Hari Senin tiba, hari ujian akhir semester pertama. Aku sudah berada di kantor bersama guru-guru yang lain, bersiap untuk memberikan soal-soal ujian. Pikiran masih dipenuhi kebimbangan soal ujian kelas 10 dan 11. Soal-soal yang menurutku terlalu sulit, mengancam peluang para siswaku untuk nilai bagus. Aku menghela napas panjang, mencoba meredakan kecemasanku.
Aku sibuk memeriksa beberapa lembar jawaban ujian, mencoba fokus pada pekerjaanku. Karena kefokusanku ini, bayangan Raven seolah menghilang untuk saat ini. Perasaan campur aduk antara rindu, kebingungan, dan rasa bersalah yang biasanya menghantuiku benar-benar tergantikan oleh pikiran-pikiran soal ujian.
Ustadzah-ustadzah yang lain yang juga masuk hari ini sepertinya tak jauh berbeda denganku, mereka fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.
Tiba-tiba, Pak Bashor, guru konseling dan juga guru PPKN tersebut, menghampiriku. Wajahnya serius. "Asalamualaikum, ustadzah Syffa," sapanya, segeraku jawab salam tersebut.
"Apa anda merasa kesulitan setelah menjadi guru konseling?" tanyanya, pertanyaan itu kembali membuatku teringat pada Raven.
Aku mencoba memasang ekspresi mengingat sesuatu, "Sepertinya tidak ada, pak. Alhamdulillah semuanya lancar," jawabku, sedikit berbohong meski tak sepenuhnya. Hanya awal-awal aku menangani kasus Raven saja yang menurutku sulit, lama-lama aku merasa biasa saja, seolah membenarkan tindakanku yang salah tersebut.
"Alhamdulilah... mohon maaf, ustadzah, maksud saya menemui ustadzah saat ini sebab ada pemberitahuan penting soal konseling selama ujian."
Aku mendongak, menunggu penjelasannya. "Karena jadwal ujian padat, kegiatan konseling dihentikan sementara. Siswa-siswa akan pulang lebih cepat, sekitar pukul 10.00 pagi," jelas pak Bashor.
Saat Pak Bashor menjelaskan tentang itu, aku merasa seolah ada beban berat yang tiba-tiba jatuh di pundakku. "Kenapa, Pak?" tanyaku, suaraku sedikit bergetar. "Kenapa kegiatan konseling harus dihentikan saat ujian? Ini sangat penting bagi siswa-siswi."
meskipun fokus pada ujian, perasaan terhadap Raven masih ada di bawah permukaan, dan pengumuman tersebut memicu munculnya kembali perasaan itu dengan lebih kuat.
Rasa frustrasi dan kekhawatiran meluap dalam diriku. Kegiatan konseling adalah waktu di mana aku bisa membantu Raven, atau siswa-siswi lain saat menghadapi tekanan ujian, memberikan mereka dukungan emosional yang mereka butuhkan. Tanpa itu, aku khawatir mereka akan merasa sendirian dan tertekan. Namun, jauh didalam lubuk hatiku yang paling dalam tak sepenuhnya berkata seperti itu, aku malah merasa sedih sebab tak bisa bertemu Raven dan berduaan lagi dengannya, melakukan itu lagi.
Pak Bashor menatapku dengan penuh pengertian. "Ustadzah, saya mengerti perasaan anda. Namun, kita harus memprioritaskan ujian. Waktu mereka sangat terbatas, dan kita tidak bisa mengganggu jadwal ujian yang sudah ditetapkan."
Aku mengangguk, meski hatiku masih berat. "Baiklah pak, saya siap, dan akan memberitahu anak didik saya yang berkonsultasi pada saya," jawabku, berusaha mengekspresikan kekhawatiranku.
"Terimakasih untuk pengertiannya, ustadzah, saya pamit dulu, asalamualaikum." ucapnya.
Aku mengangguk sambil menjawab salamnya, penjelasan pak Bashor barusan tak sepenuhnya salah. Sebab, biasanya, para siswa pulang pukul 13.00 hingga 14.00. Perubahan ini memengaruhi jadwalku. Aku harus menyesuaikan rencana mengajar.
