Chapter 18 of 18

18

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]2,107 words~11 min read

Darisisa sisa kebingungan yang menyisa, akhirnya Grace mendapatkan semua jawabannya tentang Newt dari Brenda. Walaupun sedikit kecewa yang entah dia tidak tau karena apa, Grace senang Newt bertemu orang orangnya setalah sekian lama.

Ternyata Newt bersama teman temannya adalah survivor yang menjadi hasil percobaan oleh wicked. Lalu mereka bertemu Brenda dan Jorge untuk mencari right arms. Mereka berhasil, yang akhirnya menjadi sebuah anggota Vince. Sedangkan hubungan Newt dan Clara yang ia tahu lebih dari sekedar pacaran. Mereka bahkan mempunyai anak yang sayangnya tak selamat karena kejadian Morgan. Grace tidak tau siapa dia dan karena apa tetapi itu yang ia tangkap dari penjelasan Brenda.

Sekarang Grace sedang duduk memainkan kunci mobil miliknya. Ada beberapa momen yang sempat membuat ia tidak nyaman. Pertama karena tempat ini terlalu banyak orang sehingga membuat dia tidak terbiasa karena terlalu lama sendiri. Lalu tatapan penasaran dari teman teman Newt yang hanya ia bisa jawab dengan senyum sopannya. Dan terakhir, Newt sampai saat ini belum menemuinya karena terlalu sibuk dengan urusannya.

Sebenarnya itu bukan masalah yang menganggu, tetapi Grace butuh Newt untuk sekedar mengajaknya bicara. Karena dia belum terbiasa oleh teman temannya, Grace menjadi diam saja semenjak Brenda pergi untuk mengurus kepentingan yang lain.

Grace memang sudah berkenalan dengan teman Newt. Tetapi rasanya canggung bila dia tak berdampingan dengan Newt. Karena hanya Newt satu satunya yang kenal lebih lama bersamanya. Namun karena situasi yang tidak tepat, Grace sangat memaklumi itu. Dia pun turut berduka atas Leo.

"Siapa namamu?"

"Grace." Grace memperhatikan pria berambut pirang yang ia kira adalah kepala dari komunitas ini.

Vince ikut duduk dan memperhatikan tirai yang tertutup. Terdiam beberapa saat. "Bagaimana kau bisa menyelamatinya?"

Gadis itu terdiam beberapa saat untuk kembali memutar memorinya. "Saat itu aku hanya lewat. Aku mendengar rintihan Newt dari bebatuan yang menibannya. Aku kira dia bukan manusia, aku hendak pergi tetapi dia menahanku."

Vince menatapnya.

"Aku benar benar tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu tetapi aku memutuskan untuk membawanya. Aku mulai merawat dia. Ada banyak luka yang harus di obati. Susah rasanya mencari obat obat itu. Tetapi dia sangat berusaha. Dia sangat ingin bertemu dengan Clara. Hingga akhirnya kami berhasil. Newt berubah sepenuhnya."

"Kau merawatnya sendiri?"

Grace mengangguk.

"Maksudku.. disaat dia sudah menjadi crank seperti itu?"

"Dia memang terlihat seperti itu." Grace menatap Vince tak terbaca, "Tetapi dia manusia. Manusia yang kalian tinggalkan."

****

Newt berjalan gontai menuju ruangan Clara. Setelah melihat pemakaman anaknya, Newt benar benar tidak bisa menjelaskan perasaannya sekarang. Wajahnya terlihat lelah. Matanya sayu karena menangis. Newt tidak seperti Newt yang biasa. Dulu, ada banyak alasan yang membuat dia tersenyum. Hanya dengan melihat tingkah tidak jelas temannya dia sudah bisa tertawa, tetapi sekarang susah rasanya untuk sekedar tersenyum kepada teman temannya yang mencoba menghibur dia.

Newt memasuki ruangan dan melihat Grace yang tertidur di sofa sendiri. Pria itu menjadi merasa bersalah karena tidak menemani gadis itu. Newt akhirnya memutuskan menghampiri Grace. Dilihatnya gadis itu yang nyenyak dari tidurnya. Newt berinisiatif melepaskan jaket miliknya dan menyelimuti Grace hati hati.

Newt mendengkus lelah kemudian bangkit kembali untuk menghampiri Clara. Membuka gorden dan menutupnya kembali. Pria itu duduk memperhatikan Clara seksama. Tadi gadis itu sadar dari komanya, namun kembali tertidur. Mungkin Clara mengira itu hanya mimpi.

