Waktu sudah selang beberapa jam ketika mereka menaikin pesawat menuju last city. Ditengah pemandangan gelapnya gurun pasir dari atas sini, dan hanya cahaya bulan yang dapat membuat ketiganya tertarik memandangnya jauh dari atas.
Abi mengalihkan pandang melihat perempuan yang tengah kaku dalam duduknya. Mungkin ini menjadi pengalaman pertamanya naik pesawat setelah bertahun tahun berada dikawasan pandemi.
Abi tidak pernah bicara dengan Emily, kecuali suami dari perempuan itu. Selama lamanya dia bergabung di Right Arm, Abi terlalu malas mengajak orang asing berbicara. Tidak seperti dalam kegiatan pekerjaan dia yang mengharuskan berkomunikasi satu sama lain. Namun bukan berarti dia tak mengenal Emily.
Abi banyak berteman dengan pria berumur setelah mengharuskan bekerja sebagai anggota tim Vince, karena pria itu telah menolong dirinya dan juga ayahnya yang telah sakit. Sehingga mau tak mau dia banyak mengenal teman teman Vince dan menjadi berteman.
Bukan masalah selagi dia masih hidup saat ini.
"Kau tak akan jatuh hanya karena naik ini." celetuk Abi menoleh pada Emily. Dia melirik kuku kuku perempuan itu yang memutih karena terlalu erat memegang penyangga.
Emily menarik nafas. "This is my first time."
Abi mengangkat alis lalu membuang pandang melihat Vince yang duduk dikursi pengemudi pilot. Alisnya mengkerut ketika mengingat sesuatu sehingga dia kembali melihat Emily. "I thought you were stay."
"I have to make a sure they are save."
"All? They'll be okay."
"No exactly. I actually came cause.. i needed to know the truth about Clara."
Abi terdiam beberapa saat. "Whats goin' on?"
Emily diam, dia menatap langit langit atap seakan mencoba mengingat sesuatu. "Kami kenal tak lama dari ini. Dia membantuku mengangkat barang waktu itu, lalu kami dekat. Dia selalu menyempatkan diri dari kesibukannya untuk menemaniku. Setelah tau kekurangan yang kumiliki, dia datang menemaniku." Emily tersenyum kemudian, "She's good girl."
Abi mengangguk dalam keheningannya. "Jadi kau mengurusnya seperti dia anak angkatmu?"
"Jika aku bisa berperan dalam hidupnya, aku akan melakukan itu."
"Maybe she doesn't mind it. Dia bukan gadis seperti yang lain."
"Bagaimana maksudnya bukan seperti yang lain?"
Abi mendengkus mendengar nada menggoda dari Emily. "Aku tak berencana merebutnya dari Newt."
"Aku tak bilang seperti itu."
Abi menggeleng dengan senyum tertahan. "Funny."
Emily tertawa. "Well ku akui dia memang cantik."
"Kau bisa mengalihkan rasa sukamu dengan yang lain. Maksudku ada banyak gadis gadis muda seperti mereka yang bergabung di Right Arm."
"Aku mengerti."
Emily dan Abi kembali terdiam.
"Jika ada kesempatan, kau mau bersamanya?"
"Tidak semudah itu."
"Why?"
"Dia terlihat tak menyukaiku." Abi kembali menjelaskan ketika masih melihat raut tak mengerti dari Emily. "Aku beberapa kali tak bersikap baik padanya."
"Jika kau benar benar mau bersamanya, aku pikir kau bisa menaklukannya. Hanya saja terlalu jahat untukmu memisahkan seseorang hanya untuk mendapatkannya."
"Aku tak pernah bepikir seperti itu."
"Ya semoga tidak."
Abi memilih diam beberapa saat.
"Kau ikut hanya untuk melihatnya? Terlalu pesimis untuk melihatnya kembali?"
Emily menggeleng. "Tidak. Tapi ada sesuatu lain."
"Apa?"
"I think she's pregnant."
***
Clara membuka matanya perlahan ketika dirinya mulai mengingat dia akan pergi malam ini kedalam dapartement wicked. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Bosan menunggu Thomas dan kawan kawan, Clara tidak sadar dirinya ketiduran dibangku dengan posisi badan membungkuk dan tangan terlipat di meja. Hal itu membuat dirinya merenggangkan badan upaya tidak kaku.
"Kenapa bangun? Mereka masih belum kembali." Brenda yang tengah menggambar sesuatu dikertas melihat Clara.
