Chapter 29 of 53

Bab 29

Terlalu jauh bersama muridku1,404 words~8 min read

Rabu malam. Cahaya lampu kamar remang-remang, menciptakan suasana hangat dan nyaman. Aku sudah berganti pakaian tidur, piyama longgar berwarna pastel. Rambutku yang panjang terurai di atas bantal. Aku menatap layar ponselku di kamar, pikiranku melayang pada Raven. Dua hari terakhir, hubungan kita semakin dekat, lebih dari sekadar g_uru dan mur1d. Setelah pertemuan dengannya senin kemarin, kami sepakat untuk mengurangi pertemuan kita di lingkungan sekolah. Kami hanya menghindari gosip dan tatapan curiga dari para siswa dan guru-guru. Namun, percakapan kita melalui pesan singka terus berlanjut, entah itu di lingkungan sekolah maupun dirumah seperti saat ini. Aku merasa nyaman berbagi cerita dengan Raven, mengungkapkan pikiranku dan perasaanku tanpa canggung.

Aku seolah dim4bukk4n dengan rasa sayangku itu padanya. Bukan tanpa alasan, setelah hampir sebulan ini aku mengenalnya, Raven itu sebenarnya baik dan berwawasan luas jika tak sedang bern*f5u.

Meskipun begitu, aku juga selalu menanggapinya dan mencarikan video ketika dia tak bisa menahannya.

'Rasanya saya sudah tak sabar menunggu hari jumat besok, ustadzah.' 

Wajahku memerah, serta senyum tipis terukir di bibirku, 'Ustadzah juga, ustadzah bahkan belum m3l4kuk*nnya lagi sejak terakhir kali kita mel*kuk4nnya di mobil.'  Balas ku, sedikit menggoda.

Seperti yang ku katakan sebelumnya, aku mulai semakin berani saat berbalas pesan dengan Raven. Seolah mengalir begitu saja. Tapi aku juga sudah berjanji pada diriku untuk menjaga b4tas saat mel4kuk*n itu bersamanya, sehingga hubungan kami tak terlalu j4uh.

'Ustadzah mulai sama seperti saya ya?'  balasnya dengan emote tertawa di akhir pesan. Aku tahu dia sedang menggodaku.

'Ya ini kan gara-gara kamu, kamu bisa buat ustadzah k3c4n_du4n sampai seperti ini.'  Balasku, di akhir pesan juga ku kasih emote tertawa.

Setelah pesan itu, Raven tidak membalasnya beberapa saat, aku berpikir mungkin dia ketiduran atau tengah m3lakukannya akibat god_aku. Akupun hendak menaruh ponselku ke atas meja di dekat tempat tidur, namun, balasan dari Raven terkirim.

'Ustadzah mau yang l3b1h m*mu*sk*n nggak?'  tanyanya.

'Seperti apa caranya?'  balasku, aku juga merasa penasaran. Jujur saja, aku kini sudah paham betul apa itu rasa p*as yang sesungguhnya, setelah membuktikannya sendiri, aku bisa tahu alasan dari para remaja saat ini yang k3c*ndu4n hal itu.

Balasannya segera terkirim. Tiga buah gif stiker berjajar di pesannya.

Gif pertama, seorang wanita m3ngg_unakan bu_*h persiknya me_ngg_ap_it ubi seorang L3l4ki, lalu diur*t ke4t4s dan kebawah.

Gif kedua, seorang wanita men9h15ap ubi l4ki-l*k1 dengan rakus yang b4s*h sekali ak1bat air liurnya.

Gif ketiga... seorang wanita m3ngg3s3k-g*s3kkan v*91n4nya ke ubi l3l4kinya, namun tak sampai mem4sukk4nnya.

'Kalau ustadzah mengizinkan... k1t4 bisa melakukannya bersama-sama.'  jelasnya.

Aku terdiam, melihat gif-gif itu beberapa saat. 'Tidak bisa, gif 1 dan 3 tak bisa ustadzah lakukan. Kalau gif kedua mungkin saja, tapi ustadzah tak bisa memberi harapan. Soalnya yang kemarin itu sebab terpojok saja, jadi ustadzah terpaksa.'  balasku, emote marah kutaruh di akhir kalimat.

