Brenda terdiam hampa melihat Thomas yang menutup galian tanah di depannya.
Bisakah Brenda protes bahwa apa yang dia lalui terasa berat? Melihat kematian orang orang begitu ringan, bahkan harus mengorbankan orang terdekatnya. Dia lelah. Brenda ingin mengadu bahwa dia tidak kuat untuk menghadapi ini semua.
Jika melihat kematian orang orang seringan bulu yang terbang, maka Brenda akan mengaku bahwa dia mungkin terjebak diantara batu hingga bulu itu tak bisa terbang. Sakit yang dirasa di masa lalu belum hilang, sudah harus melihat dan menghadapi hal berat. Brenda merasa ia terlalu muda untuk menghadapi ini semua. Jadii pada siapa Brenda harus protes?
Gadis itu bagai daun yang kering. Matanya yang sebab sudah tak bisa menangis lagi. Pikirannya kosong. Brenda.. benar benar lelah.
"It's okay." Thomas menghampiri Brenda lalu memeluknya.
Brenda terpejam dalam rengkuhan hangat Thomas. "It's not okay."
Thomas menghela nafas lalu melepaskan Brenda. Mengusap pucak kepalanya sebelum mundur untuk masuk ke barisan orang orang yang bersiap doa.
"Dengan ini kami berdoa agar yang telah gugur sekarang, dapat menikmati surgamu. Amen." Vince memimpin lalu orang orang mulai menunduk dan merapalkan doa.
Begitu mereka selesai, semua bubar dan kembali pada kegiatannya masing masing. Brenda melangkah masuk ke dalam. Ia membuka gorden putih sebagai ruangan medis sementara milik right arms. Tadinya ruangan ini terbuka penuh untuk siapa saja yang datang karena sakit. Tetapi untuk kali ini ruangan ditutup karena harus terfokus pada satu pasien yang bertahan untuk tetap hidup.
Harriet menjadi pengganti Marry. Sejauh ini hanya gadis itulah yang mengerti tentang medis. Jadi, karena banyak yang luka luka lepas perang kemarin Harriet harus membawa kotak pertolongan pertama untuk berkeliling menemui orang orang yang sakit.
Brenda menyapa Harriet dengan senyum tipisnya. "Kau mau berkeliling?"
"Yeah. Banyak yang luka setelah dari perang kemarin." Harriet berdiri dari duduknya. "Tetaplah disini menjaganya. Panggil aku jika terjadi sesuatu."
"Baiklah."
Harriet mengangguk dan pergi.
Kemudian Brenda memilih duduk untuk menemani pasien yang terbaring lemah itu. Tangannya menggenggam jari jari pucat Clara dengan lembut. Mata Brenda tak lepas menatapnya. Hatinya sakit mengingat bagaimana jika dia menjadi gadis itu. Brenda pasti tidak akan kuat.
Selama delapan bulan mengandung, Brenda selalu setia menemani Clara. Dia tau persis bagaimana perasaan gadis itu. Mendengar keluh kesah Clara setiap hari. Perjalanan cerita yang panjang selama dia membawa bawa perut besarnya. Brenda tau semua. Maka sebab itu Brenda orang pertama yang tau sakitnya Clara jika mengetahui kabar ini.
Antaleo Newton, bayi mungil yang sempat berada ditangannya tadi tidak selamat. Brenda menunduk dalam dalam ketika tak kuat untuk tidak menangis. Dia masih mengingat rasanya menggendong bayi itu. Dia masih mengingat wajah lucu bayi yang berada ditangannya, sangat mirip dengan Newt. Bahkan surainya yang blonde membuat Brenda yakin mungkin Newt kecil seperti Leo.
Tapi satu hal yang Brenda syukuri, Clara masih selamat walaupun nyawanya dekat dengan kematian. Clara terlalu banyak kekurangan darah. Gadis itu bertahan selama 5 jam dalam kondisi yang memprihatin. Harriet pun sempat panik karena alat medis tidak lengkap untuk operasi Clara. Juga donor darah yang tak cukup untuk Clara membuat hampir semua orang bingung harus mencarinya dimana.
