Chapter 15 of 53

Bab 15

Terlalu jauh bersama muridku1,280 words~7 min read

Kamis pagi ini, udara terasa lebih hangat. Matahari bersinar cerah, menyapa hari yang baru. Aku bangun dengan semangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa bersemangat dan penuh energi. Kenapa? Karena hari ini aku akan memakai jilbab baru, hadiah dari Raven. Jilbab berwarna biru gelap polos itu terasa sangat lembut dan nyaman di tanganku. Aku terbayang wajah Raven ketika menyerahkan hadiah itu padaku selasa kemarin. Jilbab itu terasa sangat berharga bagiku, lebih daripada sekedar kain yang melingkar di kepala. Ini adalah tanda perhatian dari Raven, sebuah tanda yang membuatku merasa istimewa.

Aku memakai jilbab itu dengan hati yang berbunga-bunga. Rasanya aku mencari-cari cermin di setiap sudut kamarku  untuk menatap diriku sendiri yang sedang memakai jilbab itu. Padahal cermin itu terpampang jelas didepanku. Aku senyum sendiri melihat pantulan diriku di cermin. Jilbab ini terasa sangat cocok untukku.

Aku merasa ingin segera menunjukkan jilbab ini kepada Raven. Aku ingin mengetahui pendapatnya tentang jilbab ini. Apakah dia akan mengatakan bahwa jilbab ini indah? Apakah dia akan mengatakan bahwa aku cocok memakainya? Aku penasaran.

Sebelum Rani dan Lia bangun, aku sudah masak mie instan untuk sarapan, dan segera pergi. Aku malu jika mereka akan meledek atau menggodaku seperti kemarin.

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku terpikir tentang Raven. Aku ingin menemukannya saat istirahat. Aku sudah merencanakan untuk menunjukkan jilbab itu kepadanya dan menanyakan pendapatnya.

Bahkan saat mengajar di kelas 10, pikiranku tak bisa fokus pada materi pelajaran yang ku ajarkan. Aku terus memikirkan Raven. Aku terus memandang ke arah pintu kelas, berharap tugasku mengajar ini cepat selesai dan segera menemui Raven. Namun, sepertinya aku harus belajar untuk sabar. Aku sedikit kecewa, namun aku bertekad untuk menemukannya saat istirahat.

Setelah cukup lama mencoba bersabar, jam istirahatpun tiba. Aku bergegas keluar dari kelas dan berjalan menuju kantor, mataku melihat kesana kemari mencoba mencari Raven. Kakiku bahkan seakan memiliki pikirannya sendiri, kaki ini melangkah ke berbagai sudut sekolah, mulai dari kantin, perpustakaan, sampai ke lapangan. Namun, aku tak kunjung menemukannya. Hatiku mulai sedikit tertekan. Apakah Raven sakit? Atau apakah dia memiliki urusan mendadak yang membuatnya tidak masuk hari ini? Pikiran-pikiran itu mulai menyerbu pikiran ku.

Hatiku mulai merasa putus asa karena tak kunjung menemukannya. Sebab, jadwal aku mengajar hari ini jam pertama di kelas 10, sedangkan di jam kedua nanti di kelas 11. Ingin rasanya menanyakan kepada teman sekelasnya, tapi itu tak memungkinkan. Sebab, hari ini aku juga sedikit sibuk karena harus merapatkan lagi soal-soal yang belum di rapatkan kemarin. Karena kemarin rabu aku libur, diskusi soal pelajaran agama islam di urungkan, dan akan dibahas hari ini bersama 2 mata pelajaran yang kemarin juga belum selesai.

Aku memutuskan untuk berhenti mencari Raven, meskipun hati ini belum lega. Nggak papa lah Syffa, besok kan hari pertemuanmu dengannya, jadi besok bisa sepuasnya memperlihatkan Jilbab ini padanya, pikirku.

Aku segera melangkah ke kantor, mengambil laptopku dan segera keruang rapat guru-guru. Disana, aku sudah di tunggu ustadzah Hilmi, ustadzah Indah, dan pak Bakir, guru pelajaran bahasa Daerah.

Ternyata, selain pelajaran pendidikan agama islam, ada pelajaran IPS dan bahasa daerah... pikirku.

Aku segera bergabung dan meminta maaf dulu karena sedikit telat datang kesana. Kami segera membahas soal-soal yang kami diskusikan, tak lupa semua masukan untuk pelajaran pendidikan agama islam.

Saat rapat hampir selesai, aku merasakan suasana menjadi sedikit tegang, karena merasa soal-soal yang aku dan ustadzah Hilmi sepakati terlalu sulit untuk murid-murid kelas 10 nanti. Ustadzah Hilmi mencoba mencairkan suasana dengan mengajak kami bercanda tentang soal-soal ujian yang akan digunakan minggu depan itu. Ia percaya dengan soal-soal ini mereka akan bisa mengerjakannya dengan sedikit berusaha.

Beberapa saat kemudian, rapat pun selesai. Ustadzah Hilmi dan pak Bakir sudah lebih dulu meninggalkan kami, hanya tersisa aku dan ustadzah Indah saja diruangan itu. Tak banyak percakapan antara kami berdua, tangan kami disibukkan mengetik keyboard laptop masing-masing, begitupun mata kami yang tetap fokus memandang layarnya.

Hingga kemudian, tiba-tiba ustadzah Indah berkata. "Ustadzah Syffa, apa anda ada janji temu dengan Raven?"