Tapi Newt bersyukur karena akhirnya Clara melewati tidur panjangnya itu. Hanya dengan Newt disini, Clara berhasil bangun. Ia jadi berpikir, mengapa dia tidak lebih lama untuk membuat Clara baik baik saja?

Mendengkus lelah, pria itu menegakan badan untuk menggenggam tangan Clara dan memperhatikan perempuannya itu.

"Aku merindukanmu," Newt menatap lekat lekat gadisnya, "Bisakah kau bangun dan peluk aku? Aku butuh itu sekarang."

Tidak ada respon.

"Maafkan aku Clara," Newt kembali berkaca. "Aku tidak bisa menjaganya."

Tidak ada respon.

"Aku sudah berusaha. Aku berusaha secepat yang aku bisa."  Newt membuang nafas sesak. "Seharusnya aku masih bisa merasakan Leo ditangan ku kan?"

Newt menunduk tak kuasa menahan air mata. Tangannya mengusap air mata itu dengan kasar lalu memijat pangkal hidungnya pusing.

"Maaf aku tidak bisa menjaganya. Maaf. Maaf."  Newt mengecup punggung tangan Clara.

"Can you a wake? Please."

"Please.."

"You hear me, please.."

Sia sia. Newt menjatuhkan kepalanya di lengan Clara. Memejamkan mata memilih mendengarkan suara detak jantung gadis itu yang mengirisi ruangan ini.

Beberapa menit berlalu.

Sekujur tubuh Newt lelah karena pikirannya berkecamuk. Ada rasa marah pada dirinya sendiri dan dia menahan itu. Tetapi ketika suara nafas tercekat dan jari jari yang balas menggenggamnya membuat Newt seketika bangun dan menatap mata itu. Clara menatap tepat pada matanya. Mata merah berkaca itu membelak sedangkan mulutnya terbuka shock.

Newt beranjak bangun dan membingkai wajahnya. "Clara!?"

"It's me. It's me," Newt tersenyum dari tangan bergetarnya. Dia menoleh kebelakang dan mencoba berteriak memanggil siapapun, "Hey! Hey!"

Pria itu kembali melihat Clara yang belum bisa berkata. Matanya terus mengalir air mata, mulutnya yang kering masih terbuka karena masih belum menyangka bahwa di depannya ini benar benar Newt. Namun juga kesusahan untuk bernafas.

Karena Newt sudah membawanya untuk duduk, lelaki itu tak kuasa untuk memeluk gadisnya.

"I'm here." Newt menyeringai senang dari wajahnya yang basah. Dia mengecup lengan Clara yang juga membingkai wajahnya.

Karena mulutnya kering dan dehidrasi, gadis itu akhirnya memilih memeluk Newt hingga pria itu balas memeluknya lagi. Rindu yang selama ini dia rasakan seakan lega. Clara ingin memeluk Newt selama yang dia mau.

Clara terisak isak, tangannya yang memeluk Newt erat seakaan tak mau dilepas dan membiarkan pria itu pergi lagi.

"I never leave you again, Clara. I promise." Newt mengecup puncak kepalanya.

Ketukan langkah kaki menyapa keduanya, itu adalah langkah terburu buru milik Brenda dan Grace yang menatap kedua insan itu. Brenda lebih dulu menghampiri mereka. Tangannya menyentuh bahu Newt bermaksud agar pria itu mundur.

Newt mundur mempersilahkan Brenda untuk mendekati istrinya.

"Kau bangun.." ucapan haru itu keluar dari mulut Brenda dengan rias wajah senangnya. Gadis itu memeluk Clara.

Butuh beberapa detik untuk melepaskannya, Brenda mengusap air matanya. "Aku akan memanggil Harriet untuk mengecek kondisimu. Tetap bangun, okay?"

Clara beralih menatap Newt ketika Brenda dengan lari kecilnya meninggalkan mereka.

"Newt..?"

"Ya sayang, aku disini." Newt membingkai wajah Clara dan mengecupnya lagi lamat lamat.

Grace yang berdiri menatap keduanya akhirnya memilih pergi tidak ingin menganggu disana.

Ketika melepaskannya, Clara dengan bibir yang kering itu tersenyum dan mata berbinar. Ada sesuatu yang sangat ia nantikan untuk diberitahukan kepada Newt.

"Ada sesuatu yang ingin aku katakan." Clara mengenggam erat tangan Newt yang memperhatikannya, "We have a son. He's beautiful like you are."

