Chapter 18 of 53

Bab 18

Terlalu jauh bersama muridku1,278 words~7 min read

Ketika kupencet tombol play pada video tersebut, langsung memperlihatkan bagaimana wan_ita tersebut tengah mengg_es_ek-ges_ek kue apemnya yang berwarna kuning bersih tanpa adanya srundeng di atasnya, tanpa sehelai ka_in pun yang tersangkut di bad-anya. Memperlihatkan tampilan vulg_ar kulit putih wan_ita itu.

tubuh si wanita itu mele_nt_ing ke_enakan, untungnya aku segera memakai earphone sebelum memutar video itu, jadi suara er-ang_an wanita itu tak terdengar dari dalam kamarku. Terdengar dari dalam earphoneku, er-an_gan penuh na-f_su wanita itu sambil tangannya terus bermain pada bagian atas tumpukan ape_mnya, lalu dia meraba biji kel-ent_itnya juga.

Napasku terasa berat mengikuti tempo napas wanita itu, degub jantungku semakin tak terkontrol, desiran darahku seolah menyesakkan dadaku. Fokusku tertuju pada reaksi wanita itu saat ia mem_ainkan biji kel_ent_itnya, dan tanpa sadar, tanganku juga perlahan bergerak ke celah pah_aku, mengikuti gerakan wanita dalam video. Dan ketika aku tak sengaja menyentuh belahan tumpukan apemku, aku merasa ada denyutan dan sedikit ba-s_ah disana.

Mataku tak kulepaskan dari ade_gan wanita di layar hpku, matanya penuh bir_ahi menatap kearah kamera, dengan tangannya yang satu lagi tengah asik mer_e-mas buah persiknya sendiri yang tampak empuk nan sedikit mengeras itu. Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku, tanganku juga perlahan mengu_sap apemku dari luar C_Dku.

"Ahh..." aku meng-er_ang lembut, terasa nikmat ternyata.

Tanganku mulai mengusap keatas dan kebawah, seperti video tutorial yang wanita itu lakukan. Napasku kini kian berat dan tak ku sengaja, kini tanganku mulai menekan him_pitan apemku, semakin kulakukan, semakin aku merasa mau lagi.

Sesaat kemudian, hpku ku taruh disampingku, tanganku kemudian mulai masuk kedalam C_Dku, aku perlahan mulai mengusap celah apemku yang kian be_cek akibat terlalu bas-ah itu, keatas dan kebawah, sambil tanganku yang satu lagi mer-e_mas buah persikku yang kian mengeras itu. Karena seperti biasa, aku tak pernah memakai B_H saat tidur, jadi aku bisa merasakan buah persikku dari balik baju tidur berlengan panjang ini. Terasa geli ketika jariku tak sengaja mengusap ujung buah persikku yang berwarna cokelat kemerah mudaan itu.

Tubuhku mele_nting kesedapan karena untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan sensasi dan rasa yang teramat enak ini, ditambah telingaku masih mendengar suara wanita yang memberi tutorial.

"Emphh... umphhhh..." aku meng_er_ang lagi, mencoba tak terlalu kencang karena Rani berada di kamarnya saat ini, dimana kamarnya berada didepan kamarku. Aku takut dia mendengar suara mes_umku, dimana aku yang biasanya paling alim diantara mereka berdua sekarang malah melakukan tindakan yang mes_um seperti ini.

Tanganku kemudian mengusap sedikit lebih cepat biji kel_ent_itku, membuat tubuhku kadang-kadang mene_gang beberapa kali serta napasku yang kian terasa semakin berat.

"Ahhh... emphh... ahhh..." aku semakin meng_erang, tanganku yang sebelumnya mengusap buah persikku kini sudah masuk kedalam baju tidurku, tanganku ini kemudian mer_em_as buah da_da_ku dengan gemas. Tubuhku juga semakin meng_ejang akibat merasa geli dari sentuhan jari lentikku di put_in_gnya, membuatku bling_sitan diatas kasur, merasa sangat nikmat.

Aku tak tahu berapa lama melakukan aktivitas itu, yang jelas, video tutorial dari link yang dibagikan Raven sebelumnya sudah selesai dari tadi. Namun aku masih terus mengusap-usap semakin cepat pada apemku, napasku kian berat dan semakin kuat, tubuhku terguncang hebat.

Apakah... aku sudah mencapai pun_cak???

Lalu tubuhku segera menjawab pertanyaanku, aku menggengam buah persikku yang sudah keras dan meng_ur_utnya, tubuhku meng_ejang, dari dalam apemku aku bisa merasakan seolah mem_unt_ahkan air jernih dari dalamnya dengan kuat, merasakannya perlahan mengalir keluar.

"Emphhhh.... ahhhh.... ahhhh... umphhh...." suara leng_uhan panjang keluar beberapa kali dari mulutku yang kusu_mpal selimut tidurku, tub_uhku terangkat cukup tinggi serta salah satu tanganku yang menutupi cel_ah apemku, membiarkannya membasahi tangan, C_D, serta celana tidurku.

Napasku yang tak karuan dan berat perlahan mulai tenang bersamaan dengan ked_utan dari apemku yang mulai berkurang. Aku membiarkan diriku dengan posisi terl_en_tang diatas kasur tidurku beberapa saat, mencoba menenangkannya.

Setelah cukup tenang, ku tarik tanganku dari dalam C_Dku. Kulihat berberapa saat air bening dari apemku yang memenuhi tanganku saat ini. Lengket... tapi tak selengket getah Raven, kuamati lagi meski aku tak dapat memahami perasaanku saat ini.

