Namaku Almira Asyffa, teman-temanku biasa memanggilku Syffa. Pagi ini, aku mencoba menarik napas dalam untuk mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin masuk ke dalam paru-paruku, melangkahkan kakiku ke dalam kawasan Sekolah MA Al-Aziz.
Udara pagi masih dingin, embun pagi masih menempel di rerumputan yang tumbuh liar di sudut-sudut lapangan sekolah. Bangunan sekolah tua itu tampak lebih megah dari yang kulihat di foto, namun juga lebih lusuh. Coretan hitam akibat korosi menghiasi dinding-dinding tua itu, menceritakan kisah panjang sekolah ini. Banyak sekali tanda vandalisme bekas ulah siswa di sana-sini, seolah-olah dinding-dinding itu sendiri menyimpan bisikan-bisikan kenakalan masa lalu.
Aku merasakan sedikit kegugupan, sebuah campuran antara kegembiraan dan kekhawatiran yang mencengkeram dadaku. Hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sini, hari pertamaku secara resmi menyandang nama guru, atau dalam kasus ini, Ustadzah. Sejujurnya, ada rasa gemetar yang tak dapat kuhindari.
Aku merasa datang terlalu awal, mungkin karena rasa tegang yang kurasakan. Aku berjalan menuju kantor, mencoba untuk mengurangi debaran jantungku yang tak karuan. Sekolah ini terasa sunyi, hanya suara langkah kakiku yang memecah kesunyian pagi. Aku menemukan ruang kantor dan bertemu Bu siti, seorang pekerja sekolah yang ramah. Kami berbasa-basi, sambil menikmati kopi yang baru saja ia seduh. Aroma kopi robusta yang kuat memenuhi hidungku, mencoba untuk menenangkan saraf-sarafku yang tegang. Karena masih pagi, aku duduk menunggu di ruangannya, memandangi halaman sekolah yang masih sepi.
"Ustadzah, hati-hati di sini," Bu Siti mengingatkan seraya menyodorkan kopinya. Matanya yang ramah sedikit menyiratkan kekhawatiran. "Sekolah ini terkenal dengan siswanya yang nakal. Jangan sampai diganggu," lanjutnya, suaranya lembut namun penuh peringatan. Aku mengangguk, mengerti. Aku mencoba tersenyum, mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Memang, dalam dunia pendidikan, ada saja sekolah yang dicap sebagai sekolah anak berandal hanya karena ulah satu atau dua murid nakal. Kurasa Bu Fatimah terlalu membesar-besarkan masalah ini. Mungkin tidak semua siswanya seperti itu, pikirku. Namun, sekilas, aku melihat coretan-coretan grafiti di dinding yang menggambarkan sesuatu yang sedikit meresahkan. Seperti gambar-gambar burung, yang semestinya tak baik di gambar didinding sekolah MA.
"Kalau ada apa-apa, Ustadzah, lapor saja ke saya," kata Bu Siti lagi, kali ini suaranya lebih tegas. Aku mengangguk lagi, merasakan sedikit tekanan di dadaku.
Seorang wanita paruh baya kemudian masuk, menempelkan kartu presensinya di mesin absensi, lalu menyapa kami. Ia mengenakan seragam batik sekolah yang rapi.
"Oh, jadi Ustadzah Syffa, itu kamu. Namaku Hilmi, Kepala Sekolah. Kamu bisa panggil saya ustadzah Hilmi saja," ucapnya dengan ramah. "Setelah rapat nanti ikut saya ya, akan saya briefing kamu, dan nanti kita bahas jadwal mengajarmu juga," ucapnya dengan ramah. Senyumnya menenangkan, mengurangi sedikit rasa cemasku.
Aku mengangguk paham, "Baik, Ustadzah."
Ustadzah Hilmi mengucapkan salam sebelum meninggalkan kami, dan kami menyambung obrolan. Kali ini obrolanku dengan Bu Siti mengenai kue lapis Surabaya yang akan dipesan untuk acara perpisahan sekolah. Bu Siti menceritakan detail kue lapis itu dengan antusias, dan aku mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba untuk mengalihkan pikiranku dari rasa gugup yang masih membayangi.
*
Aku menarik napas dalam-dalam. Mengetahui kelasku berada di samping tangga tempatku berdiri sekarang, membuatku sedikit ciut. Suara gaduh siswa terdengar dari balik pintu kelas, menandakan bahwa pelajaran sudah hampir dimulai. Jantungku berdebar lebih kencang. Aku membaca doa yang diajarkan ayahku ketika tegang, doa yang selalu menenangkanku di saat-saat seperti ini ketika kuliah dulu. Doa yang selalu membantuku untuk menghadapi tantangan.
Sebelum melangkah masuk ke dalam kelas, aku memasang senyum di wajahku, mencoba untuk terlihat percaya diri. Meskipun suasana sudah ramai menandakan waktu pelajaran sudah dekat, pagi itu masih terasa tenang, sebuah ketenangan yang rapuh yang bisa hancur kapan saja. Aku merapikan jilbab panjangku, menyesuaikan posisi kerudung dan memastikan penampilan terbaikku. Aku mengambil napas dalam-dalam sekali lagi, dan melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas.
