Chapter 4 of 18

4

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]2,086 words~11 min read

"Temorrow." ucap Clara ditengah keheningan mereka disana. Dia melihat satu persatu dengan harapan mereka menyetujui usulnya. "You can go there and get him back."

"It's too long." Newt menggeleng tak setuju.

"It's not. We have time and i'm sure this is the best thing plan we have." kata Clara masih berusaha keras membujuk. Dia tidak ingin mengambil resiko jika mereka pergi malam ini, Newt tak mampu bertahan karena infeksinya. "We never lose before."

"Tapi Teresa disana, kita bisa menggunakan kesempatan ini masuk kesana dengan mudah tanpa dilihat siapapun." kali ini Gally yang bicara.

"Tidak, kita pergi kesana malam ini dengan cara lain." Thomas menolak.

"Cara apa lagi?" tanya Brenda, "Dia gadis yang sama bersama kita waktu itu kan? Gadis yang brengsek itu?"

"I like her." Gally melirik Brenda setuju.

"What's wrong..?" tanya Brenda lelah melihat Thomas yang tetap teguh pada pendiriannya.

"Wait, kau takut pacarmu terlukan, hm?" Newt membuka suara sedikit menyindir. Setelah menyimak suara suara dari kawan kawannya, Ia tau apa yang Thomas khawatirkan tentang Teresa. Hal itu membuat mereka bergerak lambat karena salah satu darinya tidak setuju dengan satu satunya rencana yang mereka punya

"Ini bukan hanya tentang menyelamatkan Minho 'kan?"

Thomas mengernyit, "What?"

"Teresa?" potong Newt bangun perlahan mendekati Thomas, menatap temannya itu tajam. "Dialah satu satunya penyebab Minho terjebak disana, dan kau tidak setuju dengan rencana ini karena kau tidak mau dia terluka? Just admit it!"

"Newt.." gumam Thomas merasa terpojoki kala semua pasang mata menatapnya.

Newt tiba tiba membentak Thomas dan mendorong dadanya hingga membentur dinding. "Don't lie to me! Don't lie to me!"

Terlihat semua orang yang ada disana terkejut melihat adegan itu. Suara Newt yang penuh penekanan juga wajahnya yang menunjukan bahwa ia benar benar marah tak membuat sedikit dari mereka tersentak, tidak biasa biasanya pria itu marah.

Beberapa detik kemudian, seakan sadar dengan apa yang dia lakukan, Newt dengan perlahan mundur bersamaan tatapan bersalahnya kepada Thomas. "Sorry."

Dia kemudian menoleh melihat semua orang yang menatapnya dengan masih raut terkejut. "Sorry.."

Newt berbalik dan pergi keluar. Memegang lengannya yang berdenyut nyeri. Ini sungguh bukan seperti dirinya.

Melihat itu dengan jelas membuat Clara tak bisa melepaskan pandang dari sang kekasih. Ia tau pengaruh infeksi di tangan Newt membuatnya menjadi emotional dan keras. Clara menunduk merasa semakin takut. Apa yang harus ia lakukan? Membiarkan Newt menyelamati temannya dan membuat kondisinya semakin memburuk atau melarangnya kesana demi keselamatannya tanpa peduli Minho disana?

Clara tak berhak melarang Newt dengan pilihan keduanya. Lagipula Minho juga temannya.

Gadis itu melirik Thomas yang menyusul Newt kedepan. Sementara itu Clara mendiamkan mereka berbicara, dia memilih mengambil sesuatu yang dapat digunakan.

Clara mulai membuka kotak dan laci laci yang ada disana, berharap menemukan kotak obat. Tak menemukannya dimanapun, Clara memilih mendongak, segera berjinjint ketika melihat kotak putih yang sudah tak asing lagi baginya. Begitu sudah mendapatkannya dan hendak menghampiri Newt, Brenda datang menghampirinya.

"Brenda?"

Brenda terdiam ragu, "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."

Clara mengeluh, "Maaf aku sedang buru buru, kita bicara nanti ya?"

Brenda hanya bisa mengangguk ketika Clara pergi meninggalkannya.

***

Dusta jika Newt tidak memikirkan kondisinya sendiri. Ketakutan pasti ada, namun bukan berarti dia menyerah dalam menyelamatkan sahabatnya. Dia pasti berhati hati. Newt hanya tidak tau apakah dia akan berhasil atau tidak. Karena mengontrol dirinya pun sejujurnya susah. Infeksi ini benar benar harus membuatnya bersabar.