***

Newt terdiam mendengar itu. Mulutnya tidak mampu berkata. Bahkan hatinya mencelos begitu melihat Clara mengucapkan kata katanya dengan raut wajah yang bahagia. Lagi lagi rasa bersalah itu kembali.

"Newt?" Air mata bahagia Clara jatuh. "Kau mau melihatnya?"

Newt menunduk menangis, membuat Clara ikut menunduk melihat wajah Newt. Gadis itu terdiam kembali.

"Something happend?" Clara bertanya dengan nada kecil dan lirih. Suaranya mulai bergetar.

Newt mengangkat pandangannya, tidak malu lagi kalau dia dilihat menangis sekarang.

"Newt?" tanya Clara kembali.

Newt mendesak. "Maaf."

Clara kembali mengalirkan air mata, "Untuk apa?"

Newt tidak mampu menjawabnya.

"Boleh aku melihatnya?"

***

Diatas pemandangan tanah yang masih lembap itu, berdiri beberapa orang disana diantara Clara yang duduk di kursi rodanya. Gadis itu hanya diam tak bersuara. Air matanya kering karena banyak menangis. Pandangan yang membuat Thomas dan Minho menunduk ikut merasa sedih.

Newt yang bersimpuh disamping Clara menyentuh telapak gadis itu. Pria itu mencoba tersenyum. "Kau tidak gagal untuk Leo. Kau ibu yang luar biasa."

Namun tak ada sautan sama sekali oleh gadisnya. Merasa khawatir akan mentalnya, Newt berniat membawa Clara untuk pergi dari sana.

"Kita pergi, ok?" tidak mau terus terusan Clara sedih. Newt berdiri dan mendorong kursi roda Clara untuk pergi dari pemakaman.

Dari keheningannya menatap sepasang kekasih itu, Grace menghembuskan nafas dalam. Dia tak mengerti mengapa begitu sesak melihat Newt bersama Clara.

Grace tidak bodoh mengenai apa yang dia rasakan, hanya saja gadis itu berusaha untuk mengusir pikiran negatif nya dan mencoba tak peduli. Lagipula Clara adalah istri Newt, walau mereka tidak mempunyai ikatan sakral atau pernikahan yang suci, Clara telah melahirkan buah hati dari anak Newt. Grace sadar akan posisinya.

"Jealous?"

Grace menoleh terkejut.

***

Dua hari sudah berlalu. Clara mulai berdamai dengan dirinya. Meski tidak sepenuhnya ceria seperti dulu, Clara mulai memahami situasi yang ada. Gadis itu tidak ingin merepotkan orang lain karena dia yang tidak mau bicara selamanya.

Kini Newt sedang berada dibelakangnya, memeluk dia dari belakang yang menyender pada badan Newt.

"Sudah ngantuk?"

Clara menggeleng, "Kau ingin tidur?"

"Tidak. Aku ingin mengajakmu berkeliling. Mau?"

Clara mengangguk antusias. Mereka berdua berdiri dan keluar dari kamarnya. Suasana malam hari membuat udara dingin tetapi masih bisa diselamatkan oleh obor obor yang menyala yang ditancap diatas pasir. Orang orang sudah tidur karena kelelahan bekerja. Langit malam yang biru diatas ternyata di penuhi banyak bintang, membuat Clara mendongak untuk melihatnya.

Newt yang melihat gadisnya ikut menatap keatas. "Ada banyak sekali bintang."

Clara bergumam dengan senyumnya yang tak lepas.

"Dulu aku sering lihat ini di labirin, sekarang tak ku dangka aku melihatnya disini."

Clara beralih menatap Newt. Mengingat kembali memori tentang bagaimana pria itu mengetahui banyak rasi bintang. "Aku ingat kamu hafal rasi bintang bintang itu."

Newt tersenyum tipis. "Ya, aku memang masih mengingatnya. Kau mau tau mereka?"

Clara kembali mengangguk antusias.

Gemas, Newt mengacak rambut Clara kemudian merangkulnya mendekat. Kedua pasangan muda itu tertawa ringan seraya melihat kelangit. Newt mulai menjelaskan,

"Coba kau amati bintang bintang itu, mereka punya ciri khas nya masing masing."

"Aku tidak bisa membedakannya."

Newt menggerakan tangannya menunjuk salah satu bintang. "Itu sirius, masih ingat sirius?"

Clara mengangguk, "Bintang paling terang karena jaraknya dekat."

