Chapter 27 of 53

Bab 27

Terlalu jauh bersama muridku2,078 words~11 min read

Mentari pagi menyinari kamarku dengan hangat. Biasanya, aku akan bangun dengan perasaan semangat yang biasa saja, tapi hari ini berbeda. Ada getaran semangat yang tak biasa, lebih dari sebelum-sebelumya, campuran rasa gugup dan bahagia karena janji bertemu Raven. Aku sudah membayangkan bagaimana hari ini akan berjalan, bayangan senyum Raven, sentuhan tangannya saat membantuku nanti… tapi…

Saat aku melangkah ke kamar mandi, sebuah kenyataan pahit menghampiri. Aku merasakannya, sedih dan sedikit kecewa. Hari ini aku sedang menstruasi. Seketika, semangatku sedikit meredup. Di depan cermin, aku menatap bayanganku sendiri. Pikiranku berputar-putar. Apakah aku harus memberitahu Raven? Bagaimana jika Raven kecewa? Atau mungkin, aku bisa tetap membantunya, tapi dengan cara yang berbeda? Perasaanku campur aduk. Aku ingin sekali melakukan itu lagi bersama Raven, tapi kondisi fisikku tak memungkinkan. Aku merasa sedikit sedih, tapi aku juga tak ingin mengecewakannya.

Setelah mandi dan berpakaian, aku melihat ke luar jendela. Rumah kontrakan terasa sepi. Lia dan Rani sudah pergi lebih dulu dariku tadi, mungkin sekarang mereka sedang menikmati waktu bersama pasangan mereka masing-masing. Aku membayangkan mereka berdua, berdua dengan pasangannya, berjalan-jalan, bercanda, dan berbagi kebahagiaan. Sebuah perasaan sedikit iri muncul, tapi aku segera menepisnya. Aku harus fokus pada masalahku sendiri. Bagaimana aku harus memberitahu Raven?

Aku mengambil ponselku, menatap layar yang menampilkan chat terakhirku dengan Raven. Aku ragu-ragu, apakah aku harus langsung mengatakannya? Atau harus menunggu Raven menghubungiku terlebih dahulu? Setelah beberapa saat berpikir, aku memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya. Aku mengetik dengan hati-hati, memilih kata-kata yang tepat agar tidak terlalu mengecewakannya.

'Raven, kamu sudah bangun? Maaf, tapi sepertinya nanti kamu tidak bisa membantu ustadzah seperti kemarin, sebab, hari ini ustadzah tengah berhalangan. Raven tenang saja, ustadzah tetap akan membantu kamu kok,' 

Pesan singkat itu kukirimkan, mengungkapkan kondisiku. Aku berharap Raven bisa mengerti dan tidak terlalu kecewa. Aku menunggu balasan darinya dengan perasaan cemas dan sedikit khawatir. Jantungku berdebar-debar, menunggu reaksinya. Aku berharap Raven rela tidak men*entuhku seperti kemarin, dan hanya dia yang ku bantu. Aku berharap dia tetap mau menghargai dan mengerti kondisiku. Aku berharap…

Beberapa saat kemudian, balasan dari Raven terkirim. 'Kalau begitu, kita tak usah melakukan itu, ustadzah. Kita jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama saja bagaimana?'  

Mataku membulat membaca pesan itu beberapa kali, seolah tak percaya dengan pesan yang ia ketik. Apa ini benar-benar Raven? Batinku. Jika pesan ini dikirimkan padaku dulu, aku mungkin akan merasa sangat gembira karena tidak perlu melakukan itu lagi. Tapi, saat ini, meskipun aku gembira, ada rasa sedikit kecewa yang bisa kurasakan. Apa aku sudah benar-benar berubah?

'Kamu siap-siap ya? Ustadzah akan segera kesana,'  balasku.

'Baik, ustadzah. Saya tunggu di depan komplek, disamping pos security,'  balasnya.

Untunglah, aku jadi tak perlu menunjukkan KTP ku lagi seperti terakhir kali aku kesana. Disana penjagaanya sangat ketat, jadi prosedur itu meski membuat risih tamu, juga memberikan jaminan keamanan untuk para anggota keluarga yang bermukim disana.

Setelah mengirim pesan kepada Raven jika aku segera berangkat, aku bergegas bersiap-siap. Aku mengunci pintu rumah kontrakan, memastikan semuanya aman sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil bututku, yang setia menemani hari-hariku, menunggu di depan. Sengaja hari ini aku melepaskan cadar ku, entah mengapa aku ingin memperlihatkan wajahku ini padanya.

