Chapter 22 of 53

Bab 22

Terlalu jauh bersama muridku1,748 words~9 min read

Rumah terasa sunyi. Jam menunjukkan waktu yang sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi lebih. Rani masih kuliah, Lia masih bekerja di kantornya. Hanya aku sendiri di rumah. Aku bersyukur Ustadzah Ani hanya ingin membicarakan soal ujian tadi. Ternyata, beliau juga ingin sedikit mengobrol denganku. Aku lega, sebab kekhawatiranku tentang kemungkinan lain ternyata tidak terjadi. Aku menghela napas panjang, merasa beban di pundakku sedikit berkurang.

Aku merebahkan tubuhku di kasur, mencoba untuk rileks setelah sebelumya bergelut dengan ujian dan berbagai macam emosi. Namun, pikiran tentang Raven masih menghantuiku. Aku masih memikirkan pertanyaan dan ekspresi wajahnya saat aku harus buru-buru pergi karena dipanggil Ustadzah Ani. Aku ingin sekali memberikan penjelasan dan dukungan yang dia butuhkan.

Ponselku bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Aku meraihnya dan melihat pesan WhatsApp dari Raven. Hatiku berdebar. Aku membuka pesan itu dengan hati-hati.

'Asalamualaikum Ustadzah Syifa,'

'Saya harap Ustadzah baik-baik saja. Maaf tadi saya belum sempat mendengar jawaban dari pertanyaan saya. Rasanya sulit untuk menunggu sampai setelah ujian. Saya merasa bingung dan cemas.'

'Kalau Ustadzah ada waktu, saya ingin bicarakan ini lebih lanjut. Semoga Ustadzah bisa membalas pesanku ini.'

'Terima kasih, Ustadzah.'

Aku membaca pesan Raven berulang kali, mencoba memahami maksudnya. Perasaanku campur aduk. Aku merasa bersalah karena belum bisa menjawab pertanyaannya tadi, tapi di sisi lain, aku juga merasa senang karena dia menghubungiku. Aku harus membalas pesannya segera.

'Oh iya, maaf ya, Raven. Ustadzah sedikit lupa tidak menghubungimu akibat sebelumnya terlalu fokus pada materi ujian.'

'Seperti yang ustadzah bilang tadi, kamu bisa melakukannya sesekali jika tidak bisa menahannya,'  Balasku.

'Tapi ustadzah, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak melakukan itu selain bersama ustadzah,'

Aku terdiam, meskipun aku sedikit risih, namun aku juga merasa senang membacanya. Berarti sudah ada sedikit kemajuan dalam progresku? Pikirku. Aku merasa tersentuh karena Raven membalas seperti itu.

'Tak apa, ustadzah yang mengijinkannya, minggu depan, ustadzah berjanji akan membantumu,' balasku dengan sadar 100%. Aku tahu jika itu salah, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur menikmati semuanya, akan sangat munafik jika aku berkata tidak suka dengan hal tersebut jika aku sendiri menikmatinya.

Cukup lama Raven tidak membalas pesanku meski centangnya sudah berwarna biru. Mungkin dia sedang berpikir dua kali untuk melakukannya tanpa diriku.

Hingga kemudian, dia membalas. 'Ustadzah bantu saya mencari video yang bagus ya? Saya akan merasa lebih semangat melakukannya dengan video yang ustadzah pilih,' balasnya disertai link yang menuju ke laman web mes_um yang sebelumnya.

Hatiku bergetar, aku kembali teringat dimana malam itu, aku melakukan on_an_i dengan melihat video yang ada di situs ini. Diama aku mendapatkan rasa pu45 dan l3ga yang belum pernah kurasakan.

'Sebentar ya, ustadzah cari dulu,'  balasku.

Segera aku menekan link itu, di kolom pencaharian, aku mengetikkan kata kunci 'Hubungan gu_ru perempuan bersama mur_id laki-laki', yang segera menampilkan ratusan video mes_um yang ditawarkan padaku.

Di tengah aku menscroll-scroll layar hpku, aku juga berpikir, apa yang kulakukan ini benar? Apa aku sudah terlalu jauh bersama muridku? Namun, seolah pertanyaan itu dijawab oleh setan, aku malah memakluminya. Ini adalah perjuangan untuk membantu muridmu yang kecanduan, Syffa. Balas batinku sendiri.

Cukup lama aku mencari-cari video yang cocok, hingga aku menemukan video lo_ve st*ry Jepang yang setelah ku tonton beberapa saat, itu menceritakan kisah asmara seorang guru bersama muridnya, badanku juga sedikit mem_an*s dibuatnya. Aku langsung suka, dan langsung ku share kepada Raven.

'Itu bagus, Raven. Pemeran wanitanya juga cantik. Semoga kamu suka,'  wajahku memerah saat mengetikkan kalimat itu.