"Tidak nyaman tidur dengan posisi duduk seperti ini." jawab Clara kemudian mengintip kertas yang dicoret coret oleh kawannya. "Siapa itu?"
Brenda menunjuk salah satu gambarnya. "Ini?"
"Hmm."
Clara memperhatikan gambar yang di gambar oleh Brenda. Sebenarnya tidak buruk dalam gambarnya, hanya saja orang yang digambar oleh gadis itu kepalanya lebih besar dari pada tubuhnya.
"Janson."
Clara tak bisa menahan tawanya. "Kenapa seperti itu?"
"Karena dia besar kepala." jawab Brenda terkekeh.
Clara tertawa seraya menggeleng tak habis pikir. "Benar juga."
"Aku akan memberinya pada Teresa." Brenda menyeringai. "Ingin lihat seperti apa dia akan membela atasannya."
Clara tersenyum tipis. "Aku masih tidak menyangka dia melakukan seperti itu."
"Aku tak peduli siapa dirinya."
Clara melirik Brenda dengan senyum menggoda. "You jealous 'right?"
"Huh? Kenapa aku harus cemburu?"
"Karena kamu kesal?" Clara mengangkat bahu. "Aku tau perasaanmu pada Thomas, Brenda. Dan aku mendukungmu."
Brenda memelan menggambarnya. "Kenapa?"
"Karena aku ingin yang terbaik untuk dia." jawab Clara tersenyum simpul melihat Brenda. "Aku beruntung menemukanmu dan Jorge saat itu. Karena kalau tidak ada kau, Brenda. Kami tidak tau harus kemana."
"Yang aku lihat selama ini, memang bukan hal yang mudah mendapatkan hati Thomas. Tapi kau punya banyak kelebihan. Kau bisa mendapatkannya asalkan kau benar benar yakin dengan pilihanmu."
Brenda menatap Clara dalam.
"Apalagi apa yang telah Teresa lakukan pada kami. Kesempatan ini bisa kau gunakan sebaik baiknya." Clara menepuk pundak Brenda. "Kau bisa melakukannya!"
Brenda beranjak memeluk Clara. "Thank you."
"Anything." Clara melepaskan Brenda sesudah gadis itu memberi sekilas kecupan sayang di pipi padanya.
Brenda tersenyum padanya lalu melipat kertas gambar miliknya dan memasukan itu kedalam kantung celana.
"Oh ya! Kau bilang ingin bicara padaku saat itu, apa itu?"
Brenda menoleh melihatnya dan bergumam. "Aku.. sebenarnya aku tidak harus bertanya ini, karena ini lebih condong ke privasi. Tapi karena ini menyangkut denganmu, how you protect yourself and about the fiture, so i think i have to."
Clara mengangguk saja.
"Are you both, you and Newt.. umm do something like--"
"UH! LEPASKAN AKU!"
Clara dan Brenda segera beranjak berdiri melihat kedatangan Gally dan Newt yang mengangkat Teresa dengan memberontak kecil. Sedangkan Thomas jalan lebih dulu didepan mereka.
Wajah Teresa ditutup dengan karung anyam agar tak bisa melihat. Gally dan Newt membawanya duduk dikursi dan segera mengikat tangan gadis itu dibelakang dengan tali. Newt mendengkus melirik mantan temannya sebelum dengan sedikit kasar melepaskan karung itu hingga wajah Shock Teresa terlihat.
Newt menoleh sekilas melihatnya, sebelum jalan menghampiri Clara yang tengah menatap Teresa dengan segala perubahannya. Clara berada ditengah tengah antara Thomas dan Newt, sehingga Teresa dan Clara dapat saling lihat secara jelas.
Gally berjalan mendekati Thomas dan berdiri disamping pria itu. Sontak hal itu membuat Teresa terpekik kaget. "Gally!?"
Gally terlihat tak mempedulikam ekspresi yang ditunjukan oleh Clara. "This is what we have to do. Kami akan memberimu beberapa pertanyaan dan kau akan menjawabnya apa yang kau ketahui. Dimulai yang paling mudah, dimana Minho?"
"You guys won't be serious--"
Gally yang mulai gemas mengambil bangku dan meletakannya didepan Teresa, membuat gadis itu tak bisa melihat Thomas karena terhalang oleh tubuh Gally.
"Don't look at him. Why do you keep looking at him? Look at me. He's not gonna help you."
Teresa menghela nafas.
"Kami tau kau menahan Minho di gedung itu. Dimana dia?"
Teresa memainkan tangannya gelisah. "Dia bersama anak anak immune diruang tahanan, di lantai basement ketiga."
