Chapter 10 of 53

Bab 10

Terlalu jauh bersama muridku1,095 words~6 min read

Hari jumat, huh... rasanya, cepat sekali waktu berlalu. Sudah beberapa bulan ini aku mengajar di MA Al-Aziz, dan menurutku, aku merasa nyaman dengan hal itu.

Seperti biasa, setelah aku sampai di sekolah, aku segera ke kantor dan selalu menjadi yang kedua setelah bu Siti ketika datang kesana. Entah mengapa, mungkin didikan orang tuaku dari dulu dan selalu ku terapkan sampai sekarang untuk datang lebih awal jika ingin melakukan sesuatu. Karena kebiasaanku ini, aku di cap siswi paling rajin di SMA ku dulu.

Hingga pada akhirnya, satu persatu guru mulai datang, aku segera nimbrung ke ustadzah Ani dan yang lainnya, hanya sekedar ngobrol ngalor ngidul sebelum memulai tugas kami masing-masing. Menurutku, momen seperti inilah yang membuat kami bisa memiliki hubungan dengan lebih dekat lagi.

Jadwal mengajarku hari ini adalah jam pertama di kelas 12, dan entah mengapa, aku seakan lupa dengan Raven. Mungkin karena tadi malam sebelum aku, Rani, dan Lia berpisah untuk tidur, kami membahas tentang pernikahan. Hingga membuat aku kini menjadi lebih condong untuk memikirkan pernikahan Lia yang akan datang.

Aku masih bingung dengan hadiah apa yang akan aku kasih padanya nanti. Yang jelas, aku akan mencari hadiah yang paling bagus dan tak terlupakan untuk sahabatku itu.

"Baik, semuanya... jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian yang telah saya berikan ya! Kita bertemu lagi minggu depan... Asalamualaikum..." aku memberi salam sambil merapikan peralatanku dan setelahnya segera melangkah keluar setelah mendengar jawaban salam yang agak riuh dari kelas itu.

Buru-buru aku melangkahkan kakiku, ingin segera menyambung pembicaraan seru bersama ustadzah lain yang tertunda sebelumya. Ketika aku berjalan, Raven tiba-tiba mengekor dibelakangku.

"Ehmm... ustadzah..." panggilnya sopan. Aku sengaja berpura-pura terkejut saat membalikkan badan.

"Iya Raven?" Aku benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari dimana jadwal pertemuanku dengan Raven. Saat aku melihat wajahnya yang sedikit malu-malu tersebut, wajahku menghangat, aku teringat ledekan Rani dan Lia semalam.

"Ehm... hari ini pertemuan kita untuk mencari solusi... ehm... bagaimana, ustadzah." Aku terkejut, kupikir masih besok pertemuanku dengan Raven. Melihat muka Raven yang memalingkan wajahnya saat berkata, entah mengapa aku malah ingin menjahilinya.

"Ya, jadi. Sebentar ya, ustadzah akan ke kantor dulu untuk menaruh barang ustadzah. Kamu duluan saja, nanti ustadzah susul." Kataku sambil mencoba mendekat kearah Raven yang di mana dia sedikit terkejut melihat tindakanku itu.

Aku seakan lupa dengan kejadian minggu lalu, seorang murid, yang dengan terpaksa memamerkan ubinya yang berakar bak otot itu di depan mataku, ustadzahnya sendiri. Aku seakan lupa dan tindakanku barusan seakan memancingnya.

Aku memberi salam sebelum melangkahkan kakiku menuju ruang guru, ingin mengambil peralatan konseling ku dan juga menandai buku untuk memberi pelajaran ke kelas selanjutnya.

Saat masuk ke ruang guru, entah apa yang membuatku lupa, aku malah bergabung dengan ustadzah lain sesaat untuk menyambung pembicaraan sebelumya setelah selesai menandai buku dan mengingat beberapa materi. Hingga bu siti berkata kepada pak Usman, guru IPA yang menanyakan keberadaan pak Bashor dari kejauhan mengingatkanku kepada Raven.

Aku segera pamit kepada ustadzah-ustadzah yang lain dan segera pergi ke ruang konseling setelah mengambil buku catatan konselingku.

Jujur saja, setelah aku menonton video yang di tinggalkan Raven di hpku malam itu, di malam-malam selanjutnya, aku kembali menontonnya. Bukan karena ketagihan, namun aku ingin mencari tahu apa yang membuat muridku itu menjadi begitu bern-af-su begitu. Dan sebenarnya, setelah menonton banyak video dengan genre yang sama, aku kurang faham.