Setelah Pak Bashor pergi kembali ke tempat duduknya, aku kembali menatap lembaran-lembaran soal ujian dengan tatapan yang dalam, merasakan gelombang emosi yang campur aduk. Rasa cemas dan tidak berdaya menyelimuti pikiranku. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Raven lagi jika kesempatan itu diambil dariku? Bagaimana aku bisa memberikan solusi padanya?
Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Saat itu, aku tahu aku harus berfokus pada ujian dan memberikan yang terbaik untuk siswa-siswaku. Namun, perasaan bersalah dan kekhawatiran tentang Raven terus menghantuiku.
Hingga ku pastikan, aku akan memberitahukan ini padanya saat istirahat nanti. Aku berharap, dia juga bisa menerimanya.
Kembali aku memeriksa pekerjaan. Aku berusaha fokus, mencoba mengesampingkan kekhawatiranku tentang Raven dan perasaanku sendiri. Hingga beberapa saat kemudian bell masuk pun berbunyi, tanda ujian akan segera tiba. Aku segera merapikan soal-soal yang akan ku bawa ke kelas 10, perasaanku mengenai soal-soal itu masih sama seperti sebelumnya.
Ajaibnya, pelajaran hari itu berjalan lancar. Setelah aku berkeliling melihat jawaban yang mereka tulis rata-rata memang mereka benar, ditambah suasana kelas yang kondusif. Hal itu membuatku merasa tenang.
*
Saat istirahat tiba, aku bergegas menuju ruang guru untuk menyimpan barang-barangku. Di koridor, aku bertemu Shinta, salah satu siswi kelas 12 yang ramah yang sebelumnya berkonsultasi padaku. Sepertinya hubungannya dengan Rian baik-baik saja, sebab dia tampak ceria seperti biasanya.
"Assalamu'alaikum, Shinta," sapaku.
"Waalaikumsalam, Ustadzah Syifa," jawabnya sambil tersenyum. "Ada yang bisa saya bantu, Ustadzah?"
Aku tersenyum, "Iya, aku sedang mencari Raven. Apakah kamu tahu Raven ada di mana?"
Shinta mengerutkan keningnya sejenak, berpikir. "Raven? Sepertinya dia masih di kelas, Ustadzah. Dia belum keluar sejak istirahat dimulai."
Aku mengangguk, "Oh ya? Terimakasih, Shinta. Aku akan kesana."
"Iya, Ustadzah," jawab Shinta. "Raven memang sukanya seperti itu, Ustadzah. Dia kadang-kadang suka menyendiri di kelas gitu. Mungkin dia sedang belajar atau membaca buku."
Aku tersenyum tipis, mengerti sifat Raven yang cenderung pendiam dan suka menyendiri. "Terimakasih informasinya, Shinta. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam, Ustadzah," balas Shinta.
Aku melanjutkan langkahku menuju kelas 12, hati berdebar-debar. Aku penasaran apa yang sedang Raven lakukan di kelas. Aku berharap, pertemuan singkat ini bisa sedikit meredakan kekhawatiranku.
Aku membuka pintu kelas 12 perlahan. Pandanganku langsung tertuju pada Raven yang duduk di bangku paling belakang, tenang membaca buku. Wajahnya terlihat tenang, terlihat lesung pipi terukir saat ia tersenyum, menunjukkan mungkin ia sedang membaca cerita lucu. Entah mengapa, melihat wajahnya saja membuat dadaku terasa hangat, ada getaran aneh yang menenangkan.
Aku menghampirinya dengan langkah pelan. "Assalamu'alaikum, Raven," sapaku lembut.
"Waalaikumsalam, Ustadzah Syifa..." jawabnya, menutup buku yang dibacanya dan menatapku. Senyum tipis terkembang di bibirnya meski wajahnya terlihat sedikit canggung.
"Ada apa, Ustadzah?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit gugup.
Aku tersenyum, "Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu." Aku duduk di bangku kosong di sampingnya, merasa sedikit gugup juga. "Tadi Pak Bashor memberitahu kalau kegiatan konseling dihentikan sementara selama ujian."
Wajah Raven berubah, tampak sedikit kecewa. "Kenapa, Ustadzah?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit lebih rendah. "Kalau begitu.. kita tidak akan bisa bertemu lagi... minggu ini?"