'Terimakasih, ustadzah. Tapi menurut saya, meski saya tak pernah melihatnya... ustadzah lebih cantik darinya.'  balasnya.

Aku jelas salah tingkah brutal, memang benar Raven tak pernah melihat wajahku karena selama aku mengajar di MA Al-Aziz ini selalu menutup wajahku menggunakan cadar. Apa aku perlu memperlihatkan wajahku padanya? Batinku. Ingin sekali aku melihat ekspresi Raven ketika pertama kali melihat wajahku. Entah dia malu, tersipu, atau yang lain, yang paling membuatku tersentuh, dia belum pernah melihat wajahku saja bisa sebaik ini padaku, berarti dia melihat wanita dari sikapnya?

Segera kubalas, 'Terimakasih, Raven. Pujian Raven membuat ustadzah senang.' 

'Ustadzah juga mau melakukannya?' tanyanya.

Aku tampak berpikir sesaat, badanku masih mema_nas akibat menontonnya sesaat barusan. Apa aku juga ingin melakukannya? Mencapai ke_pu_*san seperti sebelumnya?

'Sepertinya tidak deh, ustadzah takut nanti kec*nduan seperti kamu juga,' 

'Baik, ustadzah. Terimakasih sudah memilihkan saya video.' Jawabnya. Ada perasaan bangga tersendiri kala aku membacanya.

Nyatanya, setelahnya aku juga menonton sampai selesai video itu meski tidak sambil on_an_i. Video yang sangat penuh dengan emosi didalamnya, diamana kisah yang disajikan sangat mirip dengan kisahku, hanya saja mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.

Yang biasanya aku skip ketika menonton film bersama Rani dan Lia saat masuk di 4de9an m3s_um, kini aku menontonnya dengan seksama, merasakan emosi kedua aktor yang seakan saling tersalurkan dan melengkapi satu sama lain, hingga sebuah pertanyaan yang tanpa sadar muncul dipikiranku. Apa aku nanti bisa se_in_t1m ini bersama Raven? Pikiran itu seolah lolos tak tersaring begitu saja dari pikiranku.

Aku meletakkan ponselku di meja setelah selesai, mencoba untuk menenangkan diri. Meskipun hari sudah siang, pikiran tentang Raven dan perasaanku sendiri masih menghantuiku. Aku harus berusaha untuk fokus dan tenang dikala badanku mem*nas seperti ini, mungkin dengan bersih-bersih rumah aku bisa sedikit tenang?segera aku melakukannya. tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaanku sendiri.

Setelah menontonnya, yang sebelumnya dorongan untuk m3ng_urut ubi sudah terlanjur kulakukan, kini lebih dalam lagi, aku malah merasa ingin meng_his*p ubi seperti adegan yang ku lihat sebelumnya. Aku harus menemukan cara untuk mengatasi semua ini. Aku masih terbayang wajah wanita itu yang seakan n*f_su_nya tersalurkan ketika memainkan ubi didalam mulutnya.

Namun, jika aku melakukannya, apa itu tidak terlalu jauh? Pikirku. Tidak, aku tidak bisa, aku harus tetap menjaga batasan itu agar tidak terjadi saat aku membantu Raven.

*

Mentari mulai tenggelam di ufuk barat, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu yang indah. Rumah mulai terasa hangat dengan kehadiran Lia dan Rani yang baru saja pulang. Aku menunggu mereka di ruang tengah, sebuah perasaan gelisah memenuhi dadaku. Ada sesuatu yang ingin kubahas dengan mereka, sesuatu yang telah lama membebani pikiranku.

Aku melihat Lia dan Rani masuk rumah, wajah mereka tampak lelah setelah seharian beraktivitas. Lia meletakkan tas kerjanya di sofa, sedangkan Rani meletakkan tas kuliahnya di meja dekat pintu. Mereka bergantian segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian dengan baju santai yang nyaman. Wajah mereka terlihat lebih segar, tetapi kelelahan masih sedikit terlihat di mata mereka. Mereka duduk di sofa di dekatku, menatapku dengan penuh tanya.

"Ada apa, Syifa?" tanya Lia, suaranya terdengar lembut. Ia memperhatikan ekspresi wajahku yang tampak serius.

Rani mengangguk, menambahkan, "Iya, ada yang ingin kamu bicarakan?" Suaranya juga terdengar lembut, menunjukkan rasa khawatirnya.

Aku menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan diri sebelum memulai pembicaraan. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting," kataku, suaraku terdengar sedikit gemetar. Aku ragu sejenak, kemudian melanjutkan, "Tentang salah satu muridku..."

Lia dan Rani saling berpandangan, menunjukkan rasa ingin tahu mereka. "Muridmu?" tanya Lia, suaranya menunjukkan rasa khawatir.

"Ada murid lagi yang datang ke konseling setelah beberapa waktu lalu kasus Shinta selesai?" tanya Rani.