Aku letakkan hpku keatas meja setelah mematikan data internetnya. Aku bangkit, berjalan mengelilingi kamarku. Memikirkan kembali tindakanku. Memang benar akhir-akhir ini percakapanku dengannya sangat 1ntens dan cenderung 1nt1m. Namun aku masih ragu kenapa Raven mem1nt4ku m3lakuk4n hal-hal seperti di gifnya. Menurutku itu terlalu jauh. Aku memikirkan kembali betapa aku sudah terlalu j4uh, aku jatuh dalam pusaran m3s*m ini.

Kembali aku mengingatkan diriku, aku seorang ustadzah, aku adalah gurunya. Hal kemarin itu hanya karena kepepet saja, kenapa sekarang jadi seperti ini?

Aku memang senang dalam membantunya, tapi kalau sampai kejadian seperti di gifnya, itu sudah terlalu j*uh dan d4l*m.

Aku memarahi diriku sendiri didalam kepala, namun, ada n4f5u sy*hw4t didalam diriku yang seolah berbunga, gembira, dan bahagia. Aku sesekali mengeluh. Kenapa aku sekarang bisa sejauh ini, apa sekarang aku seb1n4l itu?

Dan tanpa sadar, aku mulai berpikir, yang awalnya aku berpikir untuk bisa memiliki hubungan dengan Raven seperti biasanya, aku membantunya dan dia membantuku dalam k4s*s yang wajar, menjadi memikirkan gif barusan.

Aku mengambil kembali hpku, kunyalakan lagi datanya, pesan balasan dari Raven terkirim beberapa menit yang lalu.

'Kalau ustadzah tidak mengizinkan tidak apa, maaf ya ustadzah jika saya lancang. Saya akan meminta bantuan ustadzah seperti biasanya saja kalau gitu, saya sudah merasa gembira kok,'  Lagi-lagi, aku seolah luluh pada Raven. Aku mulai teringat ekspresi canggungnya saat awal-awal kita bertemu di konseling. Rasa iba dan kasihan mulai muncul dariku.

Padahal sudah sejauh ini aku membuatnya tidak canggung lagi padaku, apa aku bantu dia mewujudkannya saja ya? Aku tak mau asing dengannya, dia kan udah pengertian padaku, apa sekarang giliranku? Pikirku.

Dan tanpa sadar, didalam kepalaku mulai merencakan bagaimana semua itu bisa terjadi dan terealisasikan antara aku dan Raven. Namun aku tak ingin sampai s3j4uh seperti gifnya barusan.

'Maaf ya, Raven. Ustadzah nggak marah kok,'  

'Kita lihat saja jumat besok,'  Balasku kemudian.

Jujur, hatiku berdebar tak karuan setelah mengirim pesan itu. Aku tak tahu pasti, tapi yang jelas, satu pertanyaan muncul didalam benakku. Apakah aku murni cinta padanya, atau... hanya n4f5u?

Beberapa saat kemudian, Raven membalas. 'Seperti biasa saja, ustadzah. Kita tak perlu melakukan seperti apa yang saya usulkan sebelumnya. Selamat malam, semoga mimpi indah, asalamualaikum,'  Balasnya, dengan emote tersenyum di akhir pesannya.

Aku bernapas lega, berarti Raven tak menganggapku marah? Syukurlah. Aku membalas ucapan salamnya, segera aku merebahkan diri, meskipun pikiranku di penuhi dengan isi bagaimana melakukannya tanpa sej*uh itu, disisi lain diriku, aku juga penasaran dengan sensasinya. Hingga aku tidak sadar sudah terlelap dalam tidurku.

*

Hari Kamis pagi. Udara masih terasa sejuk, embun pagi menempel di daun-daun pohon di sekitar sekolah. Aku memarkirkan mobil bututku di sisi gerbang. Aku sengaja berlama-lama di sini, menunggu Raven. Jujur, aku masih sedikit khawatir dengan pesan yang kutulis padanya semalam.

