Cahaya senja yang redup menerobos celah tirai, menari-nari di debu yang beterbangan di udara. Bau lavender dari pengharum ruangan terasa menyengat, seperti mencoba menutupi aroma lain yang lebih kuatâaroma penyesalan yang menyesakkan dada. Aku terduduk di sudut tempat tidur, tubuhku kaku, kepala tertunduk. Jilbab panjang yang biasanya membuatku merasa anggun kini terasa seperti beban berat yang menindih jiwaku. Rambutku tersembunyi di balik jilbab, seolah ingin menyembunyikan diriku dari dunia luar. Keheningan di kamarku terasa begitu berat, mencekik. Hanya detak jantungku yang berdebar kencang yang memecah kesunyian itu.
Tiga jam yang lalu, aku pulang dari tempatku mengajar. Aku melewati Lia dan Rani yang sedang duduk di teras, mereka asyik berbincang. Biasanya, aku akan bergabung, tertawa lepas bersama mereka. Tapi hari ini... hari ini terasa berbeda. Berat. Aku bahkan tidak menyapa mereka, dan langsung menuju kamarku. Aku ingin menghilang, larut dalam kegelapan. Aku ingin melupakan semuanya. Tapi kenangan itu terus menghantuiku, seperti bayangan yang mengikuti langkahku kemanapun aku pergi.
Pagi tadi, saat selesai melakukan hal tak sewajarnya dengan Raven, aku menyuruhnya untuk membelikanku jilbab kecil di kantin yang dijual oleh bu Naning. Dengan jilbab itu, aku merasa sedikit lega, meskipun pak Bashor sedikit penasaran karena ia tahu pagi tadi aku menggunakan jilbab panjang.
Dengan alasan yang tepat, seperti ketumpahan kopi, aku bisa membuatnya yakin dengan alasanku itu. Dan juga, bahkan di pertemuan kedua dengan Raven, aku juga kembali tak berhasil memberikan solusi padanya, lebih buruknya lagi... aku malah tak bisa mengontrol diri dan ikut dalam aktivitas gila tersebut.
Aku tahu aku tak seharusnya melakukan itu dengan anak didikkku sendiri. Namun, aku sekarang sedikit merasa paham dengan apa yang dirasakan Raven. Nikmat? Entahlah. Tapi konsekuensinya, aku malah merasa berdosa, dan hina dihadapan yang maha kuasa. Aku merasa semua usaha yang ku lakukan untuk tetap berada dijalan yang benar kini sirna.
Aku bingung, bingung dengan pikiranku, masalah Raven, dan semuanya. Apakah nantinya aku akan terlibat lebih dari pagi tadi? Tidak, aku tidak boleh!
Tapi, entah mengapa... aku sebenarnya melakukan itu karena penasaran. Dan aku tak tahu apakah perasaanku terjawab atau tidak. Apa yang aku rasakan ketika meng-urut ba-ta-ng Raven tadi? Enak? Puas? Berna-fsu? Dan aku sebenarnya tahu, jawaban dari pertanyaanku adalah semuanya.
Enak ketika aku dapat merasakan untuk pertama kalinya memegang ubi yang keras dan panas itu didalam genggaman tanganku, nikmat mendengar er-ang-an Raven yang memanggilku, puas ketika aku berhasil membantu Raven meluapkan getah ubinya, dan karena semua itu, aku juga pertama kalinya merasakan apa itu na-fsu bir-ahi, pengalaman pertama yang baru kurasakan.
Tak ingin kalut dalam perdebatan pikiran, aku segera bangkit, mengambil kantong plastik yang berisi jilbab panjang yang terkena getah Raven pagi tadi, dapat kulihat, bekas getah itu sudah mengering dan teksturnya sedikit mengeras seperti resin. Kembali aku teringat rasa yang pagi tadi terciprat ke bibirku, rasa getah itu... Asin. Tanganku tiba-tiba mendekatkan jilbab besar itu menuju lubang napasku, menghirupnya sesaat, sebelum aku tersadar kembali dan melihat sekeliling, takut jika Rani dan Lia mengintipku saat ini. Setelah mengecek pintu sesaat, dan aman, aku segera membereskan baju-baju kotorku dan segera pergi kekamar mandi.
