Telinganya berdenging seketika merasakan dadanya berdebar debar. Clara menyentuh perutnya seraya menunduk, dia masih terkejut. Pandangannya buram, Clara membuang nafas guna menormalkan perasaannya. Dia kembali melihat Brenda, masih menampilkan raut wajah tak percayanya.
Brenda tersenyum tipis dan mengangguk. Melihat Clara yang ragu tersenyum, Brenda mengerti dan segera memeluk temannya itu. Dia tau apa yang Clara pikirkan. Hamil di usia muda memang rentan bahaya, tetapi tidak ada pendamping hidup akan lebih sulit menerima. Ia sudah menduga, bukan tidak senang Clara akan mempunyai buah hati tetapi kondisi dan lingkungan tidak bagus untuk Clara. Apalagi setelah melewati masa kritis ini, dimana Newt meninggalkan mereka semua. Clara pasti akan sangat bingung.
Begitu mendengar isakan Clara, Brenda memutuskan mengusap punggung gadis itu lembut. "Aku tau ini semua berat. Tapi kau bisa melewatinya, kau pasti bisa."
"Aku tidak tau harus apa," Clara menggeleng dalam dekapan Brenda. "Aku tidak bisa tanpa Newt."
"Ada aku, ada Thomas, ada Minho, mereka semua akan disamping mu. Please, Clara. Jangan menyerah. Dia harus hidup, bayi itu harus hidup. Sementara Newt, aku yakin dia senang jika mendengar kabar ini."
"Kenapa? Kenapa aku harus mengetahui ini setelah Newt tidak ada?"
Brenda meneteskan air matanya, "I'm sorry.."
Clara menangis dalam rapuh. Mungkin malam ini Clara gagal untuk bertahan kuat. Dilanda rasa senang, bingung, sekaligus sedih mengetahui bahwa dirinya hamil. Clara belum bisa berpikir bagaimana ia melewati hari harinya tanpa newt dan juga anaknya nanti. Hidup dilingkungan yang sepenuhnya belum terpercaya antara bisa bertahan atau tidak. Clara harap dia akan kuat dan bisa mempertahankan bayinya.
***
Pagi hari ini dibuka kembali seperti biasa. Right arms mulai bekerja mempercepat tujuannya. Vince pandai membagi kelompok dari anggota anggotanya. Jadi, semua orang disana bekerja terkecuali seperti orang berumur dan orang yang sedang sakit.
Mengetahui kabar dari Brenda, Thomas segera menghampiri sahabatnya dengan perasaan gembira dan penasaran. Seolah paham betul bagaimana perasaan gadis itu, Thomas langsung memeluk Clara ketika baru saja bertemu dengannya.
"It's gonna be okay." Thomas menunjukan senyum tipis dan pandangan percayanya.
Clara mengangguk ikut tersenyum. "Thank you."
"Dimana Minho?" Brenda bertanya dari belakang mereka. "Dia tidak terlihat dari kemarin."
Thomas yang tengah melihat Brenda langsung beralih kepada Clara dan melihat gadis itu yang membuang pandang menunduk. Thomas menghela nafas kecil dan menggeleng. "Aku akan bicara padanya."
Brenda mengangguk saja.
Thomas memegang tangan Clara, "Ayo, kau harusnya melihat suasana diluar agar tidak terlalu jenuh disini. Kau perlu udara yang segar."
Clara mengiyakan ajakan tersebut dan membiarkan Thomas membantunya bangun. "Thomas, aku hamil bukan sakit. Aku tidak perlu di papah seperti ini."
"Oh? Sorry." Thomas melepaskan Clara dan kikuk sendiri. Toh namanya juga tidak tau. Ia pikir Clara masih lemas dan yang Thomas dengar, kondisi hamil di usia muda lebih rentan dari pada usia kandungan di pertengahan bulan.
Brenda tertawa geli.
"Berisik," Thomas mendelik sebal pada Brenda.
Clara mengedarkan pandang pada suasana luar. Disana ada para laki laki yang tengah membuat sesuatu dari kayu. Ada juga yang tengah bekerja sambil mengobrol ria. Beberapa diantaranya sibuk mundar mandir membawa sesuat. Mereka semua tampak sibuk dalam kerjaannya. Pandangan Clara jatuh pada Frypan dan Emily yang mengobrol bersama. Dan oh! Ada anak gadis itu yang belum lama bergabung dari anggota morgan.
