"Sama-sama, ustadzah," jawab Raven. Kami kembali terdiam beberapa saat, hanya suara derasnya hujan lah yang menemani kami.
"Ustadzah..." panggil Raven lagi, kali ini dia tampak gugup, aku sedikit mengerti mengapa dia gugup, sebab barusan juga aku tak sengaja melihat kearahnya yang bagian ba_wahnya sudah menyembul, seolah ingin keluar. Jangan salah faham ya, aku melihat dirinya karena menurutku Raven sangat tampan ketika diam dengan mata tajamnya itu, seolah dia adalah aktor laki-laki dari drama korea yang sering ku tonton bersama Lia dan Rani.
"Iya?" jawabku.
"Ustadzah... mau bantu saya tidak?" tanyanya, membuatku sedikit takut, sebab tadi malam dia baru saja melakukannya, akupun begitu.
Aku menggigit bibir bawahku, wajahku menghangat mendengar permintaan Raven, seolah aku juga merasakan hal yang sama. "Bukannya malam kemarin sudah?"
"Maaf, ustadzah... saya sudah menahannya dari tadi, tapi... wajah cantik ustadzah membangunkannya..." jawabnya.
"Kamu bawa sarung tangan tidak?" balasku, nyatanya aku tak sepenuhnya menolak.
"Ehmm... tidak ustadzah," jawabnya sedikit kesal.
Aku tak tahu mengapa aku selalu bersikap lembut padanya, walaupun dia me_5um, tetapi cara dia yang lembut itu membuatku mau untuk menolongnya.
Aku menarik napas dalam-dalam dan memberanikan diri. "Hemm... kalau begitu, yasudah gapapa... ayo keluarkan," kataku perlahan, sebenarnya aku pun ragu dengan apa yang kukatakan, padahal aku bisa saja menggunakan jilbabku seperti waktu itu, tapi seolah aku tak kepikiran sampai ke sana.
Raven tersenyum kearahku sebelum dia membuka 1k4t pinggangnya, lalu b4t*ng putih kemerah-merahan yang sudah k3r4s ditarik keluar, mendongak keatas dengan sempurna.
"Ubi kamu ini... kalau tidak k3ras saat bertemu ustadzah mati penasaran sepertinya," kataku, sedikit menggodanya.
Tanganku perlahan menyentuh b4t*ngnya, Tanpa terhalang apapun! Kulit telapak tangan bertemu langsung dengan kulit Ubi Raven yang hangat dan lembut meski ubinya m*nger*s seperti itu. Perlahan kugenggam, karena suhu Ubi itu, suhu t*buhku juga entah mengapa ikut naik karenanya.
"Uhmmm.... ustadzah..." dia mulai m3nge4*g perlahan. Bunyi hujan lebat turun jatuh kebumi serta ditambah kaca mobilku yang berwarna hitam, membuat aksi m3s*m kami tak dapat diketahui. Awalnya aku mengur_ut keatas dan kebawah, tanpa sadar kini tanganku satunya mulai bergerak kecelah p*haku.
Dan aku seolah tak memedulikan Raven yang tengah melihatku.
"Uhmm... ustadzah... ustadzah mau saya... tolong juga?" tanyanya, mataku langsung membulat mendengarnya.
"Maksud kamu... kamu mau menolong ustadzah... ehm.. on*ni?" tanyaku memastikan. Raven mengangguk, aku kembali menggigit bibir bawahku sambil terus mengayunkannya.
Sebagian diriku ingin melakukan itu, mau merasakan bagaimana rasanya sentuhan laki-laki pada v491n*ku. Namun, aku juga masih berusaha memasang batas untuk ini.
"Bagaimana... ustadzah?" tanya Raven lagi, sepertinya ia dapat melihat diriku yang juga ingin merasakannya.
"Ehm... baiklah, tapi sebentar saja ya? Kamu jangan lihat... kamu lihat keluar..." pintaku. Segera aku menarik tanganku kembali, dan Raven juga segera memalingkan pandangannya, dia menuruti arahanku.
Aku teringat ketika malam itu, ketika aku pertama kali menyentuh bagianku ini, tidak terlalu terasa sebab ada kain yang menghalanginya. Maka... kalau Raven mau membantuku, aku harus melepaskan k*in pengh*lang yang mengh*langiku dan Raven juga.
Tanganku menarik gamis ku ke atas sedikit, cukup untuk aku memasukkan tanganku kedalam, lalu perlahan aku menarik rok panjangku serta c3l4na dalamku ku turunkan sampai ke lutut, kini v*g1naku yang sudah b4s*h itu mulai berdenyut dan itu hanya terhalangi jubah gamis longgar ku saja.
"Sudah," kataku perlahan, Raven memutar kembali pandangannya kearahku, awalnya wajah Raven tampak seperti biasanya, namun saat ia melihat rokok serta c3l*na d*lamku, dia tersenyum m35um kearahku.
"Ustadzah..." panggilnya. Aku sedikit tersenyum, tanganya perlahan memegang p4h*ku, dia meraba sedikit demi sedikit sebelum tanganya m4$uk kedalam ce*ah pa*aku.