Aku mulai melaju, meninggalkan rumah kontrakan yang terasa sepi. Di sepanjang jalan, pikiran-pikiran masih berputar di kepalaku. Aku masih memikirkan pesan Raven, dan sedikit kekecewaan yang masih terasa. Meskipun aku lega dia mengerti kondisiku, tetapi ada sebagian kecil diriku yang merasa sedikit kehilangan. Kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengannya secara fisik. Aku mencoba mengusir pikiran-pikiran itu, fokus pada perjalanan menuju rumah Raven.

Perjalanan menuju rumah Raven, sekitar delapan kilometer, terasa cukup singkat. Hanya sekitar 15 menit, mobil bututku sudah sampai di depan komplek perumahan Lestari. Sepanjang perjalanan, aku menikmati pemandangan kota yang mulai ramai. Aku mencoba untuk fokus pada hal-hal positif, mencoba untuk melupakan rasa kecewa yang masih sedikit menghantuiku.

Sesampainya di depan komplek, aku melihat Raven sudah menunggu di tempat yang ia beritahu padaku sebelumnya. Dia tersenyum saat menyadari kedatanganku, dan aku merasakan sedikit kelegaan. Aku memarkirkan mobil, dan segera turun untuk menemuinya.

"Asalamualaikum, Raven. Maaf ya jika ustadzah lama," sapaku, entah mengapa aku merasa bahagia saat ini.

Raven tersenyum, tentu saja  dia juga terkejut saat melihatku saat ini tak memakai cadar, "Waalaikumsalam, ustadzah. Nggak lama kok," jawabanya.

Setelah itu, kami segera kembali menuju mobilku. Dia juga membukakan pintu mobil untukku, membuatku sedikit salah tingkah sebelum aku masuk. Suasana di dalam mobil terasa tenang dan nyaman. Aku merasa sedikit lebih tenang sekarang.

Setelah masuk ke mobil, keheningan menyelimuti kami sejenak. Aku memberanikan diri untuk bertanya, "Raven, kita mau ke mana?"

Raven tampak berpikir sejenak, jari-jarinya memegang dagu. Ekspresinya terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu. Setelah beberapa saat, dia menjawab, "Ke tempat rekreasi saja, Ustadzah. Bagaimana?"

"Ke tempat rekreasi di dekat sini apa di dekat kota?" tanyaku.

"Dekat kota saja, ustadzah. Kalau di sekitar sini saya sudah sering,"

"Baiklah," jawabku, segera menghidupkan kembali mesin mobilku.

Aku setuju dengan usulannya, tempat rekreasi memang terdengar menyenangkan, sebab aku juga sudah lama tak ke tempat rekreasi yang akan kami datangi. aku biasanya kesana bersama Lia dan Rani. Aku juga butuh menyegarkan pikiranku setelah beberapa hari yang cukup melelahkan.

Aku tersenyum, merasa sedikit lebih lega. Setidaknya, hari ini aku masih bisa menghabiskan waktu bersama Raven, meskipun tidak seperti yang kuharapkan sebelumnya.

*

Mobil terparkir, dan aku melangkah memasuki taman hiburan bersama Raven setelah membeli tiket. Suasana ramai sekali! Musik bergema, tawa anak-anak dan remaja serta orang dewasa bercampur dengan suara mesin wahana. Aku merasa sedikit canggung. Tidak biasa rasanya tidak mengenakan cadar di tempat umum seperti ini. Rasa malu menggelitik pipiku. Aku sesekali melirik Raven, mencari sedikit dukungan dari tatapannya.

Raven sepertinya menyadari kecanggungan yang kurasakan. Tangannya tiba-tiba meraih tanganku, menggenggamnya dengan lembut. "Mari, Ustadzah, kita coba wahana-wahana yang seru! Nanti juga kita akan merasa lebih nyaman." Sentuhannya membuatku sedikit tenang. Senyumku mengembang, rasa malu sedikit mereda.

Kami mencoba berbagai wahana. Kereta kecil yang berputar-putar membuatku tertawa lepas. Di wahana yang lebih menantang, aku merasakan jantungku berdebar kencang, tapi genggaman tangan Raven memberiku kekuatan. Di antara jeritan dan tawa, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Ada ikatan yang semakin kuat di antara kami.

