Jam istirahat. Suara ramai siswa dari luar terdengar sayup-sayup dari balik jendela ruang rapat guru. Di dalam, Ustadzah Hilmi, Ustadzah Ani, Ustadzah Astri, dan beberapa guru perempuan lainnya sedang berdiskusi tentang persiapan ujian semester pertama. Aku ikut bergabung, membahas kisi-kisi soal dan tata tertib ujian. Aku merasa bersyukur, karena setelah kasus Shinta selesai, hanya Raven saja yang kasusnya saat ini ku tangani, jadi aku bisa mengerjakan hal-hal lain seperti saat ini. Berbeda dengan pak Bashor, dia lebih banyak menangani siswa dan siswi, mungkin karena jam terbang beliau sudah tinggi, jadi para murid percaya dengan kemampuan beliau.
Aku berusaha fokus, sesekali mencatat poin-poin penting. Pikiran memang sedikit melayang ke kejadian Jumat lalu dengan Raven, tapi hanya sesaat. Rasa bersalah ada, tapi tidak terlalu mengusik. Pertemuan dengan Raven juga masih tiga hari lagi, jadi aku masih bisa fokus untuk mengerjakan hal ini.
"Ustadzah Syffa, pendapatmu tentang soal nomor lima ini bagaimana?" Suara Ustadzah Ani membuyarkan lamunanku.
"Maaf, ustadzah. Saya rasa soal itu sudah cukup mewakili materi, meskipun ada sedikit yang perlu disesuaikan, namun itu sudah sepenuhnya bagus," jawabku. Ustadzah Ani mengangguk, merasa yakin dengan kebimbangannya sebelumnya.
Diskusi berlanjut. Aku cukup menikmati suasana rapat. Suasana tenang dan produktif. Hingga tak jarang, untuk mengusir kecapean, kami sesekali saling bercanda satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, tak butuh waktu lama, kami telah berhasil menyiapkan materi beberapa pelajaran, dan akan dilanjutkan besok untuk beberapa materi pelajaran yang lain. Diskusi tentang kisi-kisi soal ujian akhirnya selesai. Suasana rapat menjadi lebih santai. Ustadzah Hilmi memulai percakapan baru.
"Menurut kalian, siswa dan siswi mana yang paling menonjol prestasinya di kelas 10, 11, dan 12 tahun ini?" tanyanya.
Ustadzah Ani langsung menjawab, "Untuk kelas 10, tentu saja Raka. Dia sangat aktif dan selalu meraih nilai terbaik di hampir semua mata pelajaran."
Ustadzah Astri menambahkan, "Sedangkan kelas 11, saya rasa Dinda. Dia cerdas dan tekun. Selalu mengerjakan tugas dengan baik."
Para guru lain mengangguk setuju. Aku hanya diam mendengarkan. Sebagai guru baru, aku belum begitu mengenal semua siswa. Namun, untuk kelas 12, aku sudah punya gambaran. Dalam hati, aku berpikir, "Arga, pasti Arga." Arga sangat menonjol, baik dalam akademis maupun kegiatan ekstrakurikuler.
"Bagaimana dengan kelas 12?" tanya Ustadzah Hilmi.
Beberapa guru menyebutkan beberapa nama, namun pendapat mereka berbeda-beda. Aku masih diam, mempertahankan pendapatku sendiri tentang Arga.
Ustadzah mahmudah, seorang guru matematika bertanya, "Sebagai wali kelas 12, siapa menurut ustadzah Syffa, murid yang paling pintar di kelas tersebut?" guru-guru yang lain berhenti berdebat, mereka kemudian memandangiku secara bersamaan. Mungkin, pertanyaan ustadzah mahmudah sangat logis, karena memang akulah wali kelas 12.
Aku tersenyum, "Menurut saya, murid paling pintar di kelas 12 adalah Arga. Arga sendiri menurut saya sangat cepat dalam menangkap materi yang diajarkan, namun..." ucapku tertahan.
"Karena dia terlalu nakal?" tebak ustadzah Astri. Dan aku mengangguk.
Nilai tak hanya di ukur dari kepintaran akademis saja, tetapi juga akhlak dan sopan santun. Arga memang pintar dalam segi akademis dan kurikuler, namun dia sedikit tidak sopan kepada teman, ataupun kepada guru.
