Chapter 31 of 53

Bab 31

Terlalu jauh bersama muridku1,314 words~7 min read

"Aaahhh... ustadzah, ustadzah... saya sudah dekat ini..."

Aku segera setelah Raven berkata menarik ubinya keluar dari jilbab panjangku lalu memasukkan ubi itu kedalam mulutku.

Tanganku cepat mengurut ubi milik Raven yang berdenyut kuat, tanganya masih memegang kepalaku dan kali ini aku membiarkannya saja. Tak lama, Raven men93r4ng kuat sebelum ujung ubinya mengeluarkan semua getah lengketnya kedalam mulutku.

"Ussstaaadddzaaaahhhhhh...."

"Emphh... Emphhh..." aku juga ikut m3ng3r4n9 karena sedikit terkejut dengan arus getahnya, aku telan sebanyak mungkin sambil terus memerah ubinya itu.

"Ahhh... ustadzah... ummmpphhh... nikmat sekali ustadzah..." jari jemarinya mulai mencengkram kepalaku sedikit lebih erat.

Otomatis dengan dorongannya dan kemauanku, batang ubi itu masuk lebih dalam di dalam mulutku, bahkan aku bisa merasakan ujung ubinya menyentuh tenggorokanku, yang membuatku hampir tersedak, namun syukurlah aku segera mengeluarkannya kembali.

"Uuu... ustadzah..." l3nguhny4. Kini aku ingin merealisasikan gif kedua yang ia kirim padaku sebelumnya.

Ubinya yang semakin lembut itu aku hisap perlahan, dan lidahku mulai membelai-belai batang ubinya yang masih terbenam di dalam mulutku. Tanganku yang satu lagi memeggerakkan dasar batang ubi itu yang masih sedikit b3rk3dut.

"Ummhhh... ustadzah... nikmat sekali... anda benar-benar hebat, ustadzah..." terangnya, aku semakin berbunga mendengar pujian itu darinya.

Aku melanjutkan gerakan kepalaku sambil memainkan ubi itu dalam mulutku. Dapat kurasakan, perlahan namun pasti, ubinya mulai mengeras lagi. Aku semakin bersemangat dengan kegiatanku ini, mendengar 3rang4nnya, membuatku juga semakin b3rn4fsu.

Aku mulai menaikkan temponya, menggerakkan kepalaku sedikit lebih cepat setelah kurasa ubi dia cukup hidup kembali di dalam mulutku, dan sengaja aku putar-putarkan dasar ubinya menggunakan tanganku, memberikan nikmat lebih padanya.

"Ahhh... ustadzah... enak banget..."

Ubinya kini sangat basah karena terkena air liurku di dalam mulut, hal itu membuat bunyi basah setiap kali aku menyedot ubi itu, gerakanku yang seperti itu, juga membuat air liurku tumpah dan mengalir ketanganku.

"Aahhh... ustadzah ternyata sangat pintar melakukan sl00py bl0*j0b.... ahhh..." terangnya.

Aku tidak tahu apa itu yang dia maksud, namun mendengarnya membuatku memiliki motivasi lebih, ku percepat lagi gerakan kepalaku, membuat bunyi decap his4p4n basah, sambil sengaja ku lihat wajahnya yang sedang menikmati servis b1b1rku, mata kami juga saling menatap, dan dapat kurasakan pipiku menghangat ketika kami saling bertatap muka.

Aku percepat lagi hisapan dan gerakan tanganku, aku biarkan lagi air liurku membasahi seluruh bagian ubi Raven yang sudah k3r45 ini. Sesekali aku mengeluarkan ubi itu dari mulut, kujilat semauku seperti menikmati icecream, tak peduli aku b1n4l atau tidak, ataupun seperti p3l4ku wanita di video musem.

"Sorrpp... emmmh... keras sekali ubi kamu ini, Ven... meskipun rasanya hambar, ustadzah suka ketika sudah masuk kedalam mulut ustadzah," puji ku dengan nada sedikit nakal, membuat ubinya sesekali berdenyut sedikit lebih kuat ketika mendengar ucapanku.

