Chapter 1 of 18

1

GIRL CRUSH [book 3 : The Death Cure]1,364 words~7 min read

Tangg!!

Potongan besi itu terlempar jauh ketika seseorang menendangnya dari luar. Newt yang berada dipaking depan segera masuk melewati pintu yang ia potong dengan paksa memakai mesin pemotong. Kemudian Thomas, dan beberapa orang yang lain ikut masuk melihat keberdaan di dalam gerbong yang mereka ambil ini.

Pemandangan tak cukup enak pertama kali dilihat oleh Thomas ketika melihat anak anak ini didudukan dengan tangan yang dirantai dari atap. Wajah lemas bercampur bingung terpancar semua dari mereka melihat kedatangannya, hal itu membuat Thomas dan Newt segera menetralkan wajahnya dan melangkah mendkat pada mereka satu persatu.

"It's okay, semuanya akan baik baik saja." Thomas menenangkan mereka.

"Kalian aman bersama kami, jangan khawatir." Newt ikut menenangkan kapada yang lainnya.

"Aris," Thomas segera menghampiri pemuda itu tak jauh dari mereka.

Betapa terkejutnya dia melihat wajah pria itu dipenuhi luka lebam, Aris menyambutnya dengan senyum tipis. Disamping pemuda itu ada Sonya yang juga tersenyum lega mendapati Thomas menolong mereka.

"Kalian baik baik saja?" tanya Thomas.

"We're fine.." jawab Sonya.

Thomas mengangguk menegakan badan untuk bergeser pada Harrier yang melangkah antusias menghampiri sahabat sahabatnya.

"Oh my god!" Harriet terpekik senang dan memeluk keduanya.

Thomas melanjutkan langkahnya kebelakang, mencoba mencari orang utama yang mereka cari. Newt dibelakangnya ikut mengedarkan pandang dan berhenti dengan raut wajah tegangnya. Thomas berbalik melihat sahabatnya.

"He's not here.."

***

Tidak ada banyak kata keluar dari mulut mereka ketika mengetahui Minho tidak ada digerbong yang dia bawa. Disana ketika melihat satu persatu anak anak immune yang dibergol didalam gerbong kereta, rasa kecewa tidak bisa ditutupi oleh Newt. Harapannya besar untuk bertemu kawannya lagi, tetapi takdir seakan berkata lain dan tak menentukan pilihannya.

Newt bukannya menyesal setelah mengetahui Minho tak ada disana, diapun masih bersyukur karena dia dan kawan kawannya masih bisa berhasil menyelamatkan anak anak immune yang tak bersalah untuk memberinya kesempatan hidup dengan layak. Senang juga melihat mereka tersenyum bahagia karena berhasil keluar dari jeratan wicked. Menikmati pemandangan itu dengan hembusan nafas kecil, mencoba untuk melupakan rasa kekecewaan yang mampir dibenaknya.

Newt berjalan masuk kedalam yang kini teman temannya sudah berkumpul berbicara dengan Aris dan Sonya. Pemuda itu memilih duduk disamping Thomas, ikut masuk pembicaraan mereka.

"Auhh," Aris meringis ketika kapas dingin menyentuh dagunya yang luka.

Sonya meringis pelan, "Maaf."

Newt dan Thomas hanya memperhatikannya dalam diam sebelum menoleh melihat kedatangan Clara dan Brenda yang membawakan sesuatu untuk mereka. Clara membawakan nampan berisi teh sedangkan Brenda membawakan dua selimut untuk Aris dan Sonya.

Harriet menerima nampan itu dan memberikannya kepada dua sahabatnya, "Ini, minum dulu."

Sonya dan Aris menerimanya.

Ada banyak lebam diwajah Aris yang membuat mereka semua berprasangka bahwa Aris mendapati siksaan dari wicked. Tidak ada yang tau, tetapi begitu melihat wajahnya yang cukup dibilang parah dari anak anak immune yang lain, semua sontak beranggapan sama seperti yang Thomas duga.