Berharap dengan mandi aku bisa menghilangkan semua beban pikiran dan pikiran kotor yang ada didalam kepalaku.
dengan membawa handuk, dan baju ganti, aku segera turun sambil membawa beberapa pakaian kotorku.
"Syffa, kenapa kamu lama sekali turunnya, dan kenapa kamu tampak buru-buru tadi?" tanya Rani saat aku sampai dilantai bawah.
"Eh... anu, aku tadi buru-buru... cek catatan materi di laptopku yang tertinggal," ucapku beralasan, "Alhamdulillah tadi di kantor aku berhasil membuat materi baru, dan barusan aku cek juga nggak jauh berbeda dengan materi yang aku tulis sebelumnya, hehe,"
Lia menggeleng, "Seharusnya kamu hubungi aku, aku kan libur hari ini, jadi aku bisa mengantarkannya," ucapnya.
Aku tersenyum canggung, "Maaf, aku lupa Li, kukira kamu masuk hari ini, aku lupa kamu kemarin berkata hari ini libur." jawabku.
"Segera mandi dan makan bersama, aku sudah membuatkan kari yang enak untuk kita makan," ujar Rani. Aku mengangguk dan segera pergi kekamar mandi, sebelum itu, aku memasukkan dulu pakaian-pakaian kotorku, termasuk jilbab panjang yang ku gunakan sebelumnya ke dalam mesin cuci, dan lanjut mandi.
Setelah selesai mandi dan menjemur pakaian, aku segera bergabung dengan Lia dan Rani untuk makan bersama di ruang tengah.
"Li, Apakah Rendi tampan?" tanya Rani, memulai perbincangan.
Lia tersenyum, "Tampan dong, yang pasti lebih tampan daripada Dimas," ledeknya, karena dia memang tahu Dimas itu seperti apa wajahnya.
"Aku tidak sabar ingin segera melihatmu berdiri di pelaminan sambil menyalami para tamu undangan..." ucap Rani. "Tapi untuk poin kedua, meskipun aku belum pernah bertemu dengan Rendi, tapi menurutku Dimaslah yang tampan."
Aku dan Lia tertawa kecil mendengar hal itu, memang, Lia sering sekali menggoda Rani seperti ini.
"Nggak, itu saja masih Rendi, belum adiknya, Hendra. Hendra itu malah lebih tampan dari Rendi menurutku." terang Lia.
Rani tersenyum, lalu melihat kearahku. "Kamu dengar Fa? Adiknya Dimas tampan, melebihi Dimas, apa kamu tertarik?"
Aku menghela napas sesaat. "Tidak," jawabku singkat.
"Lagian Hendra masih terlalu muda jika untuk Syffa, Rani. Dia masih sekolah tingkat menengah atas, tahun ini baru lulus." terang Lia.
"Sekolah dimana emang? Bukannya Rendi kamu pernah bilang tinggal di komplek perumahan Lestari?" tanya Rani.
"Iya, tapi aku juga kurang tahu," jawab Lia sambil menyuap nasi ke mulutnya. "Aku tak begitu akrab dengannya, karena dia itu meski tampan, namun dia pendiam dan selalu menghindar dari keramaian. Suka menyendiri."
"Seharusnya cocok dong, tampan dan dingin..." ucap Rani.
Aku hanya diam mendengarkan sambil menikmati makananku, jarang sekali aku terlibat obrolan dengan mereka ketika aku makan, dan mereka memakluminya karena sikapku yang selalu menjalankan sunnah nabi dan adab saat makan.
Perumahan Lestari yang mereka bahas, adalah kawasan rumah yang megah yang ada di daerah sini, jaraknya sekitar 8km dari kawasan komplek yang kami tinggali saat ini. Dan disana kebanyakan yang menghuni adalah orang-orang kaya. Aku juga saat kuliah dulu pernah mempunyai keinginan suatu saat nanti tinggal di kawasan itu. Namun ku urungkan, karena biaya rumah disana sangat fantastis. Perlu mengumpulkan gajiku mengajar sekitar 80 tahun untuk mewujudkan keinginanku itu.