Kami menikmati makanan ringan dan minuman di sela-sela permainan. Kami bercerita dan berbagi cerita ringan, suasana terasa hangat dan akrab. Aku lupa akan rasa maluku. Aku menikmati kebersamaan ini. Aku bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama Raven, meskipun tidak seperti yang kupikirkan sebelumnya.

Hari ini, aku dan Raven menciptakan kenangan indah. Kami bukan hanya guru dan murid, tapi juga dua insan yang berbagi kebahagiaan dan kesenangan. Tapi, di balik semua ini, dilema moral masih menghantuiku. Tak sepatutnya sebenarnya seorang ustadzah bermesraan bersama muridnya seperti ini, tapi aku seolah sengaja tak memikirkannya, sebab, aku mulai menikmati momen-momen yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Wahana terakhir yang kami masuki adalah bioskop yang ada di tempat hiburan ini.

Setelah keluar dari bioskop, suasana hati kami masih dipenuhi dengan kehangatan film yang baru saja kami tonton. Banyak adegan lucu yang masih membuat kami tertawa. Raven menggenggam tanganku, dan kami berjalan beriringan menuju mobil. Senja mulai menyapa, menciptakan suasana yang romantis.

"Filmnya lucu sekali, ya?" kataku, suaraku masih dipenuhi dengan sisa-sisa tawa.

"Iya, Ustadzah," jawab Raven, senyumnya masih terkembang. "Saya suka sekali adegan di mana…" Dia menceritakan salah satu adegan lucu favoritnya, dan kami kembali tertawa bersama.

Sebelum keluar dari tempat wisata, kami menyempatkan diri untuk membeli jajanan dan minuman yang dijual di outlet-outlet yang banyak terdapat di arah pintu keluar. Raven juga membelikanku banyak sekali cemilan, meskipun aku merasa tidak enak, tapi dia memaksa. Katanya bisa dimakan saat dirumah nanti.

Kami keluar dari tempat rekreasi dan sampai di parkiran. Aku bertanya pada Raven, "Selanjutnya kita mau ke mana?" sambil aku menaruh barang kami di jok mobil.

Raven tampak berpikir sejenak. "Ustadzah," katanya, "Meskipun beban pikiran saya sedikit berkurang, saya masih ingin berbicara. Saya tidak pernah memiliki pendengar sebaik Ustadzah. Bolehkah kita ke taman kota dan berbincang di sana?"

Aku mengangguk setuju. Selain penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan, taman kota memang tempat yang tenang dan cocok untuk berbincang. Kami pun menuju taman kota. Di sana, kami duduk di sebuah bangku di bawah pohon rindang. Raven tampak ragu-ragu untuk memulai pembicaraan.

Setelah beberapa saat hening, Raven akhirnya mulai bercerita. Dia menceritakan tentang masa lalunya, tentang keluarganya, yang meskipun orang melihat kehidupan keluarganya makmur, namun dirinya tak merasa demikian. Ia bercerita bagaimana dia kehilangan momen waktu bersama keluarganya, karena orang tua mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Dia menceritakan tentang kesendiriannya di sekolah, tentang bagaimana dia merasa seperti orang asing di tengah teman-temannya. Dia merasa tidak pernah dimengerti, tidak pernah memiliki tempat untuk berbagi perasaan. Hanya ada satu atau dua temannya yang pengertian padanya.

Alasannya kenapa dia sampai kecanduan hal-hal seperti yang dialaminya saat ini, sebab ia melampiaskan kesepiannya dengan membaca berbagai buku. Mulai dari buku pengetahuan, buku cerita, sampai ke buku resep-resep masakan. Dan kecanduannya mulai ketika dia tak sengaja membaca cerita d3w*sa di aplikasi novel. Disinilah dia mulai merasakan perasaan bahagia, tenang, dan sebagainya.

"Begitu, ustadzah." jelasnya. "Saya hanya ingin hidup layaknya anak-anak seusia saya, tapi sepertinya saya terlahir di keluarga yang salah,"

Aku mendengarkan dengan saksama, mencoba untuk memahami perasaannya. Aku merasa iba dan kasihan padanya. Aku menyadari bahwa di balik sikap pendiamnya, tersimpan luka dan kesedihan yang mendalam. Raven tidak hanya membutuhkan bantuan fisik, tetapi juga membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan memahami perasaannya.

"Tidak seperti itu, Raven. Orang tua kamu melakukan itu semua juga demi kebaikan kamu dan saudara kamu dimasa depan kelak. Ustadzah yakin, orang tua kamu sebenarnya sangat sayang padamu."

