Chapter 3 of 18

3

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]2,329 words~12 min read

Seneng nii update 2 kali seharii hahaa

Sama samaa! :*

****

Guncangan mobil yang melintasi jalan bebatuan membuat tubuh dari ketiga remaja itu bergoyang tak berirama. Clara menatap orang bermasker itu dengan sinis. Kalau saja dia tak bersenjata, Clara mungkin dengan gemas membenturkan kepala pria itu atas apa yang dia lakukan padanya dan teman temannya.

Dia melirik Thomas dan Brenda yang juga diam. Mereka tak bisa berbuat apa apa hingga mendengar dengan jelas maksud mereka.

Thomas melihat kedua gadis disampingnya. "Kalian baik baik saja?"

Brenda mengangguk bersama dengan Clara.

"Kita tunggu sampai mereka amgkat bicara." Thomas melirik pria bermasker itu.

Kemudian mobil mulai memelan dan berhenti. Orang bermasker itu membuka pintu belakang mobil dan menginstruksi Thomas untuk keluar bersama Clara dan Brenda.

Clara dan kedua temannya menoleh ketika mobil lainnya datang dengan guncangan heboh dari dalam. Kening Clara berkerut sebelum kernyitan itu berubah menjadi belakan kecil terkejut.

Ketika pintu dibuka, tiba tiba saja pria bermasker yang menjaga dimobil itu terpental karena tinjuan dari Jorge. Jorge yang belum puas loncat dan menghampiri orang itu untuk memberikan tinjuan lagi.

Suasana kembali heboh ketika sekelompok orang bermasker ini mulai menarik pelaruknya bersiao menembak Jorge. Newt terlihat sudah sangat lelah mencoba menghentikan Jorge, namun kekuatan pria itu bukan main main.

"Where is she!?"

Brenda melotot dan segera berlari menghampiri Jorge. "Aku disini! Aku disini.."

Jorge menghentikan pukulannya dan segera memeluk tubuh Brenda. Pria itu mengusap punggung Brenda sayang.

"Semuanya tenang! Kita berada dipihak yang sama."

Thomas beralih pada salah satu pemimpin dari sekelompok orang bermasker itu yang baru saja bicara. "Apa maksudmu kita berada dipihak yang sama?"

Tak ada jawaban dari orang itu hingga membuat Thomas mengetatkan rahangnya menahan emosi. "Who the hell are you!?"

Belum juga ada suara yang tercipta dari keheningan itu. Hingga orang itu memutuskan untuk membuka maskernya dan memperlihat wajahnya di kelima orang itu. Begitu melihatnya Newt, Frypan dan Clara tak bisa menahan raut wajah terkejutnya seperti Thomas yang sulit untuk mengucapkan nama yang ia ingat.

"Gally?"

"Hey, Greenie."

Thomas kembali merasakan emosi kala semua ingatannya kembali berputar atas apa yang pria itu lakukan sewaktu dilabirin. Dengan gerakan cepat, Thomas meninju Gally hingga pria itu berpaling dan meringis kecil. Tubuh Gally jatuh akibat Thomas yang memukulnya dengan brutal bahkan pria itu menindihnya agar tak bisa bangun.

"Thomas!"

"Tahan! Tahan!" Gally berteriak pada bawahannya untuk menahan senjata mereka.

Sedangkan Newt menagan Thomas sekuat tenaga. "Thomas!"

"Thomas, hentikan!"

"Thomas!!" Newt berseru tegas. Ketika kawannya itu berhenti, baru Newt melunakan suaranya. "Hentikan, Thomas.."

"Dia bunuh Chuck."

"Ya, aku tau. Aku ingat, aku juga ada disana." Newt mendongak melihat bawahan Gally menodongkan senjata mereka kearahnya. "Dan aku ingat saat itu dia sedang disengat oleh Grievers dan membuatnya menjadi gila."

"Calm down.. okey?" Newt masih membujuk hingga dia melepaskan Thomas saat Thomas menghentakan tangannya kesal karena tak bisa membalas perbuatan Gally saat dulu.