Clara tertarik untuk menghampirinya, jadi gadis itu berjalan kesana diikuti Thomas dan Brenda yang mengikutinya dari belakang.
"Clara!" Frypan menyambutnya hangat. "How are you, little girl?"
"Fine." jawab Clara tersenyum lalu beralih pada Emily. "Hai."
Emily tersenyum lebar, memilih untuk memeluk Clara. "Aku rindu ceriamu seperti dulu."
Mendengus geli, Clara melepaskan pelukannya. "I'm fine, kenapa semua orang mengira aku tak baik baik saja? It sucks."
Frypan dan Thomas tertawa.
"Aku khawatir padamu." Emily mengusap lembut puncak kepala Clara. "Sarapan? Aku buat roti dengan selai coklat."
"Nanti saja, terima kasih."
Clara melambaikan tangan pada Cassie. "Hello!"
Gadis itu tersenyum ikut melambaikan tangan. "Haii."
"You look very well," Clara menatap perubahan Cassie dari pertama kali ia datang kesini.
"Yeah." Cassie menjawab canggung.
"Baiklah, sudah. Ayo sarapan! Kalian belum makan." Emily mulai mengomel, menyeret kelima remaja itu untuk mengambil makanannya sendiri. "Sarapan itu penting untuk tubuh kalian dimasa muda~"
Suara Emily yang tengah mencerami mereka panjang lebar tidak Clara hiraukan lagi. Sejujurnya ia memang lapar, mengingat dari kemarin ia belum memakan apapun. Ketika Clara baru saja akan mengambil roti coklatnya, dirinya mendadak diam kala melihat Abi datang dari pintu belakang. Pria itu mengangkat alis menyapanya dan meneruskan kegiatannya, mengambil nampan dan ikan bakar diatasnya.
"Kenapa?" Abi merasa heran melihat Clara yang begitu terkejut melihat kedatangan dirinya.
Clara mengambil nafas dan menggeleng.
"Bagaimana kabarmu?"
"Good." Clara mengangguk saja tanpa melihatnya.
Melihat kegugupan Clara, Abi tersenyum tipis. "Pucat. Kau terlihat jelek pagi ini."
Clara langsung menoleh dengan pandangan protes, namun Abi sudah pergi deluan. Gadis itu membuang nafas kesal dan berjalan kembali menuju teman temannya makan.
"Hanya roti? Ada ikan, sayang." kata Emily memberi tahu karena melihat tangan Clara yang hanya membawa roti.
"Aku tidak terlalu lapar." Clara tersenyum tak enak pada Emily. Dia menggigit rotinya. "Tapi ini roti yang sangat enak, Em. Makanan yang kau buat selalu tidak gagal! Hanya saja aku tidak terlalu lapar."
Emily tertawa lepas, "It's okay, honey. I get it."
Thomas menggeleng kepala melihat itu.
"Yah, Clara. Kau mudah sekali dibohongi, padahal ikan itu aku yang buat." Frypan memasang wajah kecewanya.
Clara menganga dengan mulut yang penuh roti. "Oh?"
Gadis itu bangkit segera mengambil ikan di piringnya. "Aku akan makan masakanmu juga!"
Frypan tertawa puas, bahkan semuanya ikut tertawa melihat Clara. Setidaknya Clara mulai kembali seperti Clara yang dulu, gadis periang dan menghibur semua orang.
***
Clara baru saja selesai makan kala Thomas tiba tiba saja datang. "Mau melihat sesuatu?"
"Apa?" tanya Clara.
"Come on." Thomas terlihat jalan mendahului Clara menuju tepi pantai.
Biasa dilihat disana terdapat batu besar yang terdapat nama nama salah satu yang Clara kenal. Mata Clara tiba tiba terpaku pada satu nama. Gadis itu mendekat dan menyentuh nama itu. Tulisan Newt tertera besar disana.
"Minho mengukirnya."
Clara menoleh pada Thomas.
"Dia begitu terpukul."
Clara kembali melihat nama Newt di batu nya.
"Setelah tau bahwa Newt berjuang untuknya, dia juga sedih karena tak bisa menyelamatkan Newt." Thomas menatap punggung Clara yang seolah bersikap dingin. "Begitu juga saat kau menyalahkan dia atas semua ini. Clara, aku tau semua ini terasa berat bagimu. Tetapi tidak seperti ini. Lantas untuk apa Newt menyelamatkan dia? Minho bagian terpenting dalam hidup Newt."
