Chapter 15 of 18

15

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]1,136 words~6 min read

"Kenapa mereka belum kembali?"

Brenda menegakan badan lelah dari kegiatan menyapu nya. Pagi ini usai dari kekacauan malam tadi, mereka sepakat untuk membersihkan tempat tinggal mereka. Vince dan Jorge bersama teman temannya dapat bagian berat nya, yaitu mengubur mayat yang berserakan. Sedangkan para remaja disetujui untuk membersihkan kekotoran disana.

"Entahlah." Frypan menghela nafas, "Memang dimana kau meninggalkan Clara?"

"Saat situasi kemarin, satu satunya yang terpikir dari ku hanya kabur membawa Clara. Tapii aku tak sampai mengantarnya, anak buah Morgan menghalangi kami." Brenda menunduk menatap gagang sapu yang dipegangnya. "Seharusnya aku mengantarnya, tapi aku menyuruhnya lari."

"Aku tidak tau dimana dia." Brenda menahan air mata yang akan jatuh, merasa bersalah. "Seharusnya aku melindunginya."

Frypan menghampiri Brenda dan mengusap punggung gadis itu. "Kau melakukannya dengan benar."

Brenda menggeleng. "Aku meninggalkanya."

"Kau menyuruhnya untuk berlari agar mereka tak mengejarnya itu hal yang benar, Brenda. Kau sudah menunjukan bahwa kau sudah berusaha."

Brenda menutup wajahnya tak mau dilihat menangis. "Tapi aku tidak tau bagaimana kondisinya sekarang."

Melihat temannya seperti itu, Frypan bergerak merengkuhnya. "Aku harap dia baik. Dia dan bayinya."

***

Tidak ada satu atau dua kata yang mereka ucapkan hingga saat ini. Wajah lelah bercampur keringat membuat tampilannya semakin mendominasi bahwa mereka ingin putus asa. Semakin lama mereka menanti semakin banyak rasa khawatir. Semakin banyak pikiran buruk yang meracau masing masing. Apalagi atas apa yang terjadi secara tiba tiba, bukan hanya soal menunggu sebab dari raut sedih mereka tetapi karena peninggalan teman teman yang tak bisa bertahan hari ini.

Rest in place,

Tulisan besar itu terampang di papan kayu dibawah hamparan tanda salip masing masing dari tanah mereka. Kesunyian sore ini menjadi bukti atas kedukaan Right Arms.

Emily, James, beserta para teman teman Vince sudah tidak bersama mereka lagi.

Mungkin mengikhlaskan bukan hanya soal sesulit itu tapi juga menyadarkan diri. Sadar bahwa sekarang ada penyesalan yang mereka rasakan.

"Apa masih ada kejutan lagi?" Gally menatap kosong kuburan kuburan di depannya.

Frypan hanya diam.

"Apa selama belasan taun kita dilabirin ini yang kita dapatkan?" Gally memainkan batang rokok di sela jarinya. Nyatanya bayangan ketakutan mulai muncul di pikirannya. Bagaimana rasa gembira itu datang saat dia kembali bertemu teman teman labirinnya lalu satu dari mereka meninggal. Kembali lagi ketika dia menemukan sebuah tim yang sudah ia anggap keluarga, kini hancur menewaskan orang orang yang membuat suasana terasa lebih hangat. Lalu orang yang selama ini ia sukai diam diam, hilang. Dengan mengetahui kabar bahwa gadis itu hamil saja sudah membuat Gally sakit, lalu menghilang disituasi yang kacau. Ia pikir apa tidak ada suatu keadilan saja untuknya?

"Tidak ada yang mau seperti ini, Gally." Frypan merespon. "Disaat situasi seperti ini aku sering berusaha untuk berpikir kalau ini hanyalah sebuah ujian untuk kita. Menjadikan kesalahan ini untuk sebuah pelajaran yang kita ambil."

"Ini bukan hanya soal penyesalan dan peninggalan. Tapi bagaimana harus bertahan untuk tidak melakukan hal buruk karena menyalahkan diri. Penyesalan datang untuk menggangu pikiran kita. Jadi aku kira, berpikir jauh lebih konvesional lebih baik untuk saat ini."

Gally menoleh merasakan bahunya di rangkul oleh Frypan, hatinya mencelos melihat temannya itu mengeluarkan air matanya. Air mata yang menunjukan pria itu lelah untuk terus berusaha baik baik saja. Nyatanya sampai saat ini mereka tidak pernah dapat apa yang mereka inginkan. Selalu ada kabar buruk untuk mereka.

"Kau tangguh, kau jauh lebih tanggung dan baik sekarang. Tapi jangan pernah lengah."

Gally meneteskan air matanya lalu tersenyum. Benar, setelah sadar bahwa sejauh ini dia orang yang kuat karena bisa menahan rasa keinginnannya, harusnya sekarang ia juga harus lebih kuat dari pada itu.