Ketiga pria itu bangun berdiri. Gally lebih dulu angkat bicara dengan nada seolah tak terjadi apa apa padanya. "Aku sudah tau kau akan memukulku."

Gally menatap Newt, Frypan dan Clara bergantian.ketiga kawan lamanya dulu. "Ada lagi yang mau memukulku? Fry? Newt? Clara..?"

"Kau tau pria ini?" tanya Jorge yang kebingungan.

"Dia kawan lama kami." Frypan kemudian menatap Gally tak percaya. "Bagaimana bisa? Aku melihatmu mati."

"Tidak, kau meninggalku suapaya mati." balas Gally. "Jika kita tidak menemukan kalian tadi, kalian bisa mati sekarang."

Thomas dan sekelompoknya masih terdiam. Mungkin pemuda itu masih shock karena kawan lama yang ia lihat mati waktu itu tengah berdiri didepannya.

Gally menghela nafas, "Apa yang kalian lakukan disini?"

"Minho. Wicked menahannya disana, kami sedang mencari jalan masuk kesana." jawab Newt.

"Aku bisa bantu kalian." ucap Gally bersiap menunjukan jalan. "Ikut aku."

"Aku tak mau ikut denganmu." kata Thomas masih berdiam diri disana.

Newt dan Clara melihat pemuda itu. "Thomas.."

"Terserah kau saja." Gally mengangkat bahu acuh. "Tapi aku benar benar bisa membawamu melewati tembok itu."

"We don't have a choice." ujar Newt pada kawannya.

Raut wajah Thomas masih terlihat emosi, matanya menatap lurus pada Gally dengan tatapan tajamnya. "Aku lakukan ini demi Minho."

Katanya sebelum beranjak jalan mengikuti Gally didepannya. Clara bernafas lega, dia tau Thomas tak bisa melakukan hal lain selain tawaran yang diberikan Gally. Ketika Clara mengangkat pandangnya melihat Newt, kening Clara berkerut melihat wajah Newt seperti sedang menahan sakit. Gadis itu ingin bertanya, tetapi karena keadaan sedang tak mendukung. Clara menyimpan rasa penasaran dan khawatirnya sebentar lagi.

***

Setelah mendengar semua penjelasan Gally kenapa alasannya dia masih hidup dan komunitas apa yang dia bangun, mereka akhirnya sampai pada lantai paling bawah dan tempat paling sepi dari tempat tempat yang mereka lewati.

Gally berbalik melihat kawan kawannya. "Dengar, dia jarang mendapat tamu. Jadi biarkan aku yang bicara, paham? Cobalah untuk tidak menatapnya."

Gally kemudian jalan diikuti Thomas dan kawan memasuki ruangan yang beberapa dari sisi ruangan terdapat bunga bunga dari pot kecil. Perhatiaj mereka tertuju pada sesosok pria disana yang tengah mencium salah satu bunga yang dia pegang.

"Gally." Lawrence menyapa tanpa melihatnya. "Senang nelihatmu kembali dengan selamat. Jasper memberitahuku apa yang telah terjadi."

"It's slaughter." jawab Gally. "Tak ada yang bisa kita lakukan dengan senjata itu."

"Tidak, mereka tidak visa selamanya berada disarang itu sebelum menyengat." balas Lawrence, kembali pada buang bunga yang lain untuk ia hirup aromanya. "Dan siapa orang orang ini? Kenapa mereka disini?"

Thomas dan kawan kawannya mulai saling pandang. Dengan berani, Thomas menyelak Gally lebih dulu menjawab pertanyaan Lawrence. "Kami ingin masuk ke Wicked. Gally bilang kau bisa melakukannya."

"Mungkin ada jalannya sekarang, tapi tidak akan berhasil tanpa Thomas." Gally menjelaskan sesuatu pada Lawrence, membuat Thomas yang mendengar itu menatapnya heran.

"Memang iya?" Lawrence perlahan berjalan mendekati Thomas dan kawan kawannya dibelakang. "Kau tau siapa aku, Thomas?"

Sosok Lawrence mulai terlihat dibawah sinar cahaya matahari yang masuk lewat celah genting gedung ini. Sosok yang membuat tak sedikit dari mereka terkejut melihat wajah Lawrence yang terlihat seperti manusia dan juga setengah berwujud Crank.