Aku mengangguk, merasa sedikit iba melihat ekspresinya. "Iya, waktu sangat terbatas. Semua fokus pada ujian."
"Tapi, Ustadzahâ¦" Raven menggantung kalimatnya, tampak ragu-ragu. "Kalau saya... kangen, bagaimana?"
Deg! Kalimat itu membuatku terkejut. Wajahku terasa memanas, merona. Dia juga merasakan hal yang sama? batinku. Jujur saja, saat perjalanan kemari, aku juga berpikir begitu. Aku berusaha untuk tetap tenang.
"Ravenâ¦" aku memulai, suaraku sedikit gemetar. "Kita harus sabar. Waktu ujian ini tidak lama kok. Kita bisa bertemu lagi setelah ujian selesai." jawabanku ini seolah tak menunjukkan bila aku risih dengan pernyataan Raven barusan.
Raven tampak sedikit memasang ekspresi marah, tapi aku bisa melihat ada keraguan di matanya. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.
"Kamu tenang saja," kataku, mencoba menenangkannya. "Kalau kamu merasa tidak bisa menahannya, kamu bisa sesekali⦠melakukannya."
Raven menatapku dalam-dalam, lalu berkata, "Tapi, Ustadzah⦠kalau tidak bersama ustadzah, rasanya tidak enak."
Aku bingung, karena aku juga ingin melakukannya lagi, membantu muridku menenangkan dirinya dari kecanduannya tersebut.
Aku tahu jika ini salah, aku tahu jika ini tidak benar dan melanggar norma agama. Tapi... jujur saja, aku juga sudah terlalu jauh melakukannya bersama Raven, dan meski begitu, aku juga selalu menjaga batasanku.
"Raven, sabar ya. Hanya satu minggu, satu minggu saja. Setelah itu, kita bisa bertemu di konseling lagi." kataku.
"Tapi kan ustadzah... saya sudah berusaha menahannya sampai pertemuan kita minggu ini, kalau begitu kan... saya jadi sia-sia melakukannya..." katanya.
Saat kami terbenam dalam percakapan, tiba-tiba pintu kelas terbuka dan Aldo, salah satu siswa yang cukup aktif, muncul dengan napas terengah-engah. "Ustadzah Syifa!" serunya, menarik perhatian kami berdua. "Ustadzah Ani mencarimu. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan."
Hatiku bergetar mendengar namanya. Ustadzah Ani? Apa dia ingin membicarakan soal ujian waktu itu? Aku ingat saat ia sedikit bimbang dengan salah satu soal di ujiannya. "Oh, terima kasih, Aldo," jawabku, berusaha tetap tenang meski dalam hati aku merasa sedikit cemas, takut jika Aldo berpikir yang tidak-tidak terhadap kami. "Aku akan segera ke sana."
Aku menoleh ke Raven, yang tampak sedikit kecewa. Wajahnya menunjukkan ekspresi campur aduk, ada rasa tidak puas dan kekhawatiran. "Ustadzah, tapiâ¦," katanya, suaranya terdengar ragu. "Saya... belum sempat mendengar jawaban dari pertanyaan saya."
Rasa bersalah menyelimuti hatiku. Aku ingin menjawabnya, ingin memberikan kepastian dan dukungan yang dia butuhkan. Namun, waktu tidak berpihak padaku. "Raven, maafkan aku. Kita akan membahas ini lagi setelah ujian, ya? Atau nanti coba kita bicarakan di WA?" kataku, berusaha menenangkan.
Dia mengangguk, tetapi matanya menunjukkan kekecewaan. "Baiklah, Ustadzah," jawabnya pelan, seolah menerima kenyataan meski hatinya masih berat.
Aku merasa tidak enak meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, tetapi aku tahu aku harus pergi. "Jaga dirimu, Raven. Kita akan bertemu lagi segera," ujarku sambil tersenyum, berharap senyumku bisa sedikit menghiburnya. Tak lupa aku juga mengucapkan salam padanya sebelum aku melangkah pergi.
Dengan langkah cepat, aku meninggalkan kelas, tetapi di dalam hatiku, aku tahu perbincangan kami belum selesai. Rasa khawatir dan rindu terhadap Raven terus menghantuiku saat aku berjalan menuju kantor untuk bertemu Ustadzah Ani.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!