Mobil bututku berhenti tepat di depan kontrakan. Langit sudah gelap sejak aku pulang dari mengantar Raven, warna jingga di ufuk barat hampir sepenuhnya hilang. Aku masih duduk di dalam mobil, terpaku. Kenangan hariku bersama Raven masih terasa hangat, tetapi sebuah rasa gelisah mulai menggerogotiku. Kegelisahan itu tak mampu kusingkirkan.
Aku teringat. Cadarku. Aku tidak memakainya! Bagaimana jika Lia dan Rani melihatku? Sebagai sosok yang paling alim di antara kami, bayangan tatapan heran, bahkan mungkin sedikit candaan, langsung muncul di kepalaku. Aku menggigit bibir, merasa bodoh karena telah melupakan hal sepenting ini.
Napas panjang kurengkuh, mencoba menenangkan diri. Aku harus masuk. Harapan kecilku: Lia dan Rani sedang di kamar masing-masing. Aku meraih tas dan beberapa bungkus makanan ringan, oleh-oleh dari perjalananku bersama Raven. Lalu membuka pintu mobil. Langkahku cepat menuju pintu kontrakan, jantung berdebar kencang, berharap, meski kecil, mereka tidak melihatku.
Kunci pintu berbunyi klik. Langkahku terhenti sejenak. Lalu, suara tawa. Suara Lia dan Rani. Di ruang tengah. Aku menghela napas, mencoba menenangkan debaran jantung. Harapanku sirna.
Mereka melihatku. Tatapan terkejut tertuju padaku. Mulut Rani terbuka sedikit, matanya membulat. Lia menatapku dengan ekspresi yang sulit kutebak, campuran kekhawatiran dan keheranan.
"Syffa," Rani bersuara, suaranya sedikit tinggi, "kamu... tidak memakai cadar?!"
Pertanyaan Lia menyusul, "Kamu habis menemui siapa?"
Aku gugup. "Eh... aku tadi... eh... lupa," ujarku tergagap, "terburu-buru karena lapar... jadi tidak sadar kalau tidak pakai cadar." Aku mengangkat kantong plastik berisi cemilan, "Ini... aku tadi beli banyak cemilan."
Aku segera bergabung dengan mereka, meletakkan kantong plastik berisi berbagai macam cemilan di meja. Rani masih menatapku dengan ekspresi menyelidik.
"Benarkah?" suaranya masih terdengar ragu. "Apakah kamu menemui seseorang... seorang pria?"
Aku masih gugup. "Enggak kok, aku hanya beli makanan."
Lia menatapku dengan lembut. "Syffa, jarang sekali kamu tidak memakai cadar saat keluar. Tidak, bukan jarang, tidak pernah kami lihat selama empat tahun kita bersama, kamu keluar rumah tanpa cadar. Ceritakan saja siapa yang kamu temui, kami akan mendukungmu kok."
Aku menggeleng, masih berpegang teguh pada kebohongan kecilku. "Aku beneran lupa."
"Hem..." Rani berdehem pelan, tatapannya seolah-olah ikut merasakan kegelisahan yang kurasakan, meski ada sedikit ketertarikan. "Ya sudahlah, kalau kamu tidak ingin menceritakannya. Kita nikmati saja makanan ini. Terima kasih ya, Syffa."
"Aku dan Lia tadi juga beli makanan banyak kok," Lia menambahkan, "tapi makanan berat. Bentar, aku hangatkan dulu." Ia bergegas menuju dapur.
Suasana menjadi sedikit lebih tenang. Aku merasa bersyukur. Mereka pengertian, meski sebenarnya mereka tahu aku menyembunyikan sesuatu. Aku tersenyum, merasakan sedikit kelegaan di tengah rasa bersalah yang masih menghantuiku. Aroma cemilan yang baru saja kubeli memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman, seakan menjadi pelarian singkat dari kegelisahan yang masih membayangi.
Beberapa saat kemudian, Lia kembali dengan beberapa piring berisi makanan berat. Aroma makanan rumah yang hangat langsung memenuhi ruangan, menciptakan suasana makan malam yang nyaman. Kami bertiga duduk melingkar, menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Lia dan Rani mulai bercerita tentang pertemuan mereka dengan Rendi dan Dimas. Lia menceritakan bagaimana Rendi mengajaknya ke sebuah kafe baru, menjelaskan betapa romantisnya suasana di kafe tersebut, dan bagaimana Rendi selalu berhasil membuatnya tertawa. Rani bercerita tentang bagaimana Dimas selalu perhatian, mengantarkannya pulang, dan selalu memberikan kejutan-kejutan kecil yang membuatnya merasa spesial.
