Aku menarik napas lega, menundukkan kepala sejenak. Pekerjaan yang terlihat mudah ini akhirnya hampir selesai juga. Ustadzah Indah, yang duduk di seberang meja, juga menunjukkan ekspresi lega. Tangannya menepuk pelan keyboard laptopnya, seolah untuk menyingkirkan sisa-sisa konsentrasi yang masih tertinggal. Aku tersenyum tipis, memandang sekeliling ruang rapat. Ruangan ini memang selalu menjadi tempat menjadi tempat yang cocok untuk pekerjaan seperti ini. Selain sepi, juga luas. Selain guru, kadang-kadang juga para OSIS di sekolahan ini memakainya untuk rapat.
Aku melirik jam dinding. Sepertinya semua murid dan guru sudah pulang. Suara riuh rendah yang biasanya memenuhi lorong sekolah kini telah lenyap. Hanya suara desiran angin yang menerobos jendela, dan suara detak jam dinding yang berdetak pelan, menandai berakhirnya waktu kerja mengajar kami hari ini.
Aku dan ustadzah Indah, setelah selesai mengajar di jam kedua, melanjutkan pekerjaan kami kembali yang belum selesai tadi. Kami sudah berjanji sebelumnya saat kami diruang guru. Karena kami sama-sama mengajar di jam yang sama namun dikelas berbeda.
Ustadzah Indah pun mengucapkan, "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. " ia meregangkan tangannya, merasa lega dengan keberhasilannya menyelesaikan pekerjaan.
"Sudah selesai, ustadzah?" tanyaku.
"Alhamdulillah, sudah ustadzah." jawabnya. Mungkin karena di jam istirahat tadi aku sempat berhenti mengerjakan pekerjaan, membuatku sedikit tertinggal dari ustadzah Indah.
Aku mengangguk sambil tersenyum, "Alhamdulillah, punya saya masih belum, tapi tak apa, saya bisa mengerjakannya dirumah nanti." jawabku, aku juga ikut meregangkan tubuhku, merasakan tulang-tulang jari dan punggungku yang berbunyi dan terasa lega.
Ustadzah Indah lantas tersenyum, matanya berbinar. "Ustadzah, sebentar lagi kan bulan puasa, ya? Sudah siap-siap untuk masak kue lebaran?" tanyanya. Aku pun ikut tersenyum, teringat dengan aneka kue lebaran yang selalu disajikan di rumahku saat kecil. "Insya Allah. Tahun ini saya ingin mencoba membuat kue putri salju. Sudah lama ingin mencobanya, tapi belum sempat," jawabku.
" Wah, putri salju? Ide bagus! Kuenya manis dan cantik. Pasti anak-anak suka," timpal Ustadzah Indah. "Kalau saya biasanya buat kue nastar dan kue kacang. Nanti aku bawa beberapa bungkus ya, untuk ustadzah-ustdzah lain di kantor."
"Siap! Saya siap menerima kue nastar dan kue kacang pemberian ustadzah," jawabku, disertai tawa ringan. Kami kemudian asyik bercerita tentang resep kue lebaran, bahan-bahan yang diperlukan, dan tips-tips membuat kue yang lezat. Sesaat, aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil, yang bersemangat mendengarkan cerita ibu tentang kue lebaran.
"Eh, maaf ya. saya lupa. Suami saya sudah menunggu di kantornya. Saya harus segera pulang," ucap Ustadzah Indah tiba-tiba, sambil menunjuk jam tangannya. Aku terkejut. Waktu terasa berlalu begitu cepat. "Oh, ya. baik ustadzah, saya mungkin akan disini dulu untuk menyelesaikan ini," kataku, menunjuk laptopku. Sebelumnya aku juga sudah berpesan kepada bu siti untuk tidak mengunci pagar sekolah, beruntung rumah bu siti ada disamping sekolah, jadi dia bisa melihat jika mobilku tidak ada diparkiran, berarti aku sudah pulang.
"Assalamualaikum. Saya pamit dulu ya, Ustadzah. Semoga pekerjaanmu segera selesai," ucap Ustadzah Indah sambil tersenyum dan berdiri dari kursinya.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Ustadzah," jawabku.
"Sama-sama. Sampai jumpa besok!" Ustadzah Indah meninggalkan ruang rapat dan menutupnya perlahan, meninggalkanku seorang diri di ruangan ini. Aku menghela napas, kemudian kembali fokus pada laptopku. Aku masih punya beberapa soal ujian yang belum selesai diperiksa.
Hingga akhirnya, aku dapat mendengar suara kenalpot mobil ustadzah Indah yang semakin menjauh. Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2 siang, sebelum aku kembali fokus pada layar laptopku, perkiraanku, beberapa menit lagi pasti selesai semuanya, dan aku bisa segera pulang dan merebahkan diriku.
Beberapa menit kemudian, sesuai perkiraan, semua pekerjaanku telah selesai. Aku mengurungkan niatku untuk segera pulang, dan memilih untuk memeriksa pekerjaan rumah muridku. Ketika aku sedang memeriksanya, terdengar suara pintu yang diketuk. Aku menolak badanku untuk bangun, kupikir, itu adalah bu Siti yang kemungkinan ingin memastikan keberadaanku.
Saat pintu terbuka, sosok lain yang ada di hadapanku. Raven. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai aku lupa jika aku memiliki janji dengannya.
"Raven? Aduh... maaf ya, ustadzah lupa kalau kamu akan datang," kataku sungkan, karena memang aku benar-benar lupa. "Sudah lama kamu menunggu ustadzah?"