Lalu Harriet membuka pendonoran darah bagi yang cocok untuk darah Clara dan bagi si pendonor yang ikhlas mendonorkan. Untungnya ada seorang yang rela mendonorkan darahnya untuk Clara. Meskipun hanya dia yang mendonorkan, setidaknya Clara masih bisa bertahan karenanya.
Untuk penjelasan Harriet yang membicarakan soal kondisi Clara, gadis itu mungkin memerlukan 3 hari untuk bangun dari masa koma nya. Dan dua hari untuk istirahat total. Itu masih perkiraan Harriet.
Suara mesin Elektrokardiogram terdengar mengisi keheningan ini. Isakan Brenda tak separah tadi, gadis itu mulai tenang. Matanya melirik grafik yang terampang dilayar Elektrokardiogram dimana jantung Clara berdetak secara normal. Tadinya lekukan garis itu lemah seperti garis yang hendak lurus, namun tuhan masih menyelamatkan Clara.
Mungkin Clara harus bertahan untuk melihat seorang yang ditunggunya.
Atau mungkin ada alasan lain yang harus Clara lakukan nanti. Brenda tidak bisa menebak apa itu tetapi ia akan tetap terus berdoa agar Clara sembuh.
***
Thomas baru saja ingin masuk keruangan Clara tetapi terhenti kala Gally hendak masuk juga dari arah berlawanan. "Apa yang kau lakukan?"
"Menjenguknya," Gally mengangkat alis. "Kenapa?"
Thomas diam tak menjawab.
"Kau masih pikir aku melakukan buruk karena masa lalu?"
Thomas melangkah maju, "Apa yang bisa kau buktikan?"
"Apa yang aku lakukan waktu itu kau tak ingat?" Gally mengernyit tajam. "Perbuatan baik ku kau tutup semudah itu?"
"Jika kau ikhlas melakukannya kau tak perlu mengungkitnya." balas Thomas.
"Aku membela diriku karena kau terus menyudutkan ku."
"Woah woah ada apa inii?" Brenda berdiri di tengah tengah mereka. "Jangan bilang kalian mau ribut disini?"
Thomas mendengkus membuang muka. "Aku akan kembali setelah dia selesai."
Brenda mengangguk lalu melihat kepergian Thomas. Dia beralih menatap Gally. "Lihatlah!"
Tak butuh waktu lama Gally masuk dan duduk di bangku. Dia memperhatikan Clara yang terpejam. Kulit putih Clara semakin putih karena pucat. Suhu tubuhnya dingin. Gally menghela nafas tak tega melihat kondisi Clara seperti ini.
Tangannya merogoh kantung celananya dan mengeluarkan bunga kertas yang ia buat. Pria itu menaruhnya di nakas kecil. Gally tersenyum simpul sambil menatap wajah Clara, dia memberanikan diri untuk menggenggam tangan Clara.
"Rasanya seperti asing kembali." Gally memperhatikan tangannya yang menggengam tangan mungil Clara. "Jadi seperti ini menggenggam tanganmu?"
Pria itu terkekeh miris. "Aku baru bisa menyentuhmu saat kau tak sadar. Seburuk itukah nasib ku?"
"Apa aku terlalu tertutup di antara yang lain Cla? Sampai kau tak bisa melihatku?"
"Atau aku yang tak bisa menunjukan kalau aku menyukaimu?" Gally melepaskan tangannya dafi tangan Clara. "Aku terlalu malu untuk bisa dekat denganmu. Karena kebahagianmu bukan untuk ku. Kebahagianmu tak pernah ada untuk ku 'kan?"
Gally mengusap matanya yang berair. "Aku harap kau lekas sembuh."
Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan Clara.
***
Brenda menepuk kecil bahu Thomas. "Jangan terlalu keras pada temanmu."
Thomas tak menyahuti.
"Aku yakin Gally tulus. Dia benar benar menunjukan bahwa dia tak seperti yang kau pikirkan."