Kelas yang tadinya riuh berisik mulai sepi dan senyap. Ketika aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas, semua siswa seperti bertanya-tanya siapa yang masuk. Masing-masing siswa kembali ke tempat duduknya dengan cepat, seolah-olah ada sesuatu yang tiba-tiba membuat mereka terdiam. Terdengar deretan suara kursi di sana-sini yang sedang dirapikan dengan tergesa-gesa. Suasana menjadi hening, hanya suara langkah kakiku yang terdengar di ruangan itu.
"Selamat pagi, Ustadzah," seorang pelajar perempuan mengawali ucapan sambutan, suaranya sedikit gemetar, diikuti seluruh kelas.
"Selamat pagi, semua," jawabku, tersenyum meskipun hati masih tegang. Aku mencoba untuk terlihat tenang dan percaya diri, meskipun sebenarnya jantungku masih berdebar kencang.
Aku meneruskan mengajar di kelas itu sebaik mungkin, berusaha mengendalikan debar jantungku yang masih berpacu kencang. Sebenarnya, aku sangat risau. Tidak sepatutnya guru baru sepertiku mendapat kelas 12. Namun, karena sekolah ini kekurangan guru Pendidikan Islam, aku dipilih untuk mengajar di kelas tersebut. Alhamdulillah, kelas 12 ini ternyata kelas paling pintar. Hal ini sedikit mengurangi kekhawatiranku.
Kelas hari itu berjalan lancar. Jam pertama dan kedua ku gunakan untuk pengenalan mata pelajaran Pendidikan Islam, banyak siswa yang bertanya dengan antusias. Namun, ada seorang siswa yang menatapku dengan tatapan yang membuatku risih. Dia tak banyak bicara, tetapi aku merasakan tatapannya sejak awal hingga akhir pelajaran. Tatapannya tajam dan intens, menembusku hingga ke lubuk hati.
Mungkin dia tipe murid yang pemalu untuk bertanya, atau memang tipe yang tak banyak bicara, pikirku. Namun, ada sesuatu yang berbeda pada tatapannya, sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman, tetapi juga penasaran. Aku tak dapat melupakan tatapan itu, tatapan yang membuatku merasa diperhatikan, tetapi juga diintimidasi. Aku hanya berharap, ini hanya prasangka burukku saja.
Sepulang mengajar, aku bergegas menuju kontrakan. Matahari sudah mulai condong ke barat, menumpahkan cahaya jingga yang lembut di langit sore. Kontrakan kami, sebuah rumah tua bergaya kolonial, tampak lebih menawan di sore hari. Cat temboknya yang mulai mengelupas dan genteng yang bergeser seolah tak begitu kentara, tergantikan oleh keindahan cahaya senja yang menerpa dinding-dindingnya. Halaman yang luas, dengan pohon mangga tua yang menjulang di sudutnya, memberikan kesan teduh dan damai. Bayangan pohon mangga itu jatuh panjang di atas rumput yang sedikit liar, menciptakan pola-pola unik yang menarik. Aku memarkirkan mobil di tempat parkir yang sempit, lalu bergegas masuk.
Aku membuka pintu gerbang besi yang sedikit berderit, dan memasuki halaman. Aroma masakan yang sedap langsung menyambutku. Ternyata, Rani, temanku yang belum lulus-lulus kuliah, dan memiliki hobi memasak, sedang membuat kari ayam. Bau rempah-rempah yang harum bercampur dengan aroma tanah basah setelah hujan siang tadi, menciptakan perpaduan aroma yang sangat menyenangkan. Aku merasa sedikit tenang setelah menghirup aroma tersebut. Aroma yang sangat Indonesia.
Di ruang tengah, Lia, temanku yang lain, sedang asyik membaca buku sambil mendengarkan musik klasik yang mengalun pelan dari headphone-nya. Kamar-kamar di rumah ini, masing-masing dihuni oleh penghuninya, memberikan privasi yang cukup bagi kami. Namun, ruang tengah menjadi tempat berkumpul, bercerita, dan berbagi. Rumah ini, meskipun tua dan sederhana, terasa hangat dan nyaman. Setiap sudutnya menyimpan kenangan dan cerita. Malam-malam kami sering diisi dengan obrolan ringan, kadang membahas masalah pekerjaan, kadang membahas hal-hal sepele, dan kadang hanya tertawa bersama tanpa alasan yang jelas. Kadang kami juga menonton film bersama, atau sekadar berbaring di lantai sambil berbincang. Suasana kekeluargaan yang hangat selalu terasa di rumah ini.
Rumah ini lebih dari sekadar tempat tinggal. Ini adalah rumah yang dipenuhi dengan tawa, cerita, dan persahabatan. Ini adalah rumah yang selalu memberikan rasa nyaman dan tenang setelah seharian bergelut dengan aktivitas yang melelahkan. Ini adalah rumah yang selalu membuatku merasa bersyukur. Di sinilah aku merasa paling aman dan nyaman. Aku berharap, beberapa hari ke depan akan berjalan dengan lancar.
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!