"Kalau paling benar sih menurutku ya, Shinta. Dia selain sopan, akademisnya juga lumayan, tak kalah bagus dengan Arga." ucap ustadzah Mahmudah. Ustadzah-ustadzah lain mengangguk.
Tiba-tiba, Ustadzah Ani berseru, "Bagaimana dengan Raven? Dia sebenarnya pintar, cuma pendiam. Mungkin prestasinya tidak terlalu terlihat, tapi kemampuannya tidak bisa dipandang sebelah mata." jelasnya. "Di ujian kenaikan kelas tahun lalu saja dia berhasil menggeser Shinta, yang mana Shinta biasanya bersaing dengan Arga di posisi peringkat pertama dan kedua."
Semua ustadzah yang ada disana berpikir sejenak, beberapa juga mengangguk. Sepertinya setuju dengan penjelasan ustadzah Ani barusan.
Namun berbeda dengan ustadzah yang lain, pernyataan Ustadzah Ani membuatku tercenung. Aku teringat saat libur kemarin, dimana aku bersusah payah untuk melepaskan pikiran-pikiran buruk dan perasaan bersalahku setelah apa yang kulakukan sebelumnya. Untunglah aku bisa sedikit lega setelah mendengar ceramah-ceramah ustad dan ustadzah di aplikasi video online.
Ceramah yang menenangkan hati dan juga diselingi dengan alunan murottal quran yang menyadarkanku, dan membuatku semakin berpikir bersih dan optimistis, tak ingin lagi kalut dalam perasaan menyesal serta tak mau lagi mengulangi perbuatan bejat itu.
Aku juga langsung berusaha membenahi sikapku, tak ingin mereka menyadari kegelisahan ku kini. Meskipun Raven⦠Ya, Raven memang pendiam, tapi aku tak tahu jika Raven sebenarnya sepintar itu. Aku merasa sedikit penasaran, apakah jika Raven bisa terlepas dari kecanduannya, dia bisa saja menyalip Arga nantinya? Pertanyaan itu tiba-tiba saja melintas dipikiranku, menepis perasaan takut dan bersalahku.
"Em... ustadzah Syffa." panggil ustadzah Astri. "Saya tahu saya tak sepantasnya menanyakan ini, tapi... kalau saya tak salah lihat, Raven itu pernah berdiskusi dengan anda kan di konseling? Dan dia itu kenapa ya?" tanyanya.
Hatiku jelas merasa terkejut, namun aku langsung berusaha untuk mengendalikan suasana hatiku. Aku tersenyum, "Benar, ustadzah. Namun, saya bukannya tak mau memberi tahu, tapi... itu permasalahan personal dia, saya merasa bersalah jika mengungkapkan permasalahan itu. Bisa saja nanti saya membicarakan aib dia juga," serta aibku juga. Ucapku dalam hati. Tentu saja, didalam buku teks manapun tak ada kaidahnya seorang guru konselor mengu-rut bat-ang ubi muridnya sendiri, apalagi aku sendiri seorang ustadzah.
Ustadzah Astri mengangguk, mengerti dengan apa yang kukatakan. Sementara ustadzah Ani berujar, "Sayang sekali, jika saja Raven bisa lebih terbuka, pasti aku tak akan sungkan untuk mengajarinya materi-materi yang efektif."
"Benar, padahal, Raven itu ganteng, anak orang kaya, tapi kepribadiannya, seakan berbanding kebalik." tambah ustadzah Hilmi.
"Apa mungkin, pikiran dia terbebani dengan status keluarganya yang kaya itu ya?" ucap ustadzah mahmudah sambil melihatku penasaran, beberapa guru ada yang membenarkannya.
Aku hanya tersenyum membalas tatapan penasaran mereka, padahal alasan Raven bukanlah seperti yang mereka pikirkan, apalagi, ini juga pertama kalinya aku mengetahui jika Raven itu anak dari keluarga yang berada.
Kami lanjutkan mengobrol, dari yang awalnya membahas siswa-siswi, sampai jajanan, pakaian, dan sebagainya. Aku lebih banyak berbincang dengan ustadzah Indah, seorang guru IPS. Karena umurnya yang tidak terpaut jauh dengan ku daripada dengan guru-guru yang lain, aku bisa sedikit lebih leluasa berbicara dengannya.
