Chapter 2 of 53

Bab 2

Terlalu jauh bersama muridku1,183 words~6 min read

"Pulang, Fa?" sapa Rani dari dapur, suaranya riang. "Kari ayamnya sudah siap. Kamu mau makan sekarang, atau nanti?"

"Sekarang saja, Ran," jawabku, meletakkan tas di sofa. "Hari ini agak melelahkan."

"Wajar, hari pertama mengajar," timpal Lia, melepas headphone-nya. "Gimana, Fa? Siswa-siswinya gimana?"

Aku menceritakan pengalaman hari itu di sekolah. Kekhawatiranku, tentang Bu Fatimah yang memperingatkan tentang siswa nakal, dan tatapan tajam siswa pendiam yang membuatku risih. Lia dan Rani mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali berkomentar atau memberi saran.

"Tatapannya kayak gimana, Fa?" tanya Rani, penasaran.

Aku mencoba menggambarkannya; tajam, intens, sedikit menakutkan. Kurasakan diperhatikan, tapi juga diintimidasi. Lia mengangguk mengerti. Ia pernah mengalaminya saat sekolah.

"Mungkin dia cuma pendiam, Fa," kata Lia, menenangkanku. "Jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja mengajar."

"Iya, Fa," tambah Rani. "Lagian, katamu tadi sudah berdoa sebelum masuk kelas. Insya Allah, semuanya akan baik-baik saja."

"Iya, alhamdulillah kebanyakan siswa merespon kedatangan ku dengan positif."

Kami makan malam bersama, bercerita dan tertawa. Suasana hangat dan akrab. Kami membahas banyak hal, dari pengalaman mengajar hingga rencana liburan. Suasana itu membuatku jauh lebih tenang. Aku beruntung punya teman-teman seperti Lia dan Rani.

Setelah makan malam, kami berkumpul di ruang tengah. Lia membaca bukunya, ia adalah karyawan di perusahaan besar, sedangkan Rani membantuku mengecek pekerjaan. Aku memeriksa tugas siswa dan membetulkan kesalahan. Rasanya lega pekerjaan itu selesai.

"Besok aku mau ke pasar," kata Rani. "Ada beberapa bahan masakan yang habis."

"Aku ikut, Ran," kata Lia. "Aku juga perlu beli beberapa buku."

"Aku ikut juga," kataku, menutup buku. "Sudah lama aku tidak ke pasar."

Lia dan Rani saling pandang, terkejut. "Bukankah besok kamu harus mengajar?" tanya Lia.

Aku tersenyum. "Tenang saja, jadwal mengajar tidak full week kok. Ustadzah Hilmi, kepala sekolah, sudah kasih tahu jadwalnya. Aku mengajar hanya hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Jadi, besok aku libur."

Lia dan Rani lega. "Oh, gitu. Syukurlah," kata Lia. "Kirain kamu harus mengajar full week. Kalau aku besok masuk shift sore, jadi aku bisa ikut."

"Iya, aku juga lega," kata Rani. "Yuk, besok kita ke pasar ramai-ramai!"

Kami sepakat pergi ke pasar bersama besok pagi. Lalu, kami melanjutkan obrolan ringan, berbagi cerita dan pengalaman. Suasana hangat dan nyaman menyelimuti kami.

Sebelum tidur, aku duduk di balkon, memandangi langit malam bertaburan bintang. Angin malam menerpa wajahku, membuatku tenang. Kurenungkan hari pertama mengajar. Meskipun ada hal yang membuatku risih, aku bersyukur semuanya berjalan lancar. Aku beruntung punya teman-teman seperti Lia dan Rani yang selalu mendukungku. Kuharap, hari-hari selanjutnya akan lebih baik lagi. Kuberdoa agar diberi kekuatan dan kesabaran untuk menghadapi tantangan sebagai guru, dan menjadi guru yang baik bagi murid-muridku.

Keesokan harinya, kami bertiga pergi ke pasar. Kami berbelanja bahan makanan dan buku. Di pasar, kami bercanda dan tertawa, menikmati suasana ramai dan semarak. Setelah berbelanja, kami kembali ke kontrakan. Kami memasak bersama, bercerita dan tertawa.

Setelah makan siang, percakapan beralih ke hal yang lebih pribadi. Rani memulai, "Ngomong-ngomong, kamu udah punya pacar belum, Fa?"

Aku terkejut. "Pacar? Belum, kok. Aku lagi fokus mengajar sekarang."

Lia mengangguk, memahami. "Aku juga sih, dulu waktu kuliah, nggak terlalu mikirin pacar. Sekarang udah kerja, baru ketemu sama Rendi. Sebentar lagi mau nikah, lho!" Ia tersenyum malu-malu.

Rani juga ikut nimbrung. "Aku juga, ketemu Dimas waktu ikut komunitas fotografi. Dia juga suka fotografi, jadi banyak kesamaan. Udah pacaran lama juga, rencana mau nikah tahun depan."

Aku tersenyum mendengar cerita teman-temanku. "Kalian berdua beruntung ya, bisa ketemu pasangan yang sesuai."

"Emang kamu nggak tertarik cari pacar, Fa?" tanya Rani. "Kamu cantik, lho. Coba buka cadar, pasti banyak yang naksir."

