Hari Kamis. Rasanya lega sekali. Langkah kakiku terasa lebih ringan menuju MA Al-Aziz. Tidak ada lagi debar jantung yang tak karuan seperti hari pertama mengajar. Aku sudah mulai merasa nyaman, bahkan percaya diri. Di ruang guru, aku bertemu beberapa guru baru. Salah satunya Pak Salman, guru Bahasa Inggris yang ramah dan humoris. Senyumnya hangat, menawarkan bantuan kalau aku butuh. Perkenalan singkat itu membuatku merasa lebih diterima.
Pelajaran di kelas 11 berjalan lancar, sungguh melegakan. Anak-anak antusias, bertanya, berdiskusi aktif. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang mengganggu. Aku lega, semuanya sesuai harapan. Aku bisa mengelola kelas dengan baik, menjelaskan materi dengan jelas, dan mereka tampak termotivasi. Suasana kelas yang kondusif membuatku senang dan bersemangat.
Waktu istirahat tiba. Aku menuju ruang guru, istirahat sebentar. Aku mengobrol dengan beberapa guru perempuan, berbagi cerita tentang pengalaman mengajar kami. Hangat dan akrab sekali suasananya. Kami saling mendukung, saling berbagi.
Tiba-tiba, Pak Bashor, guru Bimbingan Konseling yang tegas dan disiplin itu, mendekatiku. Beliau mengajakku berdiskusi berdua di ruang Bimbingan Konseling. Pak Basor, guru yang sangat berpengalaman dan dihormati, sangat peduli pada perkembangan siswa. Ajakan beliau membuatku sedikit gugup, tapi aku berusaha tenang. Aku mengikutinya menuju ruang Bimbingan Konseling.
Langkahku terasa sedikit berat. Aku masih belum terbiasa dengan lingkungan sekolah ini. Perasaanku campur aduk, penasaran dan sedikit cemas.
Ketika sampai di ruang Bimbingan Konseling, aku melihat ruangan yang rapi dan tertata. Aroma jeruk segar dari pengharum ruangan di atas lemari membuatku merasa sedikit lebih tenang. Namun, rasa penasaranku terhadap maksud kedatangan Pak Bashor justru semakin besar. Suasana tenang di ruangan ini malah membuatku semakin bertanya-tanya.
"Ustazah Syiffa, terima kasih sudah bersedia datang. Silakan duduk," ajak Pak Bashor. Aku tersenyum menerima sambutannya lalu duduk di kursi.
"Bagaimana sekolah ini? Apakah Ustazah mendapat masalah adaptasi di sekolah ini?" tanyanya agak ketus. Aku tersenyum tipis. Sebagai seorang ustazah, aku berusaha untuk tidak melayaninya. Aku harus menepis semua anggapan negatif itu dengan sikap tenang dan profesional.
Aku menggeleng. "Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Pak," jawabku.
"Baguslah. Sebenarnya ada hal yang ingin saya sampaikan kepada Ustazah hari ini," kata Pak Bashor. Nada bicaranya serius.
"Ada apa, Pak?" tanyaku dengan nada serius pula.
"Maaf, Ustazah. Ustazah yang kamu gantikan itu, yang wali kelas 12, sebenarnya salah satu guru konseling juga," jawab Pak Bashor. Aku sepertinya paham ke mana arah perbincangan ini akan berlanjut.
"Baik," kataku perlahan, menunjukkan bahwa aku memperhatikannya.
"Jadi, kami berharap bahwa Ustazah dapat mengisi jadwal kosong itu untuk sementara, sampai Ustazah yang sebelumnya selesai cuti melahirkan," tanyanya.
Aku membuat ekspresi risau. "Tapi, Pak... saya tidak ada background psikologi atau konseling yang mumpuni... hanya dasar-dasarnya saja," kataku. Hanya satu mata kuliah tentang itu yang diajarkan di fakultas dulu. Mata kuliah lainnya fokus ke akidah, tauhid, fiqih dan hal lainnya.
"Saya tahu, Ustazah," jawab Pak Basor. "Tapi jangan khawatir, lagipula masalah yang biasa ditangani di sekolah ini hanya masalah yang biasa-biasa saja, seperti putus cinta, masalah keluarga, sakit, dan yang lain. kalau Ustazah menemukan kasus yang berat atau merasa tidak bisa handle, tinggal lapor ke saya, nanti dikonsultasikan lagi dengan guru yang lain. Bagaimana?"