Setelah selesai makan dan membereskan semuanya, Rani tiba-tiba bertanya kembali saat kami berkumpul di ruang tengah. "Fa, bagaimana kabar Raven?" tanyanya, sontak membuat wajahku bersemu merah.
"Iya Fa, apakah dia menunjukkan sikap yang baru lagi?" sahut Lia yang juga penasaran.
"Ke... kenapa kalian menanyakan itu? Aku... aku tidak tahu, mungkin aku terlalu fokus pada materi yang lupa kubawa sampai aku tak sadar dengan keberadaannya," ucapku terbata dan cenderung buru-buru, aku sangat tahu alasanku, yang jelas, aku tak habis fikir mereka akan membahas Raven, aku takutnya nanti keceplosan saja.
"Hehe..." Rani tersenyum dengan ekspresi konyol dan aneh kearah Lia. "Hehem..." Lia juga membalas dengan senyuman yang sama anehnya, serta kode alis yang terangkat beberapa kali.
Wajahku tambah memanas, "Kalian kenapa?"
"Lia, sepertinya sahabat kita mulai salbrut nih, salting brutal," ucap Rani.
"Iya, dia sangat patah dalam menyembunyikan perasaannya," jawab Lia. Mereka masih dengan ekspresi yang sama. Aku yang merasa makin malu, segera berdiri.
"Eh, mau kemana?" tanya Rani.
"Mau nyiapin materi buat besok," jawabku acuh tak acuh.
"Besok kan kamu libur?" terang Lia.
Aku bingung bukan main, "Eh... itu, em... materi buat senin besok! Ya, senin besok, aku pergi dulu." aku segera pergi meninggalkan mereka, tak mau terlalu jauh membahas Raven dengan mereka. Sejujurnya, aku merasa takut jika mereka tahu apa yang sudah kulakukan dengan Raven pagi tadi di ruang konseling. Akan sangat memalukan jika mereka mengetahui aibku seperti apa yang ku bayangkan.
"Fa! Jangan malu-malu, nanti beritahu kami perkembangannya, kami akan mentraktirmu belanja jika kami mendengar kamu memiliki hubungan dengan Raven!" teriak Lia.
"Tidak!" aku dengan segera masuk kedalam kamar dan menutup pintu kencang-kencang dan segera merebahkan diriku ke kasur.
Aku menarik napas panjang, sebenarnya, sangat wajar seorang remaja jaman sekarang melakukan hubungan seperti itu dengan pasangan mereka. Namun menurutku, itu tak benar. Tak benar karena mereka belum sah sebagai suami istri, serta dalam hal apapun. Namun, kebanyakan film dan video-video yang bersliweran di media sosial saat ini, lebih menjurus kearah sana. Mungkin konsumsi itulah yang membuat anak muda jaman sekarang melakukan hal-hal yang tidak-tidak.
Aku merasa munafik, dimana aku menyalahkan tindakan seperti itu, namun aku tadi pagi juga salah satu orang yang melakukannya.
Di tengah pikiranku yang kalut itu, aku segera menjalankan ibadah sholat untuk menenangkan jiwaku, setelahnya aku segera merebahkan diri kembali. Rasa kantuk mulai menyerang diriku, mataku terasa berat. Di saat-saat aku hampir memejamkan mataku, tiba-tiba wajah Raven yang tampan saat meng-er-ang pagi tadi muncul dari pikiranku.
Aku takut, trauma dan rasa yang sulit kujelaskan, dan entah mengapa, disisi lain diriku seolah aku merasa tidak sabar untuk pertemuan selanjutnya, dan bisa menebak apa yang akan terjadi minggu depan.
Kamu harus bisa lebih baik lagi nanti, Syffa! pikirku, mencoba menyadarkan diriku yang kurasa juga sudah semakin jauh kedalam jalan sesat itu.
Sampai akhirnya, aku benar-benar tak mampu menahan kelopak mataku yang kian berat, setelahnya langsung tertidur lelap.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!