Aku menghela napas, kemudian mengangguk dan berkata, "Dia sedang mengalami masalah yang cukup berat. Sudah sejak minggu kemarin dia datang padaku, awalnya aku tak ingin membicarakan ini kepada orang lain demi privasinya, namun kini... aku merasa perlu membicarakannya dengan kalian. Aku merasa sedikit bingung dan tidak tahu harus bagaimana."

Aku sengaja tidak menyebutkan namaku, dan juga tidak menjelaskan detail masalahnya secara gamblang. Aku hanya ingin meminta saran dan dukungan dari Lia dan Rani, tanpa harus mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Aku takut mereka akan salah paham atau menghakimi.

"Ceritakan saja, Syifa," kata Rani, suaranya menunjukkan dukungan. "Kami akan mendengarkanmu."

Lia mengangguk setuju, "Iya, ceritakan semuanya. Mungkin kami bisa membantumu."

Aku memulai, "Ada seorang murid perempuan datang padaku jum'at lalu, dia memiliki masalah dengan pacarnya. Masalah yang... agak rumit." aku berhenti untuk menarik napas, Lia dan Rani tampak seksama mendengarkanku. "Hubungan mereka awalnya baik-baik saja, namun semakin kesini... hubungan mereka jauh lebih in_ti_m dan kesannya terlalu ja_uh. Dia datang padaku karena masalah itu, hanya meminta pendapatku."

"Seharusnya kamu tahu dong Fa, jika mereka itu terlalu jauh," jawab Rani.

"Aku awalnya ngomong begitu, tapi masalahnya, dia berkata kalau sama-sama mau melakukannya, dan semakin kesini semakin mereka jauh terjer_u_mus." jelasku. "Aku tak bisa dong hanya fokus pada konsekuensi agama dan juga sosial." tambahku.

"Aku mengerti, Syifa," kata Lia, suaranya lembut dan penuh pengertian. "Memang sulit untuk hanya berfokus pada aspek agama dan sosial, terutama ketika menghadapi situasi yang kompleks seperti ini. Mereka berdua sama-sama dewasa dan bertanggung jawab atas pilihan mereka. Namun, kita juga perlu mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka. Mungkin kita bisa membantunya melihat berbagai perspektif, bukan hanya dari sudut pandang agama dan sosial saja, tetapi juga dari sudut pandang kesehatan dan kesejahteraan mereka."

Rani mengangguk setuju, "Iya, Syifa. Kamu harus sabar membimbingnya. Jangan langsung menghakimi atau menyalahkannya. Cobalah untuk memahami perasaannya dan memberikan dukungan yang dia butuhkan. Mungkin dia merasa bingung dan terjebak dalam situasi ini. Berikan dia ruang untuk berpikir dan mengambil keputusan yang tepat."

Rani melanjutkan, "Dan... jika kamu tidak bisa sepenuhnya mengubah perilaku mereka, setidaknya berikan edukasi tentang pentingnya menggunakan pengaman. Ini penting untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan. Kita bisa belajar dari negara-negara maju yang sudah lebih terbuka membahas hal ini. Mereka tidak hanya menekankan aspek moral, tetapi juga aspek kesehatan dan keselamatan."

"Benar, di negara ini, edukasi soal permasalahan seperti ini sangat kurang. Makannya kita tak jarang melihat berita berseliweran di sana sini tentang anak muda jaman sekarang yang hamil diluar nikah." tambah Lia.

Aku mengangguk, secara tidak langsung aku malah merasa tenang karena mereka juga seakan membenarkan tindakanku selama ini.

"Baiklah, aku mengerti. Berarti aku tak harus menilai semua masalah menggunakan pandangan agama kan?" kataku, sedikit lebih tenang.

"Benar, kami tahu ilmu agamamu melebihi kami, tapi dengan posisimu sebagai konselor, kamu harus bisa menakar pendapatmu, harus bisa melihat dari sisi lain." jawab Lia.

"Kepuasan batin dalam hidup itu juga penting, Syffa. Tanpa itu, orang tidak akan bisa hidup damai selamanya." tambah Rani, yang diangguki oleh Lia. Mereka berdua lebih senior ketimbang aku jika membahas soal percintaan, maka aku akan mempercayai mereka, seperti mereka mempercayaiku.

Aku tersenyum, "Terimakasih, Lia, Rani." kataku, aku segera memeluk mereka berdua, seolah beban berat yang aku sunggi sepenuhnya rontok dari kepalaku.

"Sama-sama, udah aku mau makan dulu," ucap Rani dengan muka jenakanya.

"Aku sudah masak untuk kalian, ayok makan sama-sama." kataku.

"Nggak layak aku dari tadi mencium bau semur," ucap Lia.

Kami kemudian makan bersama sore itu. Kini aku tak perlu merasa takut lagi seperti sebelumnya, sebab ada dua sahabatku yang selalu membantu menyelesaikan permasalahan sejak kami dipertemukan semasa kuliah dulu.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!