Chapter 20 of 53

Bab 20

Terlalu jauh bersama muridku1,024 words~6 min read

Cahaya senja masih menyelinap di antara celah tirai, menerangi kamar kecilku yang nyaman. Aroma lavender dari pengharum ruangan kesukaanku menenangkan, tapi tidur masih terasa jauh. Seprai katun terasa lembut di kulit, tapi tubuhku masih terasa gelisah. Aku terus menatap langit-langit kamar, Suara Raven di telfon dua hari yang lalu masih bergema di telingaku, mengingatkanku pada senyumnya yang gugup..

Dua hari ini juga aku merasakan perasaan yang aneh, perasaan yang sulit kujelaskan. Aku merasa terlalu kepikiran tentang Raven, entah itu wajahnya ketika gugup, tersenyum, ataupun ketika takut. Seolah aku merasa bahagia, namun juga tersiksa karena itu.

Bahkan ketika aku sendirian seperti ini, aku mulai terbayang-bayang tentang Raven lagi, selalu seperti ini. Seperti orang yang linglung, namun disertai senyum-senyum sendiri.

Kemarin pagi, aku mencoba membaca buku bersama Lia, mencoba menghilangkan pikiran rinduku itu. Udara segar dan kicauan burung di pagi hari seharusnya menenangkan, tapi aku malah terus memikirkan percakapan telepon dengan Raven kemarin. Kalimat-kalimat di buku seperti kabur, tergantikan oleh senyumnya.

Sorenya, aku pergi ke pasar bersama Rani. Ramai dan semerbaknya aroma rempah-rempah, seharusnya mengalihkan pikiranku, tapi kegelisahanku tak berkurang. Aku merasa seperti sedang dikejar sesuatu, sesuatu yang tak bisa kudefinisikan.

Subuh pagi tadi juga, setelah selesai menjalankan shalat subuh, aku berdoa panjang. Aku memohon petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi semua ini. Tapi doaku terasa hampa, seakan dipenuhi keraguan dan kebimbangan. Aku merasa bersalah, takut, dan rindu pada Raven.

Aku menghela napas panjang. Dua hari libur tak cukup untuk meredakan perasaanku. Justru menjadi semakin kuat.

Aku terkejut. Jam didinding sudah menunjukkan pukul 23.00. Sudah waktunya untukku tidur. Ku posisikan badanku senyaman mungkin, mungkin dengan begitu, aku bisa segera menutup mataku dan segera tertidur. Namun, ketika aku sudah berusaha menutup kelopak mataku, Ponselku bergetar, tanda ada pesan yang masuk.

Aku segera mengambilnya, mungkin saja yang mengirim ku pesan malam-malam begini adalah Raven. Namun, saat hampir meraih ponselku, perasaan lain menimpaku, aku takut jika benar Raven, dan isi pesannya malah sebuah link seperti malam terakhir yang ia kirimkan. Meskipun aku tak sepenuhnya tidak suka, namun perasaan yang ku rasakan saat ini tak ingin membahas atau melihat hal-hal seperti itu.

Ah tak apalah, yang penting itu Raven, pikirku.

'Assalamu'alaikum, Ustadzah. Masih bangun?.'

Senyum tipis mengembang di bibirku, hatiku seakan terlepas dari belenggu rindu. Sebab, yang mengirim pesan saat ini adalah Raven. Dengan senyum yang merekah, aku membalasnya. 'Waalaikumsalam, Raven. Masih belum tidur nih. Ada apa, ya?'

'Bukan apa-apa sih, ustadzah. Saya hanya merasa aneh saja selama 2 hari ini," balasnya.

'Maksudnya?'

'Sudah dua malam ini saya kesulitan untuk tidur, ustadzah.'

Kini aku teringat, mungkin saja itu adalah efek samping Raven, mungkin dia kamis kemarin jujur padaku kalau dia menahan dirinya untuk tidak P-M_O. Karena waktu pertama kali kita bertemu Raven juga memberitahuku jika ia melakukannya ketika akan tidur juga. Setelah beberapa hari lalu aku mencobanya sendiri, aku bisa langsung tertidur pulas setelahnya. Inilah efek dari kecanduan, untung aku tidak.

'Yang sabar ya, Raven. Ini adalah awal sulit yang harus kamu lalui untuk terlepas dari kecanduanmu itu, jangan menonton atau melakukannya lagi, biar permasalahanmu tidak bertambah parah.' balasku kemudian.