Thomas mencoba kalem saat Lawrence mendekatkan wajahnya dan berbisik padanya. "Aku seorang pembisnis."

"Artinya aku tak mau melakukan resiko yang tak dibutuhkan tanpa balasan yang setimpal. Mengapa aku harus mempercayaimu?"

Thomas terdiam beberapa saat. "Karena kami bisa membantumu."

Lawrence menjauhkan wajahnya. "Kau pikir kau tau apa yang kau butuhkan?"

"Waktu." jawab Thomas dengan sungguh sunguh. "Setiap tetesnya."

"Itukah yang kuinginkan?"

"Wicked punya sesuatu yang kita inginkan." jawab Thomas lagi. Tangannya terulur dengan tatapan yakin melihat Larence. "Deal?"

Lawrence masih terdiam cukup kagum pada pemuda didepannya ini yang tak menunjukan sikap kaku ataupun gugup berhadapan dengannya. Dan jawaban tegas yang dilontarkan olehnya membuat Lawrence akhirnya mengangkat tangan dan menyalimi tangan Thomas. Pria setengah manusia setengah Crank itu tersenyum puas. "Gally akan menunjukan jalannya."

***

Clara tak bisa lagi menahan rasa khawatir dan penasarannya melihat sekali lagi tangan Newt yang bergetar ketika mengikat tali sepatunya. Dia bangkit berdiri dan menghampiri pria itu itu. "We have to talk."

Newt mendongak dengan heran. "Sekarang?"

"Ya." jawab Clara singkat dan berjalan deluan.

Newt menoleh pada Thomas yang diam diam memperhatikan mereka. Pria itu mengangguk mengerti, membuat Newt dengan segera beranjak dan mengikuti Clara dari belakang.

Clara berhenti diruang bawah tanah. Dia berbalik menatap Newt yang masih terheran melihatnya.

"Ada apa?"

"Lepas jaketmu."

Newt mengerutkan kening, "Apa?"

"Lepas jaketmu sekarang."

"Kau mau menelanjangiku?"

"Jangan bodoh, Newt. Lakukan sekarang!"

"Tidak mau, untuk apa?"

"Aku ingin memastikan kau tidak bohong."

"Aku tak mengerti, apa maksudmu?"

Nada suara Clara akhirnya melunak ketika dirinya mulai tak bisa menahan rasa khawatir dan ketakutan yang selama ini ia pikirkan. "Aku mohon, Newt.."

"Hey, ada apa? Tolong bicara pelan pelan." Newt mendekat dan memegang bahunya.

Clara melepaskan tangannya dengan kesal. "Jawab jujur Newt, apa kau digigit?"

Newt sedikit terkejut kala Clara akhirnya mengetahui apa yang selama ini ia coba sembunyikan. Newt tidak berniat menyembunyikan semua ini pada Clara dan juga teman temannya, hanya saja ia merasa belum tepat untuk memberi taunya sekarang.

"Jawab!"

"Aku.."

"Lepas jaketmu!"

"Sayang.."

"Sekarang atau kita berakhir sampai disini!?"

Newt membelakan mata terkejut. "Apa yang kau katakan?"

"Cukup turuti perintahku!"

Newt melepaskan jaketnya dan menyisahkan kaus abu abu miliknya. Tangan Clara segera memutar tangan Newt agar dapat dengan jelas melihat infeksi itu. Sebenarnya Clara sudah memperhatika gerak gerik Newt selama perjalanan ini, melihat pria itu yang sering menyentuh tangan satunya dan meringis kecil. Dan ternyata dugannya benar. Kini apa yang Clara takutkan benar benar terjadi.

Begitu melihatnya, Clara tak kuasa menahan tangisnya. Dia mendongak memandang Newt dengan sedih. "Lihat? Kau membohongiku.."

Newt menahan Clara yang terguncang, dia merasakan hatinya bergetar. "Maaf.."

Suara tangisan pedih Clara mulai terdengar, membuat hati Newt terasa sesak. Ternyata sebegitu sedihnya Clara takut kehilangannya. Bahkan Newt tak tau mendeskripsikan bagaimana ia harus merasa sedih ataupun senang sekarang.