Banyak adegan dan kejadian yang tak aku pahami, dan aku pernah mendengar cerita dari teman-temanku semasa kuliah dulu, bahwa cerita dalam video me-su-m itu tidak sama dengan se-ks aslinya. Dan satu pertanyaan terbesit didalam benakku saat mengingatnya. Berarti setiap adegan dalam film itu tak semuanya terjadi setelah menikah nanti?

Walaupun harus kuakui, bahwa badanku merasa hangat ketika melihat aksi yang terjadi dalam hpku itu. Dan dua hari yang lalu, aku berhenti untuk menonton video-video tersebut. Aku merasa sangat berdosa dan tak sepantasnya aku menonton itu.

Aku kemudian lebih fokus untuk mencari cara dengan beberapa artikel dokter untuk kasus Raven tersebut. Dan semuanya telah aku catat di buku catatanku.

Tak terasa, aku sudah sampai di depan ruang konseling yang terbuka lebar pintunya. Kulihat, Raven tampak duduk terdiam sendirian mengamati ruangan tersebut. Di ruang konseling yang satunya, pintu sudah tertutup, bertanda pak Bashor sedang berada disana bersama siswa.

Saat aku mengucapkan salam dan menutup pintu, kulihat Raven tersenyum kearahku, senyuman yang menurutku benar-benar tulus. Semoga itu pertanda adanya perkembangan untuk kasus Raven.

Aku meletakkan bukuku di meja panjang itu dan duduk di kursi guru, sementara Raven mengambil posisi duduk yang sama seperti minggu lalu.

"Bagaimana kabarnya, Raven?" tanyaku, mencoba berbasa-basi sebentar sebelum ke inti permasalahannya.

"Alhamdulillah, baik, ustadzah," jawabnya dengan semangat dan tersenyum, pemandangan yang tak ku lihat di minggu sebelumnya.

Aku mengambil catatan ku, "Baiklah, jadi. Ceritakan kepada ustadzah, apakah ada perkembangan dari progresnya?" tanyaku ramah.

"Maaf, ustadzah... tak.. tak ada..." katanya perlahan.

Spontan aku bertanya, "Video yang mana?" raut wajah Raven sedikit terkejut, mulutnya seperti tak bisa mengeluarkan kata-kata.

"Apa yang seorang guru wanita merayu muridnya itu dan menggesek-gesekkan kema-lu-annya kearah muridnya yang nembuatmu ketagihan?" pertanyaanku ini seolah terlontar begitu saja tanpa disaring. Karena aku merasa terkejut dan bingung, selama satu minggu ini ngapain saja Raven, apa dia tidak mencoba berusaha terlepas dari kebiasaannya itu? pikirku.

"Maaf, ustadzah... anda... anda tak memberikan solusi... di pertemuan kita minggu kemarin... jadi, saya juga masih bingung..." jelasnya terbata-bata.

Aku mengatur napasku beberapa saat, sampai dadaku merasa tenang, "Maaf... maafkan ustadzah, ustadzah lupa kalau minggu lalu tak memberikan solusi karena waktunya tidak memungkinkan. Ustadzah hanya terbawa suasana," aku sampai lupa, jika Raven datang padaku, jelas dia sudah mencoba beberapa metode dan gagal, makannya dia ingin mencari solusi padaku. Huh... Syiffa... fokuslah!

"Uu... ustadzah... juga tahu videonya?" tanya Raven saat aku mencoba menenangkan diri.

Entah mengapa, karena disini adalah rahasia kami, aku mengangguk, "Kamu ingat kan kamu mempause video waktu itu begitu saja... aku... melihatnya untuk mencari solusi yang tepat untuk kasus kamu ini..." jawabku, sedikit jujur.

Aku segera membuka buku catatan ku, mencari catatan yang ku tulis tempo hari, hingga tiba-tiba Raven bertanya lagi yang diluar dugaan. "Ustadzah suka bagian yang mana dari video itu?"

Tanganku terhenti, wajahku memerah, tak tahu harus menjawab bagaimana dengan pertanyaan Raven itu.

"Tidak ada... tidak ada yang ustadzah suka dari video itu, Raven. Ustadzah menontonnya hanya karena penasaran saja," jawabku setelah terdiam sesaat.

Raven mengangguk, aku bisa melihat sedikit senyumnya terukir di wajahnya. Mungkin dia gembira karena ada wanita lain yang menonton video yang sama yang pernah ia tonton.

"Tapi kamu tahu kan, kalau semua adegan di video tersebut hanya... fantasi saja?" tanyaku.

Raven mengangguk, "Saya tahu... tapi... karena itulah, mau bagaimana lagi, ustadzah... fantasi itu lebih baik dari pada kenyataan,"  katanya.

Aku mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan Raven barusan.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!