"Saya juga suka... saat ubi saya didalam mulut ustadzah... emhh.... Kira-kira... dimana lagi saya bisa memasukkan ubi saya ini yaa...?" tanyanya sedikit menggoda, namun segera kutepuk salah satu pahanya.

"Kegatelan, hanya mulut ustadzah ini saja yang boleh..." jawabku sebelum kembali memasukkan ubi madu itu kedalam mulutku, memainkannya, menjilatinya seperti icecream, bahkan sengaja kumasukkan lebih dalam seperti sebelumnya, ujungnya sedikit mengenai tenggorokanku.

"Ummmpphh... ummmpphh... srrppp..." suara 3r4nganku serta bunyi decap basah saling beriringan, aku semakin menikmati aktivitas ini.

"Ahh... ustadzah... kalau seperti ini, ahh... tak lama lagi saya akan memuntahkan getah lagi... hemmhhh..." terangnya. Tapi aku tidak mau jika dia akan memuntahkan getah itu lagi, karena aku juga mau dia membantuku.

Ku hisap sedikit lagi sebelum menarik keluar ubi madu milik Raven itu dari dalam mulutku, aku jilat sedikit pinggir batang ubinya yang mengalir madu, lalu aku bangun berdiri.

Perlahan tanganku masuk kembali ke dalam jilbab, lalu kumasukkan kembali buah persikku kedalam tshirt yang ku kenakan, sebelum aku menarik turun jubah yang tadinya hanya tersangkut sampai ke pinggang.

Raven melihatku seakan tidak percaya, saat jubah ku jatuh sampai ke lantai, memamerkan celana yoga tipisku yang berwarna abu-abu cerah. Aku tahu jika Raven tahu bahwa aku tidak m3m4kai apa-apa dibal1k celana yoga ini.

"Emmm... Raven... suka?" tanyaku sedikit malu. Raven mengangguk, aku menggigit bibir bawah ku sebelum aku duduk di kursiku. Perlahan aku buka kedua kakiku, sedikit aku merasa malu terhadap Raven, memamerkan b3ntuk v491n4ku yang sedikit menonjol.

"Heemmphh... Raven... Raven mau menolong ustadzah juga nggak? Pakai... pakai ubi milikmu...?" tanyaku, sambil menundukkan kepalaku akibat malu, aku merasa diriku nakal. Walaupun buah persikku masih tertutup jilbab lebar ku, dan walaupun setiap inchi kulitku masih tertutup dari pandangannya, namun aku merasa sudah m3mp3rl1h4tkan semuanya kepada mu_r1dku itu.

Raven perlahan bangun dan mendekat ketempat duduk ku, sengaja kubuka sedikit p4h4ku untuk mu_r1dku itu. Tangannya mulai mengusap p4h4ku yang masih berlapiskan celana yoga tipis. Aku melihat wajahnya yang memerah, melihat matanya yang mengarah ke arah cetakan v491n4ku, kemudian Raven perlahan mengangkat k4k1ku lebih tinggi, melebarkan k4ngk4n9an p4h4ku. Sebelum dia memegang ubinya yang tegak sempurna, lalu dihunuskan ke arah v491n4ku yang masih berlapis celana yoga tipis.

Kemudian Raven perlahan m3ng93s3k-93s3kk4n ujung ubinya ke celah d4g1n9 v491n4ku, dan itu sudah cukup membuat t*buhku m3l3n9k1ng kenikmatan.

"Aahhh.... Raveeennn...." Aku reflek memejamkan kedua mataku.

Kemudian Raven mulai m3ng93s3k ujung ubinya lebih kuat, mendorong celana tipis itu, m3n993s3kkan ujung ubinya ke celah bibir keduaku yang masih suci bermahkotakan D4r4.

Tangan Raven memegang ubinya ketika tangan dia yang satu lagi meremas lembut p4h4ku. Perlahan, dia mulai mendayung ke depan dan b3l4k4n9, m3ng93s3k celah v4g1n4ku semakin lama semakin cepat, dan aku dapat merasakan ujung ubinya yang keras dan hangat sedikit basah di celah bibir keduaku itu walaupun terhalangi.