"Good. Dia bintang yang lumayan banyak disukai orang orang. Ada bintang berkebalikan dengan sirius, disana!"

Clara mengikuti arah tunjuk Newt, "Huh?"

"Lihat?"

"Tidak begitu jelas."

"Karena dia bintang yang paling gelap. Namanya horna. Dia punya cahaya yang redup."

"What about that?" Clara berbinar menunjuk salah satu bintang yang menurutnya cantik.

"Itu orion. Kau pasti memang menyukainya. Dia juga terang seperti sirius dan dapat dilihat di seluruh belahan bumi."

"Aku suka orion."

Newt tertawa ringan, "Kau hanya boleh menyukaiku."

Clara membuat muka meringis, "Kau aneh."

Newt terbahak kala Clara berjalan meninggalkannya.

"Clara! Wait for me." Masih dengan tawanya, pria itu berjalan menyusuli Clara. "Aku bercanda, love!"

***

1 year later..

Sinar matahari yang terik tidak mematahkan semangat orang orang right arms yang berkumpul dan bersorak riang di luar.

Pada akhirnya kapal yang mereka bangun kembali telah selesai dan dapat dipakai layaknya baru. Semua orang bertepuk tangan gembira usai Vince mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam kapal.

Hari ini mereka akan pergi dari sini. Ya, setelah sekian lama pada akhirnya mereka akan meninggalkan kota ini. Mungkin mereka akan bebas setelah ini. Mungkin ada banyak orang orang yang dapat membantu mereka. Dan mungkin ada penawar untuk mereka yang sekarat. Vinfe berharap mereka akan menemukannya secepat mungkin.

Di dalam kapal, setelah semua orang masuk kesana. Vince kembali berseru untuk mengingatkan keselamatan mereka. Dilain tempat, Thomas dan kawan kawan berbincang bincang. Wajah mereka tidak dapat menutupi rasa senangnya. Karena mereka kini bebas. Benar benar bebas.

"Is like a dream huh?" kata Frypan tertawa tengil.

"Yeah. We make it." Thomas mengangguk dan merangkul Frypan.

"Menurutmu bagaimana diluar nanti?" tanya Minho menatap air dibawah kapal.

"Like a heaven?" jawab Brenda.

"It's too much babe." ucap Thomas lalu merangkul gadisnya.

"Kita tak ada yang tahu." sahut Brenda.

"Ya teruslah berpacaran." ucap Frypan lelah melihat Thomas dan Brenda bermesraan disusuli Harriet yang memeluk Minho dari belakang. Pria itu berdecak dan pergi dari sana membuat mereka berempat tertawa.

"Kamu cantik sekali." puji Newt memperhatikan Clara yang menikmati angin dan pemandangan laut disana.

Rambut gadis itu berterbangan lepas hingga membuat Newt terpaku.

Clara tersenyum salah tingkah lalu berbalik dan menutup wajahnya. "I'm shy."

Newt terkekeh, membalikan badan Clara. "Kau pakai baju."

Clara tertawa. Tangannya bergerak membingkai wajah Newt. "Are you my husband right now?"

"Yes." Newt mengangguk semangat.

"Really? Like seriuosly right now?"

"Ya love, kita punya leo." Newt memperhatikan perubahan wajah Clara perlahan. Pria mengeluarkan cengiran tengilnya. "Kecuali kau mau memberikan dia adik."

Clara ternganga tak habis pikir. Dia memukul Newt. "Newt! It's not funny!"

Newt terbahak dan mengindari pukulan Clara. Pria itu bergerak menghentikan tangan Clara dan memeluknya erat. "I love you, Clara newton."

The End.

****

haiii apa kabaar?

maaf yaa aku baru up setelah sekian lamanya sampe lumutan ini wattpad wkwk

maaf bangeet buat kamu yang udah nunggu lama dan sabar banget nunggu ini apalagii kalo misalnya part ini ga sesuai ekspetasi kamu jadi kamu kurang puass, i'm sorryyy

aku harap kalian semua terima ending tmr girl crush yaa, aku harap juga kalian ga bosen buat ikutin ceritaku yang lain karena abis ini aku lanjut ke lapak sebelah hehe.

makasii udah setia sama girl crush, akuu baca semua kok komentar kalian yang nunggu, makasii yaa love uu

oiyaa minal aidin wal faidzin guyss🙆🏻‍♀️🩷

BYEE

Contents
Contents
Next

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!