Hingga akhirnya, saat waktu istirahat hampir selesai, aku merasakan perutku yang sedikit mules. Akupun berpamitan kepada ustadzah-ustadzah yang lain untuk ke kamar mandi dan lebih dahulu ke kantor.
Di perjalanan kekantor, pemandangan biasa yang kutemui sehari-hari saat mengajar disekolah MA ini di jam istirahat adalah banyaknya murid yang berlalu lalang dilingkungan sekolahan ini. Beberapa siswi menyapaku saat kami berpapasan, dan beberapa lagi ada yang sengaja menggodaku. Biasalah, namanya juga siswa, mereka seakan meminta perhatian dariku, dan aku selalu bersikap ramah pada mereka semua.
Namun, di kejauhan, ada seorang siswa yang tidak meminta perhatianku di saat-saat ramai seperti ini, namun akulah yang malah memperhatikannya.
Raven, dia tengah duduk sendirian di bangku taman sekolah yang ternaungi rindangnya pohon mangga. Dia tengah asyik memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.
Melihatnya senyum seperti itu, aku merasa senang, dan disisi lain juga kasihan. Dia seakan tak memiliki teman sama sekali. Hatiku iba, kakiku melangkah sendiri kepadanya. Tak tahu kenapa, aku ingin sekali hanya sekedar menegurnya sesaat sebelum ke kantor.
"Kamu lihat apa, Raven?" tanyaku saat sampai ditempatnya, dan duduk di sampingnya.
Raven tersentak sedikit, dia memandangku lalu tersenyum, "Eh... ini ustadzah, saya sedang melihat video meme yang ada di toktik," jelasnya malu-malu. Beberapa murid memandang kami dengan heran. Mungkin mereka menganggapku aneh karena ngobrol dengan Raven, seorang siswa yang meskipun tampan tapi pendiam.
"Emang kamu suka dengan video meme seperti itu?" tanyaku dengan ekspresi yang kubuat penasaran sambil ingin melihat meme apa yang tengah ia lihat di hpnya.
Dia dengan tangan gemetar, muka sedikit menerah, menunjukkan layar ponselnya padaku, memperlihatkan video meme kucing yang meloncat-loncat dan memang lucu.
"Em... ustadzah," panggil Raven dengan suara pelan. Aku mengangguk menatapnya.
"Saya... saya tadi sudah kekantor untuk... menemui ustadzah..." katanya dengan suara terbata dan muka yang ia palingkan dari pandanganku.
"Ada keperluan apa ya?" tanyaku lembut, sedikit menggodanya karena entah mengapa, ekspresi gugup Raven menurutku menambah kefeminiman wajahnya yang tampan. Dan melupakan kesulitanku dua hari kemarin untuk bebas dari perasaan negatif yang menyerangku.
"Say... saya ingin, bertemu dengan ustadzah nanti saat pulang sekolah, tidak lama, hanya... sebentar saja," jelasnya.
Aku sedikit mengerutkan kening, pertemuan ku dengannya masih tiga hari lagi, kalau bukan urusan itu, terus apa? Pikirku. Disisi lain jiwaku merasa bersalah karena memancing Raven barusan, namun disisi lain diriku sangat senang dan malah ingin kejadian kemarin terulang kembali. Mungkin setan sudah membisikiku, atau memang akulah yang tidak pandai mengendalikan sikapku.
Wajahku memerah, meskipun cadarku menutupinya, bagian atas pipiku tak bisa berbohong. "Apa... untuk menolongmu lagi?" bisikku, kini giliran aku yang merasa salah canggung, dan jantungku berdebar.
Raven memandangku dengan tidak percaya, matanya membulat melihat wajahku, dan aku secara spontan memalingkan pandangan darinya.
Sebelum ia sempat menjawab, alarm bell berbunyi, menandakan waktu istirahat terlah usai. Raven tersenyum, "Bukan untuk menolong kok, ustadzah, nanti saya akan menemui ustadzah saja," setelah berkata, ia kemudian bangkit dan pergi, tak lupa mengucapkan salam padaku.
Aku juga bangkit, rasa penasaran mulai menyelimuti pikiranku, hatiku juga berdegup kencang, etah mengapa. Selain itu, perut mulesku juga semakin menjadi, dengan cepat aku melangkahkan kakiku kembali. Untuk alasan Raven, aku akan menunggunya nanti saat pulang ia pulang sekolah.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!