Ujian semester pertama telah berlangsung selama empat hari. Empat hari pula aku dan Raven asyik berbalas pesan, terutama saat pulang sekolah. Kami membicarakan hal-hal yang lebih int*m, tentu saja, tapi juga banyak hal sepele yang terasa tak penting. Anehnya, di sanalah aku merasa nyaman. Di balik layar ponsel, di antara emoji dan kata-kata yang terkadang salah ketik, tumbuh sebuah koneksi yang tak terduga. Dan sahabat-sahabatku? Mereka kuanggap mendukungku sepenuhnya. Mereka bilang, kebutuhan batin itu penting.
Yang paling kusuka, ketika Raven meminta izin padaku untuk melakukan itu, dan aku selalu membantunya mencarikan video yang cocok dengan suasana hatiku. Tentunya aku juga tak mengizinkannya setiap ia minta, selama 4 hari ini, aku baru tiga kali mengizinkannya.
Bahkan aku juga ikut melakukannya dengan sadar, dikamarku, dikala Lia dan Rani belum pulang. Setiap kali aku melakukannya, entah mengapa aku merasakan ingin ada sesuatu yang lebih, sejak pertama kali aku *na_ni sendiri dan mengetahui nikmatnya. Namun aku selalu menahan diri sebaik mungkin agar tidak menyentuh diriku sendiri di hadapan Raven, dikala membantunya nanti.
Hari ini aku terlalu sibuk dengan persiapan penilaian hasil ujian, karena tiga hari lagi ujian sudah selesai. Dari pagi tadi aku bersama ustadzah Lastri dan ustadzah Indah disibukkan untuk menumpuk soal-soal ujian yang akan dinilai minggu depan.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00, namun aku menganggapnya hari yang panjang. Cahaya matahari siang yang redup menerobos celah-celah awan mendung, menciptakan suasana siang yang sedikit suram. Kelelahan terasa mencengkeram tubuhku setelah seharian bergelut dengan tumpukan kertas ujian. Ustadzah Lastri dan Ustadzah Indah telah pergi ke parkiran lebih dulu, bersiap untuk pulang, meninggalkan aku sendirian di ruang guru yang semakin sunyi. Aku merapikan barang-barangku, menaruh tumpukan kertas ujian yang harus ku cek nanti ke dalam tas yang terasa berat di pundak. Langkah kakiku terasa berat saat menuju parkiran. Udara terasa gerah dan lembap, menandakan hujan akan segera turun.
Di parkiran, mobilku menunggu. Aku meletakkan tas di jok belakang, suara berat tas itu seolah menggemakan kelelahanku. Sebelum masuk ke dalam mobil, sebuah buih hujan jatuh mengenai pipiku. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan menghidupkan AC. Udara dingin AC langsung terasa menyegarkan. Aku melepaskan cadarku, merasakan hembusan angin yang sedikit lebih sejuk. Mobil-mobil lain milik para guru mulai meninggalkan area sekolah, menandai berakhirnya hari yang panjang. Sekolah tampak sepi, meninggalkan kesunyian yang seakan menunggu momen ini.
Saat mobilku mulai melaju keluar dari gerbang sekolah, pandanganku menangkap sesosok tubuh yang familiar di trotoar depan sekolah. Dari kejauhan, aku mengenali postur tubuh Raven. Dia berjalan seorang diri, tampak sedikit lesu.
Kenapa Raven pulang lebih akhir daripada siswa-siswi yang lain? Ah aku lupa, besok kan jadwal piketnya, pikirku.
Entah kenapa, sebuah dorongan tiba-tiba muncul dalam hatiku. Aku menghentikan mobil di tepi jalan, menurunkan kaca jendela. Hujan mulai turun rintik-rintik.
"Raven! Ayo, aku antar," kataku, suaraku sedikit lebih lantang dari biasanya karena suara rintik hujan mulai terdengar. Raven tampak terkejut, menoleh ke arah mobil, matanya membulat seakan tak percaya saat ini dia melihat wajahku sepenuhnya.
Ia tersenyum, senyum yang selalu berhasil membuatku merasa tenang. Dengan langkah cepat, ia mendekati mobil, tas gendongnya dipegang erat. Syukurlah dia mau, biasanya ketika kutawari tumpangan dia selalu menolak.
Ia masuk ke dalam mobil, menempatkan tasnya di pangkuan. "Terima kasih... Ustadzah," bisiknya, suaranya terdengar sedikit gugup, namun wajahnya tak se gugup biasanya, dia lebih tenang. Hujan semakin deras, tetapi di dalam mobil, suasana terasa hangat dan nyaman.
Aku mengangguk, "Kenapa kamu pulang telat sekali hari ini? Bukankah seharusnya tadi jam 10 sudah pulang?" tanyaku, mencoba membuka obrolan.