'Bukan masalah itu, ustadzah. Kalau itu saya sudah benar-benar tidak melakukannya lagi, sebab saya bisa menahannya sampai hari pertemuan bersama ustadzah,' balasnya dengan emote tersenyum di akhir pesannya.

Aku mengerutkan kening serta membalasnya. 'Kalau bukan masalah itu, lalu apa?' jujur, aku juga penasaran.

'Mungkin karena ustadzah adalah orang yang baik yang selalu membantu saya, tiga hari ini saya merasa..." balasnya menggantung, seolah merasa bimbang untuk mengetikkan maksudnya.

'Merasa apa?' balasku, tak sabar untuk membaca pesannya.

'Entahlah ustadzah, mungkin saya terlalu kepikiran ustadzah,'

Deg!

Jadi Raven juga merasakan perasaan yang sama seperti yang kurasakan dua hari ini? Batinku. Jantungku bergetar tak karuan, jariku pun demikian, tak tahu harus membalas apa. Yang jelas, aku mengurungkan niatku untuk membalasnya jika aku saat ini juga merasakan hal yang sama seperti dirinya.

Kulihat jam sudah hampir setengah dua belas malam, aku yang bingung mau balas apa, segera kualihkan pembicaraan. 'Sekarang sudah menghubungi ustadzah, semoga kamu bisa tidur dengan nyenyak ya, ingat untuk belajar yang rajin, besok adalah hari ujian akhir semester pertama.' balasku, jujur aku juga tak tahu harus balas bagaimana. Apa aku tak apa jika memiliki perasaan dengan Raven? Murid didik ku sendiri?

'Sudah kok ustadzah, saya sudah belajar untuk pelajaran besok," balasnya.

Aku masih terpaku, merasakan gejolak dalam hatiku, fokusku kesana kemari, tak tahu akan membahas apalagi. Disatu sisi sudah waktunya bagiku untuk tidur, disisi lain aku merasa tak mahu menyudahi percakapan pesan ini.

'Ustadzah ada akun toktik nggak?' tanyanya, mungkin dia mengerti kalau aku sedang bingung. Aku segera membalasnya, dan menuliskan nama akun toktikku. Dia ingin memfollow dan membagikan video-video lucu padaku, seenggaknya itulah alasannya.

Nyatanya, percakapan pesan kami terus berlanjut. Mulai dari basa-basi hingga saling kirim video lucu di toktik, aku selalu tertawa kala melihat video-video yang ia kirimkan. Menurutku, selera humor Raven sangat mirip denganku. Serta juga membahas beberapa materi pelajaran besok. Hal itu membuat hatiku merasa nyaman. Sebab, jika yang mengirimkan pesan saat ini bukan orang yang kukenal, aku mungkin sudah mengakhirinya dari tadi, apalagi lawan jenis. Beruntunglah dia Raven, orang yang kukenal, dan entah mengapa aku menjadi semakin tertarik padanya.

Hingga aku sadar, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 00:00 sudah cukup lama kami berbalas pesan. Karena besok hari yang penting, aku segera mengakhiri momen ini, meski berat sekali rasanya.

'Sudah terlalu larut malam, Raven. Sudah dulu ya, besok juga ujian. Nanti kalau telat malah kena hukuman disekolah,'

'Iya ustadzah. Terimakasih ya waktunya, semoga ustadzah selalu sehat, agar kita bisa bertemu lagi jumat depan,' balasnya.

Perhatiannya terasa tulus dan natural, menghangatkan hatiku. Segera aku membalasnya dengan bahagia sebab merasa diperhatikan, namun ketikanku tak terkontrol. 'Iya sama-sama, ustadzah juga tak sabar menunggu jumat depan, asalamualaikum.' Aku tak sadar, mungkin saja Raven tak sabar untuk melakukannya lagi, aku tak berpikir sampai sejauh itu.

Kumatikan data internet di handphoneku segera setelah Raven membalas salamku, aku bersiap untuk tidur.

Aku tersenyum. Perhatiannya yang sederhana, memberikan ketenangan yang tak pernah kuduga. Sebelum tidur, aku sempatkan untuk mendoakannya. Aku meletakkan ponsel, merasakan kedamaian yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Tidur akhirnya datang, membawa ketenangan. Tapi, di balik ketenangan itu, pertanyaan kecil mulai muncul: apakah ini awal dari sesuatu yang lebih dari sekadar perhatian guru kepada murid?

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!