Setelah merasa tenang dan puas, pikiranku menjadi sedikit lebih bersih dan tenang. Aku segera beranjak, melihat apakah ada air yang merembes ke kasur. Beruntung setelah kupastikan, tidak ada air yang merembes kesana, karena jika ada, akan sangat sulit membersihkannya.

Aku segera turun menuju ke kamar mandi sambil membawa baju tidur ganti. Kuputuskan juga untuk mencuci mukaku sebelum aku kembali ke kamar.

Setelah semuanya beres, aku mulai merebahkan diri lagi, masih tak percaya dengan rasa yang baru saja kurasakan. Rasa puas yang sangat nik_mat, wajar saja Raven dan anak muda jaman sekarang sangat suka dengan aktivitas tersebut, pikiranku.

Perasaan takut, bersalah, dan perasaan negatif yang sebelumnya menimpa diriku ketika selesai melakukan perbuatan tak semestinya kini tak kurasakan, seperti lenyap begitu saja. Hanya ketenangan yang kini memenuhi isi kepala dan hatiku.

Tiba-tiba, saat tengah meni_k_mati rasa puas itu, hpku kembali bergetar. Setelah kubuka, Raven mengirimkan pesan sekali lagi padaku.

'Ustadzah sudah lihat?"

'Sudah,'

'Ustadzah sudah mencobanya?'

Aku sedikit urung membalas pesan Raven yang selanjutnya, tapi jariku seakan tak bisa diajak kompromi, dan malah membalas,

'Sudah'

Stiker emoticon smile bergerak kemudian membalas pesan yang kukirimkan. Aku sengaja tak membalas pesan itu, dan lebih memilih untuk tidur. Mataku sudah merasa lelah sekali dan ingin segera merasakan mimpi indah dengan perasaan yang tengah kurasakan saat ini.

*

Udara pagi masih dingin menusuk kulitku, tapi sinar matahari yang mulai mengintip dari balik pepohonan yang kulihat dari jendela kamarku terasa hangat dan menenangkan.

Rasanya dadaku lebih ringan daripada kemarin. Kesedihan dan rasa bersalah yang selama ini membayangi, perlahan mulai menghilang. Aku telah memaafkan diriku sendiri. Aku menerima kekurangan dan kesalahan yang pernah ku buat. Penerimaan diri ini memberikan kedamaian yang tak ternilai.

Nyatanya, meski tadi subuh sebelum aku melaksanakan shalat subuh, aku kembali dilanda perasaan bimbang dan bersalah. Merasa takut jika ibadahku tidak akan diterima akibat perbuatan dosa yang kulakukan semalam. Namun aku juga teringat dengan ceramah salah seorang ustadz di video toktik dan televisi yang pernah kulihat.

Yang dimana jika manusia memang tempatnya salah dan dosa, namun kita juga tak boleh meninggalkan kewajiban kita setelah melakukan perbuatan berdosa, karena kita juga tak tahu, mungkin kita terlalu suudzon merasa ibadah kita tidak akan diterima setelahnya, tapi kembali lagi, tuhan itu maha pemurah, kewajiban hambanya hanya beribadah, sementara untuk urusan diterima atau tidaknya ibadah itu, itu bukan lagi urusan hambanya.

Matahari semakin terang ketika aku selesai bersiap-siap untuk berangkat mengajar. Hari ini adalah hari yang kutunggu, dimana hari ini aku akan bertemu dengan murid yang sudah kuanggap istimewa. Raven.

Mungkin karena dia berhasil memberikan pengalaman baru pada hidupku, serta dukungan kedua sahabatku, secara tidak langsung aku mulai mengistimewakannya.

Sebelum aku berangkat, aku segera turun untuk menyiapkan sarapan, disana Rani dan Lia sudah bangun dan duduk di ruang utama, wajah mereka masih tampak malas, mungkin mereka baru saja bagun.

"Mana nih semangatnya? Malah cemberut gitu?" sapaku, membuat mereka memalingkan pandangan mereka kearahku.

"Semangat baget pagi-pagi gini udah rapi begitu?" tanya Lia sambil tersenyum.

"Iya dong, mau ketemu bebeb Raven di sekolah nanti kok masak nggak semangat sih, Lia..." sahut Rani segera dengan wajah usilnya yang mulai terlihat.

Wajahku memerah, karena tebakan Rani sangat tepat saat menebak niatku. "Apasih... kalian udah sarapan belum? Aku mau masak mie nih, kalau mau sekalian saja aku buatin," jawabku mengalihkan pembicaraan, aku selalu merasa malu ketika Rani dan Lia mulai menggodaku.

"Aku, aku mau!" jawab Lia dengan segera.

"Aku juga," sahut Rani, "Buat yang enak dan jangan lama-lama ya? Ayang Raven sudah tak sabar menunggu, hihihi..."

"Namanya mie instan rasanya ya sesuai dengan yang tertera di bungkusnya dong, Rani..." ucapku sengaja kubuat tampak acuh, segera ku tinggalkan mereka untuk masak.

Dan sepertinya mereka terus membicarakan ku saat aku tengah memasak, karena aku sesekali melihat mereka tertawa melihat kearahku. Aku tak mempermasalahkannya, menurutku mereka mungkin ikut merasa bahagia karena akhir-akhir ini aku juga tampak lebih bahagia dan cerah daripada saat-saat pertama kali aku mengajar di MA Al-Aziz.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!