Chapter 19 of 53

Bab 19

Terlalu jauh bersama muridku1,182 words~6 min read

Mobilku terparkir rapi di tempat parkir halaman sekolah yang masih sepi. Dapat kulihat dari tempatku berdiri saat ini, pintu kantor telah terbuka lebar, menandakan bu Siti sudah berada disana. Sekolah masih sunyi senyap, belum ada tanda-tanda kehidupan selain diriku. Setelah memarkirkan mobil, aku merasakan dorongan untuk sedikit menggerakkan tubuh. Mungkin sedikit olahraga pagi akan membuatku lebih fit.

Aku berjalan santai, melewati beberapa ruang kelas yang masih gelap gulita. Suasana tenang ini memberikan ketenangan tersendiri. Aku tersenyum, karena hari ini aku akan bertemu Raven lagi. Senyumku bukan hanya karena aku merasa bahagia, tetapi juga karena rasa lega. Aku telah memaafkan diriku sendiri dan merasa lebih damai.

Aku berhenti di depan salah satu ruang konseling. Ruangan yang biasa ku gunakan untuk bertemu dengan Raven. Kedua pintu ruangan konseling itu masih tertutup rapat. Aku tak sabar menunggu saat istirahat tiba, saat aku akan bertemu Raven lagi.

Aku melanjutkan langkahku menuju kantor. Seperti dugaanku, Bu Siti sudah ada di sana. Aku meminta bantuannya untuk membuatkan teh hangat. Setelahnya kami terlibat obrolan santai seperti hari-hari biasa saat kami bertemu di ruangan ini, sedikit demi sedikit guru dan murid mulai berdatangan.

Aku menolak diriku untuk bangun dan berjalan keluar dari kantor, ingin mencari Raven. Jantungku berdebar-debar saat mataku melihat ke arah gerbang utama, mengamati setiap murid yang datang. Rasanya, saat ini aku perlu sekali melihat wajah muridku itu meski hanya sesaat. Akan tetapi, Raven tak kunjung terlihat. Rasa penasaran mulai menggelitikku. Apa Raven sudah masuk ke kelasnya tadi? Pikirku.

Beberapa saat kemudian, bell masuk sudah berbunyi ketika waktu menunjukkan pukul 7:00. Aku tak ingin kalut dengan rasa penasaranku, aku segera masuk ke kantor kembali untuk mengambil peralatan mengajarku. Beruntung hari ini jadwal pertama yang harus ku ajar berada di kelas 12, jadi aku bisa memastikan sendiri rasa penasaranku.

"Assalamu'alaikum," sapaku saat masuk kedalam kelas itu, dan langsung dijawab serempak para murid dengan gembira ucapan salamku itu.

Aku segera membuka buku materi, dan mulai mengajar seperti hari biasa, tapi hatiku tak tenang. Pandanganku tak sengaja tertuju ke bangku paling pojok didalam kelas. Kursi Raven kosong. Rasa terkejut menusukku. Raven tidak ada di kelasnya?

Ketidakhadiran Raven membuatku gelisah. Aku mencoba fokus mengajar, memberikan soal-soal agar siswa sibuk mengerjakan. Sambil itu, aku membuka buku absensi. Nama Raven Mahendra tertera pada nomor 27 di sana. Aku mengerutkan kening. Nama belakang "Mahendra" terdengar familiar, tapi aku tak bisa mengingatnya karena pikiranku terlalu fokus dengan nilai absensi Raven.

Setelah dengan cermat ku simak kolom kotak yang berjajar di sebelah nama Raven, kulihat selama ini nilainya bagus, tak ada absen A disana.

Pikiran tentang Raven yang hari ini tidak masuk terus menghantuiku. Apakah dia marah padaku karena aku tidak membalas pesan terakhirnya semalam? Pikiran itu membuatku kehilangan fokus. Aku terus-menerus melirik ke arah kursi kosong di pojok belakang kelas. Sempat juga aku bertanya kepada beberapa siswa ketika sedang mengecek beberapa jawaban mereka, tapi mereka hanya menggeleng dan menjawab tidak tahu.

Aku berusaha keras untuk tetap tenang dan melanjutkan pelajaran. Tapi, bayangan Raven yang tak hadir di kelas terus menghantui pikiran dan membuatku sulit berkonsentrasi.

Aduh... kenapa tidak masuk sih?! Hari ini kan pertemuan kita, pikirku. Aku kemudian menarik napasku pelan-pelan beberapa kali, mencoba menenangkan diriku agar bisa berpikir lebih jernih.

Setelah merasa cukup tenang, benar saja. Aku teringat jika di dalam aplikasi chat online hpku ada nomor Raven, kenapa aku tak menghubunginya saja?

*

Bell istirahat berbunyi beberapa saat yang lalu. Aku bergegas menuju ruang konseling. Di kantor tadi, aku sudah mencoba mengirim pesan kepada Raven, tapi pesan itu hanya mendapat dua centang tanpa berwarna biru, tanda pesan telah terkirim, tetapi belum dibaca. Aku memutuskan untuk meneleponnya. Aku lebih memilih ruang konseling karena di sana lebih sepi dan aku bisa menelepon dengan tenang tanpa khawatir suara percakapan kami terdengar oleh guru atau ustazah lain.

