikku dari luar jilbabku. Aku membiarkannya, seolah aku saat ini sudah benar-benar sama gilanya.
Tiba-tiba Raven menurunkan kepalanya, dia memasukkan put1n9 dadaku ke mulutnya yang masih terhalang jilbab panjang, dia hisap semaunya dengan gemas, membuatku amat terkejut dan m3l3nt1n9 tak karuan.
"Aaaahhh... Raaavveennn..." d3s4hku, aku mulai memeluk kepalanya dengan erat, ku percepat hentakan ku, tak pernah ku sangkan akan seenak ini. Ingin sekali rasanya aku menarik turun celana yogaku ini dan memasukkan ubi miliknya kedalam kue serabiku dan menyumbat l1an9 v4g1n4ku.
"Aaahhh... ustadzah... besar sekali buah persik ustadzah ini... ahhhh..." 3r4ngnya.
Tangannya mulai kembali m3r3mas buah persikku yang satunya, mulutnya dan lidahnya juga tak henti-hentinya rakus menghisap dan menjilati buah persikku satunya yang menonjol dibalik jilbab ku seperti menikmati icecream.
"Aaahhh... punya kamu Ravennnn.... Aaaahhhh...." gerakanku semakin cepat dan semakin dekat akan k3lu4r.
"Raven... ahhh ustadzah mauu... Aahhhh... Aaahhh... ahhh..."
Aku memeluk kepala Raven seerat mungkin, membenamkan wajahnya di celah buah persikku yang besar itu, aku terus menekan tubuhku ke ubi madunya yang keras dan lembut itu, membenamkan ubi itu ke celah kue serabiku yang susah masuk akibat terhalang celana yoga ini.
Kemudian, tubuhku m3l3nt1n9 seperti tersetrum sebelum kue serabiku berdenyut kuat, dan m3munt4hk4n air kl1m4ksku di dalamnya, di sertai 3r4n9an kuat setiap kali denyutan kl1m4ks yang ku rasakan.
"AAAAHHHHHH..... RAAAAVVVEEEENNNNNN..... AAAHHHHHHHH....."
Tubuhku berhenti bergerak diatas Raven, lalu Raven menarik wajahnya dari jilbabku yang membalut buah persikku. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, wajah kami semakin dekat sebelum Raven mengecup bibirku perlahan, dan kurasakan hangat ketika napas kami saling bertemu.
Seolah aku kaku mendapatkan ciuman itu, ciuman pertama kali dari seorang lelaki selama aku hidup 24 tahun ini. Raven kemudian menarik wajahnya dariku sambil tersenyum, hangat kurasakan di kedua pipiku.
"Peluk saya, ustadzah. Kalau sudah tenang, bantu saya lagi," katanya lembut. Aku menurut saja, kami saling berpelukan, tangan kami saling melingkar di antara leher kami, hanya napas berat kami yang terdengar, aku merasakan perasaan tenang dan gembira serta degup jantung yang semakin tak karuan.
"Terimakasih, Raven," bisikku, yang dibalas elusan lembut darinya di kepalaku.
Setelah merasa cukup tenang, aku kemudian bangkit, kembali ke posisi semula diantara celah p4ha Raven. Kembali aku memasukkan ubi madunya ke dalam jilbab lebar panjangku, dan kembali menghimpit ubi itu menggunakan buah persikku yang besar dan empuk matang sempurna itu.
"Aaahhh... ustadzah..."
Aku meremas buah persikku sebelum aku menggoyangkannya keatas dan kebawah. Membuat Raven blingsitan tak karuan, kedua buah persikku menghimpit ketat ubinya yang panas.
"Raven... keras sekali... panas juga ubi kamu..."
"Ustadzah suka...?" tanyanya, dan aku mengangguk.
Dia tersenyum nakal sambil menahan nikmat, aku tahu dia sudah hampir sampai sebab ubinya semakin sering berkedut, tapi dia berusaha menahannya sekuat dan selama mungkin untuk menikmati sensasi buah persikku. Aku sengaja menggapit ubinya lebih kuat agar memberi rasa nikmat yang tak bisa dia tahan. Dan benar saja, dapat kurasakan denyutan ubi miliknya semakin cepat dari sebelumnya.
Aku tersenyum, sebelumnya aku sudah berjanji padanya untuk membiarkannya memuntahkan getah ubinya di atas buah persikku. Pada awalnya aku ingin membiarkannya memuntahkan getah di balik jilbab panjangku, namun... aku tak mau jika nantinya jilbabku akan terlihat basah.