Clara diam tak bicara.
"Newt rela mengorbankan nyawanya untuk dia. Ini bukan kemauan Minho, tapi Newt memilih keputusannya sendiri."
Clara berbalik. "Jika dia memintamu untuk aku memaafkannya, datang dan temuilah aku. Bukan memalui perantaramu."
"Tidak, aku hanya ingin menyadarkanmu."
"Apa maksudmu menyadarkanku?"
"Kau hanya memilih egomu sendiri dari pada kenyataan sebenarnya."
"Kau tidak tau rasanya ditinggal dengan kekasihmu sendiri!"
"Teresa? Aku tau bagaimana rasanya, Clara. Aku mencintainya. Dia juga berkorban untuk ku."
Clara merasakan dirinya berdebar karena terpancing emosinya. "Pergi, Thomas."
Thomas terdiam menatap Clara tanpa bergerak sedikitpun.
"Aku tidak mau kita berakhir seperti ini, jadi lebih baik kau pergi."
Mendengus, Thomas akhirnya pergi meninggalkan Clara disana yang mencoba meredakan emosinya.
***
Brenda dan Thomas sedang mendapat jaga malam di luar. Seperti pada saat di labirin, tujuan ini untuk menjaga keamanan sekitar dan memastikan bahwa mereka tidur. Pentingnya waktu istirahat bagi mereka karena tidak ada alasan telat bangun hanya karena tidur malam. Selain itu Vince menyuruh mereka tidur tepat waktu agar mereka bisa kembali fit untuk bekerja esok jari.
Bersama lampu penerangan di kedua tangan masing masing, Brenda melirik Thomas dalam keheningan. Terkadang Brenda sendiri masih takut menyatakan dirinya tertarik pada Thomas, tetapi jika ia menanyakan bahwa Thomas menyukai seseorang tidak apa kan? Dia hanya ingin memastikan.
Atau contohnya, apakah dia sudah melupakan Teresa?
Tapi ada satu hal yang sedikit mengganggu Brenda. Yaitu, saat melihat Thomas begitu peduli pada Clara. Brenda tauu hubungan mereka. Sahabat dari tiga tahun lamanya sudah pasti membuat mereka saling peduli atau bahkan bisa sayang. Tetapi tak dipungkiri lagi kalau Brenda agaknya sedikit cemburu.
Ya, awalnya memang dia sudah cemburu kepada kedekatan Thomas dan Teresa. Namun apa boleh buat? Keduanya saling suka. Karena Teresa sudah tidak ada, Brenda ingin memperjuangkan dirinya pada Thomas.
"Thomas?"
Pria itu melirik Brenda, "Yea?"
"Umm, apa kau berencana menyukai seorang?
Thomas mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu. "Kenapa tanya itu?"
"Entahlah, aku hanya ingin tau saja."
Thomas bergumam. "Aku tak yakin."
Brenda terdiam sementara. "Lalu apa kau tidak berniat membuka pintu hati?"
Kali ini Thomas yang terdiam. "Aku tak tau. Mungkin."
Brenda tersenyum tipis mengangguk.
"Aku rasa semuanya aman." Thomas menguap lebar, "Kau pergi saja istirahat, biar aku bersama Minho yang menjaganya."
"Really?"
"Yap."
"Thank you." Brenda melambaikan tangan dan pergi ke dalam camping.
Sedangkan Thomas berjalan menuju perapian dimana Minho duduk disana. Sesampai disana, Thomas menepuk bahu pria itu. "Don't drink too much."
Thomas duduk disebelahnya. "Is everything ok?"
"Hmm." Minho mengangguk saja. "How about her?"
"She's fine." Thomas mengambil satu botol lainnya, ikut meminum minuman hangat itu. "Kenapa kau tidak bicara padanya?"
"Tidak sekarang. Dia akan marah dan tak mau mendengarkan ku."
"Kenapa berpikir seperti itu? Dia pasti mendengarkanmu."
"Is that so?"
Thomas berdecak. Memang ya, berbicara sama orang yang mabuk tidak pernah serius. "Sebaiknya kau temui dia. Mesti disini nyatanya kau tidak salah, tetap saja kau harus bicara."