Aku duduk sendirian di ruang konseling yang sunyi. Di luar, suara riuh siswa-siswi yang sedang istirahat terdengar samar-samar. Aku meraih handphoneku, jari-jariku sedikit gemetar saat menekan nomor yang semalam mengirim ku pesan sebuah link, nomor Raven. Detak jantungku semakin cepat. Aku berharap Raven mengangkat teleponku. Aku ingin tahu alasan mengapa dia tidak masuk sekolah hari ini dan mengapa dia tidak membalas pesanku. Kegelisahan yang kurasakan sejak tadi pagi semakin menjadi-jadi.

Drrrt... Drrrt... Drrrt...

"Angkat dong... Raven..." gumamku gelisah tak karuan.

Beberapa saat kemudian, telepon terangkat. "Assalamu'alaikum, Ustazah. Ada apa?" Suara laki-laki yang lembut dan ramah terdengar di seberang sana. Hatiku berbunga-bunga, rasanya ingin meloncat kegirangan, tapi aku menahannya. Aku berusaha mengubah nada bicaraku menjadi sedikit lebih tegas. "Waalaikumsalam. Kenapa kamu tidak masuk sekolah hari ini?" tanyaku.

"Maaf, Ustazah," jawab Raven. "Saya sebenarnya tadi sudah bersiap-siap, tapi Kakak saya meminta saya untuk menemaninya. Dia akan menikah beberapa bulan lagi, jadi hari ini saya sibuk membantunya membeli seserahan." jelasnya sopan dari balik telepon.

Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. Jadi urusan keluarga?

"Kenapa kamu tak membuat surat tadi?" tanyaku kemudian.

"Maaf ustadzah, saya tidak sempat lagi, dikawasan tempat tinggal saya hanya saya yang sekolah di MA Al-Aziz, jadi saya juga bingung menitipkannya pada siapa." jelasnya, cukup logis.

Aku menghela napas sejenak, "Baiklah, tapi lain kali jangan bolos lagi, ya. Jangan sampai mengganggu pelajaranmu. Ustadzah kira kamu sakit tadi,"

Terdengar tawa kecil dari seberang sana. "Kenapa, Ustazah? Kok tampak khawatir dengan saya?"

Pertanyaan itu membuatku salah tingkah. Rasanya aku seperti sedang menginterogasi dia, namun akulah yang malah merasa terpojok. "Eh, e... kamu... kamu kan ingat hari ini adalah hari pertemuan kita, dan kamu tidak masuk. Padahal ustadzah sudah menyiapkan solusi untuk permasalahanmu loh..." kataku beralasan sedikit gugup, padahal aku ingin bertemu dan melakukan tindakan kotor seperti sebelum-sebelumya, entah mengapa, aku sudah mulai berani dan tak takut lagi dengan konsekuensi agama. Yang penting tahu batasannya saja, pikirku.

"Ustazah kangen sama saya?" tanya Raven dengan entengnya, dan entah mengapa, aku sedikit tersentak dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang tak sepenuhnya salah.

Hatiku berdebar kencang. Aku tak tahu harus menjawab apa, wajahku kian merah merona, aku membenarkan posisi dudukku. "Eng... enggak, seperti yang ustadzah bilang tadi saja... Hari ini jadwal pertemuan kita, dan kamu tidak masuk."

"Enggak papa, Ustazah. Masih ada hari esok, masih ada pertemuan minggu depan. Ustadzah tenang saja, saya akan berusaha untuk tidak melakukan P_M-O seminggu kedepan, sampai pertemuan kita," terang Raven, perkataan terakhirnya ia kecilkan, mungkin dia tak mau kakaknya mendengar itu.

Jantungku berdebar mendengarnya, mulutku berbicara sendiri, "Be... beneran Janji ya...?" tanyaku, aku tidak sadar jika nada bicaraku seperti wanita sedang bir_ahi.

"Janji," jawabnya.

Aku menutup telepon. Aku menarik napas dalam-dalam dan bersandar pada kursi. Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku merasa begitu perhatian pada Raven? Muridku sendiri! Pikir ku, aku tak tahu alasannya.

Sejenak aku berpikir, apakah tindakanku ini benar? Apa aku suka pada Raven? Ah tidak, mungkin aku begini karena ini kewajibanku sebagai ustadzahnya, bantahku.

Mendengar Raven barusan yang tidak gugup seperti biasanya saat kami bertemu membuat hatiku berdebar. Itu tak seperti biasanya, rasanya saat ini aku bisa membayangkan bagaimana wajah Raven tersenyum didepanku sambil ngomong lancar seperti itu. Wajahku menghangat, ingin rasanya suatu hari nanti bisa ngobrol lancar bersama Raven seperti barusan.

Dengan perasaan gembira, aku bangkit dari dudukku, berjalan kembali menuju kantor untuk bergabung bersama guru-guru yang lain. Untunglah Raven baik-baik saja, hatiku merasa lebih tenang untuk saat ini.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!