"Ahhhh.... Raven..." aku m3n93r*ng perlahan, merasakan tangan Raven diatas *ag1n*ku walaupun masih tertutupi jubahku. Aku menggigit bibir bawahku sebelum tanganku kembali mencapai Ubi Raven.
(Jujur, aku disini ingin menulis tanpa istilah, tapi peraturan platform ini tak memungkinkan!)
Aku mulai m3ngur*tnya kembali, keatas dan kebawah.
Tangan Raven mulai m3ng93sek-93s3k v*91naku dengan lembut, dapat kurasakan juga beberapa kali Raven mengusap R4mbu7- r*mbu7 halus di bawah perutku, bermain dicelah bibir, sengaja kub*ka sedikit p4h*ku untuk memberi ruang kepada tangannya. Tub*hku juga merespon itu segera dengan m3l3nt*n9 sedikit keatas kurus kemudi. Nikm*tnya sentuhan tangan Raven membuatku kurang fokus dalam m3ngu*ut b4t*ngnya.
"ummphh... ustadzah..." Raven m3ng3|uh keenakan sambil dapat kurasakan jarinya yang bermain-main di v491naku. Karena nikmat yang tiada tara tersebut, tanganku yang satunya reflek memegang stir kemudi erat-erat, menahannya sekuat mungkin agar aku tak terlihat b1n4l didepan muridku sendiri.
Mataku merem melek dibuatnya, aku juga bisa melihat Raven yang kini melihatku dengan tatapan m35umnya, memperhatikan tub*hku tengah menikmati sy*hw4t nikmat sentuhan yang ia berikan, membuatku sedikit malu.
"Emmpphh... Raven liatin apa...?" tanyaku, tanganku kembali m3m0mp* p*n1snya, dan menikmati permainan yang ia berikan.
"Sa... saya sedang melihat bad*n ustadzah... wajah ustadzah juga cantik ketika memerah seperti itu... pasti ba*an ustadzah s3k51 didalam baju gamis ini," jawabnya. Wajahku terasa panas, aku menyiapkan jawaban dari pernyataan Raven barusan, namun ia malah menyentuh biji k3l3nt1tku.
"Ahhhh.... Raaaveeen..."
Aku spontan meng3r4n9 nikmat, dan Raven menyadarinya, dia kemudian bermain cukup lama dititik itu, menikmati pemandangan diriku yang ter*ngk4t-*ngkat kenikmatan, membuatku lupa untuk m3m0mpa punya Raven juga, napasku juga kian b3r*t dan semakin mengikuti us*p4n jemari Raven.
"Ra... Raven... ahhh... kamu pernah melakukan ini sebelumnya?" tanyaku.
Raven menggeleng, "Belum pernah ustadzah... heemmhhh... ini yang pertama... kalinya," jawabnya. Aku merasa senang mendengarnya, berarti Raven belum pernah pacaran? Pikirku. Kurasakan jemarinya semakin cepat menari-nari di bawah, aku berusaha untuk kembali m3ng0*0k b4tan9nya, namun aku tak bisa menahan fokus ku akibat nikmatnya rasa itu. Bunyi b3c3k juga semakin terdengar akibat dibawah sudah teramat b4s*h, bahkan lelehan itu dapat terasa menetes ke bawah, menuju p*nt4tku, membuat jubah bagian belakangku kini b*sah dibuatnya.
Tiba-tiba, Raven memegang tanganku yang berada di b*t4n9nya, lalu ia meng*r*tnya sendiri menggunakan tanganku.
"Ummmppph... maaf, Raven... aku... aku tak bisa menahan... aahh... nikmat sekali kamu m3ma1nkannya... ahhh... pantas saja kamu mau... ustadzah yang melakukannya untukmu... ah...." Ucapku tak bisa mengontrol diri. Aku biarkan Raven mengambil alih kendali tanganku.
Tanganku yang satunya, yang sebelumnya memegang stir kemudi kini ku tarik, ku masukkan ke bawah jilbab panjangku, lalu aku r3m*s dan ku usap p*t1n9 su_suku dengan asal. Membiarkan Raven menonton aksi b1n*lku. Aku tahu bahwa Raven semakin gemas melihat gerakan tanganku dari balik jilbab levarku, karena jemarinya semakin cepat m3ng_usap-us*p bibir kedu4ku itu.
Aku dapat mendengar napas Raven semakin b3rat, serta dapat kulihat juga matanya mulai meliar m3n*tap badanku lebih dekat dari biasanya. Napasku kian terlepas penuh n4f5u, diiringi era*g*n manja yang keluar dari mulutku, suara itu tenggelam diantara hentakan air hujan yang jatuh ke atap mobilku.
"Aaaahhhhh..... Raaaaavveeeeenn... Raaaveenn... ustadzah rasa ustadzah mau.... ahhhh ahhhhh ahhhhh...." aku semakin menggila merasakan diriku semakin dekat dengan puncak gunung k3n1km*tan. Raven mempercepat usapan jarinya, dapat aku ras*kan jemarinya menyentuh dan bermain di setiap titik 53ns1t1f yang membuat tubuhku m3l3nt1n9 kian k3s3d*pan.
"AHHHHH..... RAAAAAAVVVEEEENNNN! ustadzah mau dapat! EMMMMMPHHHH!!!"
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!