"Memang kau tau apa yang aku pikirkan." Thomas mengacak gemas rambut Brenda.
"Tentu saja kau mengkhawatirkan Clara hingga kau menyudutkan Gally." Brenda menangkap tangan Thomas yang berada di pucak kepalanya. "Jangan tanya soal apa yang kau pikirkan, aku tau kau ingin membuka hati untuk ku."
Thomas mendengkus geli, bergerak menghadapnya. "Sepercaya diri itu kah dirimu?"
"Harus." Brenda mengangguk. "Jadi aku benar kan?"
"Kau mau jawaban apa?"
"Benar." ucap Brenda.
"Benar." jawab Thomas. Dia bergerak selangkah lebih dekat. "Aku harus melupakan masa lalu dan melihat yang sekarang kan?"
Brenda tersenyum dan mengangguk.
Thomas bergerak untuk melampirkan juntaian poni Brenda yang mulai panjang ke belakang telinganya. Lalu perlahan namun pasti mendekatkan wajahnya ke wajah Brenda untuk mempertemukan bibir mereka.
***
Ini kali ke 243 hari nya gadis itu bersama pria ini. Seseorang yang entah dari mana bisa membuat Ia tergoyah untuk menolongnya. Awalnya Grace tidak peduli pada apapun itu, hidupnya terlanjur sendiri. Tetapi entah bagaimana pria yang tidak ia kenal ini membuat dia tidak tega dan menolongnya.
Hal yang membuat dia terkejut mengapa ia melakukan itu padahal dia sama sekali tidak peduli pada manusia. Kecewa dimasa lalu belum terobati. Merawat orang yang tidak ia kenal sama sekali bukan kesukaannya, dan tentu hanya membuang tenaga saja. Tetapi pria ini berhasil membuat dia berubah. Grace mulai percaya jika tidak semua orang jahat.
Hanya perlu memperhatikan saja dan tidak langsung beranggapan lain.
Itu yang Grace pegang sekarang ini.
Pertama kali melihatnya bisa dibilang cukup parah. Memar memar diwajahnya yang memutih pucat dan tubuh tak berdaya di ambang reruntuhan menarik hati Grace untuk menolongnya, apalagi ketika dia meminta tolong dengan suara nya yang lemah.
Kalau dilihat lihat mungkin usianya sama dengan usia Grace. Karena tak berani banyak bertanya, Grace hanya dapat menebak. Awal pertama kali dia melihatnya sampai saat ini, perubahannya sangat jauh lebih baik. Luka luka di tubuhnya sudah terobati, juga wajahnya tampak jauh lebih manusiawi. Grace lega karena wajah itu tidak menyeramkan lagi.
Sejujurnya dia cukup tampan.
Mengingat kembali pertama kali mereka bertemu,
Saat itu Grace memang sedang melintasi perkotaan. Dia baru saja pindah dari sisi utara. Begitu melihat kerusakan yang nampak masih baru, Grace tertarik untuk melihat lihatnya. Siapa tau dia menemukan sesuatu. Hingga akhirnya dia bertemu pria malang yang tertiban reruntuhan. Saat itu Grace berusaha mengabaikannya, alasan kuatnya adalah karena pria itu terlihat bukan manusia. Namun begitu mendengar suara nya yang lemah, Grace memutuskan membawa dia.
Susah payah dia membawa Newt. Merawatnya berbulan bulan hingga hampir terjebak diantara Crank. Grace hampir putus asa dan ingin bunuh diri. Disaat itulah Newt membuka mata dan menggenggam tangannya.
"Jangan.. jangan berhenti." Grace terkejut kala mata sayu itu menatap tepat pada matanya, dia diam tak berkutik. "Ayo sama sama berjuang."
Saat itu genggaman pisau ditangannya Newt lepas dan membiarkan Grace menangis seraya menutup wajahnya.