Lia mengangguk setuju. "Iya, Fa. Sayang banget kalau kamu nggak pernah pacaran. Kamu harus coba buka cadar, biar keliatan cantiknya."

Aku menggeleng. "Bukannya nggak tertarik, tapi aku merasa belum saatnya. Aku masih ingin fokus pada karier dan menimba ilmu. Pacaran itu butuh waktu dan energi, dan aku merasa belum bisa membagi waktuku secara efektif. Sejak kuliah dulu aku memang seperti ini, lebih tertarik fokus pada pendidikan dan karir. Dan soal cadar, aku nyaman begini. Serta satu lagi, pacaran itu banyak mudharatnya, mendekatkan diri pada zina."

"Tapi, Fa... kami berdua udah punya pasangan, kamu kapan?" tanya Rani.

Aku tersenyum, memandang teman-temanku. "Aku nggak akan menikah kalau belum ada yang melamarku. Kalau ada yang serius dan cocok, aku akan terima. Tapi untuk sekarang, aku masih ingin fokus pada karirku."

Lia dan Rani saling pandang, mengerti keputusanku. Meskipun mereka berharap aku segera menemukan pasangan, mereka tetap mendukung pilihanku. Persahabatan kami yang kuat membuat kami selalu saling mendukung, terlepas dari pilihan hidup masing-masing. Kehidupan kami di kontrakan terasa sederhana namun penuh kebahagiaan. Kami saling mendukung dan berbagi satu sama lain. Persahabatan kami terasa sangat kuat dan berharga. Aku merasa sangat beruntung memiliki teman-teman seperti mereka. Aku merasa bahwa kontrakan ini lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah rumah, tempat di mana aku merasa aman, nyaman, dan dicintai.

Malam telah tiba. Cahaya senja telah lama berganti menjadi gelap gulita. Rumah kontrakan tua itu kini sunyi, hanya diselingi suara jangkrik yang bercicit di kejauhan. Di kamarku yang sederhana, aku mulai mempersiapkan diri untuk tidur. Kulepas jilbab dan cadarku dengan lembut, menyingkirkan kain-kain itu dengan hati-hati. Rambutku yang panjang dan hitam terurai, mengalir lembut di bahuku. Kuganti pakaianku dengan baju tidur yang nyaman, sebuah kaus katun bermotif bunga-bunga kecil dan celana panjang bahan katun yang lembut.

Setelah merapikan tempat tidur, aku duduk di tepi ranjang. Kutatap langit-langit kamarku, sebuah plafon putih yang sederhana tanpa hiasan. Pandanganku kosong, pikiranku melayang. Kuingat percakapan dengan Lia dan Rani siang tadi. Pertanyaan-pertanyaan mereka tentang pacar dan pernikahan masih bergema di telingaku. Sebenarnya, tak dapat dipungkiri, aku juga ingin merasakan memiliki pasangan. Aku juga pernah merasakan jatuh cinta, tapi selalu berusaha untuk mengendalikan perasaanku. Aku selalu meyakinkan diriku bahwa fokus pada karir dan pendidikan adalah hal yang lebih penting.

Namun, di balik penolakan yang tegas siang tadi, tersimpan keraguan dan kerinduan. Aku bukannya tidak tertarik dengan cinta dan pernikahan. Hanya saja, aku merasa terbebani oleh berbagai hal. Ajaran agama yang begitu kuat kupegang, larangan pacaran yang selalu ditekankan orang tuaku, dan tuntutan agar aku selalu berprestasi dalam pendidikan dan karierku, membuatku merasa terkekang. Aku takut jika aku memiliki pasangan, fokusku akan terpecah dan aku tidak akan mampu mencapai semua yang telah kucita-citakan.

Aku juga merasa bahwa diriku belum cukup siap untuk menikah. Aku masih ingin mengejar cita-citaku, mencapai kesuksesan dalam karierku, dan membantu keluargaku. Aku takut jika aku menikah terlalu dini, aku akan kehilangan kesempatan untuk mencapai semua itu. Aku juga takut jika aku salah memilih pasangan, aku akan menyesal di kemudian hari.

Pikiran-pikiran itu berputar-putar di kepalaku, membuatku merasa gelisah. Kutarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Kuberdoa kepada Allah SWT, memohon agar diberi petunjuk dan kekuatan untuk menghadapi semua tantangan dalam hidupku. Kumemohon agar diberi kesabaran dan keteguhan hati untuk tetap fokus pada tujuanku. Aku juga memohon agar diberi pasangan yang tepat pada waktunya nanti, pasangan yang bisa mendukung dan mencintaiku apa adanya.

Setelah berdoa, aku merasa sedikit lebih tenang. Kurekbahkan tubuhku di ranjang, menutup mataku perlahan. Angin malam yang sepoi-sepoi menerpa wajahku, membuatku merasa nyaman dan damai. Kubiarkan pikiranku melayang, menikmati ketenangan malam. Perlahan-lahan, kelopak mataku semakin berat, dan aku pun terlelap dalam tidurku. Tidurku nyenyak, tanpa mimpi, hanya diiringi suara jangkrik yang bercicit di kejauhan.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!