Chapter 25 of 53

Bab 25

Terlalu jauh bersama muridku1,235 words~7 min read

Aku meng3r4n9 kuat, tanganku kembali memegang stir kemudi kuat-kuat, napasku berat dan p4haku mengg*pit tangan Raven di dicelah itu, tubuhku terangkat tinggi di tempat duduk kemudi, membawa v*g1n4ku mencapai k*im4k5 berkat kerja keras dan sabar tangan Raven.

Raven melambatkan tempo u5*pannya di v*g1n*ku kemudian, membiarkanku mem*nta*kan semua c41ranku keluar semauku sebelum ia menarik tangannya dari balik j*bah gamisku.

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan kembali diriku setelah mendapatkan k*im4ks untuk pertama kalinya dalam hidupku dibantu seorang lelaki, muridku sendiri. Aku mengumpulkan semua oksigen yang ada didalam mobilku, serta kekuatanku kembali. Beruntung Raven tetap sabar menungguku.

Aku menggigit bibir bawahku kembali ketika merasa cukup untuk mengumpulkan tenaga, segera aku ambil Ubi Raven. Kali ini giliran Raven yang harus pu*s, kataku dalam hati. Apa aku sekarang semakin b1n4l?

Aku mulai meng*c0k kembali ubinya, Raven kini memejamkan matanya. "Ahhhh.... emphhhh... nikmatnya tangan ustadzah..."

Beberapa saat kemudian, Raven kembali membuka matanya, bahkan kembali mej*m4h tub_uhku. Aku biarkan saja itu terjadi, malah ku sengaja menarik jilbab panjangku sedikit agar bagian d4daku menyembul k3lu4r, dan aku tahu dia sangat suka menikmati pemandangan itu. Karena ulahku itu, Ubi Raven menjadi berd*nyut kuat.

"Ummmphhh... Raven suka lihat buah persik ustadzah ya?" tanyaku sedikit nakal. Raven mengangguk mantap, aku menget4tkan lagi sedikit jilbabku, lalu aku juga mengencangkan genggaman tanganku pada Ubi Raven, tempo p*mpanya juga ku percepat hingga air ma_dzinya mulai semakin meleleh di tanganku.

"Uhmmph... ustadzah... saya mau pegang... boleh?" tanya Raven, matanya masih kearah titik yang sama.

Wajahku kembali menghangat setelah sebelumnya aku merasa cukup tenang, sebelum aku mengangguk, aku sedikit mempertimbangkannya. Aku baru saja mendapatkan kl*m4ks dengan sentuhannya, jadi tidak masalah, lagian nanti juga mempercepat prosesnya, jadi aku tak akan merasa capek lama-lama lagi, meskipun aku sendiri enggan untuk mengakhirinya.

Akupun mengangguk perlahan.

Perlahan, Raven mengubah arah duduknya menghadap diriku, tanganya terangkat dengan sedikit bergetar bergerak kearah d*d4ku. Dapat kulihat wajahnya memerah ketika tangannya mencapai tujuan. Dari atas jilbabku, dia men_gelus perlahan b3lah4n b*ah dadaku. Dan aku tahu, walaupun berlapis jilbab, jubah, serta br*ku di dalamnya, wajahnya menunjukkan jika dirinya kini puas karena akhirnya dia bisa menyentuh b*ah d*daku, sorot matanya tak bisa berbohong.

"Emmmhhh... ustadzah... saya memang sudah menyangka jika bu*h d*da ustadzah besar... namun saya tak menyangka akan sebesar ini... umphhh..." suaranya penuh er*n9. Tanganya mer3m4s lembut dari luar, membuatku kembali merasakan nikmat yang sebelumnya, dan kembali m3nd3s4h.

Wajahku kian memerah dan hangat setelah dipuji Raven, entah mengapa, setiap pujiannya selalu kusuka. Dia tak sepenuhnya berbohong, sebab alasan aku menggunakan jilbab lebar ini juga untuk menyembunyikan bentuk t*buhku.

Aku kembali melanjutkan ur*tan pada ubi Raven yang panas itu, kali ini dapat kurasakan r3m4san tanganya ke buah d*daku semakin kasar dan bertenaga, tangan satunya juga kembali mengelus p*h4ku, kadang juga menekannya dengan lembut. Saat dia melakukan itu, ubinya b3rd3nyut dengan kuat sesekali.

Yaampun!!! Dia akan mem*ntahkan lahar getahnya!!!

Aku tak memakai sarung tangan, lalu bagaimana aku harus mencegah cipratan getahnya agar tidak mengenai mobilku? Aku juga tak bisa menggunakan jilbabku, apa kata Lia dan Rani nanti jika melihatku pulang dengan jilbab basah seperti itu sedangkan aku menggunakan mobil?

"Aahhh... ustadzah... saya sudah mau kel*ar... emphhh..." er*ngnya, dia sekarang menyandarkan badanya ke kursinya. Melihat waktu yang tidak memungkinkan, membuatku hilang arah, aku tidak mau jika getah itu berceceran didalam mobilku.

"Usstadzzzaaahh.... ussttaddzzahhh... ahhhhhh...."

Er*ngan Raven semakin kuat karena sebentar lagi akan mencapai tujuannya, dengan itu aku segera membuat keputusan tanpa berpikir panjang, aku segera menurunkan kepalaku, lalu aku meny_umbat ubinya kedalam mulutku, tanganku terus dan semakin cepat m3momp4nya.

"Ahhhhh..... ustadzzaaahhh...."

