Udara di kelas terasa tenang. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela, menerangi meja-meja siswa yang sedang khusyuk mengerjakan ulangan harian. Aku berusaha fokus mengawasi mereka, memastikan semua berjalan lancar. Tapi, sulit. Pandanganku selalu tak sengaja, atau mungkin sengaja, mencari Raven. Tatapan mataku bertemu dengannya sebentar, sebuah kode diam-diam yang hanya kami berdua mengerti. Senyum tipis mengembang di bibirku. Detak jantungku berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya. Hari ini, di balik kesibukan mengawasi siswa dan soal-soal ulangan, ada p3rma1nan mata rahasia antara aku dan Raven. Sebuah rahasia yang hanya kami berdua yang tahu. Kelas yang kondusif ini, justru menjadi latar belakang yang sempurna untuk perma1nan mata penuh teka-teki ini. Rasanya, aku tak sabar menunggu ulangan ini selesai.
Ulangan harian ini sengaja kubuat. Minggu lalu ujian akhir semester pertama sudah selesai, tapi aku merasa perlu menguji pemahaman mereka lebih lanjut. Syukurlah, mereka tak memprotes keputusanku. Aku mengamati mereka satu per satu, memastikan semua mengerjakan soal dengan jujur. Namun, pandangan mataku selalu kembali kepada Raven. Tatapan kami bertemu lagi, sebuah isyarat kecil di tengah hiruk pikuk kelas. Senyum tipis masih terukir di bibirku, mencoba menyembunyikan debaran jantung yang semakin cepat. Rasanya, waktu berjalan begitu lambat. Aku tak sabar menunggu ulangan ini selesai, ingin segera bertemu Raven lagi. Hari ini, di balik soal-soal ulangan, ada sebuah janji yang ters1rat dalam setiap tatapan mata kami. Sebuah rahasia yang hanya kami berdua yang tahu.
Setelah ulangan selesai, aku mulai mengumpulkan lembar jawaban dari meja ke meja. Tangan-tanganku bergerak, mengumpulkan kertas-kertas ujian. Lalu, ketika mengambil lembar jawaban Raven, jari-jariku tak sengaja menyentuh tangannya. Sentuhan singkat itu, namun menimbulkan sens4si tak terduga. Dad4ku berdebar kencang, darahku terasa mengalir lebih cepat. Rasa yang tak karuan memenuhi seluruh tu8uhku.
Syifa, Syifa, tahan diri! Pikiranku berteriak, merasakan malu yang tiba-tiba membanjiriku. Aku harus pergi. Aku tak bisa tinggal lebih lama di kelas. Aku takut, takut tak bisa mengendalikan diri. Takut melakukan sesuatu yang tak seharusnya.
Aku meninggalkan kelas lebih awal, meninggalkan para siswa yang masih sibuk berdiskusi, meninggalkan Raven yang mungkin sedang memperhatikan kepergianku. Aku harus menenangkan diri sebelum aku membuat masalah yang lebih besar.
Setelah menyimpan barang-barangku di kantor, aku bergegas mengambil catatan konseling dan berjalan cepat menuju ruang konseling. Langkahku tak sabar ingin segera bertemu Raven.
Namun, sesampainya di depan ruang konseling, pintu ruangan sebelah tiba-tiba terbuka. Pak Basor muncul dari dalam. "Assalamualaikum, Pak," tegurku.
"Waalaikumsalam, Ustadzah," jawabnya ramah. Beliau mengangkat wajah, tersenyum padaku. "Bagaimana kelas hari ini, Ustadzah?" tanyanya.
"Seperti biasa, Pak, kalau bapak?" jawabku. "Ya, sama saja, Ustadzah," sahut beliau. "Eh, ini Raven sudah sampai. Dia menunggu di dalam ruangan sebelahnya," katanya.