Suhu tubuh Newt pun mulai hangat, ia merasakannya. Artinya infeksi ini mulai menyebar. Naik turunnya emotional juga disebabkan oleh efek gigitan Crank ini sehingga kejadian beberapa saat tadi membuat Newt langsung menduga bahwa penyebab infeksinya lah dia seperti itu.

Sejujurnya Newt takut dia tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri sehingga meninggalkan Clara dan tugasnya yang akan menjaga gadisnya tetap hidup, sebagai janjinya dan amanat dari Alby.

Tetapi menyelamatkan Minho adalah hal utama yang harus ia kerjakan. Ia berjanji akan melihat sahabatnya lagi, entah bagaimana kondisinya nanti. Newt benar benar merindukan teman jahilnya itu. Harapannya sekarang ialah melihat Minho baik baik saja. Newt khawatir apa saja yang Wicked lakukan pada temannya itu.

Ketika sedang larut dalam pikiran, suara gesekan sepatu mulai terdengar, memancing Newt untuk menoleh melihat kedatangan Thomas.

Pria itu menatap sahabatnya dengan raut wajah bersalah. "Sorry about that."

"I guess i can't hide this anymore." Newt menarik lengan jaketnya hingga kesiku, memperlihatkan infeksinya yang mulai membiru dilengannya.

Melihat itu Thomas sempat tertegun kemudian ikut duduk disampingnya. Pria itu hampir tak bisa bicara karena terkejut bahwa temannya ini telah terinfeksi.

"Why didn't you tell me?"

"Tidak akan membuatnya berubah." jawab Newt menoleh melihat Thomas. "Yang aku tau kita ditaruh dilabirin karena suatu alasan. Munkin aku belajar dari diri sendiri hingga aku bisa mengatakan aku berbeda dari orang sepertimu dan orang sepertiku.

"Kau tau kita bisa memperbaiki ini Newt." ujar Thomas, "Oke? Kita bisa."

"Jangan khawatirkan aku. Ini tentang Minho, sekarang dia membutuhkan kita."

"Jika ada kesempatan terakhir kita bisa menyelamatkan dia, kita bisa mengeluarkan dia dari sana, kita ambil itu. No matter what the cost."

Thomas mengangguk tipis, "Oke. Aku mengerti."

Newt mengalihkan pandang melihat tangannya lagi.

Keduanya kini sama sama terdiam sampai langkah kaki dibelakang terdengar membuat mereka menoleh melihat kedatangan seseorang. Clara sempat terdiam beberapa saat melihat Thomas dan Newt yang tengah menuntup kembali tangannya dengan jaket.

Newt sudah memberi taunya, pikir Clara. Gadis itu melangkah menghampiri mereka dan tersenyum tipis. Gadis dengan tangan yang memegang kotak obat itu duduk disamping Newt, bersebalahan dengan Thomas.

Thomas memperhatikan Clara yang mulai berbicara pada Newt. Gadis itu kemudian membuka kotak obatnya dan mulai membersihkan lengan Newt yang terinfeksi. Melihat itu membuat Thomas memilih menunduk merasakan air matanya yang mulai mengembang.

***

"Persiapkan barangmu, kita kesana sekarang." ucap Vince pada Emily dan James. Sepasang suami istri itu segera menuruti ucapannya, mengambil barang keperluan mereka untuk dibawa.

Vince beralih pada Abi. "Bagaimana?"

"Aman." jawab Abi. Dia menaruh tas miliknya kedalam loker. "Jadi kau mau aku bersamamu dan meninggalkan orang orang ini?"

"Mereka akan baik baik saja." ujar Vince. "Masih ada teman temanku yang menjaga anak anak."

"Ya, memang. Aku hanya tidak yakin mereka benar benar aman." ucap Abi, "Aku punya firasat Morgan masih ada disekitar kita."

Vince yang tengah sibuk menghidupkan tombol tombol pesawat milik Wicked menoleh pada Abi. "What do you mean?"

"Aku melihatnya, anak anak buahnya masih berkeliaran disekitar sini. Mungkin, dia tengah membangun kembali komunitasnya."

Vince menegakan badan, mulai serius dengan percakapan diantara mereka. "Kenapa kau baru bilang sekarang? Kapan kau melihatnya?"

"Tidak lama dari Thomas pergi, aku melihat anak buah Morgan. Aku pikir dia hanya seorang, jadi mungkin bukan hal yang penting untuk dibicarakan."