Ku tarik ubinya keluar dari celah buah persikku, keluar dari jilbab panjangku, dan ku tarik jilbab panjangku keatas, memamerkan separuh buah persikku yang putih bersih di hadapannya, setengahnya lagi masih tertutup tshirt vneck ketat. Mata Raven seketika membulat. Aku segera menarik vneck itu agar buah persikku keluar sepenuhnya, menunjukkan put1n9ku yang berwarna pink yang sudah keras yang sebelumnya di hisap Raven dari luar jilbab.
Raven memegang ubinya yang berkedut, dengan sekali urutan saja, ujung ubinya terus mengeluarkan getah bak madu yang menetes dari sangkar lebah, namun keluarnya sedikit cepat. Getah itu muncrat mengenai buah persikku.
"Emmhhh... Ravennn..." Aku menggigit bibir bawah ku, sedikit malu.
Sengaja aku melihat kearahnya, dan kulihat, matanya membulat sempurna, seakan tak mau lepas dari buah persikku yang ia hujani getah madu hangat itu. Raven terus memerah dan mengurut batang ubinya, melepaskan semua madu didalamnya demi madu itu bisa menyentuh buah persikku. Aku sendiri terus memegang kedua sisi jilbab panjangku agar tak jatuh kebawah dan mengenai getah itu.
Setelah tak ada lagi lelehan madu di ubinya, Raven kemudian mengelap ujung ubi miliknya di kulit buah oersikku yang masih kering, lalu mulai menggesekkannya diatas put1n9ku yang berwarna pink merona dan keras.
"Ahhh... Raven...."
Raven tersenyum sangat puas melihat b3n1h DNAnya mendarat di atas buah persikku yang lembut dan mulus ini. Hangat sekali rasanya.
"Terimakasih... ustadzah," ucapnya. Aku tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Raven,"
-
Aku membetulkan jilbab lebar dan panjang milikku di hadapan cermin panjang diatas lemari yang ada di ruangan konseling. Aku biarkan buah persikku lengket dengan getah ubi madu milik Raven yang kini sudah tertutup jubah ku seperti semula. Aku juga masih dapat merasakan air kue serabiku lengket di celah p4h4ku, puas rasanya aku melakukan ini, tak ada rasa bersalah sama sekali di dalam dada dan kepalaku. Perlahan aku menoleh kearah Raven yang sudah selesai merapikan pakaiannya dan duduk di tempatnya, waktu istirahat juga masih kurang 15 menit. Aku tersenyum melihat kearahnya.
"Emmm... bisa nggak Raven minggu ini tak meminta izin kepada ustadzah untuk menonton video m35um dan 0n4n1?" tanyaku, meskipun sudah sejauh ini, aku juga masih ingat dengan tugasku untuk menyembuhkannya.
"Bisa, ustadzah. Tapi di pertemuan minggu depan... kita bisa melakukan seperti tadi lagi kan?" jawabnya sambil tersenyum hangat kearahku.
Aku tersenyum malu, ini semua mungkin ide nakal Raven sebelumnya, namun ini juga usahaku sendiri untuk menyediakan pakaian yang sesuai dengan aktivitas musem ku. Akupun tersenyum dan mengangguk setuju pada akhirnya.
Setelah benar-benar rapi, aku segera menyiapkan dan merapikan kembali alat-alat tulis yang kubawa.
"Ustadzah... boleh nggak saya mencium ustadzah?" tanyanya malu-malu. Aku sedikit terkejut, namun aku mengiyakan dan segera menghampirinya.
"Tapi cuma di... cium saja kan?" tanyaku, mukaku sudah teramat merah seperti tomat saat ini.
"Iya, sebelum kita berpisah," katanya.
Aku yang malu, karena posisinya kini aku sudah benar-benar sadar, tak seperti sebelumnya, tiba-tiba reflek memejamkan mata. Raven dengan lembut mengecup bibirku, napas dapat kurasakan napas kami saling bertukar. Cukup lama dia mengecup bibirku sebelum ia lepaskan dan berkata.
"Terimakasih, ustadzah Syffa, saya merasa sangat bahagia karena ustadzah sangat baik pada saya," katanya.
"Ustadzah juga, kalau begitu, ustadzah duluan ya," kataku, jujur saja saat ini aku teramat malu, apalagi jantungku serasa mau copot akibat kecupan darinya barusan.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!