Aku menyadari bahwa aku harus lebih berperan sebagai pembimbingnya, bukan hanya sebagai seseorang yang membantunya secara fisik. Aku harus membantunya untuk mengatasi masalahnya, untuk menemukan jalan keluar dari kesedihan dan kesendiriannya. Kisah ini akan berlanjut dengan bagaimana aku membantu Raven menghadapi masa lalunya dan menemukan kebahagiaan.

"Benar, ustadzah. Saya sudah memikirkan itu juga. Dan sekarang saya merasa bahwa pendapat saya memang benar, ustadzah juga berpikir hal yang sama seperti saya." jawabnya. "Saya sekarang ingin mencoba membuat orang tua saya bangga dengan pencapaian saya. Maka dari itu, saat saya lulus kuliah nanti, saya akan bekerja lebih keras dari mereka, dan membuat mereka bangga karena telah melahirkan saya."

Aku tersentuh, ternyata pikirannya sudah lebih dewasa daripada anak-anak seusianya. "Syukurlah, ustadzah ikut senang mendengarnya. Jangan berhenti untuk belajar ya, Raven."

"Terimakasih, ustadzah." jawabnya. "Kalau ustadzah sendiri?" tanyanya.

Aku mulai menceritakan tentang keluargaku, profesi apa yang dikerjakan orang tuaku, dan jika aku adalah anak tunggal. Aku juga bercerita, jika memang kehidupanku dengannya tidak sama karena orang tuaku lebih banyak menghabiskan waktu denganku waktu kecil, tapi aku yakin setiap orang tua menyayangi anak-anak mereka. Aku tak ingin membuat Raven bersedih.

"Jadi abah ustadzah seorang pemuka agama juga ya dikampung ustadzah?" tanyanya.

"Iya, Raven. Hal itu juga yang membuat ustadzah tertarik untuk mengambil jurusan mata kuliah yang berfokus pada agama," jelasku. Aku bercerita seolah melupakan tindakanku sebelumnya bersamanya.

Kami melanjutkan cerita kami, Raven, entah mengapa saat bercerita seolah sudah seperti orang dewasa. Caranya menjelaskan dan tindakannya, dia seolah lebih tua dari ku. Padahal saat ini seharusnya akulah yang mendominasi percakapan, sebab umurku jauh diatasnya. Namun Raven membuat pandanganku berbeda, seolah akulah yang menjadi sosok adiknya.

Sedang asyik berbincang dan bercerita, tiba-tiba ponselku berdering. "Maaf, ustadzah angkat telepon dulu ya, Raven?" Raven mengangguk.

"Halo Ran?" tanyaku setelah mengangkat, ternyata Rani lah yang menelpon ku.

"Kamu dimana Fa? Hari udah hampir gelap nih, kami juga bawa makanan untuk kita,"  nada bicaranya tampak khawatir.

Aku bingung, alasan seperti apa yang harus kuberikan padanya, kalau aku ngomong jika saat ini aku keluar dengan Raven, itu jelas tidak mungkin, sebab nanti dia akan menggodaku lagi.

"Em... aku sedang keluar cari makanan juga, aku akan segera kembali, mungkin satu jam lagi."  

"Baiklah, di tunggu, aku dan Lia sudah tidak sabar,"

Setelah menutup telepon, Raven tampak khawatir kepadaku. "Teman ustadzah?" tanyanya.

Aku mengangguk, "Iya, teman kontrakan ustadzah yang ustadzah bilang waktu itu," di beberapa pesan kami saat dirumah, aku selalu bercerita tentang kedua sahabatku itu kepada Raven.

"Kalau begitu, hari ini sampai disini saja, ustadzah. Hari juga semakin gelap," katanya.

Wajahku memerah, sekali lagi Raven sangat pengertian padaku. Akupun mengangguk, kami segera memberesi beberapa wadah sisa makanan kami, dan pergi ke mobil lagi.

Di perjalanan pulang, obrolan kami terus berlanjut, semakin lama semakin aku merasa nyaman berada disisinya. Aku kadang berpikir, apa teman sekelas Raven tak ada yang tertarik padanya? Padahal Raven sedewasa ini loh.

Meskipun adik-adik kelasnya banyak yang tertarik padanya, namun siswi-siswi seangkatannya seakan tidak tertarik padanya.

Kami berpisah di tempat sebelumnya, aku dan dia juga membuat janji untuk melakukan itu lagi di pertemuan selanjutnya di ruang konseling. Aku sudah merasa tidak sabar untuk itu.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!