"Lama sekali kalian menyelamatkan kami," ucap Aris bergurau begitu selesai meminum minumannya.

Thomas tersenyum tipis mendengar ucapannya, "i'ts good to see you too, buddy. Apa yang terjadi?"

"Aku berusaha melawannya balik," jawab Aris terkekeh kecil.

"Untung kalian menemukan kami," Sonya menambahkan. "Mereka sering memindah mindahkan kami. Sepertinya sesuatu yang besar tengah terjadi."

"Kau tau kemana tujuan mereka?" tanya Newt membuka suara.

Aris menggeleng samar, "Yang kutau mereka terus membicarakan suatu kota."

"Denver." sahut Brenda mengetahui perihal tersebut. "Wicked sering menyebutnya sebagai last city."

Sempat ada jeda beberapa detik karena pengakuan Brenda yang mengetahui hal tersebut dan membuat mereka terkejut seperkian detik.

"Aku tidak tau ada kota yang masih tersisa." Harriet menjawab dengan wajahnya yang terlihat bingung.

Brenda membalas, "Karena memang tidak ada.. tak ada kota yang masih berdiri."

Dari raut wajahnya yang terlihat jelas Thomas, Newt, dan Clara semakin bingung dengan penuturan Brenda. Namun Thomas segara menyanggah dengan pertanyaan lain yang sudah sangat ia tahan karena rasa penasarannya. "Oke, tunggu. Bagaimana dengan Minho? Kenapa dia tak ada dikereta?"

"Maaf, Thomas." ucap Aris merasa bersalah. "Dia memang ada disana.."

***

Malam hari tiba dengan sangat cepat. Thomas, Newt, Frypan bersama Jorge dan Vince tengah membicarakan sesuatu diruang tengah.

"ini, ini tempatnya."

Mereka semua melihat peta yang ditunjuk oleh Thomas. Tepatnya pada saat mendapati informasi dari Aris dan Sonya, juga bantuan Brenda yang mengetahui tentang last city. Thomas segera menggambarkan dimana kota itu berasal dan benar, kota itu ditemukan di peta usang yang mereka punya.

Vince mengerutkan kening tak yakin, "Jaraknya beberapa mil."

"Berdasarkan info yang kami dapat dari Aris, mereka pasti menuju kesana. Disanalah mereka membawa Minho." Thomas menatap semua orang yang ada disana, meyakinkan bahwa yang ia katakan benar. "Kita bawa semua orang yang bisa kita bawa. Kita bisa ikuti jalannya selagi masih bisa kita lalui, mungkin kita bisa sampai kesana dalam seminggu."

"Seminggu?" Vince bangun dengan nada tak percaya, "Perluenam bulan untuk kita bisa sampai disini. Kita punya seratus anak immune sekarang. Kita tak bisa selamanya berada disini. Setalah yang kita lalui, kau ingin berkelana dititik yang tidak jelas di peta? Kau bahkan kita tidak tau aa yang ada disana."

"Aku tau." Jorge beranjak menghampiri mereka setelah diam menyimak. "Sudahbeberapa tahun, tapi aku pernah disana. The last cith, itu sebutan wicked. Disanalah pusat seluruh operasi mereka."

Jorge melirik peta yang sebelumnya ditunjuk oleh Thomas. "Jika kota itu masih berdiri, itu tempat terakhir yang kau datangi. Itu sarang singa."

Thomas melirik keduanya. "Kita pernah melalui ini sebelumnya."

"Yea benar, dengan perencanaan berbulan bulan. Informasi meyakinkan dan elemen kejutan. Kita tak punya itu sekarang." potong Vince sakartis.

"Vince, tolong dengar, aku sudah memikirkannya--"

"Terakhir kali kau hampir tertangkap. Dan aku kehilangan segalanya! Ingat itu!?" bentak Vince menunjuk Thomas.

