Clara dan Minho membawa Newt bersandar dibawah tempat duduk. Pria itu semakin memucat dan tak bertenaga. Newt menghela nafasnya yang semakin berat, dan terbatuk batuk kecil. Hal yang membuat Thomas dengan cepat beranjak mendekati Newt.
Clara yang melihat kedatangan Thomas segera berbicara, "Thomas kita harus mendapatkan serumnya secepat mungkin."
Thomas belum menjawab, dia masih memperhatikan Newt yang wajahnya menampak urat urat kecil di pipinya.
"How are you feeling?" tanya Minho menyentuh lengan sahabatnya.
"Terrible." Newt memaksa senyum ditengah sesak nafasnya, "It's good to see you though."
Thomas meraih bahu Newt dan meletakannya di bahu miliknya, mengangkat Newt supaya kembali berdiri. "Come on, bud. We gotta get you up."
Clara segera membantu Thomas disisi lainnya tangan Newt. Mereka kembali berjalan mencoba mencari jalan keluar, namun belum sampai beberapa saat kaki Newt kian melambat bergerak. Dia melemas dan jatuh, membuat Thomas dan Clara yang belum siap pergerakannya terpaksa menaruh Newt dibawah.
"Newt!?" panggil Clara dengan paniknya.
"I'm fine, i'm fine." Newt menjawab kepanikan Clara dengan seadanya.
"Aku pikir mereka menyerang Wicked saja, tidak semua kotanya." Gally menatap api ledakan jauh didepan mereka. Kondisi semakin mencengkam karena tembakan mulai melahap gedung gedung runtuh.
"Come on!" Thomas kembali menarik Newt untuk berdiri, tetapi pria itu tak sampai melakukannya karena dirinya merasa tak sanggup. Dia melepaskan tangan Thomas dan melihat sahabatnya itu.
"Pergilah tanpaku."
Clara melihatnya terkejut dan dengan alis mengkerut dia mengelak kemauan pria itu. "Newt, kita hampir sampai!"
"Just leave me. It's okey."
"No, Newt. Come on, we gotta get up." Thomas kembali berusaha membangunkan Newt.
"Go without me!" seru Newt dalam nafas terputus putusnya.
Clara menggeleng kuat, "i'll never leave you."
Thomas terdiam menatap Newt kemudian berbicara kepada Minho. "Minho pergilah ambil serumnya, lalu kembali secepat yang kau bisa."
"What--?"
"Minho, please." Clara menatapnya penuh harap.
Gally kemudian menepuk bahu Minho, "Tidak apa, aku akan temanimu."
Minho mengangguk setuju.
Thomas melirik Minho, "Go, Minho."
Tak buang waktu, Minho dan Gally segera pergi mengambil serum. Meninggalkan Thomas dan Clara yang menemani Newt. Thomas beranjak berdiri dan melihat sekitar, mencari jalan aman untuk keluar.
"Newt? Newt!" teriak Clara menyadarkan Newt dari lamunannya. "Newt kau harus terus dengar aku. Kita harus jalan sedikit lagi dan dapatkan serumnya. Kita sama sama berjuang, okey? Just hold on."
Newt melihat sang kekasihnya dengan nafas berat, dia berbisik lirih. "Clara.. i can't through this anymore."
"Tidak, kita bisa. Newt kau harus bertahan, aku mohon." Clara memegang bahu Newt dan bergetar ketakutan. "Kau janji takan meninggalku. Kita punya rencana setelah ini, kita bisa menggapai itu bersama sama."
"Aku senang memilikimu, Clara." Newt berbicara lirih, dia tersenyum tipis melihat gadisnya. "Aku tak bisa bertahan sejauh ini tanpamu. Aku mencintaimu.."
Clara menggeleng dengan tangisannya, "Kita masih sama sama, Newt. Tolong jangan menyerah. Aku mohon.."
Newt tidak menjawab, dia berusaha untuk sadar kala kesadarannya mengendalikan dirinya. Telinganya berdenging dan tubuh Newt seperti kaku. Suara Clara tak dapat ia dengar jelas. Newt mengira ia akan berubah sepenuhnya.
"Newt! Newt!"
Newt tersentak dan bersyukur dirinya masih dapat mengendalikan.
"Newt, kita harus pergi. Kau harus bertahan!"
Thomas kembali kepada keduanya. "Ayo, kita harus pergi."
Newt menolak ketika Thomas kembali mencoba merangkulnya. Dia mengambil sesuatu dikantung dan memberikannya kepada Thomas. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk tabung kecil. "Take it."
"No, Newt we have--"
"You take it!" Newt berseru teriak kala Thomas tak juga mengambilnya. Suara yang mengejutkan keduanya dan membuat Thomas akhirnya mengambil kalung itu dari tangan Newt.
