Asap dan api menjadi penglihatan pertama usai perang besar antara Morgan dan Right Arms. Orang orang yang tak bernyawa sudah memenuhi sepanjang jalan pasir kering ini. Perang yang dimulai pada pukul dini hari berkisaran menjadi lebih dari sepuluh jam lamanya. Langit malam untuk pertama kalinya meneteskan air hujan. Sangat mendukung sekali atas kehilangan banyaknya kawan mereka.
Tetapi Morgan telah mati. Semua anggota mereka sudah mati. Ditengah tengah hampir kematian Vince, untuk kali keduanya Jorge bersama Abi mengambil tembakan dari arah lain yang langsung dapat menyerbu musuh semua. Tidak ada yang lebih beruntung atas kehadiran ide mereka yang muncul. Karena ketidak siapan Right Arms akan kemunculan Morgan, mereka hampir habis ditangannya. Vince tidak bisa membayangkan bagaimana usahanya sia sia selama ini.
Malam yang sunyi ini akhirnya terisi tangis pecah Brenda. Di dekatnya ada Emily yang berlumuran darah. Wanita yang selama ini menjadi ibu angkat dari anak anak para remaja. Tidak hanya Brenda, Frypan ikut menangis mendekatinya. Lalu James, suami wanita itu ikut menghembuskn nafas terakhirnya karena tusukan dari salah satu anggota Morgan.
Pemandangan itu membuat Thomas, Vince, dan Minho tertegun melihatnya. Mereka hanya terduduk lemas mengamati itu.
Anggota alis teman teman Vince pun banyak yang kalah berjuang. Luka luka mereka cukup parah sampai Vince tidak bisa lagi berkata. Pria itu hanya diam masih tak tau harus melakukan apa. Dia terlalu terkejut.
Benny salah satu teman lama Vince ikut berbaring tak bernyawa. Disaat akhir hayatnya, pria itu masih menampilkan senyum tipis dikematiannya. Orang baik memang selalu terlihat meskipun dia tak bernyawa. Benny adalah salah satu teman terlama Vince yang berpikiran seadanya. Dia terbilang lucu. Vince sangat berat untuk mengikhlaskan dia.
"Brenda.." Thomas menyentuh punggung Brenda yang bergetar. Mata pria itu ikut berkaca.
Brenda bergerak memeluk Thomas dalan tangisannya. Frypan ikut mengusap telapak tangan Brenda disaat dia juga sudah mulai tenang.
Suara langkah kaki yang datang membuat Minho beranjak mendekatinya.
Jorge terpengah melihat pemandangan disana. Dia berlari mendekati Brenda. "Brenda, you okay!?"
Thomas memberikan tatapan melirik pada Emily ketika Jorge manatapnya.
Lelaki itu menunduk mengerti.
"Dimana Clara?" Abi bertanya seraya melirik mereka satu persatu.
Brenda seketika berhenti menangis seolah teringat sesuatu. "Aku menyuruhnya lari."
"What?" Thomas ikut terkejut.
Brenda menggeleng. "Dia akan lebih aman jauh dari sini."
"Lalu sekarang dia dimana!?" Abi berteriak kesal.
Brenda diam tak tau harus menjawab apa.
"Shit." Minho mengacak acak rambutnya.
"Come on we have to go." Abi menepuk Minho untuk ikut bersamanya.
Thomas ikut beranjak, namun ketika melihat Brenda mengikutinya. Pria itu menggeleng tak setuju. "Kau tetap disini."
"Aku harus melihatnya!"
"Akan lebih aman disini, Brenda.."
"Aku tidak apa apa."
"Dengarkan dia." Jorge membuka suara. Dia beranjak mendekati Brenda dan menggenggam tangannya. "Biarkan mereka yang mencarinya."
"Tapi--"
"Aku janji akan menemukannya." Thomas berucap sungguh sungguh.
Brenda menghela nafas akhirnya mengangguk.
Setelah itu Thomas berlari menjauh untuk menyamakan Minho dan Abi yang hampir mendekati mobil yang terparkir jauh dari sana.
"Kita harus membersihkan mereka." Hariet berkata pada mereka semua. "Aku tidak mau kalian berduka selama mereka masih terbaring disini."
Sonya yang menangis dipelukan Aris mengangguk setuju.
Frypan yang masih menatap Emily akhirnya bergerak menutup mata wanita itu dengan raut wajah sedihnya. "Goodbye, Emily."