"Berapa jumlah Immune lainnya?" tanya Newt dengan nada tegasnya.
Teresa meliriknya dengan gugup. "Dua puluh delapan."
"Aku bisa mengatasinya." sahut Brenda yang diam mendengarkan.
Teresa sontak menggeleng. "Tidak, kalian tidak mengerti. Seluruh lantai dijaga ketat, kalian tidak akan bisa masuk kesana tanpa identifikasi sidik jari."
"Itu sebabnya kau ikut bersama kami." ucap Thomas.
"Kita tidak membutuhkannya, benar 'kan?" Gally terlihat mengambil pisau di meja. "Tidak semua tubuhnya, kita hanya butuh jarinya."
"Gally, mundur." seru Thomas buru buru menghentikan Gally. Namun Gally sepertinya tak mendengarkan dia sehingga Thomas maju dan menahan pria itu. "Gally!"
"Kau tidak tega melakukannya? Kujamin dia melakukan lebih terhadap Minho.
"Tidak akan membuatnya berubah. Lakukan apapun sesuka kalian padaku, kalian tidak akan bisa melewati pintu utama. Sensornya akan mengenali kalian."
"We know." Clara menyahut, dia tak berekspresi ketika pandangan Teresa menatapnya. "Kami sudah di tandai oleh wicked, benar 'kan?"
Teresa tak mampu membalasnya ketika perasaanya kalah karena merasa bersalah atas kejadian beberapa bulan yang lalu. Clara. Dia nampak banyak berubah dengan tampilan yang lebih dewasa dan tegas. Namun Teresa tau Clara masih sama sama seperti dulu, bersikap peduli dan perhatian. Mungkin Clara menunjukan sisi yang berbeda padanya saat ini untuk memberi taunya bahwa dia merasa kesal karena apa yang Teresa buat.
Thomas mengambil pisau yang dipegang Gally dan berjongkok dihadapan Teresa. Mengarahkan pisau itu padanya. "Kau akan membamtu kami mengatasinya juga."
***
Teresa kini sedang melepaskan tanda properti wicked yang menempel pada tengkuk leher masing masing dari mereka. Sambil menunggu gilirannya, Clara menghampiri Brenda yang tengah mengurus persiapannya. "Dimana Jorge? Tidak terlihat dari tadi."
"Aku menyuruhnya pergi menunggu Vince yang akan kesini." jawab Brenda.
"Vince mau kesini?"
"Ya, kita membutuhkannya." Brenda berhenti sejenak untuk melihat Clara. "We'll get the serum."
Clara mengangga senang dengan raut sedikit tak percaya, dia membalas memeluk Brenda ketika gadis itu mendekapnya.
"Jangan khawatir, kita akan menyelamatkan Newt."
Clara mengangguk dengan air mata mengembang. "Thank you, Brenda."
"Anything."
Brenda melepaskan Clara dan mengusap pipi gadis itu. Dia tersenyum dan melirik Newt yang tengah selesai dilepas tandanya. "It's your turn."
Clara tersenyum sebelum beranjak menghampiri Teresa dan duduk membelakanginya. Gadis itu mengumpulkan rambutnya menjadi satu kesamping agar mempermudah pekerjaan Teresa.
"Tahan ini sedikit sakit."
Clara memejamkan mata merasakan sayatan pisau ditengkuk lehernya.
"Kau terlihat banyak berubah." ucap Teresa.
"So as you." jawab Clara.
"Kau pasti banyak melakukan hal baru."
"Tidak banyak. Aku berusaha mengembangkan apa yang kupelajari." jawab Clara menatap lantai dengan pikirannya. "Aku menetap pada pendirianku, apa yang kuanggap semestinya dan menjadikan kelebihan itu untuk saat ini. Aku siap melawan wicked untuk mendapatkan Minho kembali."
Teresa terdiam.
"Apa kabar dengan Minho?"
"Dia masih hidup."
"Syukurlah." Clara menarik nafas lega diam diam. "Setidaknya dengan membantu kami, kau dapat menutupi pengkhianatanmu saat itu."
Teresa membuang nafas, merasa sangat di sindir terus menerus.
"Sepertinya.. tanda milikmu rusak."
Clara mengernyit.
"Jika seperti ini kau tidak perlu melepaskannya." Teresa ikut mengenyit bingung. "Tapi kenapa ya?"
