Sarung tangan yang sedikit tipis itu ku sarung kan ke kedua tanganku, keduanya seolah sudah siap untuk ke tahap berikutnya. Aku melihat kearah wajah Raven yang juga sudah siap dari tadi, dan dia tersenyum canggung ketika mata kami saling bertemu. Ekspresi itulah yang ku suka.
Ubi Raven sudah mendongak ke atas dan terlihat segar serta keras. Aku menggigit bibir bawahku lagi sebelum perlahan tanganku yang berbalut sarung tangan Alawi itu meraih dan menggengam Ubi Raven sepenuhnya.
"Emmmpphhh... ustadzah..." Raven mend-esah lembut, aku men9urut ubinya semakin cepat, lalu kuputar-putarkan temponya seperti tempo hari sebelumnya. Dapat ku rasakan Ubi mur1dku yang tebal dan hangat itu di telapak tanganku, lalu, tak lama, air m4dz1nya keluar.
(Seusai yang pernah ku pelajari saat sekolah dulu, air m4dz1 dan air m4n1 itu berbeda, dan air m4dz1 itu naj1s)
"Emhh... Raven? Kamu... kamu membayangkan apa ketika ustadzah melakukan ini kepadamu?" tanyaku yang mulai tak bisa mengontrol diri dan masuk kedalam lingkaran n4f5u setan tersebut.
"Sa... saya... membayangkan... ustadzah sedang... 0n4ni di depan saya... juga, ustadzah... ah..." er4ngnya penuh n4f5u, sementara aku terus m3momp4 ubinya.
"Tapi... ustadzah tidak pernah ona... P_M_O..." kataku, entah mengapa perkataan on4ni itu masih terlalu tabu untukku, walaupun aku sendiri melakukannya untuk mur1dku saat ini.
Ubinya berdenyut di dalam genggamanku, seolah memiliki nyawanya sendiri, lutut kami semakin hampir bertemu, Raven menyandarkan tubuhnya ke kursi, dan aku semakin tertunduk sedikit.
"Uhmmmpp... ustadzah harus... mencobanya, ahh..." sarannya. Aku tak menjawab, aku hanya fokus pada kegiatanku pada ubinya itu.
Aku melihat ekspresi Raven yang kini wajahnya ber tengadah keatas sambil menutup matanya, "Raven... nanti kalau mau keluar... kasih tahu ustadzah ya?"Â pintaku.
Raven mengangguk sebagai jawabannya. Mungkin karena dorongan n4f5u, kini aku lebih semangat melakukan kegiatan itu. Terlihat, dari lubang kecil di ujung ubinya, air m4dz1nya mulai meleleh, dan aku dengan sengaja menggunakan ibu jariku untuk memainkannya sesaat sambil terus mem0mpanya dari ujung ke dasar ubinya.
"Ahh... ustadzah... ehmphh... nikmat sekali geng-gaman tangan ustadzah... emphh..." Raven meng3rang keenakan. Aku semakin merasakan hangat di wajahku, malu dengan pujian Raven, namun ada juga perasaan bangga.
"Ummmphh... kalau ustadzah tak memakai sarung tangan... emphh... pasti rasanya akan lebih nikmat lagi..." pancingnya.
Aku tersenyum sedikit, "Mana bisa, Raven... emmhh.." jawabku, lagian aku tak mau sampai sejauh itu.
Raven tersenyum canggung, "Maaf... hanya, bercanda... ustadzah... ekhh..." katanya sebelum kembali menengadahkan wajahnya keatas lagi.
Aku terus mem0mpa Ubi Raven beberapa saat, tak ada lagi pertanyaan ataupun perkataan Raven, hanya eran94nnya saja yang terdengar, serta napasku yang terasa berat. Mungkin dia sedang menikmati rasa yang ku berikan dengan tanganku ini, pikirku.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah cukup lama aku mem0mp4nya, Raven melihat kearahku, "Ahh... ustadzah... saya rasa, ah... saya sudah hampir sampai pun-cak..."
Aku segera mengarahkan tanganku yang satunya untuk memayungi wajahku dari semburan Ubi Raven yang ketika menyemburkan getahnya mirip gunung berapi meletus itu.
Dapat kurasakan, ubinya semakin keras, hingga beberapa mili detik kemudian, "Aaahhh... ustadzah... ustadzah Syffa..."
Terlihat dari ujung ubinya, keluar getah putih lengket yang cukup banyak, menyemprot ke atas tannpa terkendali, sambil aku terus mem0mpanya dengan lebih cepat, menikmati loncatan getah itu yang jarang aku lihat. Tumpahan getah itu banyak yang mengenai tanganku, dari yang memayungi wajahku, serta yang saat ini tengah menggenggam ubinya, sarung tangan muslimah ini kemudian menjadi basah dibuatnya.
"Ahh... Raven! Banyak sekali?!" pekikku, sambil terus men9urut dan men9urut sampai getah didalamnya keluar semua dengan tuntas, mendorong setiap tetesan getah, dan kubiarkan getah itu meleleh di tanganku.