Hari demi hari kemudian berganti. Selama itulah Grace berusaha membuat Newt lebih hidup lagi. Mulai dari menuntunnya berjalan. Karena kakinya tertiban reruntuhan, Newt sempat tak bisa jalan. Lalu pria itu benar benar lupa ingatannya. Hal ini menyulitkan Grace untuk mengetahui tentang dirinya. Begini gini Grace cukup pintar taktik orang orang jahat, sehingga dia harus benar benar meyakinkan orang itu dengan cara mengetahui informasi orang tersebut. Grace hidup sendiri lebih dari lama. Dia belajar dari sana dan membuat mindset untuk berhati hati pada orang lain.
Sampai akhirnya mimpi mimpi Newt yang membangunkannya membuat pria itu sedikit demi sedikit mengingat memorinya. Grace bersyukur Newt memberi taunya.
"Jangan melamun." Pria itu menepuk pelan bahu Grace dengan kekehannya.
Grace tersentak. Lalu bergeser untuk memberi jarak keduanya. "Dari kapan kau disini?"
"Baru saja." Newt memberikan kantung plastik kepadanya. "Makan."
Grace menerima itu dan segera melihat isinya. Dia tersenyum senang kala melihat makanan kaleng. "Thanks."
Newt bergumam saja.
Saat ini mereka berada di jok belakang mobil. Setelah mencari makan mereka memutuskan untuk berteduh lebih dahulu karena suhu matahari sangat panas siang ini.
"Kita lanjut kemana?" sambil memakan makanannya, Grace bertanya.
"Pantai."
Kunyahan Grace memelan. "Kau yakin mereka masih disana?"
"Kita harus mengeceknya." Newt menarik nafas seraya menyender pada badan kursi. "Kau harus kenal dengan teamku."
Grace terkekeh, "Jadi kau benar benar seyakin itu ingatanmu pulih secepat ini? Bukan mimpi 'kan?"
"Kau meragukan ku?"
"Biasanya kan kau selalu berbohong, mana bisa aku percaya segampang itu." kata Grace menjulurkan lidah.
"Beda situasi, Gracea Deanclear." Newt mengacak ngacak rambut Grace dengan setengah hati, "Kalau aku bicara serius tanggapi dengan serius."
"Bukan tidak mau, kau terlalu sering berbohong."
"Aku bercanda."
"Kau selalu bercanda!"
"Kalau serius nanti salah tanggap." Newt mendengus geli dengan seringai kecilnya, ia kembali ke posisi awal. "Sudah lama sekali rasanya tidak melihat mereka."
Grace memperhatikan Newt yang menatap langit biru dengan helaan nafas kecil. Pria itu seperti sedang mengingat memorinya.
"Seharusnya ini lebih cepat dari yang aku bayangkan. Dilihat dari awal kau bisa berjalan hingga mengemudikan mobil ini, aku pikir kita tidak membuang waktu." Grace beranggapan. "Kau sakit bukan hanya sebulan saja, Newt. Lebih dari itu kau masih belum sepenuhnya berubah. Jadi harusnya kita bersyukur."
"Yeah." Newt menggerakan kepala untuk melihat Grace. Dia menatap mata teduh gadis itu dengan senyum tulusnya. "Terimakasih."
Grace memukulnya bercanda, "Ah, sudahlah."
Newt terbahak. "Kau tidak ada anggun anggunnya."
"Diam, Newt!"
Newt tertawa lagi.
Grace terdiam beberapa saat. "Saat sudah sampai sana, kita akan bertemu gadis yang kau maksud itu?"
Newt mengangguk. "Kita akan bertemunya."
Gadis itu mengangguk dalam diam. Mengapa hatinya merasa tidak rela? Apa yang salah dengan itu?
"Perjalanan masih lumayan jauh. Kurasa sebaiknya kita bermalam disini dulu."
***
hayo siapa yang mau protes, aku terima semua disini..
gini guys aku usahain kalo update buat lebih cepat tapi sebagai gantinya kalo aku masih lama buat up aku bakal bikin double up dalam sehari kaya gini, jadii impas yaa ð
positif aja sih kalo aku lama up berarti aku lagi pacaran sama newt hehee
btw couple baru udh keliatan nich wkwk
see you next chapter!!
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!