Menyadari bahwa dirinya mulai tersalut emosi, Vince menghela nafas dan menatap Thomas dan Newt dengan nada yang kembali normal.

"Dengar, aku tau ini soal Minho 'kan? Tetapi kau tak bisa memintaku membahayakan anak anak dengan satu orang." Vince menggeleng, "Aku tak mau melakukannya."

Krssttt

Tib tiba bunyi radio terdengar memenuhi ruangan. Semua orang termasuk Newt menoleh kearah radio yang berbunyi suara gemercik nada tak jelas dari orang yang sedang berbicara. "Mulai pencarian, area A aman."

"Memindai area B sekarang.."

Thomas yang menyadari suara tak asing itu segera beranjak panik. "Sial! Pasti karena lampunya!"

Semua orang segera berlari menuju saklar lampuuntuk mematikan semua listrik yang ada digedung. Suara orang orangyang mulai panik mulai terdengar. Lalu disusuli oleh suara helikopter yang melintasi gedung, membuat mereka semua hening sesaat.

Newt yang berada didepan pintu melirik helikopter itu yang mulai menjauh, dia bernafas lega. Kemudian pandangannya beralih pada Thomas dan Vince yang berdiri diluar sana. Newt berbalik dan menemukan Frypan, dia menatap lelaki itu sebentar sebelum merangkulnya pergi.

"Ayo, sepertinya kita perlu melakukan sesuatu."

****

Clara terbangun dengan keringat dingin dari sekujur tubuhnya sebelum gadis itu beranjak dari tempat tidur dengan terburu buru. Kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam bilik kamar mandi dan memuntahkan cairan bening itu di wastafel.

Tangan Clara berpegangan pada penyangga, dia mencuci mulutnya dengan lemas dan berjalan gontai keluar dari bilik, kembali ketempat tidurnya. Begitu membuka pintu, Brenda terlihat terusik dan bangun karena suara pintu yang kembali tertutup. Gadis itu melihat Clara yang melangkah menghampirinya. "Are you okay?"

Clara mendudukan dirinya dikasur seraya mengangguk, "Sepertinya asam lambungku naik."

Brenda menggelengkan kepalanya tak habis pikir. "Kau kebiasaan tidak ikut makan malam, Clara. Itulah mengapa asam lambungmu naik."

Clara memijat pelipisnya dan menoleh melihat Brenda dari temeram lampu kamar, "Mau temani aku makan?"

Brenda menyeringai. "Siapa yang akan menolak penawaran itu?"

Keduanya bangkit menuju dapur. Clara segera mengambil makanan untuknya dan juga Brenda yang sudah memakan makanan ringannya. Kedua gadis itu sibuk menghabiskan makananya dalam diam.

"Oh, ini enak sekali." Brenda mengunyah makanannya dengan lahap. "Aku tidak pernah menyangka kau bisa membuat makanan seenak ini."

Clara tersenyum disela mengunyahnya. "Aku terbiasa memasak, tapi mungkin berkat bantuan resep dari Emily, dia lebih pandai dariku."

"Menurutku sama saja." ucap Brenda tak peduli.

Clara mengangguk saja menahan tawanya, dia berdiri untuk mengambil minum ketika menyadari garasi basemmant terbuka saat dia tak sengaja menoleh kesana. Clara yang hendak mengambil minum membatalkan niatnya dan segera melangkah kesana untuk memastikannya.

Wajah terkejut tak bisa ditutupi dari raut wajah Clara, dia segera berjalan menuju penginapan untuk mengecek keberadaan Newt dan teman temannya, tetapi tak ada satupun mereka disana. Clara kembali kedapur dengan tergesa. "Brenda, Thomas pergi!"

"Apa!?"

***

maaf ya guys aku telat up

gimana suka ga part pertama? apa yang mau disampein?

ditunggu part ke-2nya yaa!! :)

Contents
Previous
Contents

Comments(0)

Join the discussion — sign in to leave a comment

Sign In to Comment

No comments yet. Be the first to share your thoughts!