Raven kemudian tampak risau, matanya tak menentu melihat dengan tatapan yang susah fokus. "Ustadzah... bag, bagaimana ini? Saya... saya mulai merasa aneh..." ucapnya.
Sontak aku segera melihat kearah cel-ananya. Mataku melotot, terlihat jelas dari mataku ada tonjolan yang sudah meng-eras dari balik celananya. Aku terdiam, teringat dengan kejadian minggu lalu. Ingatan itu seoalah bangkit kembali dalam pikiranku.
"Sakit... ustadzah..." katanya memelas. Aku bingung, mencoba untuk berpikir sesaat.
Setelah berpikir cukup keras, aku akhirnya mengangguk perlahan. Karena aku tahu jika Raven akan melakukan aktivitas on-an-ninya lagi didepanku. Bukan tanpa alasan aku membiarkannya, aku merasa kasihan melihatnya yang seperti tersiksa itu, ditambah lagi, membicarakan permasalahan yang menimpanya dengan kondisinya sekarang, akan sangat sulit ia terima.
Kali ini, ia tampak sedikit lebih biasa saja saat menurunkan cel-ananya didepanku sampai ke lutut, dan dengan mudahnya ia menghunus ubinya ke atas, lalu diurut-urut dengan tempo naik turun dengan pelan. Dari atas ujung ubinya, aku bisa melihat adanya air bening yang keluar, mungkinkah itu air mad-zi? Pikirku.
Dapat kulihat, mata Raven kembali meng-gera-yangi tubuhku secara perlahan. Sesekali ia memalingkan pandangannya saat aku juga tak sengaja menatap matanya. Menurutku, dia sangat tampan saat wajahnya canggung dan bernaf-su seperti itu. Wajahku menghangat, dadaku berdebar, dan merasa oksigen menghilang di ruangan itu.
Aku merasa hilang kontrol, merasa lupa dengan semuanya, entah kepada kejadian yang terulang kembali ini, ataupun kepada larangan dalam kepercayaanku. Seperti ada sesuatu yang mendorong ku untuk terus melihat aktivitas muridku ini.
Dan entah mengapa, satu pertanyaan yang tidak bisa ku nalar, tiba-tiba saja keluar dari mulutku. "Ehm... Raven, kalau ada perempuan yang mengurut Ubi kamu itu... apa yang akan perempuan itu rasakan?" pertanyaan yang aneh, amb-igu, dan tak seharusnya aku tanyakan. Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku merasa tak bisa berfikir, pertanyaan itu sudah ada sejak aku menonton video kala itu.
Karena pertanyaan ku yang cukup berani itu, Raven juga tampak terkejut. Dia memberhentikan aktivitasnya, perlahan, ia lepaskan tangannya dari ubinya sendiri, membiarkan ubinya berdiri sendirian dan tampak membutuhkan kehangatan pelukan jari. Tanpa sadar, aku menggigit bibir bawahku melihat ubi yang berakar dan tampak kokoh itu.
"Kalau ustadzah penasaran... hem... kenapa ustadzah... tak mencobanya sendiri?" tanyanya sedikit ragu dan memalingkan pandangannya.
Mataku membulat mendengar jawabannya, walaupun aku tak pernah belajar tentang ini, tetapi yang pasti, ini adalah perbuatan yang salah, aku tak sepatutnya berkontak fisik dengan anak didikkku sendiri, apalagi dia adalah seorang laki-laki, ini adalah perbuatan yang haram dan bukan mahramnya.
Dan sekali lagi, seolah ada bisikan setan yang berbisik di dalam telingaku yang menembus syah-watku, tiba-tiba aku berpikir. Kamu kan bisa menggunakan penghalang?
Naluriku bergejolak, mataku segera mengamati sekeliling, mencoba mencari alat yang bisa kugunakan untuk memisahkan kulitku dengan Raven. Dan akhirnya, perasaanku bisa senang karena tak menemukan apapun, sebelum mataku jatuh pada jilbab lebarku. Wajahku memerah, benarkah apa yang aku lakukan ini?
Perasaan ingin tahu ku meledak bak bendungan yang jebol penghalangnya, karena perasaan inilah yang membuatku mendapatkan IPK 4,00 saat kuliah dulu. Karena segala sesuatu yang tidak aku pahami pasti aku cari tahu jawabannya, hanya saja aku tidak menyadari jika perasaan ini sebenarnya adalah perasaan naf-su bi-ra-hiku, dan menuntunku sampai ke titik sekarang ini.
Perlahan, tanganku masuk ke dalam jilbab panjangku, lalu aku berdiri dan mendekat kearah Raven. Dapat kulihat, dia melongo, matanya terbuka lebar, seakan tak percaya aku menghampirinya. Aku perlahan duduk berlutut di depan celah kaki Raven.
"Us... ustadzah..." ucapnya tak percaya, aku hanya diam melihatnya sekilas, karena mataku tertuju pada Ubi yang besar dan keras itu.
Aku membawa tanganku yang berlapiskan Jilbab panjangku mendarat, menggenggam Ubi yang sebelumnya dipegang oleh Raven. Mataku membulat karena terkejut, napasku berat. Ubinya terasa sangat keras, padat, dan... terasa panas. Walaupun tanganku berlapiskan jilbab, aku dapat merasakan setiap akar yang timbul dari keliling Ubi itu.
"Ah... ustadzah..." de-sah Raven, tangannya hampir saja menyentuh kepalaku, tapi aku masih sempat menghindarinya. Aku menatap matanya sedikit marah, seakan memberi tahu padanya kalau cukup sampai sini saja, dan kemudian Raven tersenyum malu.