"Please, Thommy .. please." Newt menarik nafas. Dia sudah berputus asa. Newt tak peduli lagi jika detik ini dia mati dan berubah. Sakit ini membuat dia tersiksa. Hanya saja berat sekali meninggalkan Clara dan sahabat sahabatnya.
Thomas tertegun melihatnya. Wajahnya sudah bukan lagi seperti Newt, hal ini membuat Thomas takut temannya benar benar tak bisa bertahan. Dengan memberi kalung untuknya, Thomas berpikir hal ini seperti tanda perpisahan antara ia dan Newt. Tapi perasaan itu segera Thomas tepis jauh jauh.
"Thomas, bantu aku!" Thomas tersadar dan membantu Clara mengangkat Newt berdiri.
Mereka kemudian kembali memapah Newt berjalan. Tetapi lagi dan lagi Newt jatuh karena kakinya tak mampu berdiri lama. Clara dan Thomas berjuang lagi memapah Newt hingga pria itu tiba tiba terjatuh dari tangan Thomas dan Clara.
"Newt!" teriak Clara mengguncangkan tubuh Newt. Dia melihat Thomas. "Thomas, help!"
"Newt! Newt!" Clara bergetar seluruh tubuhnya. Air matanya terus mengalir, tangannya tak berhenti mengguncangkan tubuh Newt. Berharap pria itu bangun dan memeluknya, mengatakan semua baik baik saja. Tetapi semua pergerakannya sia sia. Newt tak bergerak dan masih memejamkan mata.
Thomas memompa dada Newt. Pria itu juga nampak panik.
"Thomas?"
Suara Teresa menggelar di sudut bangunan. Pergerakan Thomas terhenti begitupun dengan Clara.
"Kau bisa dengar aku?"
"Aku ingin kau mendengarku. Aku tau kau tak punya alasan untuk percaya padakuy. Tapi aku butuh kamu kembali. Thomas, kau bisa menyelamatkan Newt. Masih ada waktu untuknya. Ada alasan mengapa Brenda tidak sakit lagi. Itu darahmu. Kau tau? Dia berhasil karena kamu menyembuhkannya. Dia tak punya satu satunya. Semua yang harus kau lakukan adalah kembali. Ini terakhir kesempatanmu. Kumohon, kembalilah padaku. Aku tau--"
Semua listrik seketika padam, mematikan sambungan suara Teresa yang terpotong. Clara masih menunduk menangis memegang tangan Newt sampai saat tak terduga, tiba tiba saja Newt bangun perlahan dengan gerakan kaku. Clara perlahan mundur. "Newt?"
Newt menoleh padanya. Dia berteriak dan menjatuhkan Clara. Clara tersentak dan mengetahui bahwa pria itu bukan Newt lagi, dia menangis menahan Newt yang ingin menggigitnya. "No.."
"Clara!" Thomas mendorong Newt dari atas Clara hingga Newt mundur. Pria itu bersiaga ketika Newt mendorongnya mencoba meraih leher Thomas.
"Tidak.." Clara berusaha berdiri dari semua badannya yang lemas dan gemetar, mencoba memisahkan keduanya. Gadis itu berusaha menahan isakan tangisnya dan menarik Newt. "Newt, stopp.."
"Newt!" Thomas berusaha menyadarkan Newt. Dia bergerak menjatuhkan Newt hingga posisinya berbalik. Kesempatan itu membuat Clara segera menarik Newt.
"Newt! Newt, it's me!" teriak Thomas masih berusaha menyadarkan sahabatnya. Dia menahan Newt kuat yang ingin mengigitnya lapar.
Newt tiba tiba tersentak dan melihat Thomas. Dia menatap apa yang dia lakukan dan tersadar. Nafasnya terengah. "I'm sorry Thommy.. i'm sorry."
"It's okey." Thomas berkaca menahan nafas lega.
Newt tiba tiba bergerak mengambil pistol dari kantung celana Thomas lalu mengarahkan pada kepalanya.
"No!" Thomas berseru.
Clara dengan cepat merebut pistolnya dan melempar benda itu jauh. Newt menggeram dan kembali meraih Thomas.
"Noo.." Clara terisak isak dan mencoba melepaskan Newt dari tubuh Thomas. Tubuhnya benar benar lemas tak mampu menutupi rasa ketakutan dirinya. Clara takut kehilangan Newt, dan dia baru saja melihat pacarnya berubah. Apakah semuanya akan berakhir seperti ini?
Apa tidak ada harapan untuk Clara?
"Newt, please!"
Clara bergetar hebat, tangannya menahan tubuh Newt hingga pria itu menjadi menyerangnya. Newt mengambil pisau dari sakunya lalu mengarahkan pada Clara sebelum dengan cepat Thomas kembali mendorongnya.
