Chapter 6 of 18

6

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]1,672 words~9 min read

"Lama tidak melihatmu, kau nampak berbeda." Gally membuka suara melihat Clara yang tengah mengikat tali sepatunya. Pria itu berdiri menyender di dinding dengan tangan terlipat. Mereka sedang menunggu Thomas, Teresa dan Newt untuk datang kesini.

Setelah membagi tim dan Clara sepakat akhirnya bersama Gally karena Newt yang tak mengizinkan Clara untuk ikut bersamanya lewat pintu utama, ia menurut bersama Gally menunggu di lantai basement dapartment wicked.

Clara menegakan tubuh dan melihat Gally. "Aku juga terkejut kau masih hidup."

Gally menyeringai kecil, "Ya untungnya kau tidak ikut meninjuku seperti Thomas."

"Aku bisa saja melakukan itu." jawab Clara menatap Gally seolah tak peduli apa yang ia ucapkan. "Tapi aku takan melakukan itu karena kau sudah membantu kami."

Gally yang mengerti kemudian menghela nafas, "I'm sorry about Chuck."

Clara hanya diam dan memilih berdiri untuk mengikat rambutnya. "Aku mencoba melupakan sakit itu."

"Tapi aku yakin kau bisa memperbaikinya, jadi Chuck tidak mati sia sia." sambung Clara.

Gally memperhatikan Clara yang memasukan rambutnya ke dalam seragam wicked. Gadis itu nampak menyembunyikan sesuatu yang entah Gally tak tau itu.

"Dan sekarang kau harus membantuku untuk mendapatkan serumnya. Kau paham?" Clara berujar tegas kepada Gally. "Say yes."

"I do." jawab Gally akhirnya.

Clara menangguk pelan lalu memakai  helm maskernya untuk menutupi wajahnya. Gadis itu melihat ke pintu masuk berharap mereka segera sampai.

"There!" tunjuk Gally melangkah mendahului Clara ketika melihat Teresa dengan Thomas dan Newt yang menyamar dibelakangnya.

Ketika melewatinya Gally dan Clara bergabung dibarisan belakang. Mereka berlima berjalan menuju tangga darurat. Sejauh ini penyamaran mereka bisa dibilang lancar, meski terlalu banyak yang mengepung Teresa dan tak sedikit yang pasti bisa menebak bahwa mereka penyusup, akhirnya mereka memutuskan lewat tangga darurat untuk mencegah hal hal itu.

"Tunggu." ujar Gally begitu menemukan panel sambungan di dinding. Dia bergerak membuka panel itu mengeceknya. "Aku bisa masuk dari sini."

"Alright, give me the walkie talkie." pinta Thomas yang segera mendapatinya dari Gally.

Thomas terlihat menuruni tangga untuk mengecek keadaan dibawah, sedangkan itu Newt mulai batuk batuk dan menunjukan wajah pucatnya. Clara disampingnya sudah melepaskan helmnya dan memijat pangkal leher Newt. Gadis itu terlihat khawatir. Sebuah pemandangan yang berhasil membuat Teresa tertegun.

Merasa diperhatikan, Clara menoleh melihat Teresa. "Kau bisa bantu aku?"

Teresa mengangguk pelan.

"Berikan serum yang kau dapat untuk Newt." Clara menatap Teresa penuh harap. "Aku yakin kau mendapatinya."

Uhuk uhuk!

Teresa mengangguk, "Aku akan berusaha."

Clara beralih pada Newt yang menyender ditiang pembatas. "Kau harus kembali Newt."

"No."

"Newt! Kau tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan kondisi sekarat seperti ini!"

"Clara kita sudah bicarakan ini. Aku takan kembali sebelum mendapati Minho, remember?" Newt memasang maskernya tak peduli Clara lagi.

Clara terdiam menatap Newt. Gadis itu ikut bangun dan memasang kembali helmnya. Clara hanya tak mau Newt tak berhasil hanya karena membantu Thomas menemukan Minho, meskipun itu kemauannya sendiri. Clara takut Newt berkorban untuk memperjuangkan sahabatnya. Pria itu terlalu keras kepala dan hanya memikirkan orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri.

Disamping itu Thomas telah kembali masih dengan walkie talkie nya. "Frypan, kami sudah masuk. Bagaimana denganmu?"

Terdengar sahutan diujung telpon, "Yeah, aku sudah sampai. Sampaikan salamku pada Minho."

"Tentu kawan."

***

Teresa berjalan menuju ruangan tahanan Minho. Dia dengan keempat penjaganya mendobrak pintu begitu sampai, membuat orang orang didalam terkejut dan tak siap kala Thomas dan Newt segera menembak mereka. Kelompok Thomas masuk dan memencar untuk mencari Minho.