Disela er*ngan puas Raven, dia tampak terkejut dan k3enakan melihat dan merasakan apa yang aku lakukan saat ini, ubinya menyemprotkan getah yang sangat panas dan hangat didalam mulutku, getah yang asin serta memiliki bau yang cukup kuat. Aku seolah tak bisa berpikir, aku biarkan ubinya mengeluarkan getah sebanyak-banyaknya didalam mulutku.

Setelah kurasa sudah tak ada lagi getah yang tersisa, segera ku keluarkan Ubi itu dari mulutku, bibirku juga kuketatkan ketika ubinya sepenuhnya keluar, takut jika akan ada getah yang tumpah ke bagian dalam mobilku.

Aku menarik kepalaku kembali, ku elap sedikit getah yang meleleh di sudut bibirku, kubuka mulutku sedikit menengadah, menunjukkannya getah itu pada Raven.

"aakkk uua aaa maaa iii?" tanyaku tak jelas. Sebenarnya aku ingin bertanya mau dibuang kemana ini? tapi karena dalam mulutku penuh dengan getah, jadi kata-katanya tidak jelas, serta gerak lidahku saat bertanya seperti itu seakan lidahku bermain-main dengan getahnya.

Raven seakan mengerti, dia beberapa kali melihat ke sekeliling, mencari barang ataupun tempat yang bisa menampung getahnya, lalu dia melihatku lagi.

"emm... ustadzah, bisa telan?" tanyanya sedikit bingung.

Mataku membulat, aku teringat pada video yang kulihat kemarin seorang wanita dalam video tersebut juga meminum getah l*ki-l*kinya dengan rakus, dapat kurasakan juga getah putihnya yang mengendap ini akan meleleh ke bibir, setelahnya ku paksakan untuk menutup bibirku lagi. Sebelum aku menelan sedikit, rasanya aneh sekali, selain asin, ada juga rasa lain yang tak bisa ku jelaskan, ditambah aromanya itu, membuat li*idoku kembali menyeruak.

Kutelan perlahan getah itu dengan sekuat tenaga masuk ke dalam tenggorokanku, memasukkan semuanya kedalam badanku, hingga tak ada lagi sisa getahnya sama sekali didalam mulutku.

Kembali aku menunjukkan kepada Raven, membuka mulutku lebar-lebar yang sudah bersih yang membuat Raven tersenyum nakal.

"Terimakasih, ustadzah," ucapnya tulus.

Aku mengangguk perlahan, mengingat apa yang baru saja terjadi diantara kami. Apakah ini nyata? Apa aku kini menjadi perempuan nakal? batinku. Namun, kini segera aku menghibur diriku sendiri, tak apalah Syffa, lagian kamu juga masih tersegel.

Perlahan, Raven kembali merapikan pakaiannya, memasukkan kembali Ubi jalarnya, akupun demikian, merapikan kembali pakaianku yang tampak berantakan ini.

"Minggu depan, apa kita bisa seperti ini lagi ketika bertemu, ustadzah?" tanyanya.

Aku sedikit malu, "Kita lihat saja nanti," jawabku.

Hujan masih turun, tapi tak sederas sebelumnya ketika kami praktek. Raven tersenyum kearahku dengan senyum yang tulus dan gembira, mungkin dia sudah tidak sabar menunggu minggu depan. Dia memakai kembali tasnya, membuka pintu mobilku sedikit.

"Eh, bukannya masih hujan ya? Tunggu disini dulu Raven," pintaku, nada bicaraku seolah khawatir padanya.

Raven merasa tidak enak, "Em... saya merasa bersalah jika membuat ustadzah telat pulang seperti ini, mungkin ustadzah ada pekerjaan lain yang harus segara dikerjakan," jelasnya. Memang sih, sebenarnya aku juga akan menilai soal ujian kelas 10 nanti, Raven sepenuhnya tidak salah.

"Tak apa ustadzah, saya akan cepat-cepat masuk kerumah. Nanti juga nggak terlalu basah kok, jadi saya bisa segera mengeringkannya." lanjutnya.

"Baiklah, hati-hati ya, licin soalnya," jawabku, takut jika ia terjatuh akibat ceroboh.

"Sekali lagi, terima kasih, ustadzah," katanya. Ia bangkit, membuka mobil lebih lebar dari sebelumnya, segera ia tutup sedikit lebih keras karena dia terburu-buru. Aku menunggunya sampai masuk kedalam rumah, aku ingin memastikan dia baik-baik saja.

Setelah membuka gerbang, ia menyempatkan diri untuk berbalik dan melambaikan tangannya kearahku. Aku tersenyum, tersentuh dengan tindakannya. Menurutku, kami seperti seorang kekasih yang tengah dilanda kasmaran.

Aku tak langsung beranjak setelah Raven sepenuhnya menutup gerbang rumahnya, aku masih dapat merasakan sedikit rasa asin yang samar-samar didalam mulutku, namun menurutku itu nikmat.

Aku merenungkan lagi kejadian barusan, aku melakukannya, melakukan seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya saat pertama kali mencarikan video untuk muridku itu. Aku masih tidak menyangka juga jika ada yang membantuku rasanya akan jauh lebih nikmat ketimbang kulakukan sendiri.

Tanganku tak sengaja memegang cel4h pahaku dari balik rok panjang itu, didalamnya masih sangat jelas kurasakan b*s4hnya, dan aku masih ingat bagaimana Raven cukup ahli dalam membantuku.

Aku menarik napas dalam-dalam, segera aku menyalakan kembali mobilku, menjalankannya menjauh dari Rumah Raven, meninggalkan kawasan perumahan elit itu dengan perasaan puas dan gembira yang tak pernah terkira dalam hidupku.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!