Clara kembali teringat saat saat dirinya berjuang melawan memori buruk yang mempir dalam tidurnya sewaktu dilabirin. Sepertinya hal ini disebabkan oleh tanda properti wicked ditengkuk lehernya. Mereka berusaha membuat Clara untuk ingat ingatannya agar dapat membuat dia kembali ke sana. Jadi benar, Wicked memang selicik itu. Selain karena kejam menyiksa dan mengorbankan anak anak, dia terlalu besar kepala tanpa tau kosenkuesi apa yang dia buat hingga menyebabkan Clara seperti itu.
Clara mendengkus akhirnya mengerti.
Padahal kerusakan tersebut juga dibuat oleh dokter Crawford karena kecerobohannya yang memaksa Clara mengingat semua memorinya hingga tanda itu sudah tak berfungsi lagi.
"Lakukan saja. Aku tak sudi ada tanda dari kepemilikan mereka."
"Kenapa kau seperti ini Clara?" Teresa berhenti sejenak dengan raut kesalnya menatap punggung Clara.
"Seperti apa?" Clara merasa senang Teresa terpancing. "Benar kan? Sampai saat ini kau belum menemukannya kan?"
"Kami sedang berusaha!"
"Berapa orang lagi yang harus kau korbankan?"
"Kau tak mengerti."
"Aku tau." Clara berbalik melihatnya. "Jika tanpa satu orang yang sekarang telah tiada, kau takan bisa mendapatkannya."
"Kita masih punya harapan."
"Sampai kapan? Jika kalian tidak berhasil, nyawa mereka menjadi sia sia."
"Kau ingat dokter Marry? Dia berhasil karena dia mencoba."
"Dia berhasil karena dia sadar apa yang dia lakukan. Dokter Marry mengembangkan kelebihannya dengan berusaha mencari cara lain agar mendapatkan serumnya, bukan cara mengorbankan orang!"
"Clara, ada apa ini?" Thomas menghampiri keduanya, dia beralih pada Teresa. "Teresa?"
Clara menghela nafas, mengambil tissue dan pergi begitu saja.
"Clara, what happened?" suara Gally terdengar ketika dia melewatinya. Langkah kaki Clara menuju ruang belakang dimana Newt menyiapkan pekerjaanya. Clara mengetuk meja dua kali, membuat pria itu yang tengah mengerjakan persiapannya menoleh.
"Hai."
"Hai, what's goin' on?"
Clara menggeleng, menghampiri Newt dan memeluknya dari belakang. Dia tak tau mengapa akhir akhir ini Clara merasa sangat manja dan ingin Newt terus berada didekatnya. Clara terlalu takut sesuatu terjadi pada Newt.
Newt terkekeh dan berbalik. "Kenapa, hmm?"
Clara menggeleng lagi, tangannya masih memeluk pinggang Newt. "Kalau Thomas dan Gally saja yang kesana, boleh?"
Newt mengerutkan kening. "Kenapa begitu?"
Raut wajah Clara berubah peruh. "Suhu tubuhmu sudah dingin."
"Newt kumohon, aku tau kau merasa tersiksa dengan kondisi seperti ini. Please stay." Clara mengelap air matanya.
"Clara kita sudah bahas ini. Tidak bisa, aku sungguh sungguh mau menyelamatkannya. Minho butuh kita disana, kesempatan ini harus kita gunakan sebaik baiknya."
"Biar aku yang pergi."
Newt menggeleng. "Kita pergi sama sama, oke? Seperti yang direncakan."
"Kau tetap disini tunggu serum, Newt. Please, aku khawatir sekali, aku takut.."
"No. Tidak bisa, love. Aku baik baik saja, jangan khawatir." Newt menggeleng mengusap wajah Clara lembut
"Tapi kau sudah lama bertahan sejauh ini, suhu tubuhmu sudah beda, Newt. Aku tau seperti apa. Terlalu beresiko untuk kesana, apalagi ketika tau Lawrence dan pasukannya akan menyerang wicked."
"Hey, dengarkan aku. Aku bisa menahannya. Kita cuma pergi ambil Minho setelah itu kembali kesini. Selesai kan?"
"Newt.."
"Jangan paksa aku, Clara. Minho disana menunggu kita. Aku tau kau khawatir, tapi aku mengenalnya sebelum kalian datang. Sayang, percaya padaku. Kita akan mengambil dia dengan selamat. Oke?"
Newt mengusap air mata Clara dan memeluknya, "It's okay."
Clara menunduk dan kesempatan itu Newt buat untuk mencuri satu kecupan di dahi gadisnya.
***
so happy liat komentar kaliann, komentarmu semangatku!! ð¤©
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!