"Guys." Brenda datang membawa dua botol air. "Aku tau kalian belum minum sampai saat ini."

"Thanks" Frypan mengulum senyum mengambil airnya.

"Your welcome." Brenda ikut tersenyum.

"Ada kabar?" tanya Gally seraya mengambil sodoran air dari Brenda.

"Belum." Brenda menghela nafas, "Ah! Vince meminta kalian untuk berkumpul di lapangan."

Gally dan Frypan hanya mengangguk.

"Menyusul lah. Jangan terus berduka disini." sebelum pergi, Brenda tersenyum pada keduanya.

***

Setelah memberi wasiat atas kejadian hari ini, mereka tidak melakukan apa apa lagi. Hanya kediaman yang mengiringi mereka. Langit jingga dengan matahari yang ingin tenggelam tidak lagi menjadi pemandangan yang menarik. Untuk saat ini, mereka belum bisa berdamai atas situasi yang telah terjadi tadi.

Berbagai macam raut wajah terlihat sangat jelas dari masing masing orang. Seperti Harriet yang menampilkan wajah lelahnya. Lalu Sonya yang memandang kosong pasir pasir bersama Aris yang mengusap bahu gadis itu. Gally dan Frypan tak jauh beda seperti yang mereka lakukan tadi, merenung. Brenda menampilkan raut cemasnya dan Vince yang lelah mencoba menunggu jawaban dari walkie talkienya.

"Shit!" Vince menggeram meremas walkie talkie digenggamannya.

"Apa kita susul saja?" Brenda mengide.

"Kalau kita punya kendaraan yang cukup aku sudah melakukan itu." jawab Vince. "Untuk saat ini aku tidak mau meninggalkan kalian."

Harriet yang mendengar itu ikut menghela nafas. Paham bahwa kejadian baru tadi membuat Vince sedikit trauma. "Setidaknya kita mencari tak jauh dari sini."

Vince menggeleng.

"Itu?" Jorge menunjuk sebuah mobil yang melaju mendekat pada mereka. "Itu mereka?"

Semua orang segera berdiri memastikan apa yang di lihat.

Ketika mobil itu berhenti beberapa meter dari mereka. Pintu terbuka dan menampilkan Minho yang keluar memutari mobil. Mereka semua tampak terdiam, ada perasaan bahagia, bingung, dan takut. Tak ada yang berani mendekat. Semuanya terasa seperti kaku.

Thomas keluar dari pintu depan. Ada raut wajah terkejut begitu melihat pria itu membawa sesuatu di tangannya.Wajah pria itu masih membekas tangisan. Melihat itu, Brenda berlari menghampirinya. Gadis itu terisak melihat bayi yang ada di dalam gendongan Thomas. Brenda tersenyum dalam tangisan kagetnya. Ada raut wajah haru disana.

"Thomas..?" Brenda masih tak percaya. Dia menganga bahagia. Tangannya menyatu dan bergesekan tak sabar ingin mengambil alih bayi itu. Melihat wajah kecil yang terpejam lucu itu saja sudah membuat Brenda senang sekali.

Sayangnya gadis itu belum menyadari ekspresi Thomas sekarang. Pria itu nampaknya tak bisa berkata begitu melihat reaksi Brenda yang sangat amat senang.

Brenda akhirnya mengambil alih bayinya di dalam gendongannya. Bersamaan itu Gally dan Frypan mendekat untuk melihat.

Orang orang ikut bergerak untuk melangkah mendekat kepadanya.

"Brenda.." Thomas terisak.

Brenda mendongak melihatnya. Wajahnya yang tersenyum perlahan menghilang.

"Clara?" Gally bertanya pada Thomas saat tak menemukan gadis itu dibelakangnya.

Suara pintu mobil yang tertutup membuat mereka semus mengalihkan pandang kebelakang Thomas. Dimana terlihat Abi yang menggendong Clara dengan tak sadar diri. Dari jarak beberapa meter mereka semua tahu bahwa itu Clara.

Brenda tercekat. Matanya memanas. Tangannya yang menggendong Antaleo bergetar begitu penglihatannya menemukan kondisi buruk yang terjadi pada sahabatnya.

Gally tersimpuh kaget. Dia tak bisa untuk tidak menyembunyikan tangisannya.

Di langkahnya yang hampir dekat mereka baru sadar bahwa Abi yang tengah menggendong Clara juga menangis. Minho hanya tertunduk lemas.

"Tidak.. Clara?" Brenda sesegukan. Dia menangis tersedu sedu. Matanya beralih pada Thomas. Dia menggeleng menatap pria itu. Brenda tidak mau, dia tidak mau kehilang satu orang lagi hari ini.

"Why..?" Brenda bertanya dengan suara paraunya.

Thomas menggeleng.

***

ada satu part lagi, tunggu ajaa!

Contents
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!