Jam menunjukkan pukul 14.00. Bel pulang sekolah berdentang nyaring, menandai berakhirnya hari yang panjang dan melelahkan. Gerbang sekolah perlahan-lahan terbuka, dan siswa-siswi berhamburan keluar, seperti semut yang meninggalkan sarangnya. Suara riuh rendah, tawa, dan canda memenuhi udara. Mereka berjalan beriringan, berkelompok-kelompok kecil, membicarakan berbagai hal, dari tugas sekolah hingga rencana liburan. Ada yang berlari kecil, ada yang berjalan santai, dan ada pula yang terlihat lelah dan terburu-buru.
Aku, berdiri di parkiran, di samping mobilku. Mata ini mengamati lalu lalang siswa-siswi yang keluar dari gerbang. Aku mencari seseorang, Raven. Aku berharap ia tak lupa dengan janjinya sebelumya.
Matahari sore mulai terasa panas menyengat kulit. Aku sedikit menggeser posisi untuk mencari tempat teduh di bawah pohon rindang di dekat parkiran. Satu per satu siswa-siswi berlalu, namun Raven belum juga terlihat. Aku mulai merasa cemas. Mungkin ia sudah pulang duluan. Atau⦠mungkin ia memang benar-benar lupa? Pikiran itu membuatku sedikit kecewa.
Aku menghela nafas panjang. Aku merasa sedikit lelah, tapi juga penasaran. Aku memutuskan untuk menunggu beberapa saat lagi. Mungkin⦠mungkin ia akan lewat di sini. Aku kembali mengamati lalu lalang siswa-siswi yang masih berlalu-lalang, harapan masih terpatri di dalam hati.
Hingga saat siswa-siswi yang menurutku adalah yang terakhir keluar itu, kini merasa putus asa. Kemungkinan Raven memang benar-benar sudah pulang. Pikirku.
Aku membuka pintu mobilku, belum sempat aku masuk, suara ustadzah Ani menyapaku. "Belum pulang, ustadzah?" tanyanya.
"Belum, ustadzah. Sebenarnya saya beriap untuk pulang, tapi saya ada janji dengan Raven untuk membicarakan materi pelajaran agama, tapi dia sepertinya sudah pulang." jawabku beralasan.
"Oh... Raven, di tunggu saja ustadzah, besok adalah jadwalnya piket membersihkan kelas, dan dia sejak kelas 10 dulu selalu seperti ini, mengerjakannya saat pulang sekolah di hari sebelumnya." terangnya. Aku mengangguk, baru mengerti jika Raven melakukannya seperti itu.
Aku percaya pada ustadzah Ani, karena barusan yang mengisi jam pelajaran terakhir di kelas 12 adalah dirinya. "Benarkah? Baiklah, kalau begitu, saya akan menunggunya beberapa saat lagi. Terimakasih untuk informasinya, ustadzah." jawabku sopan.
Ustadzah Ani tersenyum dan mengangguk, "Kalau begitu saya duluan ya ustadzah, saya mau menjemput anak saya di sekolahannya juga," pamitnya.
Aku mengangguk, "Iya, hati-hati di jalan, ustadzah." jawabku.
ustadzah Ani langsung masuk ke dalam mobilnya, dan sebelum melaju, dia mengucapkan salam padaku, dan kujawab salamnya.
Beberapa saat kemudian, satu persatu guru-guru pulang, mereka juga menegurku sama seperti ustadzah Ani. Dan kujawab juga dengan alasan yang sama. Aku takut jika nantinya akan timbul gosip diantara mereka tentang aku dan Raven yang tidak kuinginkan. Jadi, terpaksa aku beralasan.
Setelah pak Bashor pergi, guru terakhir yang meninggalkan lingkungan lingkungan sekolah, tak lama kemudian, Raven terlihat berjalan sendirian keluar dari lingkungan kelas. Matanya membulat kala melihatku, dia kemudian berlari kecil kearahku sambil membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu yang terbungkus kantung plastik hitam.
"Maaf saya lama, ustadzah... huh..." ucapnya sedikit ngos-ngosan.
"Tidak masalah, kamu habis piket kan?" tanyaku, mencoba untuk menebak.
Raven tersenyum dan mengangguk. "Benar, ustadzah. Kok ustadzah bisa tahu?" tanyanya.
"Ustadzah Ani yang memberi tahuku, hihihi..." jawabku cekikikan. "Oh iya, apa yang sebenarnya ingin Raven bicarakan dengan ustadzah?"
Raven kemudian tampak kembali gugup seperti biasanya, "Maaf... ustadzah, saya... saya ingin memberikan sesuatu pada ustadzah." ia memberikan bingkisan itu kepadaku dengan sopan.
Aku bingung, dan menerimanya. "Mungkin ini tak sebagus milik ustadzah, namun saya merasa... bersalah karena jumat kemarin... mengotori jilbab... ustadzah," jelasnya, ia menundukkan kepalanya sedikit, mungkin ia malu membahas kejadian jumat kemarin bersamaku.
Aku merasa tersentuh dengan sikap Raven yang pengertian itu, "Kenapa kamu repot-repot begini? Lagian noda itu bisa hilang kok setelah ustadzah cuci," ucapku.
"Tak apa, ustadzah. Itu ustadzah ambil saja... kalau... ustadzah tidak suka dengan warnanya... atau barangnya... ustadzah boleh membuangnya," ucapnya, merasa tak enak kepadaku.