"Rendi itu romantis banget, Ran," kata Lia, suaranya berbinar-binar. "Tadi dia ajak aku ke kafe baru di daerah Braga, suasananya adem banget, terus dia pesenin cokelat panas kesukaanku."
Rani menyela, "Ih, Dimas juga romantis kok! Dia selalu perhatian, tadi dia sampe anterin aku pulang, terus dia kasih aku bunga mawar putih. Katanya, warna putih itu melambangkan kesucian dan ketulusan."
Lia tertawa, "Mawar putih? Wah, Dimas makin romantis aja ya. Rendi sih tadi cuma memberikan buku baru, yaitu buku, 'Cara menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya'. Terkesan biasa saja, tapi aku udah seneng banget kok ."
Yang aku tangkap, nada bicara Lia barusan menekankan jika Rendi serius padanya, karena sebentar lagi juga kan mereka menikah.
Rani tersenyum, seolah tak mau kalah, "Aku juga seneng banget, Li. Dimas selalu tau gimana caranya bikin aku seneng. Dia rencananya akan melamar ku akhir tahun,"
Lia kembali bercerita, namun menghadap kearahku, "Tadi kita ngobrol banyak banget lho Fa, sampai lupa waktu. Rendi itu lucu banget, cerita-cerita nya bikin aku ketawa terus."
Berarti Rendi benar-benar lucu, sebab Lia itu paling jarang ketawa diantara kami, aku juga bingung dengan selera humornya. Kalau Rendi bisa membuatnya tertawa, berarti Rendi tahu selera humornya.
Rani mengangguk padaku, "Dimas juga tak kalah kocak Fa, tapi dia lebih pendiam sih. Tapi, aku suka banget sama sikapnya yang dewasa dan pengertian."
Lia menimpali, "Iya, aku juga suka banget sama Rendi. Dia pengertian banget, selalu ngedengerin aku curhat."
Mereka selalu seperti ini, seperti anak kecil ketika mereka tak mau mengalah satu sama lain saat menceritakan pengalaman pacaran mereka.
Aku hanya mendengarkan, sesekali mengangguk, sambil menikmati makananku. Di dalam hati, aku tersenyum sendiri. Cerita mereka berdua mengingatkan aku pada perjalananku bersama Raven hari ini. Genggaman tangannya, tawa kita di taman hiburan, percakapan kita di taman kota... semua terasa begitu nyata dan hangat. Meskipun aku menyembunyikan pertemuan tersebut, kenangan itu tetap memberikan kehangatan tersendiri di hatiku. Aku merasa sedikit bersalah karena telah berbohong kepada mereka, tetapi di saat yang sama, aku juga merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Lia dan Rani yang begitu pengertian.
Suasana makan malam terasa hangat dan akrab, meski ada sedikit ketegangan yang kurasakan karena rahasia yang kusembunyikan. Tetapi, kehangatan persahabatan kami mampu menepis rasa bersalah itu, setidaknya untuk saat ini.
Hening sejenak menyelimuti meja makan. Lia dan Rani saling berpandangan, seakan baru menyadari sesuatu. Ekspresi mereka berubah. Rasa bersalah terlihat jelas di wajah mereka.
"Syifa," Rani memulai, suaranya lembut, "maaf ya, kita nggak seharusnya cerita-cerita kayak gitu di depan kamu."
Lia mengangguk setuju. "Iya, maaf. Kita nggak peka. Kita lupa kalau kamu belum punya pasangan."
Aku tersenyum, mencoba meredakan suasana. "Gak papa kok. Aku juga merasa bahagia melihat kalian berdua bahagia."
Aku mengalihkan pembicaraan, "Eh, Lia, gimana persiapan pernikahannya sama Rendi? Udah siap semua?"
Lia tersenyum, namun ada sedikit kesedihan yang tersirat di matanya. "Udah hampir semua, Rendi yang ngurus semuanya. Tinggal nunggu hari-H aja. Kemungkinan tiga bulan sebelum pernikahan, aku akan pulang ke rumah. Mungkin... mungkin kita nggak akan sering ketemu lagi. Aku nggak akan tinggal di sini lagi."