Kini Newt mengarahkan pisaunya kepada Thomas yang terus mundur hingga terjatuh. Dengan cepat menancapkan ujung pisau di dada Thomas. Thomas berteriak kemudian meninju Newt hingga terjatuh. Newt kembali bangun dan mencoba menggapaikan pisau itu pada Thomas. Sampai pada akhirnya Thomas menangkap tubuh Newt dan putus asa jika ia akan berakhir sama sepertinya.
Tetapi ketika Newt mundur, yang terlihat adalah pisau itu menancap pada dada Newt. Thomas terkejut dan melihat wajah Newt yang sadar.
"Thommy.."
"Newt, tidak, tidak." Thomas menahan tubuh Newt yang jatuh hingga pria itu jatuh perlahan.
Clara menggeleng lalu beranjak mendekat, menghampiri Newt yang tak lagi bergerak dan melawannya. Dia mengguncangkan tubuh Newt. "Newt, bangun!"
"Newt please!" Clara menangis tersedu sedu, dia terus memanggil Newt yang tak sadar. Clara merasakan dadanya mencelos. Newt tidak bergerak. Ia benar benar pergi dari hidupnya. Dia tak bisa lagi merasakan kehangatan Newt. Clara seperti terbangun dari hayalannya ketika ia memimpikan mereka berdua sama merasa bebas.
Clara menepuk pipi pria itu. "Newt, please. Stay with me."
"Newt, stay with me! Stay with me, Newt! " bahu Clara jatuh tak ada harapan. Dia menangis rapuh. Thomas mengalihkan pandang merasakan air matanya jatuh. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini. Melihat Clara yang rapuh dan sadar bahwa detik ini bahkan selamanya Newt tidak lagi bersamanya.
"Don't leave me. Kau janji padaku untuk terus bersama, aku mohon bangun.." Clara terisak dan bergetar.
"I'm sorry.." ucap Thomas menangis. Dia melihat Clara yang masih memanggil Newt.
Bertepatan dengan itu Brenda datang berlari kearah mereka. Gadis itu terkejut dan berhenti melangkah. Disana, Clara tengah menangis dari Newt yang berbaring ditanah. Thomas disamping mereka berlutut, pria itu menangis. Brenda berkaca dan berdebar terkejut. Dia berbisik tak menyangka pada Thomas. "Why?"
Gally dan Minho menyusul dan tertegun melihat disana. Tidak disangka, ternyata Abi datang dibelakang mereka. Dia sama terkejutnya melihat apa yang terjadi. Terutama Minho yang segera menghampiri Newt dan menangis disana.
Clara tidak tau seberapa lemasnya dia dan masih memaksakan diri. Dia menoleh pada Brenda. Suaranya terasa kering dan susah. "Berikan serumnya, Brenda!"
Brenda berlari memberikannya.
Clara tanpa pikir panjang menusuk jarum suntik itu dan membiarkan cairannnya masuk semua kedalam tubuh Newt.
"It's too late.." Minho menunduk menangis.
Clara menggeleng masih mengguncangkan tubuh Newt. Air matanya tidak berhenti mengalir, dan nafasnya seperti tersendat sendat. Clara sudah terlalu lelah menangis. Dan yang bisa ia lakukan hanya memompa dada Newt.
Brrukk!
Daarr!
Suara bangunan rubuh dan ledakan terdengar.
Gally yang berdiri diantara mereka berucap. "Kita harus pergi sekarang."
Clara tidak menjawab.
"Clara," Brenda menarik Clara namun dengan cepat ditepis oleh gadis itu.
"Tinggalkan aku."
"Clara, we have to go." Brenda kembali berusaha menarik namun gadis itu kembali ditepis olehnya.
Clara menatap Minho. "Minho, kumohon bawah dia."
Daarr!!
Gally menatap bangunan yang rubuh tak jauh dari mereka. "Guys, kita harus pergi!"
Minho mengangguk.
Api kemudin menjalar menuju mereka. Brenda semakin panik. "Clara, we have to go!"
Clara sekali lagi mengguncangkan Newt. Dia terisak bahwa usahanya sia sia. Clara akhirnya bergerak maju, tangannya membingkai wajah Newt. "I love you, Newt."
Gadis itu memajukan wajah mengecup dahi Newt penuh kasih sayang, lalu melepaskannya dengan tak rela dan terus berkata maaf. "I'm sorry.. i'm sorry."
Bertepatan dengan itu Clara segera ditarik oleh Abi pergi bersama teman temannya yang mengikuti dari belakang. Clara kembali menangis, melihat Newt untuk terakhir kalinya.
Dada Clara terasa sakit, mencelos berkali kali dan menyadari bahwa besok dirinya sudah tak lagi melihat Newt. Clara ingin berlari dan memeluk Newt, tetapi tubuhnya tak bereaksi. Matanya memburam lalu menggelap. Clara berharap ini semua hanya mimpi.
***
maafinn ðð»ð
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!