"Ma... maaf, ustadzah..." ucapnya kemudian.
Pandanganku kemudian kembali turun kearah Ubi Raven yang hangat dan ker-as itu. Syah-watku seolah mengajakku agar aku menjilat ubinya seperti dalam video me-su-m tempo hari. Tapi bukan itu yang kumau, jadi aku bisa menahannya. Dengan tanpa sengaja menggigit bibir bawahku, aku perlahan mulai meng-urut ubinya keatas dan kebawah, seperti yang dilakukan Raven sebelumya.
Berlapiskan jilbab lebarku itu, aku terus meng-urut-nya, dan dapat kurasakan, napasku semakin berat, begitupun dengan Raven.
"Ah... ustadzah... umphhh..." Raven melihat wajahku yang hanya beberapa inchi dari ubinya yang mulai terasa berdenyut. Karena ekspresi Raven itu, tanganku yang berlapis jilbab hitam, meng-urut Ubi Raven semakin cepat dan erat.
"Ahhh... ustadzah... jangan, jangan terlalu erat pegangnya..." katanya, aku cepat-cepat melonggarkan sedikit genggamanku sebelum aku lanjutkan kembali meng-urut Ubi itu keatas dan kebawah. Dapat aku rasakan, ubinya yang panas dan keras, serta tekstur empuk kulitnya, berde-nyut kuat di dalam genggaman tanganku.
"Hmmmhh... sudah ada perempuan lain yang melakukan ini padamu sebelumnya?" tanyaku, sambil aku menukar tabganku yang masih berlapiskan jilbab, tanganku yang satunya terasa pegal sedikit, dan kembali meng-urut bata-ngnya kembali. Dapat kurasakan kulit ubinya bergerak mengikuti gerakan tempo ayu-nan tanganku.
Raven menggeleng, "Ahhh... belum pernah ada, ustadzah... umphh... ustadzah yang pertama melakukannya... ah... enak sekali, ustadzah..." katanya.
Pujian Raven barusan sangat membuat hatiku senang dan berbunga-bunga. Lalu, aku teringat kembali salah seorang aktor me-sum di video itu memutar-mutarkan tangannya sambil meng-urut, lalu aku segera meniru gerakan tersebut, untunglah jilbabku ini panjangnya sampai ke pinggang, senang sekali rasanya karena tanganku bisa leluasa bergerak berlapiskannya.
"Ustadzah!... hmmhh... ahhh... enaknya... kalau, kalau begini... ah... saya sudah merasa mau kel-uar..." er-ang Raven keenakan. Tangannya memegang erat sudut kursi panjang yang ia duduki, karena jika tak memegangnya, tangannya pasti akan memegang erat kepalaku.
Aku merasa senang karena Raven mencoba menjaga batasnya, namun, sambil menggigit bibir bawahku, aku mulai berfikir. Kalau dia kel-uar, mau kel-uar kemana? Dan anehnya, aku malah masih dengan semangatnya meng-urut ubi itu.
"Ahhh ustadzah! Ustadzah!!!" Raven menger-ang kuat, dan aku dapat merasakan ubinya berden-yut kuat juga didalam genggamanku, setelah itu, Raven melancarkan getahnya tanpa terkontrol mengenai wajahku.
"Raven!!! Ummph!" aku reflek menutup mulutku sambil aku menutup ujung Ubi Raven dengan tangan yang berlapiskan jilbab panjang itu, dan entah mengapa, tanganku juga masih meng-urutnya, seolah-olah menginginkan sem-protan getah itu dengan banyak.
Tertutup, batang Ubi Raven tertutup, aku tidak dapat melihat apa yang terjadi setelahnya, namun aku bisa merasakan setiap semb-uran mengenai tanganku, yang sudah meleleh dan merembes ke tanganku yang sedang mengu-rutnya. Dan meskipun dihalangi, getah ubi Raven mulai menembus ke dalam jilbabku, mengenai tanganku satunya yang menutupinya dari atas.
Aku dan Raven menarik napas dalam-dalam bersama-sama, aku biarkan sampai getahnya meluap semua, sebelum aku menarik jilbab panjangku yang kini basah akibat getah putih itu. Kotor, pekat, dan bau yang aneh memenuhi jilbabku setelahnya.
"Ah... nikmat sekali ustadzah..." des-ah Raven perlahan.
Aku membuka bibirku, merasakan adanya yang menciprat ke wajahku tadi. Spontan aku menjilatnya, asin, dan aku juga sadar melakukannya. Aku kemudian menarik bagian jilbabku yang masih kering, mengusap bibir, lidah dan sedikit di hidungku. Nyatanya, cadarku tak sepenuhnya menutupi wajahku saat aku melakukan kegiatan yang salah dan sepenuhnya aku sadar akan salah tersebut.
"Lalu, sekarang harus bagaimana?" tanyaku bingung. Raven perlahan mengambil beberapa lembar tisu dari kotak tisu yang ada diatas meja. mengelap beberapa bagian jilbabku, serta setelahnya ubinya sendiri.
"Ternyata... tidak bisa bersih total, ustadzah..." ucapnya bingung saat melihat jilbabku setelah selesai ia bersihkan.
Aku berpikir untuk sesaat, "Segera pakai celana kamu, setelah itu, ustadzah mau minta tolong, boleh ya?" tanyaku kemudian. Dia tersenyum kearahku dan mengangguk.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!