"Oalah, baiklah. Terima kasih, Pak," kataku, sebelum masuk ke ruang konseling nomor dua. Degup jantungku semakin tak menentu. Aku sudah berada di ambang pintu. Segera, aku akan bertemu Raven.
Aku ketuk perlahan pintu ruangan itu. Sebelum masuk, aku mengintip. Raven sudah duduk di kursi yang biasa kududuki. Aku meletakkan catatan konseling di atas meja.
"Assalamualaikum, Raven. Sehat?" tanyaku.
"Waalaikumsalam, Ustadzah. Sehat," jawabnya. Aku mengangguk, mencoba menahan debaran jantungku. "Jadi, minggu ini sudah kurang?" tanyaku lagi.
Raven mengangguk mantap. "Sudah, Ustadzah. Saya sudah mengurangi aktifitas saya itu. Sangat banyak. Bahkan saya menahan diri untuk hari ini," katanya.
Aku mengangguk. "Bagus. Boleh Ustadzah tahu apa yang menjadi motivasi kamu?" Raven tersenyum nak4l.
"Ustadzah, saya tak sabar agar Ustadzah menolong saya," katanya. Wajahku bersemu merah. Aku menggigit bibir bawahku karena malu. Raven tidak meminta izin kali ini, perlahan tangan Raven membuka cel4nanya, dan mengeluarkan ubinya yang sudah keras.
'Ustadzah, mau pakai sarung tangan?' tanyanya.
Aku menggeleng, rasanya sejak apa yang terjadi didalam mobil waktu itu, aku tidak perlu menggunakan sarung tangan lagi, segera aku melepaskan cadarku dan menaruhnya dimeja. Raven tersenyum nak4l sebelum menyandarkan punggungnya ke kursi, menunggu inisiatif ku.
Hari ini, aku sudah menyediakan sesuatu yang sangat istimewa untuk Raven. Perlahan aku membuka kancing dari bawah jilbab lebar ku, kemudian aku menurunkan jubahku, mengeluarkan kedua tanganku dari jubah itu, kubiarkan jubah itu menggantung di pinggang ku. Aku lihat, Raven tampak kecewa, karena dibalik jubahku itu, aku masih menggunakan pakaian lagi, tapi yang tidak ia sadari adalah aku memakai tshirt tipis dengan leher V berlengan panjang. Dimana kalau jilbab lebar ku ini diangkat, dia dapat melihat separuh isi buah persikku, yang lebih daripada itu, aku saat ini memilih untuk tidak memakai 8r4.
Karena perbincangan ku dengan ustadzah-ustadzah kemarin, sepulang mengajar, aku mampir ke pasar untuk membeli tshirt ini, dan sejak kemarin juga aku merasa tidak sabar untuk hari ini.
Perlahan tanganku masuk kedalam jilbab lebar ku, dan aku menarik vneck ku keluar, memperlihatkan ukuran buah persikku yang berukuran 38D, dan aku tahu walaupun masih tertutup jilbab lebar ku, Raven tahu apa yang ada dibaliknya, sebab aku melihat ubinya mengangguk gembira.
"Raven pernah bilang... Raven ingin ustadzah memakai... buah persik ustadzah, kan?" tanyaku.
Raven mengangguk dengan tatapan tidak percaya, sementara aku perlahan mulai berlutut di celah kakinya sebelum tanganku keluar dari jilbab lalu memegang buah persikku dari kedua sisi, membuat jilbab lebar ku mengetat mengikuti bentuk l3kuk buah persikku yang bulat. Kemudian put1n9nya yang keras m3ny3mbul, Raven menjilat bibirnya karena gemas.
Perlahan ku majukan badanku, lalu aku mulai m3nj3p1t ubinya dengan buah persikku yang besar dan b*l4t dari belakang jilbab lebarku. Setelahnya aku mulai menggerakkan tubuhku ke d3p4n dan b3l4kan9, m3n9urut ubinya dengan buah persikku yang tertutup jilbab lebar.