Newt membuka salah satu pintu tanpa aba aba lalu membuka helmnya. Dia terpengah seraya menyeringai senang, dapat membebaskan anak anak ini.

"Come on, let's go." Masih dengan senyumnya, pria itu memberi gerakan keluar dengan kepalanya ketika melihat keraguan dari anak anak padanya. "Come on!"

Clara yang membawa anak anak dipintu lainnya berseru mengumpulkan anak anak itu. "Jangan khawatir, kalian aman bersama kami."

"She's girl?" ucap salah satu anak perempuan yang didengar oleh Clara dan Newt yang berdiri tak jauh dari mereka. Pemuda itu menoleh dan memperhatikan Clara yang membuka helmnya dan berlutut di depan anak kecil itu. Sebuah pemandangan yang membuat Newt menyeringai tipis karena melihat aksi badas gadisnya.

"I'am." jawab Clara tersenyum lembut. "Sekarang kalian harus ikut kami keluar dari sini, ok?

"Okey." ucap salah satu dari anak anak itu.

Suara Gally membuat mereka semua menoleh kepadanya. Pria itu menghimpit salah satu penjaga yang masih setengah sadar. "Brankasnya, bagaimana caranya aku masuk?"

Penjaga itu kemudian menutup matanya dan membuat Gally mendengkus lalu menghampaskan tubuh itu. Dia memilih mengecek panel sambungan tersebut yang terkunci rapat. Gally bolak balik mencari sesuatu yang dapat membuka panel itu.

"Shit, dia tak ada disini." desis Thomas.

Thomas menghampiri Teresa yang diam saja memperhatikan mereka. Wajah pria itu sedikit mengeras menahan emosi. Dia berdecih mengingat Teresa yang mengatakan kepada mereka bahwa Minho disini, merasa dibohongi gadis itu. "Where is he?"

Teresa terdiam. Dia memilih mengotak atik komputernya mencari Minho. "Dia dipindahkan kebagian medis."

Teresa mengerut melihat komputernya kemudian mendongak melihat Thomas. "Thomas itu disisi lain gedung."

"Oke, bawa aku kesana."

Newt menghampirinya. "Baiklah, aku ikut bersamamu."

"Newt. Kau tidak.." ujar Thomas kemudian melirik Clara yang menatap keduanya.

"Kau tak bisa melakukannya sendiri. Minho yang terpenting, ingat?" jawab Newt tegas melihat Thomas yang membuat pria itu akhirnya mengangguk.

"i'll come with you." Clara berucap pada Thomas.

Thomas mengangguk saja.

Clara kemudian menoleh pada Newt yang menatapnya seolah tak setuju. Gadis itu membuang pandang tak peduli, toh Newt juga tak mau mengikuti ucapannya.

"Guys! Pergilah, kalian membuang waktu!" Gally berseru kepada mereka. Dia masih sibuk membuka panel tersebut. "Aku akan ambil serumnya dan kita bertemu dibawah."

Thomas kemudian memakai helmnya, "Ok, baiklah. Ayo!"

Clara memakai kembali helmnya dan menuntun Teresa untuk jalan memimpin mereka. Kemudian Newt dan Thomas menyusul dibelakangnya.

"Hey, greenie!" panggil Gally membuat Thomas menoleh. "Good luck."

***

Teresa berjalan beriringan bersama Thomas dan Newt dibelakangnya menuju lift. Clara disampingan Teresa melihat sekeliling. Sebenarnya dengan jalan tergesa seperti ini cukup memancing beberapa penjaga yang menatap mereka curiga. Namun akhirnya mereka lolos dengan masuk lift bersama.

Ketika pintu hendak menutup, sebuah tangan menahannya dan memperlihatkan janson yang kemudian masuk. "Tahan."

Teresa menegang bersamaan Thomas, Newt, dan Clara yang dibalik helm mereka. Clara mundur memberi jarak pada Janson yang berdiri disamping Teresa.

Janson melirik kebelakang dengan kerutan kecil. "Tiga penjaga untukmu?"

Teresa melirik kebelakang lalu melihat Janson dan berdehem kecil.

"Kau kerja lembur." Janson mengalihkan pandang dari Teresa ke depan. "Itu yang kusuka darimu. Tak peduli seberapa kacaunya situasi, ku tak pernah menyerah. Disaat seperti ini, kau perlu teman yang bisa kau andalkan."

Teresa terdiam beberapa saat, "i'll remember that."

"Ada sesuatu yang harus kau tau sebagai sesama teman." Janson menoleh menatap Teresa, "Thomas disini."

Thomas dan Newt saling melihat dibalik helm maskernya.

"Cctv menemukannya diluar tembok. Ava tidak ingin kau tau, tapi ada kemungkinan dia berusaha ingin menghubungimu. Jika dia menghubungiku, kau bisa mengatakan padaku."