"Sayang kalau dibuang, apalagi kamu memberikan ini kepada ustadzah dengan sepenuh hati, ustadzah pasti akan memakainya dan menjaganya dengan baik," jawabku, mencoba menghibur Raven.
Raven perlahan mengangkat wajahnya, tersenyum, senyuman yang tulus. "Terimakasih ya, Raven." kataku saat dia berhasil mengangkat wajahnya sepenuhnya melihatku.
"Sa... sama-sama, ustadzah." ucapnya, wajahnya memerah, mungkin merasa malu.
Setelahnya, dia pamit kepadaku. Sempat kuberi tawaran untuk bareng dengan mobilku, karena dia tampak berjalan kaki. Tapi dia berkata akan mampir ke rumah temannya yang ada di dekat sekolah, jadi dia tak mau merepotkanku, akupun mengangguk dan menancapkan gas mobilku menuju kontrakan ku.
Disepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya tersenyum. Aku tak tahu alasan pastinya, tapi yang jelas, di dalam perut bagian bawah ku terasa seolah ada kupu-kupu yang sedang berterbangan. Sesekali aku melirik bingkisan yang kutaruh di kursi samping kemudi, penasaran dengan isinya.
Sesampainya di kontrakan, aku segera memarkirkan mobilku dan masuk kedalam rumah. Tak lupa bingkisan tadi ku tenteng ditanganku. Didalam, Rani tengah asik menonton drama Korea favoritnya, aku dengan hati berbunga-bunga menghampirinya.
"Asalamualaikum, nonton apa nih, Ran?" tanyaku antusias.
"Eh, waalaikumsalam, nonton biasa," jawabnya, ia menatapku sedikit aneh.
"Udah masak? Mau ku masakin nggak?" tanyaku, aku seolah-olah merasakan bahagia yang tak terbendung lagi. Seolah aku tengah berlarian kesana kemari di lapangan yang dipenuhi bunga-bunga harum.
Rani mulai tersenyum dan menyipitkan matanya, "Ada apa nih...? Jarang banget nawarin begini, biasanya kamu kalau ingin masak tinggal masak, hayo..." tanyanya.
"Apasih... aku hanya ingin masak aja hari ini, kamu mau aku masakin apa?" tanyaku mencoba memasang ekspresi serius, tapi dipatahkan dengan nada bicaraku yang terlalu antusias.
"Apa ada guru tampan baru di sekolah tempatmu mengajar Fa?" trbaknya. "Atau mungkin... Raven?"
Deg!Â
Jantungku berdetak kencang, saat Rani berkata seperti itu. Seolah-olah dia telah berhasil membaca pikiran dan isi hatiku.
"Ng... nggak, nggak sama sekali." kataku segera, mencoba menutupinya dari Rani.
"Tapi... kok kamu kaya gug,"
"Udah, stop. Aku nggak jadi masak, lanjutkan saja menonton filmnya, aku mau mandi dan bersantai." potongku, dan segera beranjak dari sana. Lia sendiri kemungkinan masih belum kembali dari kerjanya.
"Hahaha... seharusnya kamu belajar dariku cara untuk menutupi sltingmu itu, Fa!" teriak Rani kepadaku kemudian, sesaat setelah aku meninggalkannya.
Aku masuk ke kamarku, menutup pintu pelan. Kata-kata Rani masih bergema di telingaku, menciptakan getaran aneh di dadaku. Sengaja aku tak membalas kedepannya, aku terlalu kalut dengan jantungku yang berdebar-debar, irama detaknya tak beraturan.
Segera ku rebahkan tubuhku ke ranjangku. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Apa ini? Kenapa jantungku berdebar seperti ini? Apa aku⦠menyukai Raven? Pikiran itu muncul tiba-tiba, membuat pipiku memerah. Aku menggelengkan kepala, mencoba menepis pikiran itu. Aku harus tenang. Syffa... tenangkan dirimu... ingat, dia adalah muridmu sendiri! Ucapku dalam hati.
Beberapa saat kemudian, debaran jantungku mulai mereda. Aku beranjak duduk di tepi kasur, napasku masih sedikit tersengal. Tanganku meraih bungkusan plastik hitam di sampingku. Aku tahu jika isinya adalah Jilbab. Dengan hati-hati, aku membuka bungkusan itu. Sebuah jilbab berwarna biru gelap polos terbentang di hadapanku. Bukan jilbab biasa. Ini jilbab bermerek Hanayen, merek terkenal dari Dubai yang kualitasnya sudah terjamin. Teksturnya lembut, terasa nyaman di tanganku, pasti tidak gerah saat dipakai.
âYa ampun, Ravenâ¦â gumamku, suaraku hampir tak terdengar. Aku teringat percakapan di ruang rapat. Beberapa ustadzah memang menyebutkan bahwa Raven anak orang kaya. Tapi aku tak menyangka Raven akan menggantinya dengan jilbab semahal ini. Jilbab yang berkualitas bagus, nyaman, dan pasti mahal harganya. Bahkan yang termurah jilbab merk ini saja dibandrol dengan harga 6jt di mall yang ada di kota ini.
Perasaan bahagia meledak dalam dadaku. Aku tak kuasa menahannya. Dengan tawa riang, aku berguling-guling di atas kasur, merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Jilbab ini, lebih dari sekadar pengganti jilbabku yang kotor. Ini adalah tanda perhatian dan ketulusan dari Raven, sebuah tanda yang membuatku merasa⦠spesial.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!