Raven tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban. "Masuk saja... hanya ustadzah sendiri kok, ustadzah Indah sudah pulang beberapa saat lalu." kataku. Raven kemudian melepaskan alas kakinya sebelum masuk kedalam ruang rapat itu. Memang seperti inilah biasanya yang masuk keruangan ini. Aku menutup pintu, dan entah mengapa, seperti ada yang membimbingku untuk mengunci pintunya.
Aku mengajak Raven ke meja yang ku tempati sebelumnya, aku duduk di kursi kursiku sementara Raven duduk di kursi ustadzah Indah sebelumnya, disamping kananku, yang ia tarik sedikit mendekat kearahku.
Hatiku merasa berdebar, bau harum parfum Raven yang seperti biasanya mulai menyeruak ke hidungku, aku menghadap kearahnya. Aku tahu, jadwal pertemuan ku dengannya adalah besok, namun, jika hari ini bisa memberikan solusinya, kenapa menunggu besok? pikirku.
"Jadi... sudah sampai mana progresnya?" tanyaku. Aku juga sudah menyiapkan buku catatan konselingku.
"Ehm... maaf, ustadzah... saya sudah berusaha untuk tidak... menonton hal-hal seperti itu lagi dalam empat hari ini..." katanya.
"Alhamdulillah... berarti sudah ada sedikit kemajuan dong?" tanyaku tersenyum kearahnya yang membuat wajahnya memerah ketika menerima senyumanku.
"Tapi ustadzah... saya... saya merasa... sakau," katanya gugup.
Aku mengangguk. Memang, efek dari kecanduan P-MO memang seperti orang-orang yang kecanduan obat-obatan terlarang. Setidaknya, itulah yang kubaca di artikel kedokteran. "Tidak apa kalau kamu melakukannya sesekali, jika sudah kecanduan, dan kamu berhenti total, kasihan tubuhmu... kurangi saja intensitasnya, yang biasanya kamu melakukannya seminggu beberapa kaki, coba kamu kurangi sekali. Nanti, di minggu berikutnya... kamu kurangi lagi." kataku pelan, berharap Raven bisa menangkap perkataanku.
"Tapi ustadzah... saat ini... saya tidak bisa..." katanya blingsatan, ia seolah menghindar kembali saat menatapku. "Saya sudah merasa tidak bisa... menahannya lagi."
Wajahku memerah, teringat kejadian jumat kemarin. "Ehmm... jadi?" tanyaku sedikit gugup.
"Ehm... kan hari itu ustadzah... menolong saya..." katanya malu-malu, "Saya... saya tak mungkin lupa... apakah ustadzah hari ini... bisa menolong saya kembali?" pintanya kemudian dengan sedikit ketakutan. Mungkin saja dia takut jika aku akan marah saat mendengar pertanyaan itu.
Jantungku berdebar, wajahku mulai bersemu merah. "Raven... maaf, aku rasa aku tak bisa..." jawabku, aku sudah bertekad untuk menyembuhkan kasus Raven ini dengan benar. Tapi, seakan mulutku punya keinginan sendiri, aku malah melanjutkan. "Kalau kamu ingin melakukannya sendiri, lakukan saja. Tapi aku tak bisa membantu... kamu ingat kan dengan jilbab panjang ustadzah hari itu?" apalagi jilbab yang kukenakan saat ini adalah jilbab mahal, meskipun pemberian Raven juga sih.
"Iya, sa... saya sangat ingat ustadzah... oleh karena itu..." Raven kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah jilbab satu lagi yang sama seperti yang ku kenakan, tapi berwarna hitam yang langsung ia serahkan kepadaku.
"Eh... Raven, ustadzah tak memintamu membawakan ganti..." kataku, merasa serba salah.
"Tak apa, ustadzah. Saya ikhlas..." jawabnya. Aku menggigit bibir bawahku, merasa serba salah. Aku tak seharusnya menerima barang ini, tapi aku terlanjur menerimanya. Mungkin aku patut membantunya sekarang? Untuk membalas budinya? Untuk membuang semua rasa bersalah ini? Pikirku.
Aku sejenak berpikir, sebelum mulutku terbuka. "Hemmm... kalau begitu... ustadzah... ustadzah akan menolong kamu," kataku. Nyatanya, aku goyah dengan ambisiku yang sebenarnya, dan mau tak mau harus mengulangi perbuatan yang sama.
Perlahan, aku mengarahkan tanganku masuk ke bawah jilbab panjang ku. Dan bersiap untuk menerima Ubi Raven.
"Eh, ustadzah... jangan pakai Jilbab... saya merasa bersalah kalau membuat kotor jilbab ustadzah lagi..." katanya.
Aku mengerutkan kening,"Lalu... kalau begitu, ustadzah tak bisa menyentuh kamu dong?" kataku sedikit bingung.
Raven kemudian kembali mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah plastik bening sedikit panjang, lalu diberikan kepadaku.
"Ini... sarung tangan muslimah, Alawi?" tanyaku. Aku jarang sekali memakai sarung tangan ini, karena biasanya yang memakai sarung tangan ini adalah mereka yang bekerja dengan potensi bersentuhan langsung dengan lawan jenis.
Raven mengangguk. "Karena harganya yang murah, ustadzah nanti bisa langsung membuangnya, tak perlu ustadzah mencucinya." ucapnya sambil tersenyum.
Aku menggigit kembali bibir bawahku, perlahan, kubuka bungkusan itu. Disaat yang bersamaan, Raven juga membuka kancing cel-ananya, bisa kurasakan napasku yang mulai terasa berat.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!