***
Mata lelah Clara masih setia untuk bertahan terbuka demi melihat makhluk kecil ditangannya. Nafasnya lemah, bahkan untuk bersuara saja dia tidak bisa. Tangannya memeluk bayi itu dengan hangat. Kenyataanya yang dapat membuat Clara berlinang air mata adalah perasaan haru, bingung, serta bahagia. Dia tidak bisa mendeskripsikan itu semua.
Bayi nya lahir.
Dia laki laki. Sayangnya wajah bayi itu terus tidur semenjak Clara mengeluarkannya. Clara menantikan Antaleo Newton menangis. Itu adalah nama yang terpikirkan Clara untuk saat ini.
Tangan Clara yang di penuhi darah bergerak mengusap pipi bayi mungil itu. Air mata Clara jatuh. Wajah pucatnya benar benar tak bisa menutupi raut wajah sedihnya.
Clara tidak bisa bertahan lama lagi. Tangannya bergetar untuk tetap memeluk anaknya. Seluruh tenaganya habis. Dia lemah.
Darahnya menyebar ke lantai entah sudah berapa lamanya hingga sampai mengering.
Perasaan Clara benar benar tak tau seperti apa harus dijelaskan. Melihat anaknya yang lahir dan sangat memiliki wajah Newt membuat Clara merasa sangat bahagia. Tetapi di satu sisi lainnya, mengapa bayinya tidak menangis?
Sedangkan di luar sana mobil yang semulanya jalan kini memelan melihat sebuah bangunan kecil yang rusak. Di dalam mobil, Thomas, Abi, dan Minho menatap bangunan itu dengan ragu.
"Menurutmu dia kesana?" Minho bertanya kepada keduanya.
"Aku tidak tau tapi kita harus mengeceknya." jawab Abi.
"Aku setuju. Tapi jika aku adalah Crank, mungkin bisa saja aku disana." kata Thomas teringat ucapan Newt waktu itu yang ternyata benar.
"Tempat itu terlalu kecil." Minho beranggapan.
"Jika Crank disana mungkin sudah menyebar keluar. Ini malam."
"Haruskah kita cek sekarang?" tanya Minho sedikit ragu. Masalahnya mereka kesini tanpa persiapan apapun.
"Kondisi Clara lebih bahaya sekarang." ucap Abi, "Dia sedang mengandung dan di luar sendirian."
"Pukul berapa sekarang?" Thomas bertanya.
"Empat pagi." jawab Minho melirik arlojinya.
Thomas menatap Abi. "Cari rencana sebelum gegabah masuk kesana."
"Kita tidak punya waktu!"
Thomas mengambil nafas. "Baiklah, setidaknya ada pegangan di sakumu."
Abi yang tak tahan akhirnya keluar dari mobil deluan di ikuti Thomas dan Minho.
Mereka berancang ancang pada posisinya takut takut ada Crank yang menerjang mereka di kegelapan.
"Aman." bisik Abi memberikan kode kepada Thomas dan Minho.
Kedua sahabat itu akhirnya berjalan lebih lega ketika tak ada Crank disini. Untungnya cahaya bulan masih dapat menyinari sedikit ruangan ini.
"Kosong?" Thomas mengedarkan pandang di seluruh sudut.
"Masih ada satu ruangan disana." Abi jalan mendahuli mereka ke depan.
"Apa itu?" Minho mempertegas penglihatannya. "Darah?"
Abi yang mendengar dan melihat itu segera berlari kesana.
Deg.
Abi sempat terkejut melihat kondisi Clara yang bersender bersama bayi dalam dekapannya dengan darah berceceran di tubuhnya. Dia lemas.
"Clara!?" Thomas yang melihat itu terkejut dan mendekati Clara. Tiba tiba hatinya mencelos. Pemandangan ini membuat dia salah paham menduga gadis itu kehilangan nyawanya.
Thomas bersimpuh memegang lututnya dengan tangis tertahan.
Begitupun Minho yang menutup mulutnya karena terkejut.
Abi sedikit merasakan nafasnya lemah karena tak menyangka. Dia bergerak lebih dekat untuk meraih tangan dingin Clara. Ketika merasakan suhunya, untuk pertama kalinya Abi menangis.
Namun tak sampai sedetikpun, jari itu bergerak dalam genggaman Abi.
Segera Abi melihat wajah Clara.
Mata sayu Clara terbuka untuk menatap bayinya.
Tangisan Thomas dan Minho berhenti.
"Clara?"
Clara masih diam tak bergerak sama sekali. Dia seperti mati yang hidup.
Dengan suara lemahnya, gadis itu akhirnya membuka suara.
"Dia tidak menangis."
***
ayoo vomentt!
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!