"It's okay.."

Clara yang masih menangis dipelukannya kemudian berontak ingin dilepaskan, tetapi pemuda itu menahannya. Membuat Clara akhirnya memukul mukul dada pria itu. "No! It's no okay! It's not okay!"

"Clara.."

"Kau membohongiku!"

"Sayang, aku tak bermaksud--"

"Kau selama ini anggap aku apa Newt?" Clara melihatnya dengan air mata yang terus mengalir. "Mengapa sampai hal ini tidak kau beri tau? Mengapa harus kau pendam?"

"Maafkan aku.."

"Kenapa baru sekarang, Newt!? Kenapa baru sekarang!?" Clara kembali memukul mukul Newt. Tubuh Clara bergetar menahan sesak. "I can't.."

"Aku takan meninggalkamu." potong Newt cepat. Dia membawa wajah gadis itu menghadapnya. "Aku akan berusaha mencari obat itu. Aku janji aku akan terus bertahan."

Newt mengusap kedua air mata Clara. "Aku tak tau bagaimana caraku mengatakannya, aku senang kau benar benar takut kehilanganku. Aku baru menyadari bahwa sekarang aku sangat bersyukur, gadis yang kucintai dapat merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan.

Aku berjanji Clara, aku akan melaksanakan tugasku dengan baik, menjagamu agar tetap hidup bersamaku." sambung Newt, dia tersenyum lembut melihat wajah gadisnya yang mulai tenang.

Pria itu terdiam beberapa saat.

"Aku hanya tidak tau apakah itu sesuatu yang bisa aku yakini."

***

Thomas menoleh melihat kedua pasang kekasih itu akhirnya memunculkan diri. Thomas ingin berprotes karena menunggu terlalu lama, namun nuatnya ia urungkan kala melihat mata sembap dari Clara. Dahi Thomas mengernyit kecil, menatap Newt seolah bertanya ada apa dengan Clara.

Tetapi Newt hanya menggeleng kepalanya pelan. Dia menoleh melihat Clara. "Kau tetap disini bersama Brenda, okey?"

Clara langsung mendongak melihatnya, kemudian menggeleng. "Aku tak mau."

"Clara, terlalu bahaya untukmu keluar sana." ucap Newt.

"Benar, udara terlalu dingin dan penjagaan terlalu ketat. Perjalanan kami lumayan jauh." ujar Gally memberi tau.

Newt mengalihkan pandang dari Gally kembali pada Clara. "Kau dengar itu. Aku dan Thomas akan baik baik saja. Kami akan kembali secepatnya."

"Aku tak mau membiarkanmu--"

"I'm good." Newt menatap Clara sungguh sungguh. "Percaya padaku, okey?"

Newt melirik Brenda yang berada dibelakang Clara. "Tolong temani Clara."

"As always." jawab Brenda.

Newt tersenyum simpul melihat gadisnya, mengusap rambut itu sebelum berbalik bersama Thomas dan Gally yang sudah siap turun kebawah.

Thomas melirik Clara yang memandang mereka. "Kita akan kembali secepatnya."

Clara mengangguk.

Thomas perlahan turun kebawah lalu diikuti Newt. Kemudian Gally mengambil langkah untuk turun sebelum Frypan berbicara padanya.

"Gally."

"Yea?"

"Tolong jaga mereka."

Gally mengangguk. "Yea."

***

Sudah hampir tengah malam akhirnya Newt, Thomas, dan Gally kembali dari sana. Newt masih membicarakan sesuatu pada teman temannya. Clara sebenarnya ingin ikut berpendapat, hanya saja dirinya sangat mengantuk kali ini.

Tetapi Clara belum bisa tidur. Apalagi kedatangan Brenda yang masih terus membujuknya makan.

"Ayolah, kau harus makan sedikit saja." Brenda tak berhenti membujuknya untuk membuat Clara menerima roti pemberiannya.

Clara menggeleng. "Tidak mau, perutku terasa penuh."