"Apa kau ingin membunuhnya?" tanya Teresa takut akan pikirannya.

"Apa itu menjadi masalah?" tanya balik Janson.

Teresa memgalihkan pandang kedepan ketika bunyi denting lift terdengar dan pintu lift terbuka.

"Ini lantaiku." Teresa kemudian keluar bersama ketiga penjaga dibelakangnya.

Mereka berjalan kemudian setelah Thomas sedikit menyenggol bahu Janson.

"Thomas kau harus mendengarkanku." Teresa berusaha menyamakan langkah kaki Thomas yang mendahuluinya. "Mengbil serum itu tak bisa menyelamatkan Newt, serum itu hanya bisa mengulur waktu. Kecuali--"

"Acuhkan dia. Dia berusaha mempengaruhimu." Newt mendorong bahu Thomas ketika pria itu memelan mendengarkan Teresa.

"Thomas, dengar! Kau tau keadaan diluar sana. Banyak orang sekarat. Dunia sekarat. Ada sesuatu di dalam darahmu yang belum ku pahami."

"Thomas memberi ruang pada Teresa ketika pintu perlu mengakses kartu untuk terbuka. "Buka."

Teresa membuka pintunya kemudian melanjutkan ucapannya berusaha membuat Thomas mendengarnya. "Biarkan aku selesaikan test nya. Aku janji aku bisa menjagamu."

"Yeah? Like you protecting Minho?" tanya Thomas melepas helm nya dan menatap Teresa kesal.

Newt yang melihat itu memegang bahu Thomas memperingatkannya. "What are you doing?!"

"Berapa banyak orang yang diambil? Berapa banyak orang yang mereka kumpulkan, mereka siksa dan dibunuh? Kapan itu akan berenti?"

"It will stop until we find the cure!"

"There's no damn the cure, Teresa!"

"Thomas!" seru Clara.

"Jangan buang tenagamu, Teresa." suara dibalik punggung Teresa terdengar membuat mereka menoleh dan melihat Janson bersama beberapa penjaga yang tengah mengepung mereka. "Sejak dulu dia telah memilih pihaknya sendiri."

Thomas, Newt dan Clara buru buru menaikan senjata.

"Drop it! Kids!"

Thomas bergerak menarik Teresa cepat dan menempelkan ujung senjata itu tepat dikepalanya. "Mundur! Buat mereka mundur!

"Hei, Thomas. Come on, it's me.." Nada suara Janson memelan licik, dia menyeringai. "Aku tau kau sudah mengrnalku. Kau takan menembaknya."

"Is that what you think of?"

Janson mengangkat kedua tangannya, "Okay, lakukanlah."

"Shoot her. Buktikan aku salah."

Teresa melirik gagang pintu disebalah Thomas.

"Shoot her." ucap Janson lagi penuh penekanan.

Tanpa pikir panjang, tiba tiba Teresa mendorong Thomas hingga Newt dan Clara ikut terdorong kebelakang kemudian gadis itu menutup pintunya cepat.

"Clear! Clear!"

Tak lama dari itu disusuli tembakan dipintu dari bawahan Janson. Dari dalam sana, Thomas menatap Teresa tak terbaca diikuti Clara yang membuka helm nya.

"Come on, Thomas." ucap Clara pelan masih melihat Teresa. Gadis itu menatap Teresa dengan tatapan sulit di artikan.

Thomas jalan mendahului mereka sedangkan Newt melepaskan helmnya lalu ikut Thomas bersama Clara.

Teresa berbalik dan sudah menemukan Janson dihadapannya.

"Lebih kau jelaskan ini."

"Aku baru saja membantumu, pintunya terkunci. Mereka tak bisa keluar." ucap Teresa menjelaskan mereka berharap Janson mempercayai mereka. Dia buru buru beranjak pergi dari sana sebelum benar benar pergi, Teresa menoleh sekilas ada Janson. "Janson! I need them a live!"

Janson menatap anak buahnya. "You hear that, come on!"

Teresa mengeluarkan kain bercak darah dikantungnya ditengah perjalanannya. "Ku harap ini berhasil."

**

hello guys, untuk part² end ini apakah ada yang mau disampaikan untuk newt? untuk clara? atau untuk author?

sebenarnya bisa dibilang girl crush masih panjang sih cuma versi the death cure movienya udh mau end, jadi cerita ini bakalan ada versi girl crushnya sendiri.. paham ga? gapaham ya? yaudah wkwk.

lepas landas dari alur cerita movienya gitu lhoo but aku masih pake karakter tdc tapi alur cerita udh ngga ikutin tdc..

oiyaa buat kamu yg suka draco hp boleh liat cerita aku judulnya athreal yaa! menurut aku ceritanya lebih nyantai dan gakalah seru guys, baca baca baca!!

nah oke segitu aja, wassalam.

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!