Vince menangkup wajahnya pusing, "Baiklah. Kita urus ini nanti, aku akan memberi tau yang lain agar mengetatkan penjagaan. Untuk sementara ini kau tetap ikut bersamaku."

Abi mengangguk.

Kemudian bersamaan itu Emily dan James datang dengan tas mereka masing masing. "Kami siap."

"Tunggu, James. Aku pikir kau tetap tinggal disini untuk mengetatkan keamanan. Morgan masih hidup, mereka bisa muncul kapan saja. Rick, Tio, Alex dan yang lain akan berkeliling. Bantu mereka untuk menjaga anak anak, oke?"

James mengangguk setuju. "Baiklah."

Emily menatap suaminya kemudian mengangguk. "Aku akan mengabarimu."

"Aku tunggu." jawab James kemudian turun dari pesawat bersama Abi.

Vince menatap temannya dengan ragu. "Kau yakin dengan ucapanmu?"

Emily menatap lelaki itu dengan jengah. "Aku seorang perempuan, mana mungkin aku tidak tau hal seperti itu. Jangan paksa aku untuk tidak ikut, Vince. Gadis gadis itu membutuhkanku."

Vince terdiam beberapa saat. "Ya, baiklah."

Vince berjalan keluar dari pesawat menemui Harriet dan Sonya. "Aku tidak akan lama. Ingat, jika ada tanda tanda langsung kabari aku. Senjata lengkap ada di bassement."

"Ya. I get it, Vince." kata Harriet.

"Good."

"Kabari kami secepatnya, ya?" kali ini Sonya yang bicara.

"Ya."

Vince tersenyum pada gadis gadis itu sebelum naik kedalam pesawat. Abi mengontrol tombol tombol kendaraan setelah melihat mereka semua siap hingga pintu pesawat tertutup dan perlahan lahan naik mulai menjauh dari lokasi.

***

Sore mulai menjelang malam. Sebelum mereka benar benar pergi ke statiun kereta, Newt dan semua kawan kawannya sudah didalam tembok besar Last City, tepatnya mereka mengambil salah gedung kosong sementara.

Clara sedang bersama Brenda menyiapkan senjata untuk Thomas, Newt, dan Gally. Karena mereka akan memancing Teresa terlebih dahulu untuk kesini sebelum mereka semua mulai memasuki rencana selanjutnya, yaitu masuk akses Dapartemen Wicked.

Brenda melirik Clara yang tengah serius memasuki salah satu peluru kedalam pistol.

"Kau terlihat jauh semakin baik."

Clara menoleh, "Yea?"

"Hmm, lama tidak melihatmu berlatih lagi."

"You know i'm not good at things like this." Clara terkekeh.

"Yaa, aku tau kau hanya membutuhkan tongkatmu itu untuk melawan musuh. Tetapi kau juga bagus dalam hal tembak menembak."

Brenda menunjuk papan lingkaran beberapa meter dari mereka. "Coba disana."

"Really?"

"Coba dulu."

Clara merentangkan tangan lurus pada titik lingkaran ke papan didepannya. Matanya mengecil memfokuskan penglihatannya sebelum benar benar menarik peluru itu keluar dengan cepat menancap tepat pada titik lingkaran terkecil dipapan.

Brenda sontak memekik. "I know that!"

Clara masih tersenyum mengangga karena tembakannya ternyata menancap dengan sempurna. Dia menoleh melihat Brenda lalu ikut memekik senang.

"Aku berhasil Brenda!"

"Right?? I see it!" Brenda tertawa senang lalu bertos ria pada Clara.

"Wel, apa yang membuat gadis gadis ini sangat senang sekali." Newt bertanya menghampiri mereka berdua.

"Pacarmu berhasil menembak sasaran, Newt." jawab Brenda memberi tahu. Gadis itu menunjuk papan dideannya dengan dagu. "Lihat saja."

Newt menoleh bersamaan Thomas yang menghampiri mereka dan ikut menoleh melihat apa yang teman temannya lihat.

Newt kembali melihat Clara dengan senyum menggoda. "Wow."

Clara sontak tertawa ringan.

"Jadi suara ini asalnya." Thomas melihat Clara. "Nice shoots, Cla."

"Thanks." ucap Clara. "Still cant believe i can do that."

"Why not? You really good." ujar Newt lalu memakai jaketnya.