"Astaga, tapi kau belum makan apapun. Ada selai coklat kesukaanmu didalamnya." ucap Brenda lelah.

Clara menahan tangan Brenda. "Aku akan makan jika perutku menerimanya."

"Benar?" Brenda menyipitkan mata tak percaya. "Kalau kau belum makan juga, aku tak mengizinkanmu untuk ikut turun bersama Thomas."

"Jangan, kumohon.."

"Kalau begitu makanlah."

Clara mengangguk cepat membuat Brenda tersenyum puas dan melangkah pergi mencari Thomas. Tak lama gadis itu pergi, Newt datang menghampirinya. Pria itu juga tengah makan roti yang Brenda buatkan. Gadis itu memang membuatkan makan malam untuk mereka semua supaya mereka bisa mengganjal perutnya masing masing sampai besok pagi nanti.

"Kau kelihatan lelah sekali."  ucap Newt ditengan menguyahnya.

Clara menggeleng. "Aku hanya mengantuk."

"Kalau begitu tidurlah." Newt menepuk badan sofa. "Aku akan membangunkanmu kalau kita sudah mau berangkat."

Clara menurutinya, dia bergerak menyender dibadan sofa dengan mata terpejam. "Newt?"

"Hmm?"

"Maukah kau mengusap punggungku?"

Newt menghentikan kunyahannya dan terdiam beberapa saat. Tumben sekali, pikirnya. "Ya, tentu."

Clara bergerak membelakangi Newt masi dengan badan menyender ke samping. Kemudian gadis itu mulai memejamkan matanya ketika merasakan tangan Newt mulai mengusap punggungnya dengan perlahan.

Newt tersenyum dibelakang Clara, dan bergerak mendekat mengecup puncak kepala gadisnya.

Krssttt

Tiba tiba bunyi telephone genggam terdengar, membuat Newt dengan segera beranjak mengambilnya. Menekan tombol itu agar suara dari sebrang telpon terdengar.

"Thomas!"

Newt mengerutkan kening. Mendekatkan telpon genggamnya kearah mulut. "Vince, ada apa?"

"Newt?"

"Kalian dimana? Kami mencarimu! Lama sekali tidak menjawab telpon ku!"

Newt kembali kearah sofa dan duduk dengan tenang. Dia melirik Clara yang masih terpejam. "Last City."

"What? Kau benar benar kesana?"

"Kita tak punya pilihan." Newt melirik Brenda dan Frypan yang datang. "Minho membutuhkan kami."

"Yea, i know.. but you---- Clara?"

Newt mengerutkan kening, seperti mengenal suara wanita disebarang telpon yang memotong pembicaraan Vince kali tadi.

Brenda yang mengetahuinya segera berjalan menghampiri Newt dan merebut telponnya dari pria itu. "Emily?"

"Brenda? Astaga, aku mengkhawatirkanmu!"

"Aku baik baik saja."

"Bagaimana dengan Clara? Dia baik baik saja?"

Brenda melirik Clara yang tertidur, kemudian pandangannya beralih pada roti yang belum gadis itu makan. "Dia belum mau makan. Aku khawatir dia pingsan."

"Kenapa dia tak mau makan?"

"Aku tak tau.. dia terus beralasan yang sama."

"Apa yang dia bilang?"

"Mual. Aku sudah mengatakannya bahwa mual itu datang karena dia tak mau makan."

Newt langsung menoleh pada Clara yang tertidur begitu mendengar penjelasan Brenda. Mengapa gadisnya ini tidak bilang padanya?

Tak ada sahutan dari Emily disebrang sana.

Brenda mengernyit, "Emily?"

"Kau harus memaksanya."

"Aku akan berusaha."

"Brenda, bisa aku bicara padamu? Hanya kita berdua."

Brenda kemudian menatap Newt dan Frypan bergantian, sebelum gadis itu memilih meninggalkan keduanya keluar.

Newt mengernyit bingung. "Ada apa dengannya?"

Frypan mengangkat bahu tak tau.

"Kenapa semua gadis aneh?"

"Termasuk Clara?" tanya Frypan melirik Clara.

Newt menatapnya dengan pandangan sebal. "Tidak gadisku."

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!