"Aahhh... Raven.... umphhh... ahhh..."

Tanpa sadar, aku memasukkan tanganku ke balik jilbab panjangku, dan mulai memainkan ujung buah persikku yang masih terhalang kain tshirt yang ku kenakan. Nikmat rasanya, Raven juga melihat gerakan tanganku meski terhalang jilbab dan aku tahu dia juga ingin melakukannya.

Melihat Raven yang memasang muka seperti anak kecil ingin memainkan mainannya itu membuatku tersenyum nakal dan bertanya, "Ahhh... Raven mau buah persik ustadzah lagi ya?" diapun langsung tersenyum dan mengangguk cepat.

"Emmph... kalau begitu, ah... setelah selesai membantu ustadzah... Raven mau menumpahkan getah ubi Raven diatas buah persik ustadzah?"

Raven mengangguk lagi, bahkan dayungannya semakin kuat. "Mau... ustadzah..." jawabnya.

Setelahnya Raven dengan semangat muda terus m3l4njutk4n, menusukkan dan m3ngg3s3kkan ujung ubinya di celah bibir keduaku itu. Basah, aku merasakan jika di dalam serabiku kini basah sekali karena air adonan yang ku hasilkan, membuat air ubinya dan air serabiku mulai menyatu di bawah sana. Keduanya seakan saling menyatu meski sebelum-sebelumya tak pernah bertemu, seandainya saja aku tak memakai celana yoga, mungkin ubinya dan serabiku benar-benar menyatu. Namun aku masih bisa menahan untuk tidak melakukannya.

D3s4h4nku dan l3nguh4n Raven saling bertautan di dalam ruangan konseling, ruangan yang didesain kedap suara itu seakan menutupi kelakuan b3j4t kami.

"Oh.... ustadzah...." l3nguhny4. "Ahhh... Raven.... emphhh..." d3s4hku.

Beberapa saat kemudian, Raven tiba-tiba berhenti, "Ustadzah... mau yang lebih enak, nggak?" tanyanya. Karena sudah terlanjur sampai sejauh ini, aku pun mengangguk saja.

"Ustadzah duduk di atas saya... setelah itu ustadzah gesekkan kue serabi ustadzah ke ubi saya..." jelasnya. Aku tak mau melawan dan hanya mengangguk saja menuruti perintahnya, lagian aku juga memakai penghalang.

Raven kembali duduk di kursinya lagi, aku perlahan mendorong diriku bangun sebelum aku naik ke pangkuannya. Terasa sedikit kiku karena kami tidak pernah serapat ini sebelumnya. Aku menggigit bibir bawah ku sambil memegang bahu Raven. Dia tersenyum nakal padaku.

Perlahan ku posisikan serabiku ke batang ubinya, sebelum aku turun, menekan ubinya dan pada saat yang sama juga ubi itu menekan serabiku, membuatku m3l3nt1n9 tak karuan.

"Emmhhh.... Raveeennn...."

Dapat kurasakan keras ubinya waktu menekan celana yogaku, enak. Kudiamkan beberapa saat sebelum aku mulai menggoyangkan p1ngg*lku, aku seolah tak memiliki daya saat itu menekan ku di bawah sana.

Setelah mulai menggoyangkannya, dapat kurasakan geli dan nikmat yang bercampur jadi satu di area serabiku. Perlahan tangan Raven juga mulai memegang kedua buah persikku yang berada tepat di depannya. Aku biarkan saja, aku terlalu menikmati sensasi serabiku yang terasa nikmat ini.

Merasa mendapatkan izin dariku untuk menyentuhnya, tangannya yang satu lagi mulai memerah buah persikku, berharap bisa mengeluarkan jus dari buah persikku itu. Meskipun ia melakukannya di luar jilbab dan tshirt ku, hal itu membuatku semakin tak terkontrol dan semakin m3ng3r4n9 keenakan.

"Aaahhh.... Ravennn.... eemmphhh..."

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!