Aku segera menoleh ke arah pintu, dan ku lihat Raven sedang berdiri di samping pintu ruang rapat. Mataku membulat ketika melihat Raven, aku tak menyangka ia akan datang ke ruang rapat saat sebelumnya aku puas mencarinya kesana kemari dan tidak menemukannya. Dia menunjukkan senyuman yang lembut saat aku melihatnya, senyuman yang membuatku merasakan sesuatu yang aneh di dalam hati.

"Be, benar, ustadzah. Saya ada janji temu dengan Raven," jawabku pada ustadzah Indah.

Aku bangkit dari dudukku, hatiku berdegup mengiringi langkah kakiku. Aku tak tahu mengapa aku merasa begitu malu padanya. Aku memandang Raven sesaat, kemudian aku menundukkan kepalaku. Aku tak berani menatap matanya. Aku tak tahu apa yang akan dia katakan saat melihatku memakai Jilbab pemberiannya ini.

"Asalamualaikum, Raven." sapaku, sengaja aku mengecilkan suaraku, takut jika ustadzah Indah mendengar dan berpikir aneh-aneh tentang kami berdua.

"Waalaikumsalam... ustadzah," jawabnya dengan suara yang lembut, dapat kulihat matanya saat ini tengah berbinar-binar menatapku.

Aku menatap Raven sejenak, kemudian aku menundukkan kepalaku lagi. Aku tak berani bertanya tentang pendapatnya.

Apa ini!? Kenapa sekarang aku yang jadi gugup saat bertemu Raven!? Pikirku.

Aku mencoba mengatur napasku, berusaha untuk menenangkan guncangan besar yang tengah melanda dalam hatiku.

"Ada perlu apa ya Raven menemui ustadzah?" tanyaku, sejujurnya aku juga tidak tahu alasannya.

"Ustadzah... saya mau bicara sedikit boleh?" tanyanya.

Aku mengangguk, "Baiklah, bicara soal apa?" tanyaku sedikit memancing.

"Terimakasih, ustadzah sudah memakai Jilbab pemberian saya, ustadzah sangat cocok dan cantik,"

Deg!!! 

Jantungku bak dipukul dengan palu godam, dadaku naik turun, akhirnya aku berhasil memancingnya, akhirnya aku mendengar jawaban itu, jawaban yang memang kuinginkan! Aku blingsatan tak bisa mengontrol diriku, aku tak tahu harus merespon bagaimana. Situasi ini belum pernah kurasakan selama ini, selama aku hidup 24 tahun ini.

Namun aku tetap berusaha mengendalikan diriku sekuat mungkin, sesekali aku menoleh ke arah ustadzah Indah, takutnya dia melihatku. Syukurlah dia masih fokus pada layar laptopnya.

"Te... terimakasih, Raven. Ustadzah... sangat senang memakainya," kataku malu-malu.

"Ustadzah," panggilnya lagi setelah mengangguk. "Saya... saya mau bertemu dengan ustadzah setelah sekolah nanti, boleh?"

Aku terkejut, desiran darahku semakin menggebu kencang didalam dadaku. Apakah Raven mau berbicara soal perasaannya? Tapi dia kan muridku... bagaimana ini? pikirku.

Aku mengangguk perlahan, "Tapi masalah apa ya?" tanyaku, mungkin saja Raven akan memberikan barang lagi, meskipun aku merasa tidak enak, tapi juga sedikit berharap.

Sekarang, Raven juga bertingkah sama seperti diriku. Dia berubah malu-malu. "Ehmm... tentang itu..." katanya dengan suara yang dikecilkan.

Aku tahu betul tentang apa, "Baiklah... tapi hari ini ustadzah ada di ruang rapat ini... kamu datang saja kesini nanti ya?" pintaku. Sebenarnya, aku ingin mengakalinya agar kejadian yang tidak di inginkan tidak akan pernah terulang kembali.

Raven mengangguk sebelum berpikir apa-apa. Ruang Rapat ini terletak bersebelahan dengan mushola sekolah, dan seperti ruang guru utama, ruangan ini memeiliki beberapa meja di dalam satu ruangan yang cukup besar, dan biasanya, ruangan ini jarang digunakan jika tak ada masalah-masalah yang serius tentang sekolahan ataupun diskusi perihal ujian seperti sebelumnya.

"Maksudnya... kita tidak bisa melakukan itu?" tanyanya gugup. Aku berfikir sejenak, apakah memang itu niat awalnya datang menemuiku? Maukah aku menolongnya?

"Ehhmm.. haah... jadi hari ini agar kita bisa fokus dengan jalan keluar permasalahanmu, Raven..." aku tersenyum sebelum meninggalkan Raven yang sedikit kecewa dengan jawabanku.

Sebenarnya aku merasa tak tega melihatnya sedih seperti itu, tapi kemarin aku sudah memikirkannya. Kalau aku berhasil menyelesaikan masalah Raven, aku mungkin saja mau menerimanya, dalam artian... hubungan lebih lanjut. Aku ingin memiliki hubungan dengannya dengan cara yang bersih dalam segi keagamaan, mungkin ta'aruf.

Sengaja aku tak memandang Raven lagi dan fokus pada pekerjaanku saat ini. Hingga beberapa saat kemudian, bell masuk berbunyi, menandakan jam istirahat telah usai. Aku dan ustadzah Indah segera memberesi peralatan kami, aku juga tak tahu kapan Raven pergi, karena dia sudah tidak ada di tempatnya sebelumnya.

Jujur saja, aku merasa tak tega, tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah berambisi untuk membuatnya terlepas dari masalah kecanduannya itu.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!