Aku menarik napas dalam sebelum melihat wajah Pak Bashor yang sedikit berusia itu. Aku sadar bahwa aku adalah tenaga pengajar yang baru. Aku diberikan tugas yang orang lain mungkin tak mau lakukan. Jika aku menolak, pasti mereka akan mengatakan aku mengada-ada atau aku lemah.
Tak apalah, Fa. Anggap saja ini pengalaman, pikirku. Perlahan aku mengangguk. "Baiklah, Pak. Saya bersedia," jawabku.
Pak Bashor tersenyum lega. "Terima kasih, Ustazah Syiffa. Saya sangat menghargai kesediaan Ustazah. Ingat, jika ada kasus yang menurut Ustazah berat atau di luar kemampuan Ustazah, laporkan kepada saya kapan saja. Kita akan konsultasikan bersama."
*
Hari telah larut ketika aku sampai di kontrakan. Cahaya putih lampu menerangi ruang tamu mungil kami. Lia dan Rani sudah menunggu, duduk bersila di atas karpet, secangkir teh hangat masih mengepul di hadapan mereka, setelah aku selesai mengerjakan shalat isya'. Aku menceritakan semuanya, dari permintaan Pak Bashor hingga keraguan yang sempat menggerogotiku.
Lia, dengan senyum khasnya yang selalu menenangkan, langsung angkat bicara. "Syffa, ini kesempatan bagus! Kamu bisa belajar hal baru, membantu orang lain, dan menambah pengalaman. Jangan takut, kalau ada yang berat, kan ada Pak Bashor. Lagipula, kamu kan pintar dan penyabar. Pasti bisa!"
Rani, dengan alisnya yang bertaut, mengangguk setuju tapi dengan sedikit keraguan. "Tapi Fa, aku sedikit khawatir. Kamu tahu kan, aku suka nonton film-film detektif. Kadang, masalah konseling itu rumit, lebih rumit dari yang terlihat. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, motivasi siswa, latar belakang keluarganya, dan banyak lagi. Jangan sampai kamu terbebani."
Lia langsung menyela, "Rani, lebay banget sih! Itu kan cuma film, semuanya omong kosong. Syiffa, jangan dengar Rani. Dia kebanyakan nonton film sampai pikirannya jadi negatif."
Aku tersenyum mendengar perdebatan, atau lebih tepatnya, pertukaran pendapat antara kedua sahabatku. Lia memang selalu optimis, sedangkan Rani cenderung lebih berhati-hati. Aku menghargai masukan mereka berdua. Kecemasan Rani mengingatkan aku akan tanggung jawab besar yang akan kupikul. Namun, optimisme Lia juga memberiku semangat.
"Aku mengerti kekhawatiran kalian berdua," kataku, "Lia, terima kasih atas dukungannya. Optimismemu benar-benar membantuku. Dan Rani, aku juga menghargai kekhawatiranmu. Itu akan menjadi pengingat untukku agar selalu berhati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Aku akan selalu meminta bantuan Pak Bashor jika menemui kesulitan."
Rani tersenyum lega. "Baguslah kalau begitu. Aku tetap khawatir, tapi aku percaya kamu bisa Syiffa. Kamu kuat kok."
Aku merasa lega. Mendengar masukan dari Lia dan Rani, aku merasa lebih tenang dan siap menghadapi tantangan baru ini. Meskipun aku masih ragu, dukungan dari sahabat-sahabatku telah memberiku kekuatan untuk melangkah maju. Ini akan menjadi pengalaman yang berharga, aku yakin.
Kami kemudian makan malam bersama dan dilanjutkan menonton film. Setelahnya, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Lia dengan membaca bukunya, Rani menggarap skripsinya, dan aku sibuk mengoreksi dan belajar materi yang akan aku ajarkan kepada mirid-muridku jum'at besok.
Seperti biasa, setelah semua pekerjaan selesai, sebelum aku tidur, aku akan melakukan aktivitas sebelum tidur. Yaitu memikirkan kedepannya akan seperti apa. Aku akan lebih fokus dan belajar tentang psikologi, agar nanti jika ada siswa yang memiliki masalah sulit bisa ku bantu. Terutama soal hubungan asmara, aku akan sangat munafik jika memberikan solusi soal percintaan padahal aku sendiri tak pernah merasakannya.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!