Suasana makan malam yang tadinya hangat, tiba-tiba terasa berat. Aku merasakan sedikit sesak di dada. Kehilangan sahabatku yang akan segera menikah dan pindah rumah, menimbulkan perasaan campur aduk. Aku berusaha untuk tetap tegar, menunjukkan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja. Tapi, di dalam hati, aku merasa sedikit sedih. Kehidupan kami bertiga akan segera berubah. Fokus kepada kehidupan masing-masing.
Rani meraih tangan Lia, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Tenang aja, Lia. Kita akan selalu mengunjungimu. Benar kan, Syifa?"
Aku mengangguk, mencoba memberikan semangat kepada Lia. "Iya, kita akan sering-sering main ke rumahmu."
Lia tersenyum, namun matanya masih berkaca-kaca. "Benar ya? Aku tunggu lho, kalian." Ada sedikit kegembiraan yang kembali muncul di wajahnya, mencoba mengusir kesedihan yang sempat menyelimuti suasana. Kehangatan persahabatan kami, meskipun akan terpisah jarak, tetap terasa kuat.
Setelah makan malam, kami bertiga menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bercerita. Kami ingin menikmati suasana bersama lebih lama sebelum perubahan besar itu terjadi. Kami bertiga tertawa, berbagi cerita tentang masa lalu, dan merencanakan kegiatan yang akan kami lakukan bersama di masa depan, meskipun Lia akan segera pindah. Kami berbicara tentang hal-hal sepele, tapi di antara canda dan tawa, terasa ada ikatan yang kuat di antara kami. Ikatan persahabatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
-Â
Malam semakin larut. Aku berada di kamarku, menatap langit malam melalui jendela. Setelah berpamitan dengan Lia dan Rani, aku meraih ponselku dan membuka aplikasi pesan. Aku tersenyum saat melihat pesan masuk dari Raven.
Kami memulai percakapan ringan, ngalor-ngidul, seperti biasa. Aku bercerita tentang makan malamku bersama Lia dan Rani, tentang kesedihan yang kurasakan karena Lia akan segera pindah. Raven mendengarkan dengan sabar, memberikan dukungan dan semangat. Dia juga sama sepetiku, sebab sebentar lagi kakaknya juga akan berpisah dengannya, dan akan hidup sendiri bersama calon istrinya. Aku juga menceritakan tentang rencana kegiatan besok disekolah, yang dimana seperti pada umumnya, selesai ujian pasti akan ada jam kos.
'Berarti besok jam kos ya, ustadzah?'Â tulis Raven. 'Tapi menurut saya sama saja sih mau jam kos atau tidak, ustadzah.'
Iya juga sih, sebab Raven selalu sendiri tanpa ada temannya. Biasanya hanya Aldo yang mau berbicara dan bercerita padanya, dan Raven selalu antusias saat bercerita dengannya. Namun itu jarang, sebab Aldo mengikuti club olahraga, jadi dia terlalu disibukkan dengan kegiatan club itu.
'Besok kita bertemu ya, ustadzah. Saya pengen ngobrol dengan ustadzah. Serta sekali lagi, terimakasih untuk hari ini, ustadzah. Saya sangat gembira saat bersama ustadzah.'Â Â Ketiknya selanjutnya.
Jantungku berdebar. Aku membayangkan pertemuan kami besok. Hanya sekedar mengobrol, tapi aku merasa sangat menantikan saat itu. Aku membalas pesan Raven, menyatakan persetujuan dan sedikit rasa antusias. Senyumku mengembang. Meskipun aku masih menyembunyikan kedekatan kami dari Lia dan Rani, aku merasa bahagia karena memiliki Raven. Entahlah, yang jelas aku merasa memiliki seseorang yang selalu ada untukku, menemaniku melewati suka dan duka.
Setelah mengucapkan salam, aku segera bersiap untuk tidur, hatiku saat ini merasa nyaman. Meskipun disisi lain juga Lia akan meninggalkan kami, tapi aku bisa sedikit gembira sebab aku masih bisa mengunjunginya. Hari ini rasanya aku tak ingin mengakhirinya, tapi mau bagaimana lagi? Waktu terus berjalan, akupun tertidur setelahnya.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!