"Aku tau. Aku menunggu waktu yang tepat."
Thomas terdiam beberapa saat. "Clara's pregnant."
Minho menoleh terkejut. "Pregnant?"
Thomas mengangguk. "Dia belum bisa mengontrol emosinya setelah tau bahwa dirinya hamil."
Minho tertegun.
"Besok temui dia dan bicara. Aku yakin kalian bisa kembali seperti dulu."
***
Clara menatap langit langit atap dengan kosong. Rasanya mata dia sudah sangat lelah karena menangis. Memang, Clara belum bisa melupakan Newt sepenuhnya. Maksudnya meninggalkan kesedihan itu. Clara mau bangkit demi dia dan bayi di dalam perutnya.
Karena takut menangis lagi, Clara akhirnya memilih bangkit dari tempat tidur keluar kamar. Brenda dan Cassie sudah tidur lelap. Biasanya tengah malam seperti ini dia akan meneemui Newt dan tidur dalam dekapannya. Kini siapa yang harus Clara temui saat tidak bisa tidur?
Gadis itu memasukan tangan ke dalam kantung celana pendek longgarnya kala merasakan hawa dingin angin malam. Begitu merasakan sesuatu di sakunya, Clara kembali menarik tangan dari sana dan menemukan kertas lecek yang ia ambil dari kantungnya.
Clara membukanya perlahan seraya duduk kain gantung kosong. Mulai membaca salah satu tulisan tangan yang tak begitu rapih namun sangat berarti untuknya.
To my love, Clara
Hey, aku tau kau sudah membaca ini. Aku tak pandai merangkai kata tapi aku harap ini dapat menyuarakan hatiku.
Aku mengingat bagaimana pertemuan kita saat kau mencari Alby untuk meminta tour. Aku melihatmu, aku terpesona begitu melihat wajahmu dari yang terpejam sampai saat kau menemuiku. Aku sudah tertarik begitu aku melihat gadis kecil yang tak sadar diri di dalam box. Hari itu, aku ingin menjadikanmu kekasihku.
Aku berhasil. Aku juga lah orang pertama yang melihat dirimu. Dan aku senang kini kau adalah seorang Clara Newton.
Kau tau love? betapa senangnya aku memilikimu dari gladers lain yang juga menyukaimu. Hari itu aku berjanji pada diriku untuk selalu menjagamu apapun yang terjadi. Seperti yang Alby bilang.
Aku juga merindukan Glade. Aku bukan merindukan panci atau gentong Frypan yang dapat membuat makanan lezat kami. Atau juga kawanan Gally yang terasa menyebalkan. Tapi aku rindu kehangatan kebersamaan kita. Aku rindu keseharian kita dan bercanda bersama Chuck.
Tapi yang harus kau tau, Clara. Aku sangat bersyukur memilikimu. Kaulah yang dapat menemukan jati diriku. Aku tak mungkin bertahan selama ini tanpamu, love. Kau sudah menjadi bagian dari hidupku. Aku sungguh sangat mencintaimu.
Aku tak bisa mengatakan sebanyak apa perasaanku padamu. Jika aku harus berkorban untukmu, maka akan ku lakukan. Aku selalu mencintaimu Clara, apapun yang terjadi dan dimanapun kau berada.
Your love, Newt
Clara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Hatinya sesak. Clara ingin memeluk dan mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Newt. Clara juga ingin memberi tau bahwa ada buah hatinya di dalam perut Clara. Banyak sekali yang ingin Clara sampaikan ada Newt.
Clara ingin mengadu bahwa sesakit ini ditinggalkan olehnya. Clara ingin meminta waktu diputar jika bisa, agar bisa terus bersama Newt. Clara ingin tidur bersama Newt malam ini. Tetapi kenapa dia tak bisa meminta itu? Mengapa menerima kenyataan sesulit ini?
***
bonjour!
apa kabar kalian? pasti gabaik kelamaan nunggu ni chapter wkwk. gais sorry bngt aku sibuk akhir" inii
btw aku mau nanya deh, kalian tu kalo bayangin clara siapa sih? terus ada bayangan ngga nih clara bakal gmn sama siapa nantinya?
sipsip, byebye!
Comments(0)
Join the discussion — sign in to leave a comment
Sign In to CommentNo comments yet. Be the first to share your thoughts!