Aku mencoba menepis rasa khawatir itu, mengatakan pada diriku bahwa Raven pasti mengerti. Dia selama ini selalu mengerti dan menghargai aku, bahkan saat aku menolak keinginan yang tersembunyi di balik pesan itu.

Aku menatap sekitar, melihat beberapa murid dan guru mulai berdatangan. Rasa keresahan itu mulai bermunculan lagi. Bagaimana jika Raven marah? Bagaimana jika dia menghindar? Bagaimana jika kami jadi asing?

Aku mengelus dada, mencoba menenangkan diri. Aku harus bertemu dengan Raven, menjelaskan segalanya. Aku juga harus menunjukkan padanya bahwa aku tidak menolak keinginan yang tersembunyi itu, aku hanya ingin mengatur waktu dan cara yang tepat. Aku ingin meyakinkan dia bahwa aku masih menghargainya.

Saat itu, aku melihat Raven berjalan menuju gerbang. Dia terlihat seperti biasa, pendiam dan terlihat sedikit murung. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memanggilnya.

"Raven," panggilku pelan, hatiku berdebar kencang.

Raven menoleh, senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia segera mendekati mobilku, "Assalamualaikum, Ustadzah."

"Waalaikumsalam," jawabku sambil tersenyum.

Aku merasa lega melihat senyum itu, senyum yang menenangkan hati. Aku berusaha menunjukkan pada Raven bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku tidak menghindar dari pertemuan ini.

Tapi aku takut menanyakan tentang perasaannya padaku saat ini setelah pesanku semalam. Takut jika dia marah. Takut jika aku menyinggung perasaannya.

Namun, Raven seolah mengerti kekhawatiran yang kurasakan. Dia hanya menyapa aku dengan hangat, menunjukkan bahwa dia tidak menaruh kebencian atau kemarahan terhadapku.

"Besok jadwal konselingnya seperti biasa ya, ustadzah?," tanya Raven seolah mengingatkan ku.

"Oh iya, Raven, kita... bertemu besok ya, " jawabku sambil mengangguk.

Kami berpisah di sana, tanpa obrolan yang panjang. Aku segera berjalan meninggalkannya menuju kantor. Entah mengapa, aku juga merasa bingung mau ngomong apa, yang jelas aku sedikit merasa bahagia sebab ia tak marah padaku.

-

Jam istirahat tiba. Aku duduk di meja kantor, Jamkos sudah tudak ada lagi sejak hari ini, dan kegiatan belajar mulai kembali normal seperti semula. Di kursiku, aku difokuskan kembali membaca pesan dan berbalas pesan dengan Raven. Obrolan kami mulai berjalan normal lagi, seperti sebelum-sebelumnya.

Saat tengah asik berbalas pesan, aku mendengar suara tawa di samping tempat dudukku yang membuatku tidak fokus. Aku menoleh dan melihat Ustazah Hilmi, Ustazah Lastri, Ustazah Ani, dan Ustazah Ratna sedang asyik mengobrol. Aku pun mengalihkan perhatianku dari Raven, fokus pada percakapan mereka.

Jujur, aku sedikit tak nyaman mendengar obrolan mereka. Ustazah Hilmi bertanya kepada Ustazah Ratna tentang malam pertamanya, bagaimana reaksinya, dan bagaimana suaminya. Ustazah Ratna tampak malu-malu menceritakan bahwa suaminya kurang bern*f5u padanya saat malam pertama.

"Maklumlah, masih m4lam pert4m*," kata Ustazah Ani sambil tersenyum maklum.

"Gini aja, kamu pancing pakai pakaian dinas," ujar Ustazah Lastri dengan nada berbisik.

"Iya, pancing pakai baju dinas saja. Saya selalu berhasil loh memancing suami saya," tambah Ustazah Hilmi.

Aku tersenyum, mencoba menetralkan rasa tak nyaman dan mulai bergabung dengan mereka.

Saat aku mulai ikut obrolan mereka, meskipun aku sendiri masih belum menikah, aku ingin belajar dari mereka yang lebih senior ketimbang diriku. Ditambah, aku mulai mendapatkan ide yang menarik. Aku berencana melakukannya nanti setelah pulang mengajar. Aku seolah tidak sabar ingin agar hari cepat berganti.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!