"Itu karena saya tadi menghadiri kumpulan klub seni sebelum membersihkan kelas, ustadzah," jawabnya polos, aku mengangguk paham. Hening sejenak, hanya suara hujan yang menari di atas atap mobil. Lalu, Raven tiba-tiba berkata, "Ustadzah... sebenarnya, saya sudah menduga Ustadzah cantik. Dari cara Ustadzah berbicara saat pertama kali masuk ke kelas dua belas saja aku sudah bisa menduganya,"
Pipiku terasa memanas. Aku berusaha tetap fokus menyetir, menahan senyum yang ingin merekah. "Jangan bercanda, Raven. Ustadzah melepas cadar ustadzah karena ustadzah sebelumnya merasa gerah," kataku, suaraku sedikit gemetar, namun tetap berusaha terdengar tegas. Rasa gugup dan malu bercampur aduk. Aku mengalihkan pandangan ke jalanan, berusaha mengendalikan debaran jabtungku.
"Rumahmu di mana, Raven?" tanyaku, suaraku masih sedikit bergetar. Aku perlu mengalihkan pembicaraan, dan sekaligus memastikan aku mengantarnya dengan aman.
Raven memberikan petunjuk arah. Di sepanjang perjalanan, obrolan kami mengalir begitu saja. Raven tidak lagi gugup seperti biasanya. Dia bercerita tentang kegiatan klub seni, tentang hobinya menulis, menggambar, dan tentang mimpinya menjadi arsitektur terkemuka. Aku mendengarkan dengan saksama, sesekali menanggapi dan mengajukan pertanyaan. Suaranya yang tenang dan ceria, campur dengan suara hujan di luar, menciptakan suasana yang sangat menenangkan. Aku merasa nyaman, nyaman sekali. Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar menikmati percakapan dengan Raven tanpa beban dan rasa bersalah. Seperti yang kuinginkan selama ini. Aku bahkan tersenyum, terkadang tertawa kecil mendengar celotehannya. Rasa suka yang semula terpendam, kini semakin terasa nyata.
Mobilku kemudian memasuki kawasan perumahan Lestari, kawasan perumahan elit yang membentang di sepanjang jalan. Aku ingat, Rendi, calan Lia juga tinggal disini. Nanti ketika aku pulang aku akan coba tanya ke dia.
"Di depan lagi, ustadzah. Paling ujung," katanya. Aku mengangguk dan memelankan laju mobilku. Aku juga sengaja melihat-lihat, sekedar mengagumi rumah-rumah megah yang berjajar rapi bak istana itu.
"Kamu beruntung sekali tinggal di kawasan ini, Raven." kataku tidak sadar.
Raven menggeleng, "Tidak, ustadzah. Itu hanya karena orang tuaku yang membeli rumah disini, saya sendiri sebenarnya tidak suka, sebab saya disini jadi tidak memiliki teman." katanya sedikit memelas.
Aku mengangguk setuju. Ada perbedaan yang signifikan antara kehidupan di sini dengan di lingkungan tempat tinggalku saat ini. Di sini, masyarakatnya lebih individualistis; mereka cenderung menjaga jarak dan tidak mau terlibat dalam urusan yang tidak berkaitan langsung dengan kepentingan mereka.
Mobiliu berhenti di depan rumah Raven yang terlihat megah itu, Rumah yang besar, bertingkat tiga, serta pagar beton yang mengelilingi rumah itu. Aku sengaja memarkirkan mobilku diluar, karena pagar rumah Raven yang besar itu tidak terbuka.
"Sampai sini ya, Raven?" tanyaku. Raven mengangguk.
"Saya boleh menunggu disini sampai hujannya mereda nggak, ustadzah? Karena dirumah tidak ada orang, jadi kita tak bisa membuka pagar dan masuk kedalam." ucapnya.
Aku mengangguk setuju, mengingat cerita Raven sebelumnya tentang keluarganya: ayahnya seorang direktur di perusahaan besar, ibunya sekretaris di kantor ayahnya, dan kakaknya juga memiliki posisi penting di perusahaan milik teman ayahnya.
Karena lingkungan perumahannya sangat aman dan selalu dijaga petugas keamanan, keluarga Raven memilih untuk tidak mempekerjakan satpam. Mereka juga tidak menggunakan asisten rumah tangga, lebih memilih mengajarkan anak-anaknya untuk mandiri, termasuk memasak sendiri.
Jujur saja, aku merasa kagum dengan branding keluarga Raven, itu bisa membuat anak-anaknya menjadi pribadi yang lebih mandiri ketika sudah dewasa nanti.
Nyatanya, hujan semakin deras dan lebat saat ini. Suasana menjadi hening sesaat ketika kami berdua seakan kehabisan kata-kata.
"Ustadzah," ucap Raven kemudian, mungkin ia tak ingin kami diam dan membuat suasana sunyi. "Saya suka sekali saat melihat ustadzah tersenyum, sangat cantik." ucapnya. Aku tak tahu itu murni memujiku atau ada maksud lain dibalik kata-katanya. Yang jelas, hatiku terasa berbunga-bunga, aku juga tersenyum hangat mendengar ujaran Raven itu.
"Terimakasih, Raven. Ustadzah merasa tersanjung mendengar pujian Raven," jawabku, wajahku perlahan memerah, seolah AC mobilku kini tak berfungsi.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!