Aku memelankan tempo urutanku setelah kurasa getah itu mulai sedikit yang keluar, napas kami saling beradu. "Ehmhh... ustadzah... enak sekali..." er4ngnya dengan nada yang sedikit rileks.
Setelah kupastikan getahnya berhenti keluar, aku mulai mengelap getahnya yang meleleh di Ubi menggunakan bagian sarung tanganku yang masih kering, membersihkan dengan seksama Ubi itu.
Saat aku tak sengaja melihat wajahnya, Raven tampak mengigit bibir bawahnya. Mungkin ia berpikir, saat ini tengah melihat ustadzahnya mengelap-elap getahnya yang meleleh itu. Melihat ekspresinya, aku juga spontan menggigit bibir bawahku, perlahan aku menarik diriku untuk bangkit.
Aku fokus melihat ke tanganku yang terbalut sarung tangan muslimah itu yang kini penuh dengan cairan getah Ubi. Aku tak tahu alasannya, setelah beberapa saat mengamati, jariku kemudian bermain-main sebentar, mataku menikmati bentuk getah yang lengket itu. Inikah cairan yang akan m3mbu4hi dan menjadi jan1n itu?
Raven bangkit, ia mengambil tisu yang ada di meja ruangan rapat itu, dan mengelap kembali ubinya, memastikan ubinya benar-benar bersih, dan tersenyum kearahku. "Terimakasih, ustadzah." katanya. "Ustadzah bisa melepasnya, biar saya yang membuangnya saja,"
Aku mengangguk, segera kulepaskan sarung tangan itu, ku masukkan kedalam wadahnya kembali. Aku tampak sedikit linglung, tak tahu harus ngomong apa.
Setelah Raven berhasil merapikan pakaiannya kembali, dia segera mengambilnya dan berkata, "Sekali lagi, terimakasih, ustadzah Syffa." ucapnya. Dia kemudian mengucapkan salam dan hendak pergi, namun, ia menolak badannya dan melihat kearahku.
"Boleh saya dapat nomor ustadzah?" tanyanya sopan, tak ada lagi gugup-gugup dari ucapnya.
Aku seolah kehabisan tenaga, merasa bingung, segera kuambil hpku, dan menyerahkannya kepada Raven.
Mungkin aku merasa bersalah, atau mungkin... aku sudah terlalu jauh? pikirku sesaat. Tak apalah Syffa, anggap ini sebagai ucapan terimakasih untuk jilbab yang Raven berikan.
Setelah menerima kembali hpku, aku mencoba untuk menawari Raven tumpangan, akan tetapi, dia kembali menolak seperti hari sebelumnya. Namun alasannya kali ini dia hendak ke mall untuk main dulu.
Setelah ia benar-benar pergi, aku kembali terduduk di tempat dudukku. Memikirkan kembali perbuatanku, apakah aku sudah kotor? Pikirku.
Jam didinding terus berdetak, kulihat waktu sudah menunjukkan hampir setengah empat. Aku segera mengemasi barang-barangku, tak mau lagi kalut didalam gulatan pikiranku.
Kejadian hari ini, kuanggap hanya kecelakaan biasa tanpa perlu memikirkannya lebih jauh lagi. Segera ku tancap gas mobilku setelah ku berikan kunci ruang rapat dan gerbang pada bu Siti. Aku ingin menyegarkan pikiranku dengan mengobrol bersama Rani dan Lia di rumah.
*
22:30 aku sudah tiduran menggunakan baju tidurku, tanganku lincah menscroll aplikasi toktik. Beruntung, aku bisa terlepas dari gulatan pikiran setelah sejak sore tadi sampai beberapa saat lalu aku bercerita dan mengobrol bersama dua sahabatku, mulai dari rencana besok, masakan, serta candaan diantara kami.
Setelah merasa puas melihat-lihat video tiktok, aku segera mematikan ponselku, dan menaruhnya di meja kecil disamping tempat tidurku. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara getaran dari hpku, tanda ada pesan masuk.
Sambil berbaring, aku mengambil hpku. Setelah kubuka, aku merasa sedikit aneh, nomor yang mengirimku pesan melalui aplikasi pesan online itu tidak memiliki nama, dan stelah ku klik pesan tersebut, terdapat sebuah sebuah link dan juga sebuah kata:
'Untuk ustadzah'
Dari kata-kata itu aku bisa langsung tahu jika itu adalah Raven.
Karena takut akan kepikiran tentang kejadian yang sebelumnya, aku memilih tak membalas pesan itu, dan kemudian ku klik link tersebut. Sebuah link yang membawaku menuju laman web video m35um Raven kala itu, hanya saja kali ini videonya berbeda. Hanya ada seorang wanita dalam video itu, dengan wajah yang nakal dan duduk sambil satu tangannya memegang belahan kue apemnya.
Mataku membulat menyaksikan video yang belum ku play itu. Apakah ini adalah video yang disebutkan Raven sore tadi? Seorang wanita yang tengah P_M_O? Pikirku.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!