"Ahhh... ustadzah... emphh... emphh..." dia m3ng3r*ng kesedapan sabil tangannya dengan erat memegang sudut kursinya. Aku menggigit bibir bawah ku sambil terus menggerakkan tubuhku, merasakan ubi punya Raven yang keras dan padat mulai berd3ny*t-d3ny*t dicelah buah persikku.
"Emh... enak Ven?" tanyaku, dia mengangguk.
"Ahh... nikmat sekali, ustadzah..." jawabnya.
Aku tersenyum gembira serta sedikit malu, sambil melanjutkan jepitan buah persikku.
"Aahh... ustadzah... lembut sekali buah persik ustadzah... besar... nikmat... ahhh..." Aku spontan perlahan meremas buah persikku sendiri sedikit lebih bertenaga sambil menggoyangkannya, dan aku melihat jilbab ku mulai melanggar walaupun kupegang erat.
Entah bagaimana, satu bisikan setan sekali lagi menggerakkanku, dan kali ini aku mengikuti idenya.
Aku tidak merencanakan ini, namun perlahan aku melepaskan ubi milik Raven, sebelum itu aku sedikit tersenyum nakal padanya. Kali ini aku menutupi ubinya dengan jilbab ku, sebelum kembali memasukkan ubi itu diantara celah buah persikku, skin tone skin, kulit ubi dengan kulit buah persik, dapat kurasakan kulit buah persikku yang lembut bertemu dengan kulit ubi Raven yang hangat dan lembut juga.
"Ustadzah..." panggilnya sambil membulatkan mata. Aku menggerakkan kembali badanku seperti sebelumnya.
"Aaahhh... ustadzah... nikmat sekali ustadzah... ahhh... ahhh... umphh..." Raven semakin tak karuan, membuat napasku juga semakin berat, aku senyum nakal sambil mempercepat gerakan ku, karena bentuknya yang m0nt0k itu, membuat gerakan ku seakan tak bisa ku kendalikan.
"Emhh... keras sekali ubimu ini, Raven..." Aku memujinya dengan tulus dari dalam hati. Membuat Raven tersenyum bangga, sampai dia tak sadar tangannya kini sudah memegang kepalaku, mengusapnya dengan lembut dari luar jilbabku.
Hatiku menghangat akibat tindakannya itu, aku menjadi bersemangat untuk m3m0mpa ubinya semakin cepat. Raven m3ng3r4ng kesedapan sambil menatap kebawah, melihat ubinya menonjol-nonjol dari balik jilbab panjangku. Aku merasakan hangatnya ubi itu, dan dengan sendirinya aku membalut ubi itu dengan jilbab, lalu aku masukkan kedalam mulutku.
"Usssstaaddddzzaaaahhhh....." dia mel3n9uh panjang keenakan. Berlapiskan jilbabku, aku mulai menghisap ujung ubinya, dan berusaha memasukkan seluruh bagian ubi itu dalam-dalam ke mulutku, aku menggengam dasar ubinya dengan erat, tak mau jika jilbab itu akan melonggar, sambil menggerakkan kepalaku ke 4t45 dan keb4w4h seperti video musem yang pernah ku tonton.
"Ummmmphhh... ustadzah... ahhh..." dia meng3rang sebelum aku rasakan ubinya mulai berdenyut kuat, tanda dia sudah hampir menumpahkan getah.
Aku menghisap ujung ubinya sedikit sebelum aku menggapitnya kembali dengan buah persikku di bawah jilbab, aku mempercepat temponya ke4t45 dan k3b4w4h.
"Raven sudah ingin mengeluarkan getah ubinya? Hemhh... kalau mau keluar, beritahu ustadzah... ahh... emhh..." aku m3nd3s4h manja. Raven mengangguk paham sebelum dia mulai menggerakkan ubinya keatas dan kebawah, melawan alur dayungan buah persikku.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!