Clara kembali tersenyum memilih tak menghiraukannya. Dia menarik tangan Newt pelan untuk melihat perban yang ia buat dibalik lengan jaket pria itu. "Sudah kendur."

Newt menunduk melihatnya. "It's okay."

"Tidak, ayo kita perbaiki lagi." Clara kemudian menarik Newt untuk ikut bersamanya, meninggalkan Brenda dan Thomas yang mulai mengobrol bersama.

Clara membawa Newt duduk disalah satu kursi sedangkan Clara duduk dikursi lainnya seraya membuka kotak obat yang ia ambil.

"Walaupun kita belum mendapatkan serumnya, kau harus mencegahnya." ucap Clara dalam pekerjaannya.

"Tidak membuatnya berubah, Clara."

"Setidaknya memberi antivirus salap upaya mencegah, Newt. Aku pernah bekerja di medjack, tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha."

Newt tersenyum kemudian mencubit pelan hidung Clara pelan. "Ya baiklah, dokter."

Clara tertawa ringan. Setelah selesai mengobati luka infeksinya, dia kembali menaruh kotak obat tersebut ditempatnya.

Untuk sementara dia dan Newt hanya terdiam saling menatap tanpa bicara. Clara menunduk dan menggenggam tangan Newt. "Kau akan baik baik saja kan?"

Newt mengangguk. "I will."

Clara menghembuskan nafasnya yang terasa susah. "Kau tau susah sekali berusaha kuat mengetahui apa yang telah tejadi padamu, Newt."

Gadis itu menunduk mengusap lengan Newt yang diperban kembali. "Aku takut."

"Hey, lihat aku." Newt menatap Clara sungguh sungguh. "Aku akan berhasil. Kita masih akan bersama sama. Jangan khawatirkan aku, oke? Kita pernah kesulitan sebelum ini, aku yakin kita bisa melakukannya lagi."

Clara mengangguk mencoba mengkuatkan perasaanya.

Newt mengusap air mata Clara yang jatuh. "Don't. Don't cry because of me. I hate seeing you like this."

"Aku tidak suka kau menangis karenaku." Newt mengusap rahang Clara lembut. "Aku merasa telah gagal."

Clara mengangguk pelan mencoba tersenyum walau hatinya masih berkecamuk tentang rasanya yang terlalu khawatir akan kondisi Newt sekarang.

"Nah seperti itu, love!" Newt berseru kecil kemudian memeluknya setelah itu mengecup kening gadisnya lembut.

"I wanna bite you." ucap Clara usai melepaskan Newt. Gadis itu meninggikan kepalanya untuk menggigit pipi Newt dengan gemas, membuat Newt meringis kecil.

"Clara.."

Clara belum juga melepaskannya.

"Sakit sayang.."

Barulah Clara melepaskannya dengan tawa puasnya.

"Naughty!" Newt memencet hidung Clara gemas.

Clara kembali tertawa. "Newt?"

"Hmm?"

"I wanna kiss you."

Newt terdiam beberapa saat. "Do it now."

"On your whole body."

Newt kembali terdiam terkejut. Hal yang membuat Clara kembali tertawa puas karena telah berhasil mengerjai Newt.

"Kamu benar benar ya.."

***

"Jadi dia menyusunnya dengan momentum?"

Brenda yang tengah tertawa kemudian mengangguk.

Thomas ikut tertawa lalu menggeleng geleng. "Aku tak habis pikir."

Brenda menepuk pelan bahu Thomas lalu kembali pada pekerjaannya, mengisi peluru kedalam pistol. Dia menyerahkan pada Thomas.

"Kau tau kau tak bisa menyelamatkan semua orang Thomas." ucap Brenda menatap Thomas penuh arti.

Thomas mengambil pistol itu dari tangannya. "I try."

Brenda menunduk lalu mengedarkan pandang keruangan. "Kemana mereka? Belum kembali juga."

"Clara butuh waktu berbicara dengan Newt, dia pasti sedang memastikan lukanya."

"Luka apa?"

Thomas yang tengah mengantungi senjatanya dicelana memelan kemudian menoleh melihat Brenda. "Newt.."

"He's got a bite."

Brenda menutup mulutnya terkejut.

Thomas menunduk lalu melangkah pergi.

Brenda mengambil telepon genggam miliknya.

"Vince?"

Krstt!

"Yeah i'm on the way!"

"Vince, kau masih punya serumnya?"

***

anything you want to say?

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!